
Akila keluar dari gedung perkantoran yang menjulang tinggi. Helaan nafas berat kembali terdengar dari hidungnya. Sekilas gadis itu merasakan pening dikepalanya, ini sudah gedung yang kelima yang dia masuki untuk sekedar melamar pekerjaan. Dan lagi untuk kesekian kalinya dia gagal mendapatkan pekerjaan disana dengan alasan yang tidak masuk akal.
Mereka mengatakan jika dirinya termasuk dalam daftar hitam dari perusahaan K.Z. Group. Dan mereka tidak mempunyai keberanian lebih untuk melawan perusahaan raksasa itu. Mereka takut jika perusahaannya akan mengalami kejadian buruk seperti perusahaan lain yang berani melawan K.Z Group.
Akila berjalan menyusuri pinggiran jalan dan akhirnya berhenti disebuah taman yang letaknya tidak jauh dari kantor yang baru saja dia singgahi. Wajah cantiknya terlihat sangat murung, belum lagi keringat nampak menetes membasahi kening dan badannya.
Dia benar benar melakukannya. Aku tidak percaya ini Dhafa, kamu tega bersikap kejam padaku. Rasanya sakit diperlakukan seperti ini oleh orang yang begitu aku cintai.
Akila menghempaskan tubuhnya dikursi kayu, dia memperhatikan kakinya yang nampak memerah dan lecet. Maklum gadis itu tidak memakai kendaraan untuk pergi kesana kemari, sedari pagi hingga siang ini, dia naik kendaraan umum dan bahkan berjalan kaki.
Sangat miris sekali, motor yang diberikan oleh Akia sengaja dia kembalikan. Dia tidak ingin menambah daftar buruk tentang dirinya, lagipula dia sudah berniat untuk tidak ingin berurusan kembali dengan keluarga Akia. Bahkan hari ini saja dia tidak datang untuk menemui Akia yang memintanya bertemu tadi malam.
Akila bisa saja membeli motor baru dengan memakai uang tabungannya, namun dia menahannya, karena uang itu akan dia gunakan untuk keperluan sekolah kedua adiknya. Dan dia takut jika memakainya, suatu saat dia tidak bisa membayar keperluan sekolah adik adiknya. Jika membayangkan itu membuat gadis itu kembali sedih.
Ya Allah tolong hambamu. Berikanlah aku sebuah pekerjaan, apapun itu yang penting halal dan bisa untuk memberi kehidupan untuk keluargaku. Aamiin.
Akila kembali menghela nafas panjang, saat lagi lagi kakinya terasa nyeri. Rupanya bukan hanya lecet, tapi kaki gadis itu juga terlihat membengkak karena pegal setelah seharian berjalan kaki.
Akila menunduk untuk memijat kedua kakinya yang benar benar terasa sakit. Wajahnya sedikit meringis saat rasa nyeri itu kembali terasa. Saat Akila sedang sibuk dengan kegiatannya memijat kaki, tiba tiba ada sepasang tangan kekar menjulur menggantikannya memijat kakinya.
Akila terkejut kemudian wajahnya mendongak kedepan mencoba melihat siapa pemilik tangan yang sudah berani menyentuh tubuhnya. Seketika gadis itu termangu akan pemandangan didepannya. Rasa tidak percaya dan syok melanda dirinya, bahkan kini wajahnya terlihat sangat pucat.
"Sudah tahu memakai sepatu heels, bagaimana bisa kamu berjalan kaki seharian ini. Apa kamu memang berniat untuk mencelakai dirimu sendiri." Ketus sosok didepannya dengan raut wajah dingin khas miliknya.
Bukannya menjawab, gadis itu masih ternganga dengan mulut terbuka, namun matanya tetap memandang wajah orang yang selama ini selalu memenuhi ruang hatinya.
"Apa sebegitu tampannya aku hingga kamupun menatapku dengan mulut terbuka begitu. Awas air liurmu sampai menetes."
Akila masih saja sibuk dengan dunianya sendiri. Perkataan pria didepannya itu bahkan tidak dia dengar. Hanya matanya saja yang sesekali mengerjap indah.
