
Peluh menetes membasahi kening gadis berhijab yang sejak tadi melakukan olahraga disekitar kampung tersebut. Gadis itu terus berlari tanpa memperdulikan tubuhnya yang sudah bermandi keringat. Dengan memakai kaos gombrong berlengan panjang, dan juga celana training panjang berwarna gelap, tidak lupa dengan hijab pasmina yang menempel manis di kepala nya.
Walau terlihat berkeringat namun tidak mengurangi kecantikan yang terpancar diwajahnya. Dibelakang gadis itu berdiri seorang laki laki remaja yang nampak kelelahan dengan nafas yang terlihat ngos ngosan.
"Ka..kak..isti..rahat..dulu. Arfan su..dah tidak..ku..at la..gi." Ucapnya dengan nafas tersengal sengal.
Bruk
Tubuh pemuda itu ambruk lemas ditanah dengan wajah yang sudah memerah karena lelah. Akia yang melihat Arfan kelelahan hanya bisa tergelak.
"Arfan kau itu kan laki laki masa kalah sama perempuan sih." Ejeknya dengan nafas masih memburu.
Arfan tidak perduli dengan ejekan kakaknya, pemuda itu malah merebahkan tubuhnya telentang di tanah berumput.
"Nih minum biar badanmu segar lagi." Memberi minuman dingin pada Arfan yang langsung diterima dengan cepat oleh pria kecil itu.
Tidak sampai satu menit, minuman itu sudah tandas dan pindah kedalam perut Arfan, menyisakan botol kosong ditangannya.
"Kakak ini punya tenaga extra ya, kuat sekali larinya."
"Itu karena kakak tiap hari memang olahraga, kamu kan nggak."
"Hehe..abis Arfan cape sama tugas sekolah sih kak."
Akia mencebik, lalu menatap intens wajah pemuda didepannya. Arfan yang saat ini sudah berubah menjadi pemuda yang sangat di gilai oleh banyak perempuan. Dulu kondisi tubuhnya sangat dekil dan kehitaman karena seringnya terkena sinar matahari, sekarang pemuda itu berubah menjadi sosok yang sangat tampan dengan kulitnya yang putih bersih.
Sangat berbeda jauh dengan sosoknya yang dulu. Arfan yang saat ini sudah menginjak kelas 2 SMA, dengan perawakan tubuh yang menjulang tinggi dan tegap. Sementara abah Umar sudah setahun yang lalu beliau menghadap panggilan Illahi diusianya yang menginjak 70 tahun.
Kepergian Abah Umar menyisakan duka yang mendalam dihati Akia dan Arfan, beliau dikenal dengan sosok yang rendah hati dan sabar. Itulah yang membuat Akia terutama Arfan merasa sangat kehilangan.
Karena hari sudah mulai terasa kian panas, keduanya memutuskan untuk segera kembali kerumah. Tidak membutuhkan waktu lama, keduanya kini sudah berada didepan rumah kecil mereka.
Kedua mata Akia menyipit saat merasa ada yang aneh dengaan rumahnya. Ada beberapa orang yang tidak dia kenal berada dirumahnya. Waspada, tentu saja, gadis itu langsung memasang sikap waspada.
Berjalan pelan menuju rumahnya lalu bergegas masuk kedalam. Betapa terkejutnya dia saat sudah sampai disana, rumah yang terlihat berantakan karena adanya beberapa barang yang tergeletak disana sini.
"Apa yang terjadi disini ?" Teriaknya pada beberapa orang yang ada dirumah itu. " Dan siapa kalian, beraninya masuk kerumah saya."
Salah satu wanita itu datang menghampiri Akia dengan sedikit membungkuk hormat.
__ADS_1
"Maaf nona, saya diperintahkan untuk membantu anda mempersiapkan diri, dan saya meminta supaya nona membersihkan diri dulu supaya kami bisa merias anda. Mohon kerjasamanya karena waktunya tinggal sebentar lagi." Ucapnya sambil menarik lengan Akia menuju arah kamar mandi.
"Hei, hentikan apa yang kau lakukan ? Acara apa ? Kenapa aku harus menyiapkan diri. Astaghfirullah."
Gadis itu berontak kuat, namun tenaganya kalah dengan adanya tiga orang yang membantu wanita tadi.
"Berhenti, biar saya yang membantu nona muda." Ucap seseorang yang tiba tiba datang dibelakang mereka.
Akia menoleh seketika terperanjat dengan adanya seseorang disana.
"Akila ? Kau disini."
Gadis yang dipanggil itu hanya tersenyum manis dengan mata yang sudah berkaca kaca.
"Kakak apa kabar ? Aku rindu sekali." Cicitnya lalu memeluk Akia yang langsung disambut baik oleh gadis itu.
"Kakak juga rindu Kila. Maaf ya karena kakak kau jadi repot. Pasti hari harimu berlalu dengan sangat buruk ya, kakak tahu bagaimana sifat Dhafa padamu."
Akila tersenyum lalu mengusap airmata yang mengalir di pipinya.
