
Assalamualaikum..
Hai author datang lagi, adakah yang rindu dengan couple A dan yang lainnya. Author kasih extra part buat kalian yang merasa rindu ya..
Sama authorpun merasa rindu dengan kalian, kesayangan akyuh..
Yuk ah cap cus..
-
-
***
5 Tahun berlalu...
"Assalamualaikum."
"Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh."
Sahut suara seorang wanita dari dalam mansion mewah keluarga Khanza.
"Oma cantik."
Senyum wanita itu seketika terbit dari balik cadarnya saat melihat siapa tamu yang berkunjung kerumahnya. Dengan gemas dia memeluk dua bocah kembar yang berusia 6 tahun hampir sama dengan putranya, hanya berbeda tiga bulan saja.
"Kalian, kenapa lama sekali tidak main kerumah Oma hm, kangen tahu." Rajuknya.
Azzam dan Azura saling berpandangan lalu kemudian mengalihkan tatapannya pada kedua orangtua mereka yang tersenyum.
"Maaf ya Oma, Ummi dan Abi masih sibuk jadi kami baru sempat kesini." Sahut Azzam dengan raut wajah sedih.
"Hei kenapa sedih, Oma nggak papa kok. Cuma berhubung kalian baru datang kesini setelah satu bulan lamanya, maka sebagai gantinya kalian harus menginap malam ini. Oke."
"Siap Oma." Serentak mereka menyahut sembari memberi hormat pada wanita didepannya.
Sontak saja tingkah laku mereka membuat Ustazhah Syifa dan juga kedua orangtuanya terkekeh.
"Oma apa uncle Aul dirumah ?"
"Uncle Aul ?" Tanya Ustazhah Syifa dengan kening berkerut, lalu memandang kearah Akia seakan bertanya pada putrinya itu.
"Itu ma, maksud mereka dede Arsyif." Ucapnya sembari mengulum senyuman geli.
"Oh, Uncle Arsyif, dia ada dikamar, hari ini dia nggak ikut les. Tapi ngomong ngomong kalian kok manggilnya Uncle Aul sih."
__ADS_1
"Biar gampang Oma, lagi lebih gaul Uncle Aul daripada Uncle Arsyif. " Sahut Azzam santai.
"Ya sudah ayo masuk dulu ya, di dalam juga lagi ada abang Niel."
"Siapa yang datang sayang." Sapa Tuan Aryan sembari turun dari tangga.
"Opa.." Teriak keduanya lalu lari kearah pria paruh baya yang masih tetap terlihat tampan diusianya yang sudah hampir setengah abad.
"Cucu Opa baru datang, opa kangen sekali." Sambutnya dengan memeluk keduanya. "Azzam dan Azura sudah makan belum ?" Imbuhnya.
"Iih..Opa jangan panggil aku dengan nama Azura donk, panggil aku yang cantik ini dengan sebutan Rena. Nggak boleh yang lain." Seru gadis kecil dengan tingkah imutnya.
"Aku juga Opa, panggil aku dengan sebutan Reyhan, atau nggak Rey." Tidak mau kalah dengan sang adik, Azzam pun ikut memprotes pada sang kakek.
Sontak tingkah keduanya membuat semua yang disana tergelak, merasa lucu dengan perilaku sikembar. Namun ada satu orang yang tidak ikut terbawa suasana, dia hanya menatap datar kearah keduanya lalu kembali bersikap acuh dan fokus pada lembaran kertas didepannya.
"Ck, bilang aja kalau pengen dipanggil keren seperti aku, namaku memang keren, Niel." Cetusnya dengan sombong dan wajah datarnya.
"Dih, siapa yang pengen dipanggil sama kayak situ, ogah banget. Ummi apa benar kalau dia itu saudara kami, rasanya tidak mungkin deh. Lihat saja tingkahnya yang sok dan sombong begitu, menyebalkan." Sungut si Azura dengan tatapan malasnya pada sosok bocah laki laki didepannya.
"Hei panggil aku dengan sebutan abang, aku ini abang kamu. Dasar adik durhaka." Seru Niel dengan tatapan tajamnya mengarah pada Azura sigadis kecil yang menurutnya begitu menyebalkan.
"Jangan melotot pada adikku, kalau kamu tidak mau berurusan denganku, lagipula usia kami lebih tua darimu, harusnya kamu yang manggil kita itu dengan sebutan kakak. Dasar bocah." Geram Azzam yang tidak terima bocah kecil itu meninggikan suaranya pada adiknya.
Azura memasang wajah tengil sembari menjulurkan lidahnya pada Niel. Gadis itu berdiri dibelakang Azzam mencari perlindungan pada sang kakak.
"Dasar bocah bisanya cuma ngadu." Sungut Niel lalu kembali fokus pada lembaran kertas didepannya, bocah yang berusia hampir 5 tahun itu kembali menyelesaikan tugas sekolahnya dengan acuh dan cuek seakan tidak pernah terjadi apa apa sebelumnya.
Para orangtua mereka hanya geleng geleng kepala melihat anak anaknya yang saling berargumen. Aqila sendiri tidak habis pikir, putranya itu benar benar mewarisi hampir seluruh sifat suaminya.
"Dasar putramu itu, tidak pernah bisa berwajah hangat sedikitpun. Mirip sekali denganmu yank."
"Putra kita sayang." Belanya.
"Tetap saja sifat dinginnya menuruni sifatmu."
"Aku hangat kok tapi kalau diranjang, malah panas loh, kamupun sampai ketagihan." Bisiknya ditelinga Aqila. " Saking panasnya aku sampai membuat princess kita akan segera hadir kedunia." Imbuhnya sembari mengusap lembut perut Aqila yang nampak besar.