Dhafa, pria itu hanya mengulum senyum tipis melihat gadis didepannya yang nampak terbengong. Mendadak muncul ide jahil dibenaknya. Dia mendekatkan wajahnya perlahan kewajah Akila yang masih belum sadar dari lamunannya.
Dia benar benar hanyut dalam lamunannya, menyebalkan tapi dia terlihat sangat menggemaskan.
Cup
Aila tersentak dari lamunannya saat pria didepannya itu mengecup singkat bibirnya. Mendadak wajahnya memerah dan terasa sangat panas.
Dhafa terkekeh pelan karena merasa lucu dengan sikap gadis didepannya ini. Akila yang sudah sadar dengan dunia nyatanya, langsung memasang muka datar dan dingin. Dengan kasar dia menepis tangan Dhafa yang masih sibuk memijat kakinya.
__ADS_1
"Lepas, aku tidak butuh bantuanmu." Ketusnya dingin.
"Kakimu lecet, biarkan aku mengobatinya sebentar." Sahut Dhafa dengan suara lembut yang mana membuat Akila mengrenyit heran.
Dia kerasukan setan mana ? Tumben bener sikapnya berubah lembut begitu.
"Aku bisa mengobati lukaku sendiri. Lagipula apa yang kau lakukan disini, pekerjaanmu sangat banyak Tuan Dhafa, aku tidak ingin membuatmu repot karena menolongku." Lagi lagi nada suara Akila terdengar ketus dan dingin.
Dhafa menatap sendu wajah Akila yang enggan untuk menatap kearahnya, dia sadar sikap ketus gadis itu disebabkan karena dirinya.
"Aku hanya ingin membantumu Kila."
Akila menatap tajam wajah tampan didepannya. Tanpa menjawab apapun gadis itu berdiri dan hendak berjalan pergi dari taman. Namun baru saja hendak melangkah, tiba tiba kakinya terasa sangat sakit hingga membuatnya kembali terhuyung.
"Sudah kubilang aku akan membantumu. kenapa kamu keras kepala begini Akila." Ucap Dhafa dengan memapah gadis itu untuk kembali duduk.
"Dan aku sudah bilang kalau aku tidak butuh bantuanmu. Memang kenapa jika aku kesakitan, apa perdulimu. Bukannya selama ini kamu terlihat senang dengan penderitaanku bukan ? Lalu kenapa kamu berubah seakan akan kamu perduli padaku hah." Pekik Akila dengan airmata yang sudah mengalir deras, hatinya sangat sakit jika mengingat bagaimana perlakuan Dhafa padanya selama ini.
Dhafa memberanikan dirinya menatap wajah cantik didepannya yang sedang menangis, seketika hatinya ikut teriris melihat bagaimana wanita yang sebenarnya dia cintai itu terlihat terluka.
Tanpa mengucapkan kata kata apapun, Dhafa menarik tubuh Akila kedalam pelukannya. Mendekapnya erat seakan takut untuk kehilangan. Sekali kali dia mendaratkan kecupan singkat diujung kepala gadis itu.
Akila yang mendengarnya sontak melampiaskan semua rasa yang ada dihatinya. Rasa marah, kesal, kecewa, benci dan cinta bercampur jadi satu membentuk sebuah pukulan bertubi tubi yang dia layangkan didada bidang pria tersebut.
"Aku benci kamu Dhafa ! Sangat membencimu, kamu membuat hidupku menderita, kamu bahkan tega melakukan hal ini padaku. Apa maumu sebenarnya hah..sungguh aku sangat membencimu." Teriaknya histeris dengan kedua tangan yang memukul dada itu bertubi tubi.
Sementara Dhafa hanya bisa meringis menerima pukulan yang diberikan oleh Akila dengan membabi buta. Namun pria itu hanya diam membiarkan gadisnya melampiaskan semua rasa kesal dan amarahnya. Hingga sampai pada akhirnya pukulan itu semakin lama semakin lemah dan sekarang berhenti dengan sendirinya.
Akila masih membenamkan kepalanya didada bidang Dhafa dengan nafas yang tersengal sengal. Sesekali isakan kecil masih terdengar disana, disertai pukulan kecil yang dia daratkan.
