Rindu Suara Azhan

Rindu Suara Azhan
Ada Allah bersama kita


__ADS_3

Brakk


"Assalamualaikum......sayang..."


Suara pintu yang dibuka dengan sangat keras disusul dengan teriakan Azriel menggema diseluruh rumah tersebut. Nafas pria tampan itu terlihat tersengal sengal dengan wajah yang penuh dengan keringat. Kedua matanya menatap nyalang sekeliling rumah besar miliknya, mencari keberadaan istrinya.


"Sya.."


Panggilnya lagi, tapi sosok yang dicarinya tidak juga dia temukan. Pria itu terus berlari mengelilingi rumah, membuka pintu kamar satu persatu.


"Tuan.." Sapa Pak Mun yang melihat tuan mudanya nampak panik dan cemas. Azriel menoleh kebelakang melihat pada pak Mun kepala art dirumahnya.


"Pak Mun lihat istri saya ?"


"Nona Muda sedang berada di taman belakang Tuan...apa.."


Tanpa memberi kesempatan pada pak Mun untuk menyelesaikan ucapannya pria itu berlari cepat kearah Taman. Sesampai disana, Azriel melihat sang istri yang nampak berdiri menghadap sebuah kolam ikan yang ada ditengah tengah taman.


"Sya..kamu baik baik saja ? Apa kamu terluka ?" Tanya Azriel dengan berbagai macam pertanyaan dengan kedua tangan yang membolak balik tubuh istrinya. Terlihat jelas rona kepanikan diwajahnya yang tampan.


Akia yang melihat bagaimana paniknya Azriel hanya bisa memutar bola matanya. Gadis itu merasa kesal karena kepalanya yang sedikit pusing sebab ulah suaminya yang terus memutar mutar tubuhnya.


"Astagfirullah mas..kepalaku pusing ini." Pekiknya saat Azriel tiada henti memutar tubuhnya.


Seketika pria itu menghentikan tindakannya dengan bibir yang tersenyum canggung.


"Maaf sayang, mas terlalu khawatir saat mendengar jika ada orang yang hendak mencelakaimu."


"Aku bisa jaga diri aku sendiri mas, kau jangan terlalu khawatir."


"Tetap saja aku khawatir sayang, mulai sekarang kau tidak aku ijinkan untuk keluar sendirian. Aku akan selalu menemanimu kemanapun kamu akan pergi."


Akia mendecak pelan. " Tidak begitu juga mas, bagaimana dengan pekerjaanmu dikantor jika kau 24 jam menemaniku ?"


"Ada Rio sayang, dia bisa diandalkan."


Akia memijat kepalanya yang mendadak pusing, semenjak beberapa hari ini suaminya sekarang berubah menjadi pria yang posesif. Kadang membuat Akia kewalahan sendiri dengan sikap Azriel yang mendadak berubah posesif.

__ADS_1


"Mas aku tahu Rio bisa diandalkan, tapi bagaimana dengan karyawanmu ? Mereka bisa berpikir jika selama ini kau tidak perduli dengan kantor dan pekerjaan, jadi mereka bisa bekerja dengan semaunya, tidak mematuhi aturan, karena mereka pikir Presdir mereka saja tidak mempunyai sikap disiplin. Mas mau punya karyawan yang seperti itu ?"


Azriel terdiam lalu menarik nafas pelan, perkataan istrinya memang ada benarnya, jika dia bersikap seperti itu, besar kemungkinan karyawannya bakal menjadi tidak disiplin dan bekerja semau mereka. Tapi keselamatan istrinya juga sangatlah penting. Mengingat itu membuat kepalanya sedikit pusing.


"Tenanglah mas, dan percaya padaku, aku bisa menjaga diriku sendiri. Aku mempunyai banyak orang kepercayaanku yang bisa diandalkan, jika memang mendesak aku bisa meminta bantuan mereka."


"Baiklah jika itu maumu." Ucapnya pasrah dengan keputusan istrinya.