Ya, Dhafa memang akan segera mempunyai anak lagi, istrinya Aqila saat ini sedang mengandung buah hati mereka dengan jenis kelamin perempuan, membuat keluarga kecil mereka nampak lengkap.
Jika ditanya kenapa pria itu ada dimansion bukannya dirumah mereka sendiri. Jawabannya karena Tuan Aryan ingin anak dan cucunya tetap ada bersama dengan mereka. Dia ingin hari hari tuanya ditemani dengan ramainya keluarga besarnya.
Bahkan pria itu menyuruh Dhafa untuk kembali menjual rumahnya yang sudah dia beli dulu. Tuan Aryan tidak menyetujui jika sang putra akan keluar dari mansion ini. Pria itu sampai mengatakan jikapun ada seratus orang yang tinggal disini tidak akan membuat mansion ini terasa sempit, karena dilihat betapa luasnya mansionnya dan tentunya juga dengan kamar kamar yang begitu banyak.
Dan karena tidak ingin membuat sang papa sedih, akhirnya Dhafa menuruti keinginan papanya, tentu saja setelah berbicara dengan istrinya. Dan dia begitu senang saat Aqila menyambut keinginan sang papa dengan besar hati dan tidak ada protes sedikitpun dari wanita itu.
__ADS_1
Malam Hari...
Waktu sudah menunjukkan pukul 9 lewat, dan kini semua orang sudah mulai masuk kedalam kamar masing masing, tentu saja setelah adanya drama malam dari sikembar dan juga Niel.
Azzam yang ingin tidur dengan Arsyif tapi sudah diboikot terlebih dahulu oleh Niel, membuat bocah kecil itu menggeram lalu memukul Niel dengan tangannya. Sontak saja membuat Niel yang badannya memang sedikit lebih kecil dari Azzam menangis meraung karena merasa sakit dibagian lengannya.
Para orangtua sampai pusing melihat keduanya yang tidak bisa akur, dan disini Arsyif bertindak layaknya pria dewasa. Bocah berusia 6 tahun lebih 3 bulan itu akhirnya melerai pertengkaran yang terjadi diantara kedua keponakannya itu. Terdengar lucu memang, usia mereka bahkan tidak terlalu jauh, tapi dia sudah harus dipanggil dengan sebutan uncle, yang terkadang membuatnya merasa geli sendiri.
"Niel, kitakan bisa setiap malam bersama, biarlah sekarang aku tidur bersama dengan Rey. Akupun sangat merindukan dia, apa kamu tidak rindu pada saudaramu itu ? Sudah satu bulan lebih kita tidak pernah bertemu kan. Atau kalau kamu mau, kamu juga bisa ikut tidur bersama kami." Ucapnya melerai perdebatan diantara keduanya.
Ah, bocah itu selalu saja bisa membuat para orangtua bernafas lega, pasalnya mereka hanya bisa menuruti perkataan Arsyif saja, padahal bocah itu hanya berbicara dengan bahasa pelan, tapi entah kenapa kata kata yang keluar dari bibirnya seakan sebuah perintah yang wajib dan mutlak dilakukan.
Akia menatap suaminya yang saat ini duduk diatas ranjang sedang memainkan ponselnya dengan kacamata bening yang bertengger cantik dihidungnya. Wanita cantik itu baru keluar dari kamar mandi setelah selesai membersihkan dirinya.
Matanya enggan berpaling dari wajah suaminya yang nampak terlihat berkali lipat tampan dari biasanya. Apalagi dengan kacamata itu, membuat Azriel semakin mempesona dimata Akia.
Menyadari jika sang istri terus mengamatinya, pria itu meletakkan ponselnya diatas nakas setelah sebelumnya menonaktifkannya. Melepas kacamatanya lalu memandang kearah Akia yang masih berdiri diujung ranjang.
Azriel menepuk sisi ranjangnya pertanda mengisyaratkan Akia untuk duduk disampingnya. Tersenyum manis kala sang istri yang langsung berjalan dan menuruti permintaannya.
"Terpesona Ratu ? Suamimu memang tampan." Narsisnya yang membuat Akia tersenyum.
Wanita itu memang mengakui jika dia selalu terpesona setiap hari tiap dia memandang wajah suaminya.
"Kamu sangat tampan Abi."
Azriel terkekeh lalu meraih kepala Akia dan memberikan kecupan singkat disana.
"Akhir akhir ini istriku ini selalu bersikap manis hm, ada apa ? Apa ada sesuatu yang Ummi inginkan."
Akia menggeleng cepat, dia memang tidak menginginkan sesuatu, dia hanya ingin mengutarakan apa yang ada dihatinya.
"Baiklah jika Ummi tidak menginginkan sesuatu berarti Abi yang ingin sesuatu." Ucapnya dengan tersenyum penuh misteri.
"Apa ?" Tanya Akia polos.
Azriel mendekatkan wajahnya ketelinga Akia, membisikkan sesuatu disana.
"Ummi sepertinya sudah saatnya untuk memberikan sikembar adik lagi."
"Abi ih." Kilah Akia dengan tersenyum malu dan memukul manja lengan kekar suaminya.
Azriel tergelak, istrinya itu tidak pernah sekalipun berubah, selalu manja dan malu malu. Wanita itu bahkan tidak sekalipun membantah ucapannya, itu yang membuatnya semakin mencintai Akia dan rasa cintanya selalu bertambah berkali lipat setiap harinya.
Menatap manik mata indah itu dengan tatapan mesra dan makin lama tatapan itu berubah menjadi sesuatu yang membuat seluruh isi kamar terasa panas karena ciptaan mereka berdua. Saling memberi dan menerima dengan harapan semoga tumbuh kembali sebuah nyawa didalam perut sang istri.
__ADS_1
TBC