
"Malam Pertama " biasanya begitulah orang orang menyebutnya atau mungkin dengan istilah Belah Duren atau istilah lainnya. Pokoknya mah intinya begitu, yang dilakukan oleh sepasang suami istri yang baru saja menikah.
Nah, sama seperti selayaknya pasangan pasangan pengantin pada umumnya, Rio pun mungkin, bukan hanya mungkin tapi dia sudah begitu tidak bisa menahan lagi godaan yang sedari dulu terpampang nyata didepannya.
Istilah kata dianggurin sayang, nggak dianggurin tapi belum sepenuhnya miliknya. Jika dulu dia hanya membiarkan saja kata kata itu terucap didalam hatinya, kali ini dia tidak akan membiarkan dirinya menunggu lebih lama lagi. Tekadnya malam ini begitu kuat untuk segera membawa istrinya mereguk indahnya surgawi dunia.
Cklek
Pintu kamar hotel terbuka, dengan wajah berseri Rio menuntun lembut istrinya dan membawanya kesisi ranjang. Sesampainya disana, memandang lembut wajah Pipit yang nampak kelelahan namun masih bisa menampilkan senyuman manisnya.
"Capek ?"
Pipit mengangguk dengan kepala yang menunduk kebawah, membuat pria itu tersenyum tipis dan ikut berjongkok didepan sang istri yang saat ini duduk disisi ranjang.
"Mandi dulu setelah itu istirahat ya." Perintahnya dengan tegas namun masih dengan nada lembut.
"Apa kamu..." Ingin bertanya tapi diurungkannya karena ragu.
"Kenapa ?"
"Itu..aku..maksudku apa malam ini ?"
Rio mengerti kegugupan istrinya, tangannya meraih jemari sang istri mengecupnya lembut dan singkat. Memandang manik mata Pipit yang begitu meneduhkan.
"Apa kamu belum siap ?"
"Aku..." Ingin bilang iya, tapi lidahnya terasa kelu.
"Aku tahu kamu belum siap, tapi sampai kapan ? Aku sudah menunggu lama dan sampai kapan lagi aku harus menunggu. Apa kamu tega membiarkan suamimu setiap hari menahan hasratnya sementara ada sang istri yang mampu unyuk melayaninya. Apa kamu ingin Allah tidak meridhoimu karena tidak melayani kebutuhan bathin suamimu hm. Bahkan Malaikat akan melaknat seorang istri yang membiarkan suaminya menahan hasrat hingga pagi hari sayang, apa kamu ingin menjadi seorang istti yang seperti itu."
Pipit terkesiap, sejenak dia memang melupakan hal itu karena rasa gugupnya yang negitu kuat. Dengan tegas dia menggeleng dengan tatapan matanya tertuju pada suaminya.
"Aku ingin mendapatkan ridhomu, suamiku. Tolong maafkan aku, aku siap karena setelah Ijab Qabul seutuhnya aku menjadi milikmu." Jawabnya dengan nada tegas namun terdengar lembut.
Rio tersenyum, kemudian berdiri dan duduk disamping istrinya. Dia mendekatkan bibirnya dipucuk kepala Pipit dan mulai membacakan doa untuk kekasih halalnya.
Pipit hanya memejamkan kedua mata dengan bibir yang tersenyum haru. Hatinya menghangat dengan kelembutan yang diberikan suaminya, gadis itu menikmati moment yang menurutnya romantis.
"Ya, kamu memamg milikku, bukan hanya kamu, tapi akupun juga milikmu. Dan kamu mempunyai hak sepenuhnya atas diriku, begitupun dengan dirimu. Dan sebagai langkah pertama, bolehkah aku melihat mahkitamu sayang ? Semenjak kita tinggal bersama aku bahkan belum pernah melihat kamu melepas hijabmu ini, padahal kamu tahu dengan jelas kita hanya berdua saja jika dirumah bukan."
Pipit mengangguk sembari mengulas senyum malu, dan membiarkan jemari tangan kokoh milik suaminya melepaskan belitan satu persatu hijab yang membungkus kepalanya.