"Sekarang ada yang ingin aku tanyakan padamu mas. Siapa Marc ? Kenapa dia memanggilmu dengan sebutan El ? Bisa kau jelaskan padaku ?"


Deg


Jantung Azriel berdetak kencang saat mendengar pertanyaan istrinya, pria itu memejamkan mata sebelum menjawab pertanyaan Akia. Dari tadi pria itu mengira jika istrinya hanya diganggu oleh orang berandalan biasa. Tapi nyatanya ketakutannya selama beberapa hari ini menjadi kenyataan, pria itu sudah muncul bahkan dia datang sendiri dihadapan istrinya.


"Apa dia melakukan sesuatu padamu ?" Tanyanya berubah datar.


"Tidak..tapi dia mengancamku."


"Apa yang dia katakan."


"Jawab dulu pertanyaanku baru aku akan menjawab pertanyaan mu." Sahut Akia tidak kalah dingin.


Akia menarik nafas pelan, kali ini dia harus mengalah pada suaminya.


"Dia hanya ingin berjumpa denganku dan menitipkan salam padamu. Dia bilang dia akan segera bermain main denganmu. Aku tidak takut akan gertakannya mas..tapi." Akia menghentikan ucapannya sejenak lalu menatap wajah suaminya dengan penuh penekanan.


"Kau tahu jelas bagaimana dan siapa diriku ini mas. Aku memang sudah berubah dan seratus persen bukanlah Akia yang dulu. Saat ini tugasku hanyalah mencari pahala keberkahan dari baktiku pada suamiku. Tapi aku tetaplah aku yang tidak bisa tinggal diam jika ada seseorang yang mengancam keluargaku. Bagaimanapun aku tidak bisa membiarkan hal itu terjadi. Prinsip ku lebih baik aku yang terluka daripada keluargaku.


Jadi dengan ataupun tanpa seijinmu, jika sampai ada yang menyentuh sedikit saja keluargaku, maka aku sendiri yang akan maju menghadapinya. Aku tahu yang aku katakan adalah salah, sebagai wanita yang sudah menikah, berbakti pada suami adalah kewajiban yang paling besar. Tapi aku tidak bisa membiarkan keluargaku terancam, apalagi papaku yang baru saja menemukan kebahagiaan. Kau mengerti kan apa maksudku mas ?" Ucapnya panjang lebar dengan wajah yang sangat serius.


"Aku mengerti, dan kamu tenang saja, suamimu tidak akan membiarkan hal itu sampai terjadi." Jawab Azriel cepat.


"Dan itu juga berlaku untukmu mas, Jika sesuatu terjadi padamu aku tidak akan pernah melepaskannya. Lebih baik aku yang mati daripada..."


"Tidak..tidak akan ada yang terluka kali ini. Percaya dan yakin padaku, mas tidak akan pernah membiarkan sesuatu yang buruk terjadi pada kita. Tolong jangan berbicara hal yang buruk sayang, mas tidak akan sanggup jika harus kehilanganmu." Ucapnya dengan memeluk tubuh Akia erat, sangat erat.


Pria itu merasa ketakutan dengan ucapan Akia, sungguh dia merasa takut jika sampai terjadi sesuatu pada istrinya. Cukup selama belasan tahun dia berpisah dengan Akia dan sekarang dia tidak ingin kejadian dulu kembali terulang lagi.

__ADS_1


Akia tersenyum manis mendengar ketakutan yang dia lihat langsung dari wajah suaminya. Dengan pelan dan lembut, Akia mengusap dada suaminya, lalu mengecup singkat bibir seksi itu.


"Kau merasakan takut yang begitu besar seakan akan kau tidak mempunyai Tuhan mas. Apa kau lupa jika jodoh, rezeki dan maut semuanya Allah yang menentukan ? Kita sebagai manusia hanya bisa berpasrah tapi bukan berarti kita pasrah pada keadaan. Allah tidak menyukai hambanya yang hanya pasrah tanpa harus berusaha."