Melihat Akila yang sudah mulai tenang. Dhafa melepas pelukannya lalu membingkai kedua pipi Akila dengan tangannya yang besar. Jempolnya mengusap lembut sisa airmata gadis itu, lalu mengecup keningnya lama.
Setelah itu dia menempelkan keningnya sendiri dengan kening Akila hingga membuat kedua hidung mereka bersentuhan. Bahkan Akila dapat merasakan deru nafas hangat Dhafa menerpa pipinya.
"Maafkan aku." Lirih suara Dhafa berucap.
Akila berpaling kesamping berusaha menutupi wajahnya yang sudah memerah. Lagi dan lagi dia merasa kalah. Rasa bencinya pada pria itu ternyata tidak sebesar rasa cintanya. Walau hatinya luluh akan sikap lembut Dhafa, namun kali ini gadis itu tidak akan memaafkan pria itu dengan mudah. Dia akan membuat pria itu mengejar dirinya, dan memastikan sebesar apa cinta pria itu padanya.
"Aku lapar dan aku mau makan." Ketusnya dengan wajah masih berpaling dari Dhafa.
__ADS_1
Dhafa tersenyum tipis lalu mendekat kembali pada Akila. Dengan lembut pria itu memeluk tubuh mungil Akila dari belakang.
"Ternyata menangis dan marah marah membuat tenagamu habis ya, sampai sampai kamu kelaparan begini."
Akila mendelik tajam lalu melepas kasar pelukan pria itu.
"Aku mau cari makan sendiri, aku juga masih mampu untuk membayar makananku." Ketusnya lalu meraih tasnya dan memaksa untuk berjalan walau masih terasa sangat sakit.
Dhafa terlihat sangat gemas dengan sikap keras kepala gadis itu, namun siapa sangka dia tersenyum lebar sangat lebar. Hal yang tidak pernah dilakukan oleh seorang Dhafa Resmana Khanza selama 28 tahun hidupnya kecuali jika bersama dengan Akia.
"Kyaaaaa ! Dhafa apa yang kamu lakukan, turunkan aku, aku masih bisa jalan sendiri." Teriak gadis itu saat tiba tiba Dhafa mengangkat tubuhnya ala bridal style menuju mobilnya.
"Diamlah sayang, aku akan memasak makanan untukmu dan mengobati lukamu itu. Sekarang yang harus kamu lakukan adalah diam dan menurut. Mengerti."
Akila termangu, *A*pa tadi ? Dia memanggilku sayang ? Ini gila sangat gila.
"Mengerti tidak." Ulangnya menyadarkan lamunan gadis itu.
Akila yang baru setengah sadar hanya mengangguk keras dengan menjawab seadanya.
"Iya."
"Iya apa ?"
"Hah..e-enggak tahu." Jawabnya dengan wajah polosnya.
Dhafa tertawa keras, melihat Akila yang nampak sangat polos. Dan itu semua tidak luput dari penglihatan Akila yang selalu terpesona oleh wajah tampannya yang semakin bertambah tampan saat dia tertawa.
"Sudahlah, ayo kita pulang. Aku takut cacing diperutmu semakin meronta jika tidak segera diisi." Godanya sambil tersenyum geli saat mendengar suara merdu dari perut Akila.
Akila berpaling kearah jendela mobil dengan wajah yang lagi lagi memerah. Sungguh hatinya merasa sangat malu dengan perutnya yang tidak bisa diajak kompromi.
Aduh perut kenapa mesti bunyi sih. bikin malu aja.
Mobil sedan mewah warna hitam itu melaju sedang meninggalkan taman dan menuju kesebuah apartemen mewah milik Dhafa. Dengan sikap seseorang didalamnya yang tiada henti menampilkan senyum cerianya. Entah kenapa baru kali ini Dhafa merasa hidupnya seakan terasa indah dan hangat. Sesekali matanya melirik kearah samping dimana Akila yang sudah tidur pulas kealam mimpi.
Lihatlah dia bahkan terlihat sangat cantik walau dalam keadaan tidur. Bagaimana bisa aku menyia nyiakan dirimu selama ini. Kau memang bodoh Dhafa seperti yang dikatakan papa.
TBC
__ADS_1