Rindu Suara Azhan

Rindu Suara Azhan
Kesempurnaan hanya milik Allah


__ADS_3

Akia melirik sinis wajah pria disampingnya, lalu kembali menyenderkan kepalanya di jendela mobil sambil menikmati pemandangan diluar mobil. Keduanya membisu dan terdiam disepanjang perjalanan.


Azriel menghela nafas perlahan, jujur saat ini dirinya sedikit merasa gugup dan canggung. Dia baru kali ini berada satu mobil dengan seorang gadis dan itupun hanya berdua. Walau dulu dia sempat terjerumus kedalam dunia hitam, namun pendiriannya tetap teguh untuk tidak berkontak fisik dengan seorang wanita.


Ya, dia selalu berpegang teguh pada prinsipnya, selain karena dia yang memang tengah membatasi diri saat itu dirinya sudah berjanji pada seorang gadis kecil yang dia temui diTaman.


"Sya.." Panggilnya pelan.


Akia tidak bergeming, gadis itu hanya meliriknya sekilas lalu kembali acuh. Melihat itu Azriel hanya bisa mengulum senyum tipis.


"Sya,,apa kamu tidak berkeinginan untuk memakai hijab kembali ? Aku yakin kau akan semakin cantik jika seluruh tubuhmu tertutup dengan pakaian syar'i. Bukannya dulu kamu juga berhijab kan ?" Ujarnya dengan mata masih memandang fokus kedepan.


Akia mengrenyit.


"Darimana loe tahu kalo dulu gue pernah pake hijab ? Loe mata matain gue ?"


"Aku Sya, bukan gue." Tegas Azriel dengan menekan kata katanya.


"Aku sudah bilang jangan memakai bahasa seperti itu jika berbicara denganku. Bagaimanapun kau adalah calon istriku, dan sudah kewajiban aku untuk membimbingmu menuju jalan yang diridhoi oleh Allah."


"Jangan ngatur ngatur hidup gue, atur sendiri hidup loe." Ketusnya.


Ckiiiittt


"Loe gila ya." Sentak Akia dengan mata yang melotot karena tindakan pria itu yang tiba tiba mengerem mobilnya secara mendadak.


Azriel menatap tajam mata gadis disampingnya.


"Aku berhak membimbingmu untuk kembali kejalan yang benar, aku tidak ingin masuk surga sendirian sedangkan istriku akan tertinggal di neraka. Apa kau tidak ingin masuk surga bersamaku ?" Tegasnya dengan tatapan mata penuh arti. Namun sedetik kemudian pria itu memutuskan pandangannya. Dia tidak ingin terbawa suasana saat melihat mata indah milik Akia.


Akia mendengus lalu mencebikkan bibirnya. Namun kemudian gadis itu terlihat murung dengan kepala yang tertunduk.


"Tidakkah kau ingin membatalkan niatmu ? Ak-aku bukanlah gadis yang pantas untukmu, aku bukanlah gadis yang sempurna, aku hanya seorang gadis cacat." Ucapnya lirih.


"Tidak ada manusia yang sempurna, karena sejatinya kesempurnaan hanyalah milik Allah SWT." Potong Azriel cepat.


"Tapi suatu saat kau pasti akan menyesal karena sudah memilihku, karena aku hanya akan menjadi bebanmu saja Tuan."


"Azriel..panggil saja namaku." Pintanya cepat.

__ADS_1


Akia mendesah pelan, lalu kembali bersender disandaran mobil.


"Tetap saja sebagai seorang lelaki, kau pasti membutuhkan perempuan yang sempurna, yang bisa melayanimu dengan baik, bukan gadis cacat sepertiku." Keluhnya lirih.


"Kau meragukan ku Sya ?" Tanyanya dengan suara sendu.


"Entahlah, aku hanya merasa tidak percaya diri. Lagipula aku tidak ingin menyakitimu, karena dihatiku cuma ada dia seorang." Ucapnya lirih dengan kedua mata yang sudah berkaca kaca.


Azriel terdiam mendengar perkataan Akia, walaupun di bahagia karena ternyata gadis itu masih mencintainya, namun jujur jauh dilubuk hatinya yang paling dalam, pria itu merasa sedih dan kecewa karena Akia masih belum mengenalinya.


***


"Luna,"


Gadis bernama Luna itu memandang intens wajah pria yang berdiri dibelakangnya. Senyum manis yang sedari tadi menghiasi bibirnya kini lenyap tak berbekas, berganti dengan sorot mata penuh kebencian.


Bayangan demi bayangan pengkhianatan saling berkelebatan di kepala nya


Setelah memberikan senyuman sinisnya, Luna berbalik kembali membereskan peralatannya dengan gerakan cepat.


"Gays..bereskan semua peralatan yang sudah tidak diperlukan lagi. Setelah itu mari kita kembali kekantor lagi. Ayo cepat ! Waktu kita hanya sebentar disini." Teriaknya lantang.


Para kru dan partner kerja Luna sontak saling menatap bingung, bukankah tadi bosnya itu menyuruh mereka untuk bersantai ? Lalu kenapa tiba tiba sekarang berubah ?


"Kau benci padaku sayang ? Maafkan aku, tapi lihatlah aku sudah bertobat, aku bahkan sudah mempunyai pekerjaan yang halal. Aku bekerja disebuah perusahaan besar sebagai sekretaris pribadi Tuan Daffa. Aku sangat menyesal atas semua perbuatanku yang sudah menyakitimu. Tapi aku benar benar sangat mencintaimu, dan ingin segera menghalalkan mu. Apa kau tidak bisa membuka pintu maaf mu untukku sayang ?" Keluhnya dengan lirih.


