Rindu Suara Azhan

Rindu Suara Azhan
Sang penyelamat


__ADS_3

Viona memejamkan kedua matanya sangat erat, sungguh dia kini hanya pasrah saat menerima detik detik terakhir hidupnya didunia ini. Namun setelah agak lama, dia sedikit merasa heran, kenapa tidak sedikitpun dia merasakan sakit. Apa dia sudah benar benar mati.


Perlahan Viona mulai berani membuka kedua matanya. Dari yang sekedar memicing kini mulai terbuka lebar. Detik kemudian perasaan bahagia dan senang mengaliri hatinya, kedua matanya berkaca kaca dengan mulut yang terbuka. Dia benar benar tidak percaya jika saat ini keajaiban Allah datang padanya.


Viona menatap sosok didepannya yang saat ini terlihat sedang berdiri dengan wajah santainya. Mengabaikan tatapan amarah dari para pria tersebut.


"Beraninya kau mengganggu urusanku." Desis salah satu pria yang bertugas sebagai penjagal.


Pria itu terlihat sangat marah dengan memegang tengkuknya yang mengeluarkan darah akibat perbuatan gadis didepannya. Padahal sedikit lagi dia bisa menghabisi Viona, tapi mendadak ada yang melempar batu dipunggungnya yang membuat tengkuknya mengeluarkan darah.


Sosok gadis didepannya hanya tersenyum sinis melihat para pria itu saling menatapnya dengan penuh amarah. Matanya melirik kearah Viona yang terlihat sangat berantakan.


"Cih, banci tetap saja banci. Astagfirullah, beraninya menyerang wanita yang lemah. Atau memang alat kelamin kalian sudah berganti ?" Ketusnya dengan wajah santai.


"Apa ! Berani sekali kau berkata seperti itu setelah mengganggu urusan kami. Kau harus diberi pelajaran." Desisnya lagi. lalu menatap keseluruh teman temannya. " Kita habisi sekalian saja dia."


Mereka bersiap siap, namun salah satu dari mereka berucap yang membuat langkah mereka terhenti.


"Tunggu, bukan kah dia adalah putri keluarga Khanza ? Aku hafal sekali dengan wajahnya itu." Serunya.


Sang ketua yang ditugaskan sebagai penjagal sedikit memicingkan matanya, guna memastikan ucapan temannya itu.


"Hahahah..kau benar. Kita beruntung sekali hari ini, bos akan memberi kita bonus yang besar. Karena sudah menangkap ikan yang sangat besar."


Akia hanya mendengus melihat mereka yang sangat senang dengan kehadirannya, seakan mereka baru saja mendapatkan sebuah undian berhadiah yang sangat besar. Kedua mata gadis itu berputar mencari sesuatu yang bisa dijadikan sebagai senjata.


Melihat segerombolan pria itu yang membawa senjata ditangannya masing masing, Akia memutar otaknya. Bibirnya sedikit terangkat saat dia menyadari sesuatu.


Pelan tapi pasti, Akia melepas pasmina yang menempel dikepalanya. Beruntung hari ini dia memakai dalaman kerudung yang berbentuk ninja, sehingga kepalanya tetap tertutupi walaupun dia melepas kerudungnya.


Gadis itu memilin milih pasmina nya hingga membentuk sebuah lilitan panjang, lalu digulungnya dilengan kanannya. Kini dia sudah mempunyai senjatanya sendiri.


Bismillahirrahmanirrahim..


Mereka mulai menyerang Akia dengan membabi buta, namun gadis itu masih saja terlihat santai. Meliuk liukkan tubuhya dengan sangat atletis. Berhadapan dengan segerombolan mereka yang berjumlah 5 orang sebenarnya membuat pertarungan tidak seimbang.


Namun Akia bukan lah gadis sembarangan. Dia adalah sosok gadis yang tangguh dan tahan banting. Menghadapi mereka adalah perkara yang mudah.


Akia mengelak kebelakang saat sabetan pedang itu tepat mengarah ke lehernya, sembari menggunakan pasmina nya untuk menahan serangan lawan. Melilit pedang itu dengan kainnya lalu menarik tangan pria itu.


Krak

__ADS_1


Buagh


"Aaaaaaaakkh."


