Rindu Suara Azhan

Rindu Suara Azhan
S. 2. Menyingkap Fakta yang tersembunyi


__ADS_3

"Pipit ? Ada apa dengannya ? Apa terjadi sesuatu padanya nak ?" Tanya Kyai Lutfi bertubi tubi dengan wajah yang terlihat panik.


Melihat bagaimana sosok malaikat didepannya ini terlihat begitu khawatir pada Pipit, membuat Dhafa merasa terharu dan juga yakin. Sungguh beruntung adiknya bisa bertemu dengan beliau.


Dia benar benar adikku.


"Tidak ada Abi, hanya saja ada yang ingin saya tanyakan mengenai gadis itu." Ucap Dhafa sembari tersenyum.


Terlihat Kyai Lutfi yang menarik nafas lega, mendengar jika gadis itu tidak sedang dirundung masalah, pasalnya baru beberapa jam yang lalu sahabatnya menghubungi dirinya.


"Silahkan nak, apa yang ingin kamu tanyakan."


Dhafa mengeluarkan amplop cokelat yang sedari tadi disimpan ditas ranselnya. Memberikannya pada Kyai Lutfi dengan hati yang berdebar, nampak pria paruh baya didepannya ini mengerutkan dahinya namun tidak urung dia menerima amplop cokelat tersebut.


Dan seperti dugaan Dhafa, wajah teduh itu seketika berubah masam saat melihat isi didalam amplop tersebut. Kemudian memandang wajah Dhafa dengan tatapan mata yang sulit diartikan. Nampak jelas gurat gurat keras didahinya pertanda pria paruh baya itu sedang menahan emosi.


"Dari mana kamu mendapat ini semua nak ?" Tanyanya masih dengan nada lembut namun penuh ketegasan.


"Itu yang ingin saya tanyakan Bi, ada yang mengirimkannya pada saya dan sama seperti Abi, saya pun ikut terkejut."


"Maksudnya bagaimana ini ? Abi kurang paham."


Dhafa menghela nafas panjang.


"Apa Abi mengenal Pak Lukman ?"


"Pria itu...tentu saja Abi mengenal, sangat kenal malah. Dia pria yang tidak mempunyai tanggung jawab sama sekali. Dia juga manusia kejam yang pertama kali Abi temui didunia ini." Ucap Kyai Lutfi sembari memejamkan matanya. " Tapi Abi tahu yang dia lakukan semata mata untuk melindunginya. Makanya malam itu dia memaksa bertemu dengan Abi hanya untuk memastikan keselamatannya." Imbuhnya lagi dengan helaan nafas yang terasa berat.


"Maksud Abi bagaimana ya." Tanya Dhafa.


"Sebelum Abi menjawab pertanyaanmu, ada yang harus Abi tanyakan terlebih dahulu." Tatapan matanya berubah serius, membuat Aqila sedikit gelisah. " Ada hubungan apa kamu dengan Lukman ? Lalu kenapa kamu menanyakan tentang Pipit."


"Itu.."


Mendadak lidah Dhafa terasa kaku, keringat dingin mulai merembes membasahi tubuhnya. Namun sentuhan tangan Aqila membuatnya kembali tenang. Setelah menormalkan deguban jantungnya, akhirnya Dhafa memberanikan diri untuk menjawab pertanyaan Kyai Lutfi.


"Pak Lukman adalah paman saya Abi, dan Pipit adalah adik saya."


Suasana mendadak hening tidak ada yang ingin memulai bersuara, hingga helaan nafas berat keduanya terdengar.


"Jadi pria itu adalah kamu."


"Maksud Abi ?" Tanya Dhafa bingung.


"Ya, pria yang dimaksudkan oleh Lukman adalah kamu, keponakannya yang dia telantarkan dikota asing tanpa saudara ataupun seseorang yang mereka kenal, bahkan tanpa sepeser uangpun ditangan bocah lelaki itu."

__ADS_1


Dhafa terkejut, berarti pamannya selama ini bercerita pada Kyai Lutfi.


"Jadi..."


"Benar Dhafa, sehari sebelum pamanmu meninggal dia sempat datang menemui Abi, mengatakan sesuatu yang penting dan beliau meminta tolong pada Abi. Dia ingin Abi selalu menjaga Pipit dan mempertemukan gadis itu dengan kakaknya. Dia takut waktunya tidak banyak. dan sebelum sesuatu yang buruk terjadi padanya dia sebenarnya ingin bertemu dan meminta maaf padamu.