Rio terpana, ternyata ada sejuta keindahan yang terpampang nyata dibalik kain yang selama ini menutupi kepala istrinya itu. Rambut lurus hitam dengan panjang yang hanya sampai sebatas bahu namun begitu indah dan wangi tentunya.
Rio mengecup kening sang istri dengan lembut, keduanya begitu menikmati moment yang sama sama membuat kedua jantung saling berpacu dengan begitu hebat. Perlahan dia membalikkan tubuh Pipit hingga membelakangi dirinya.
Menurunkan resleting gaun pengantin hingga sepenuhnya turun kebawah sampai kearea pinggang. Dan menampilkan punggung mulus milik istrinya.
Bruk
Gaun pengantin itu luruh dengan mulusnya dilantai.
Glek
Rio lagi lagi harus menelan salivanya yang terasa kering, pria itu bahkan sampai menahan nafas saking merasa gugup. Kedua tangannya bergetar hebat dengan dadanya yang juga ikut bergemuruh saling bersahutan.
Ya Allah, seumur hidupku baru kali ini melihat kulit perempuan dan aku langsung gemetaran. Bagaimana jika aku melakukan yang lebih, apakah aku nanti akan pingsan. Pikirnya konyol.
Tanpa sadar Rio mendekatkan wajahnya kepunggung mulus istrinya yang terbuka lebar dan hanya dua helai kain yang melekat disana yang tidak perlu dijabarkan oleh Rio.
__ADS_1
Cup
Pipit tersentak, dan seketika tubuhnya meremaang saat pria dibelakangnya melaabuhkan kecupan singkat ditengkuk lehernya. Wajah gadis itu memucat dan seputih susu.
"A-abang..ap-apa yang kamu lakukan." Gugupnya dalam memberikan pertanyaan pada suaminya.
Rio tersadar namun pria itu tidak ingin ketahuan kalau sebenarnya dia juga merasa malu dan gugup. Kedua tangannya melingkari pinggang istrinya demi menutupi semua rasa gugup dan malu yang melanda hatinya.
"Kamu seksi, dan ngomong ngomong panghilan tadi aku menyukainya. Mulai sekarang panggil aku dengan sebutan itu ."
"Abang ?"
"Hmm..sama sepertimu, aku akan memanggil istriku ini dengan sebutan yang manis, tapi nanti saja aku masih belum mendapatkan ide mau memanggilku dengan panggilan apa."
"Seperti anak alay bang."
"Biarkan saja, toh yang tahu hanya kita berdua saja sayang." Membalikkan tubuh istrinya suopaya menghadap padanya, seketika membuat Pipit menutupi area terlarangnya, namun dicegah oleh pria tersebut.
"Cantik dan sempurna." Gumamnya lirih dan tangannya bergerak cepat dengan memarik pinggang istrinya supaya semakin dekat dengannya.
Sementara Pipit benar benar merasa malu, pasalnya baru kali ini dia begitu intim dengan lawan jenisnya. Wajahnya sudah begitu merah dan itu malah membuat Rio semakin merasa gemas. Pria itu mengecupi seluruh wajah istrinya dengan kecupan kecupan singkat.
Dan hingga labuhan terakhir dibibir tipis milik istrinya yang selalu berbicara cerewet baginya. Dengan gemas tangannya mencubit kecil bibir istrinya sembari bergumam.
"Ini bibir yang biasanya selalu cerewet tiap pagi."
Pipit cemberut dengan menggembungkan kedua pipinya.Membuat suaminya terkekeh lalu mengecup singkat bibir itu. Dan seketika gadis itu membelalakkan matanya lebar dan Rio pun ikut melakukan hal yang sama.
Dan semakin lama wajahnya semakin mendekat pada wajah istrinya. Mengunci penuh kedua bola mata istrinya hingga membuat Pipit ikut hanyut dalam buaian kehangatan yang diberikan Rio. Perlahan bibir itu saling menempel hingga pada akhirnya gerakan demi gerakan saling mereka berikan. Menikmati ciuman lembut penuh damba dari keduanya, saling mengagumi pasangannya lewat sentuhan lembut yang memabukkan.
"Aku mencintaimu istriku." Bisiknya ditelinga istrinya dengan lembut.
"Bolehkah...."
"Aku milikmu, lakukanlah apa yang seharusnya akan kamu lakukan."