Suara lengkingan panjang terdengar dari bibir pria itu saat tangan kanannya ditekuk oleh Akia kebelakang hingga membuat tangannya patah. Rasa sakit dan nyeri luar biasa dia rasakan hingga wajahnya berkeringat.


Melihat temannya cedera, pria lainnya tidak tinggal diam. Mereka mulai menyerang Akia secara bersamaan. Akia memasang kuda kuda menyambut kedatangan mereka.


Gadis itu melompati punggung pria yang melayangkan pukulannya kearah wajahnya. Menukik tajam sembari melayangkan tendangan yang tepat ditengkuk lawannya.


Buagh


Satu lagi lawannya roboh dan kini tinggal 3. Kini giliran gadis itu yang menyerang mereka dengan membabi buta. Pukulan dan tendangan Akia berikan tanpa ampun. Membuat mereka pada akhirnya tergeletak di tanah dalam keadaaan pingsan.


Sang ketua yang melihat teman temannya pingsan hanya bisa meringis menahan sakit. Berjalan pelan kearah Akia, namun langkahnya seketika berhenti saat tatapan dingin gadis itu menghunus jantungnya.


"Apa kau ingin seluruh tubuhmu patah dan hancur.Dengan senang hati aku akan melakukannya." Ketusnya dingin.


Hati pria itu ciut, mata gadis itu terlihat sangat seram. Dia sendiri merasa heran, padahal tubuhnya terlihat kecil, tapi bagaimana bisa dia mengalahkan teman temannya yang berbadan besar dan itu hanya dengan menggunakan sebuah kain panjangnya saja.


Namun pria itu pantang menyerah, pikirnya daripada dia tewas ditangan Marco, lebih baik jika dia tewas ditangan gadis itu. Setidaknya tubuhnya masih lengkap saat raganya lepas dari badannya.


Pria yang lebih dikenal dengan inisial Nando itu terus saja melakukan serangan demi serangan pada Akia. Kini pertarungan diantara mereka terlihat seimbang. Tidak ada satupun senjata yang Nando pegang, semuanya sudah mental tidak tahu kemana.


Dengan kecepatan luar biasa, gadis itu menendang lawan dengan gerakan memutar. Incarannya saat ini adalah wajah lawan. Nando yang lengah pun tidak menyadari gerakan super kilat Akia, hingga pada akhirnya pria itu sukses terbanting ketanah dengan luka lebam yang begitu serius. Bahkan darah segar keluar dari sela sela bibirnya.


Tidak sampai disitu, Akia menendang dada pria itu saat Nando masih tetap bisa berdiri dan kembali menyerangnya. Kini darah semakin keluar dari mulut Nando, dadanya bahkan terasa sesak dan terbakar. Pria itu terhuyung kebelakang dengan mata yang berkunang kunang.


Akia masih merasa geram, kini emosi dan amarah benar benar menguasai hati dan pikirannya. Gadis itu tidak memberi celah sedikitpun pada Nando, terus menyerangnya hingga pria itu benar benar terkulai lemas di tanah dengan tubuh yang babak belur bersimbah darah.


Akia meraih pasmina nya yang tergeletak di tanah, lalu berjalan menghampiri pria tersebut. Tatapan sinis dan dingin terasa menusuk jantung Nando. Dia tidak pernah berpikir satu kalipun jika dia bisa dikalahkan oleh seorang wanita.


Dengan pasminanya Akia mengikat kedua tangan dan kaki Nando yang terlihat pasrah dengan perbuatan gadis itu. Tubuhnya sungguh sudah tidak bertenaga lagi.


"Ck, kau begitu bangga dengan kekuasaan yang diberikan bosmu, hingga kau mampu melakukan perbuatan keji dan biadab. Kalian juga manusia, apa tidak pernah berpikir bagaimana nasib keluarga kalian jika melihat kalian tewas dengan sangat mengenaskan begitu ?" Ketusnya sinis membuat pria itu terdiam meresapi ucapan Akia.


"Beruntung kau tidak mengalami nasib yang sama seperti para pria yang kalian bantai dengan begitu sadis. Aku bisa saja melakukan itu pada kalian, tapi sayangnya aku masih bisa punya hati. Semoga Allah mengampuni dosa dosa kalian. Penjara seumur hidup pun tidak pantas kalian dapatkan, mengingat bagaimana kejinya kalian menghabisi orang yang tidak bersalah. Memuakkan." Kecamnya lagi dengan pandangan mata masih memburu.