Dia ingin kamu menjaga dan melindungi adikmu dari incaran para preman itu karena hutang pamanmu yang begitu besar dan dulu dia sudah menjanjikan adikmu untuk diberikan padanya sebagai penebus hutangnya.


Selama ini dia tahu jika kamu selamat dan dirawat oleh keluarga kaya raya, karena waktu itu pamanmu sempat keJakarta untuk mencarimu dan tanpa sengaja bertemu denganmu yang saat itu sedang bersama dengan keluarga barumu."


"Paman ke Jakarta ? Lalu kenapa dia tidak menemuiku Abi." Tanya Dhafa menahan sesak didadanya.


"Pamanmu merasa malu dan tidak berguna nak, makanya pamanmu akhirnya memutuskan untuk kembali kesini setelah sebelumnya mencari tahu tentang keluarga barumu. Namun naas seminggu saat Lukman sampai disini, ajal malah menjemputnya dan dia tidak sempat memberitahu pada Abi siapa keluarga barumu. Hanya saja dia sempat berkata pada Abi jika dia sudah meminta tolong pada temannya untuk memberikan sesuatu yang sudah dia persiapkan, dan mengirimkannya pada keluarga barumu. Dan Abi tidak menyangka jika bocah kecil itu adalah kamu Fa."


Dhafa termenung dengan pandangan mata kosong, sungguh hatinya merasa begitu sesak dan sakit. Mendapati kenyataan pahit yang sesungguhnya tentang pamannya yang selama ini dia benci. Dan juga adik satu satunya yang ternyata masih hidup, satu pertanyaan yang selama ini ingin dia dengar jawabannya. Kenapa pamannya melakukan semua ini padanya.


"Abi, bisakah engkau menceritakan padaku awal mula adikku bisa berada disini ? Aku ingin mendengar semuanya tanpa terlewati satupun." Pinta Dhafa lirih dengan mata yang berkaca kaca.


Pandangan matanya terlihat sangat kosong mengharap pria itu menceritakan semua tentang Pipit adiknya. Hingga pada akhirnya Kyai Lutfi mengabulkan permintaan Dhafa, melihat wajahnya yang nampak menahan sedih dan rasa bersalah.


💕 💕 💕


Sementara diJakarta pada malam hari....


Rio nampak keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang sudah terlihat segar. Aroma sabun menyeruak hingga memenuhi kamar. Penampilan pria itu terlihat begitu seksi dan menggoda. Tubuhnya yang hanya dililit dengan sehelai kain handuk sebatas pinggang menampilkan perutnya yang liat dan kotak kotak seperti roti sobek.


Setelah memakai pakaiannya, Rio nampak mengedarkan pandangannya keseluruh kamar mencari sosok gadis yang sudah berstatus sebagai istrinya itu. Keningnya berkerut saat ruangan itu nampak terrlihat kosong. Tidak ada sosok Pipit, istrinya yang cempreng dengan segala tingkah absurdnya.


Kemana dia ? Gumamnya dalam hati.


Bibirnya terangkat membentuk sebuah lengkungan saat melihat pintu balkon yang terbuka, menandakan jika gadis itu pasti sedang ada disana. Dan dugaannya ternyata benar, istrinya nampak sedang berdiri sembari bersender pada pagar besi.


Perlahan Rio mendekat lalu melingkarkan tangan kekarnya diperut ramping sang istri yang tertutup gamis panjang. Mencium pucuk kepalanya yang juga tertutupi dengan hijab panjang sebatas perut.


"Sedang apa disini hm ?" Bisiknya lalu menaruh kepalanya dibahu istrinya.


Pipit yang sedang melamun sontak kaget saat tiba tiba ada sepasang tangan kekar melingkari perutnya dan memeluknya posesif. Perlahan melepaskan lingkaran tersebut dengan hati hati.


"Maaf, tapi bisakah untuk tidak seperti ini ? Aku butuh waktu, Semuanya begitu mendadak." Ucapnya lirih.


Walaupun kecewa tapi Rio berusaha memakluminya, tidak mudah memang menerima demgan ikhlas hal yang begitu mendadak. Dan dia sadar akan hal itu, dari awal diapun sudah siap untuk menanggung segala konsekuensinya.