Tanpa banyak bicara Rio menggiring istrinya keranjang dengan mata keduanya yang saling memandang dan saling mengagumi. Merebahkan istrinya dengan sangat hati hati layaknya barang berharga. Kemudian dia merangkat naik keatas tubuh istrinya dan menguncinya dengan begitu posesif.
Rio memandang wajah cantik istrinya dengan tatapan memuja.
"Cantik."
"Ini sudah pujian yang kesepuluh dalam sehari ini abang."
"Aku tidak perduli sayang, bahkan kalau perlu abang akan mengatakannya setiap menit supaya istriku ini merasa bahagia." Godanya dengan mengedipkan sebelah mata.
Rio tidak mau lagi membuang ataupun mengulur waktu, dia segera bersiap siap. Kembali mendekatkan tubuhnya dengan tubuh istrinya dan sudah siap untuk kembali melabuhkan ciuman hangatnya disana hingga pada akhirnya...
Tok
Tok
Tok
Rio terkesiap, disaat dia sudah siap mental dan siap segalanya sesuatu diluar sana mengacaukan rencananya.
"Abang ada orang." Ucap Pioit yang tidak kalah terkejut.
"Biarin sajalah, palingan layanan servis. Udah biasa itu. Lanjut saja ya, nggak nahan nih." Ucapnya dengan wajah memelas.
__ADS_1
Pioit terkikik geli dengan malu malu dia menganggukkan kepalanya. Dan Rio sudah bersiap kembali ingin melanjutkan yang sempat tertunda tadi.
Dokk
Dokk
Dokk
Kali ini bukan ketukan lagi tapi lebih tepat sebuah gedoran membuat Rio lagi dan hati lagi membatalkan niatnya.
"Abang lihat dulu." Pinta Pipit pada suaminya. " Mungkin memang ada hal penting yang harus diberitahu padamu."
Rio mendesah, dalam hati merutuki orang yang sedang mengganggunya. Dia juga mengumpati hoetl ini, bukankah ini kamar president suite yang artinya hanya kalangan tertentu yang bisa ada ditempat ini, tapi kenapa hal hal begini masih saja bisa terjadi.
Ddrrtt
Ddrrtt
Ponselnya berbunyi seiring suara gedoran dipintu menghilang. Dengan malas pria itu bangkit lalu melihat ID sang penelpon. Keningnya berkerut saat nama Muka Es terpampang jelas dilayat ponsel miliknya.
Muka es ngapain telpon gue..
Takut ada sesuatu yang penting dengan segera Rio menggeser ikon warna hijau dan menempelkan ditlinganya.
"Hal..."
"Eeehh...ipar durhaka ! Cepat loe buka pintu kalau nggak gue dobrak nih pintu kamar. Dari tadi gue ketok ketok loe berani sekali nggak mau buka, mau loe gue pecat jadi adik ipar gue hah."
"Ee buseet ini orang, udah ngomong keras pake urat lagi. Ck mengganggu saja." Umpatnya.
"Siapa abang."
"Siapa lagi jika bukan abang tercinta istriku ini."
"Abang Dhafa ?"
Rio mengangguk lalu dia beranjak dari duduknya dan berjalan kearah pintu.
"Mandi dulu sayang, setelah itu jangan tidur dulu ya. tunggu aku." Pipit mengangguk dan berjalan kekamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Klek
"Ada apa?" Tanya Rio datar.
"Ikut gue."
"Kemana ?"
"Temenin gue dibawah main catur."
"Apa ! Gila loe, malam malam gedor gedor kamar gue cuma mau bilang suruh temenin loe main catur. Loe waras atau memang sudah gila hah." Pekik Rio dengan rahang yang sudah mengeras.
"Udah jangan banyak ngomong. Gue takut kalau sendiri. makanya gue butuh loe." Jawab Dhafa santai sembari berbalik dengan seringaian kicik yang membingkai wajahnya tanpa disadari oleh Rio.
Rio mengacak rambutnya frustasi, dalam hati dia benar benar merutuki sikap Dhafa yang sudah sengaja mengganggu malam pertamanya dengan sang istri.
Dasar saudara laknat.
TBC
__ADS_1