Azriel tersentak, sejenak ketakutannya mengalahkan akal sehatnya, dia lupa siapa yang lebih berhak akan nyawa seseorang. Siapa lagi jika bukan sang penciptanya. Sang pemilik jiwa semua hambanya, mau bagaimanapun dan akan lari kemanapun jika sudah waktunya Allah memanggilnya pasti dia juga akan kembali padaNya.


"Maafkan aku, sejenak aku lupa jika didunia yang sempit ini kita hanyalah manusia yang sangat kecil dimataNya. Mas lupa jika masih ada kekuatan luar biasa yang melebihi kekuatan kita sebagai manusia. Terima kasih sudah mengingatkan aku tentang semua ini. Sungguh aku begitu bersyukur bisa memilikimu didalam hidupku." Ucap Azriel dengan kedua mata yang sudah berkaca kaca.


"Ayo kota berjuang bersama, seperti yang kau katakan padaku, tidak ada kekuatan didunia ini yang melebihi kekuatan Allah. Allah bersama kita. Kita berdoa pada Allah dan berusaha lebih keras lagi, kita pikirkan cara bagaimana untuk menghadapinya.


Sekarang katakan semuanya padaku dan jangan ada yang tersisa sedikitpun. Aku ingin tahu semuanya secara detail. Siapa itu Marc dan apa artinya dia di


hidupmu. Semuanya aku ingin mengetahuinya mas." Ucap Akia dengan nada tegas dan datar.


Gadis itu dalam sekejap berubah menjadi dingin dan datar, membuat Azriel sedikit takut jika sang istri kembali menjadi sosok Akia yang dulu. Namun semua praduga buruk itu segera dia tepis jauh jauh, mengingat bagaimana perjuangan hijrah gadis itu selama ini. Dan setelah perjuangannya yang begitu besar dan mengharukan membuat Azriel semakin yakin jika Akia kini sepenuhnya sudah berubah.


Azriel yakin sifat asli Akia yang hari ini dia tunjukkan semata mata karena merasa jika nyawa keluarganya sedang terancam. Bagaimanapun sholehah nya dia ataupun patuhnya Akia terhadap dirinya, pasti gadis itu akan menjadi benteng utama yang berada di barisan depan jika sesuatu mengancam kenyamanan keluarganya.


Dan Azriel mengerti dengan ketakutan gadis itu, bukan hanya Akia, diapun mungkin akan melakukan berbagai cara untuk melindungi keluarganya. Terbukti saat ini dia langsung pulang kerumah meninggalkan meeting penting dengan salah satu kliennya saat mendengar kabar jika ada yang mengganggu istrinya.


Azriel menghela nafas panjang lalu mengeluarkannya perlahan. Pria itu mengajak istrinya duduk di bangku yang ada di taman.


"El adalah panggilan khusus untukku saat aku masih menjadi ketua organisasi hitam milikku dulu. Bersama Rio aku membesarkan organisasi itu sehingga menjadi salah satu kelompok geng yang paling kejam dan ditakuti di seluruh negara, terutama Paris."


"Lalu siapa Marc."


"Marc atau lebih dikenal dengan nama Marco. Dia adalah....."


TBC


Assalamualaikum..halo pembaca setiaku..maaf ya dua hari ini upnya malam terus..pagi author masih sibuk dengan kegiatan kakak yang ada lomba PAI di Tk. Jadi Authornya masih harus selalu nemenin my princes.


Alhamdulillah hari ini lombanya selesai. dan insya Alllah besok bisa up siang. Jika waktu luang banyak insya Allah author double up ya..🤗🤗🤗😘


oke segitu dulu,,jangan bosen sama cerita receh author ya.


Semoga yang baca novel ini selalu diberi sehat dan rezeki yang melimpah. Jangan lupa bersyukur atas nikmat rezeki yang Allah berikan hari ini.

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak ya..See you.


__ADS_2