"Demi kebahagiaan mu apapun akan aku lakukan kak, jangan mengkhawatirkan aku. Sekarang yang penting adalah kakak harus bersiap siap karena semua sudah menunggumu."
"Sudah jangan banyak tanya, cepat mandi lalu biarkan mereka membantumu merias wajahmu. Semua sudah menunggu terutama Tuan Aryan."
"Papa." Ucapnya lirih, airmatanya menetes pelan, betapa dia sangat merindukan papanya.
"Ayo, apa perlu aku bantu untuk mandi ?" Goda Akila dengan senyum jahilnya.
"Aku bisa mandi sendiri." Dengusnya langsung masuk kedalam kamar mandi.
"Kak Akia kau baik baik saja ? Aku dengar ada suara ribut ribut disini ?" Tiba tiba Arfan muncul dibelakang Akila membuat gadis itu terkejut seketika.
"Ya Allah, hei adik kecil kau mengagetkanku saja. Untung aku tidak jantungan."
Arfan menatap tidak suka pada gadis cantik yang berdiri di depan nya itu. Tatapan matanya penuh selidik, lalu mendengus kesal saat sadar akan sesuatu.
"Dimana kak Kia ? Apa kau melakukan sesuatu padanya ? Lalu siapa kau ini ? Satu lagi aku sudah besar jangan seenaknya memanggilku adik kecil, begini begini aku sudah bisa menikahi seorang gadis." Ucapnya dengan nada sombong dan angkuh.
Akila tergelak keras sampai perutnya terasa sakit.
__ADS_1
"Kau Arfan kan ? Astaga kau sudah besar rupanya. Aku lupa jika kau semakin bertumbuh besar."
Arfan mendengus kasar. " Dimana kakakku ?"
"Tenanglah kakakmu ada didalam kamar mandi, sekarang kau juga mandilah dan segera ikut aku. Aku membutuhkan tenagamu, ada banyak sekali pekerjaan menunggu."
Arfan kembali mendengus kesal namun tetap saja pemuda itu melakukan apa yang diperintahkan oleh Akila. Berjalan menuju kamar nya untuk membersihkan diri.
Tidak berselang lama Akia juga sudah menyelesaikan ritual mandinya, lalu tanpa berkata apapun lagi para perias yang memang sudah diberikan tugas oleh Azriel langsung melaksanakan tugasnya.
Satu jam lamanya akhirnya tugas mereka selesai, dengan dibumbui penolakan yang selalu Akia lakukan. Gadis itu tiada henti terus memberi pertanyaan pada MOA tersebut yang mana membuat mereka bingung bagaimana hendak menjawabnya.
Beruntung disaat yang tepat Akila datang sehingga mereka bisa bernafas lega. Akila yang melihat raut muka mereka yang terlihat bingung dan cemas hanya bisa tersenyum simpul.
"Kakak tenanglah jangan buat mereka bingung dan panik. Kau hanya perlu duduk dan menerima apa yang mereka lakukan padamu."
"Akila katakan padaku kenapa aku harus dirias seperti ini ? Seolah olah aku mau menikah saja." Teriaknya dengan raut wajah kesal.
Akila hanya tersenyum tanpa menjawab pertanyaan Akia.
"Diamlah kak, nanti kau juga akan tahu sendiri." Jawabnya singkat yang lagi lagi membuat gadis didepannya itu merasa dongkol sembari berulang kali mengucap istighfar didalam hatinya.
Selesai dirias Akila menghampiri gadis didepannya dengan membawa sehelai kain panjang berwarna merah muda.
"Kakak maaf tapi aku harus menutup kedua matamu."
"Hei Akila apa yang kau..hah sudahlah terserah mau kamu apakan aku ini. Percuma juga walaupun aku berontak kamu tetap tidak mau memberi jawaban." Ucapnya pasrah saat Akila langsung menutup kedua matanya sebelum dia sempat protes.
Akila menahan tawanya lalu segera memberi isyarat pada perias tadi untuk memakaikan Akia gaun yang sudah disediakan.
Setelah beberapa saat lamanya mereka sudah selesai dengan tugasnya, dan kini didepan mereka telah berdiri seorang gadis bak laksana bidadari yang nampak begitu cantik dan mempesona dengan balutan gaun putih memanjang, tidak lupa dengan hijab yang menghiasi kepalanya.
Masih dengan mata yang tertutup, Akia nampak pasrah saat lagi lagi mereka membawanya pergi dan masuk kedalam mobil yang juga sudah disiapkan didepan rumahnya.
Hingga pada akhirnya laju mobil berhenti di suatu tempat dan langsung disambut oleh beberapa orang begitu Akila membuka pintu mobil. Beberapa orang langsung membawa Akia menuju ruang tunggu yang hanya beberapa meter dari tempat dilangsungkannya sebuah acara.
Hingga akhirnya Akila membuka kain yang menutupi kedua mata Akia bersamaan dengan sebuah suara yang berucap lantang yang terdengar hingga memenuhi ruangan besar itu.
"Saya terima nikah dan kawinnya Akia Syakayla Khanza binti Aryan Maulana Khanza dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan emas seberat 20 gram dibayar tunai."
__ADS_1
TBC