"Tidak apa apa." Jawab Rio dengan senyuman tulusnya.


Melihat bagaimana pria itu malah tersenyum bukannya marah, membuat Pipit sedikit merasa bersalah.

__ADS_1


"Maaf, tapi bukan maksudku.."


"Sungguh aku tidak apa apa sayang, aku mengerti. Kamu jangan khawatir ya, aku akan siap menunggu sampai kamu bisa menerimaku sebagai suamimu." Ucapnya lagi lembut memotong perkataan Pipit


Airmata gadis itu menetes untuk kesekian kalinya, membuat Rio semakin panik.


"Hei, sungguh aku tidak apa apa, jangan menangis aku mohon. Hatiku ikut sakit saat melihatmu menangis seperti ini." Ucap Rio sembari menghapus airmata istrinya kemudian membawa tubuh mungil itu kedalam pelukannya.


"Ayo kita kerumah Azriel, Abah menyuruh kita kesana, beliau bilang ada hal penting yang ingin dia sampaikan pada kita."


Pipit mengangguk menyetujui ajakan suaminya, walaupun dia belum bisa menerima dan melayani Rio selayaknya sebagai seorang istri, tapi tidak ada salahnya jika dia mematuhi perkataan suaminya itu.


Dan disinilah sekarang mereka, dirumah Azriel dengan semua keluarga yang sudah berkumpul disana. Nampaknya Tuan Aryan dan Mama Syifa pun ikut menginap disana, menilik jika saat ini baby Arsyf yang sudah tertidur pulas.


"Ada apa Abah memanggil kami berdua ? Apa ada yang penting ?" Tanya Rio dengan nada lembut.


Abah menatap keduanya dengan senyuman penuh arti, membuat sepasang pengantin baru itu mengrenyitkan dahinya.


"Kamu belum aneh aneh sama istrimu kan Le ?" Tanya Abah Ahmad dengan senyum simpulnya.


Rio yang paham akan maksud perkataan abahnya, hanya bisa menghela nafas panjang. Sementara Pipit masih memandang keduanya dengan tatapan bingung.


"Belum Abah, Rio masih menunggu sampai istri Rio siap dan menerima Rio sebagai suaminya." Jawabnya tegas.


"Alhamdulillah." Jawab mereka serentak yang langsung membuat Rio melongo sempurna.


"Kenapa wajah kalian semua sepertinya terlihat sangat bahagia begitu." Gerutunya dengan mimik wajah agak kesal.


"Sepertinya putra abah ini sudah tidak sabar untuk menjebol gawang." Celetuk Azriel yang langsung mendapat pelototan mata oleh Rio.


Serentak semua orang yang ada disana tertawa bersamaan membuat Rio menggaruk pelipisnya sementara Pipit sendiri hanya bisa menyembunyikan wajahnya yang sudah memerah dibalik punggung suaminya.


"Sayangnya itu belum bisa kamu lakukan Yo, dan karena hal itu makanya Abah memanggilmu kesini."


"Maksud Abah gimana ya."


"Begini Yo, Abah dan juga semuanya bahkan Kyai Lutfi juga sudah setuju. Kami semua memutuskan untuk menikahkan kalian kembali besok."


Rio terkejut, menatap serius wajah wajah didepannya yang kini juga terlihat serius dengan ucapan Abah Ahmad.


"Maksudnya apa ini abah ? Rio tidak mengerti, bukankah kami berdua sudah menikah, bahkan Abah dan juga yang lainnya yang menjadi saksinya." Tandas Rio.


"Kamu benar Yo, dan sebenarnya pernikahan kalian sudah sah karena kami mengira kalau Pipit memang sudah tidak mempunyai keluarga ataupun sanak saudara lagi. Tapi berhubung kabar yang baru saja Abah terima jika wali nikah Pipit ternyata masih hidup maka kami memutuskan untuk kembali menikahkan kalian lagi esok hari. Dan beliau saat ini sudah dalam perjalanan kembali keJakarta."


"Maksud Abah, tolong jangan berbelit belit."

__ADS_1


"Kakak kandung Pipit masih hidup, dan dia sedang dalam perjalanan kembali kesini."


TBC


__ADS_2