Tidak lama kemudian datang beberapa orang yang disertai dengan beberapa polisi yang langsung menangkap dan menyita barang bukti yang mereka pakai untuk membantai para bodyguard Viona. Sungguh mereka pun sampai bergidik ngeri melihat bagaimana mereka tewas dengan begitu kejamnya.


"Pak, tolong beri penghormatan yang terakhir untuk mereka. Dan tolong hubungi keluarganya untuk datang kemansion saya. Saya akan memberi jaminan kehidupan seluruh keluarganya sampai benar benar sukses." Ucap Akia dengan pandangan mata berubah sendu.

__ADS_1


Walaupun dia berhasil menyelamatkan Viona, tapi tetap saja gadis itu tidak bisa menyelamatkan mereka yang tidak bersalah. Selalu saja ada korban di tiap pertarungan.Dan hati gadis itu selalu merasa sesak tiap melihat nyawa seseorang yang melayang didepan matanya.


Setelah membereskan para penjahat dan juga korban disana, polisi segera meninggalkan tempat itu untuk melanjutkan tugas lainnya, yaitu memakamkan mereka yang tewas, dan menghubungi para sanak saudaranya.


Sekarang ditempat itu, hanya ada Akia, Viona dan Jessy, serta beberapa orang yang tidak di kenal Viona.


"Nona, maaf, kami terlambat. Bang Alex tidak bisa datang karena kondisinya belum stabil, beliau meminta saya untuk mewakili datang kesini. Apa anda baik baik saja nona ?" Ucap seorang pria muda yang terlihat tampan.


Akia menoleh lalu tersenyum lebar.


"Tidak apa Vin, aku baik baik saja. Tidak perlu meminta maaf aku mengerti."


Vino, pria itu mengangguk lalu mengikuti langkah Akia menuju kearah dimana Viona berada. Sesampai disana, pria itu sedikit terkejut melihat siapa sosok wanita yang ada saat ini terduduk di tanah dengan kondisi tubuh yang berantakan.


Wanita itu, bukan kah dia ? Apa nona menyelamatkan wanita yang sudah berkhianat pada keluarganya ini ? Aku masih ingat dengan jelas bagaimana kelakuan wanita itu, karena nona sendiri yang memintaku untuk menyelidikinya dulu.


"Vin.."Panggil Akia saat dia sudah sampai didepan Viona.


Merasa dipanggil Vino langsung menghampiri Akia lalu berdiri disamping gadis itu.


"Aku mau mulai sekarang kalian menjaga Viona terutama Jessy putri mereka. Kemanapun dan dimanapun mereka berada, aku mau kalian ontime 24 jam. Apa kalian sanggup..?" Perintah Akia dengan menatap tajam Vino.


"Sesuai perintah anda Nona. Saya dan teman teman akan melaksanakan perintah yang anda tugaskan pada kami." Tegas suara Vino menjawab perintah Akia.


"Aku percaya pada kalian, semua anak buah bang Alex adalah orang orang yang sangat handal dan tangguh. Tapi tetap saja kau harus berhati hati, bertindak sesuai rencana dan kerjasama. Kali ini musuh kita sangat lihai dan berbahaya. Aku tidak ingin ada diantara kalian yang menjadi korban. Kalian semua adalah keluargaku jadi aku harap jangan sampai ada yang terluka. Kalian mengerti."


"Siap nona." Jawab mereka serentak dengan perasaan haru didalam hatinya.


Mereka tahu siapa sosok gadis yang saat ini sedang berdiri didepannya. Sosok gadis yang begitu penting bagi pimpinan mereka, bang Alex. Gadis tangguh namun berhati malaikat.


Akia menatap wajah Viona yang saat ini tersenyum canggung, lalu berjongkok didepannya dan meraih tangan wanita itu yang nampak terluka. Diusapnya lembut tangan itu dengan senyuman manis menghiasi bibirnya.


"Mah.."


TBC


Aku udah double up ya sayangku semua tapi belum crazy up..love you full karena sudah setia menanti author. Terima kasih atas dia doannya..aku terharu.


Authornya baper,, jadi mewek dech..🤣🤣😭


Eh adakah diantara kalian yang ingat dengan Vino ? Siapakah Vino ?🤔🤔🤣

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jeejak ya..see you


__ADS_2