Luna membisu, walaupun hatinya masih terasa sakit karena mengingat bagaimana pria didepannya ini mengkhianati cintanya yang tulus. Namun dia merasa bahagia saat mendengar jika pria itu sudah berubah total. Dan dia sebenarnya juga percaya, dilihat dari penampilannya apa yang dikatakan Ryan sepertinya tidak bohong.


Lihatlah penampilan pria itu yang terrlibat lebih rapi dan manly. Wajahnya terlihat sangat tampan, dan kesalnya Luna harus mengakuinya. Namun saat mengingat pengkhianatan pria itu membuat Luna harus kembali merasakan nyeri dan sakit dihatinya.


Melihat reaksi Luna yang sangat acuh padanya membuat Ryan kembali mendesah sedih. Ditatapnya wajah Luna yang berpaling darinya. Perlahan dia melepaskan genggaman tangannya di lengan gadis itu.


"Baiklah aku tidak akan memaksamu, mengingat kesalahanku yang begitu besar, mungkin kau tidak akan pernah bisa memaafkanku. Aku ikhlas jika kau selamanya membenciku, namun percayalah rasa cintaku padamu akan selamanya tetap ada dihatiku sampai maut menjemput ku. Maaf karena sudah menorehkan luka dihatimu. Aku janji tidak akan pernah lagi mengganggu hidupmu. Semoga kau mendapatkan pria yang jauh lebih baik dariku. Assalamualaikum." Pamitnya pelan lalu berjalan gontai menuju ke ada mobilnya.


Luna berbalik menatap punggung Ryan yang semakin menjauh. Ingin rasanya dia memanggil dan berlari memeluk pria itu, namun ego karena rasa sakitnya lebih besar dari perasaan cintanya. Gadis itu hanya mampu terisak pilu dengan tubuh yang sudah melorot ketanah.


Dicengkeramnya dadanya yang terasa sakit dan sesak, dia sangat mencintai pria itu. Bagaimana mungkin dia bisa mencari pengganti lainnya sementara dihatinya sudah terisi penuh dengan nama pria itu.


Kak Ryan.

__ADS_1


Luna tersadar, akhirnya cinta mengalahkan rasa egonya. Dengan cepat gadis itu berdiri lalu berlari kencang menyusul langkah pria itu. Nafasnya tersengal sengal karena larinya yang begitu kencang. Menoleh kesana kemari mencari keberadaan Ryan.


Luna tersenyum bahagia, saat melihat punggung pria itu dari kejauhan yang tengah berjalan gontai menuju mobilnya.


"Kak Ryan !" Teriaknya memanggil pria itu.


Ryan terpaku, telinganya samar samar menangkap suara yang begitu familiar. Namun dia menggelengkan kepalanya dengan sedikit memukulnya.


Seperti suara Luna. Tapi ah ..mustahil. Mungkin aku terlalu memikirkannya , hingga berharap dia ada di sini. Gumamnya dalam hati.


"Kak Ryan !" Suara Luna semakin keras terdengar membuat Ryan langsung menghentikan langkahnya. Kali ini telinganya menangkap suara Luna dengan sangat jelas.


Benar, itu Luna, apakah dia...


Ryan berbalik, matanya melebar saat melihat sosok yang tidak jauh berdiri dibelakangnya. Sosok gadis yang saat ini sedang menetralkan nafasnya yang terlihat ngos ngosan.


"Apa kau mau pergi lagi dariku ? Aku bahkan belum sempat berbicara apapun tapi kau sudah tidak ingin bersamaku lagi. Apa kau begitu bahagia karena tidak lagi bersamaku. Apa kau sudah tidak mencintaiku lagi. Apa kau.."


Grep


Luna terdiam saat tiba tiba pria itu berlari kearahnya lalu memeluknya dengan sangat erat. Bahkan jantungnya serasa mau berhenti saking kaget nya. Dengan bibirnya yang mengurai senyuman Luna membalas pelukan erat kekasihnya.


Pria itu bergetar, membuat Luna sedikit terkejut. Kak Ryan menangis ? Dia menangis untukku ?


"Kak.." Panggilnya lirih.


"Sebentar saja, biarkan sebentar saja seperti ini. Aku sangat merindukanmu Luna. Teramat sangat merindukanmu." Lirihnya dengan isakan pelan.


Luna terdiam, membiarkan pria itu mencurahkan rasa rindunya. Setelah dirasa pria itu sudah tenang Luna melepaskan pelukannya. Ditatapnya wajah tampan didepannya, lalu tersenyum manis dengan pipi yang merona.


"Ayo kita pulang, kakak ingin mengajakmu bertemu dengan ibu." Ajak pria itu.


Luna mengangguk bahagia, lalu menggamit lengan kokoh itu dengan manja. Mengrenyit heran saat Ryan melepas genggamannya lalu berhenti berjalan.


"Tunggu disini, kakak ingin mengambil mobil diseberang jalan sana. Jangan pergi dan tetap disini, kau mengerti." Perintahnya pelan.


Luna kembali menganggukan kepalanya lalu berdiri dipinggir jalan sembari matanya menatap punggung pria itu yang tengah berjalan dengan sesekali menoleh kebelakang. Luna mengurai senyuman manis setiap pria itu menoleh padanya dengan senyuman yang selalu menghiasi bibirnya yang sedikit tebal itu.


Luna masih tersenyum hingga tiba tiba senyuman di bibirnya menghilang berganti raut wajah panik. Gadis itu terkesiap saat ujung matanya melihat dengan jelas sebuah mobil yang melaju kencang kearah Ryan dan memang berniat menabrak kekasihnya itu. Luna sontak berlari sembari berteriak kencang.

__ADS_1


"Kakak awas !!"


TBC


__ADS_2