
Suara ayam berkokok pagi itu terdengar berbunyi nyaring, membuat jiwa jiwa yang mengembara lewat mimpi langsung tersadar seketika. Segera bangun saat terdengar suara azhan subuh menandakan jika sudah waktunya untuk menunaikan kewajiban sebagai umat muslim pada umumnya.
Tidak berselang lama setelah subuh lewat suara alunan merdu seseorang yang sedang mengaji pagi itu membuat telinga siapapun yang mendengarnya langsung terbuai. Bahkan ada yang meneteskan airmata saking terbawa perasaan seakan suara itu begitu melekat dihati mereka yang mendengarnya.
Suara itu hampir setiap hari terdengar dikampung tersebut. Dan sudah pasti mereka juga tahu siapa pemilik suara merdu tersebut. Siapa lagi jika bukan milik seorang gadis cantik yang setiap hari tidak pernah absen untuk melantunkan ayat ayat Allah SWT di Masjid samping ponpes Daarul Mukminin.
Pagi itu seperti biasa para santriwan santriwan tengah asik berbincang sebelum pelajaran dimulai. Adi, santriwan yang terkenal pandai dan santun nampak berbincang dengan beberapa temannya.
"Di tahu nggak aku tu selalu terpesona tiap mendengar suara merdu ustazhah kita itu. Ingin rasanya aku langsung bangun trus lari pada beliau trus mengutarakan isi hatiku jika aku mengaguminya." Ucap Habil sembari membayangkan wajah idolanya itu.
Plakk
"Kamu itu pikirannya kotor terus. Tidak baik membayangkan seseorang yang bukan mahram kita. Ingat itu."
"Ck, kau ini..aku kan hanya mengidolakannya." Sungutnya kesal.
"Tidak ada yang melarangmu untuk mengidolakan siapapun. Tapi jangan sampai kamu terbawa perasaan sampai begitu jauh, apalagi sampai membayangkan yang tidak tidak. Jika kamu mengidolakan beliau harusnya itu bisa menjadikannya sebagai pacuan kamu untuk terus belajar agama lebih baik lagi. Hilangkan pikiran ngeresmu itu, ingat kita disini untuk belajar. Lagipula jika kamu menyukai beliau belum tentu juga beliau membalasnya to. Selain umur kita yang berjarak sangat jauh, beliau juga terkenal dingin dan cuek jika menyangkut urusan pribadi." Ucap Adi panjang lebar.
Habil hanya meringis sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Menyeringai tipis saat sahabatnya itu malah memberi ceramah padanya.
"Kayak kamu nggak tertarik aja sama beliau Di. Lagakmu kayak orang yang sok jual mahal."
"Siapa bilang aku nggak tertarik sama beliau ? Aku tertarik kok, malah aku adalah salah satu fans beliau, tapi aku sadar jika rasa tertarik ku ini hanyalah sebatas guru dan murid saja, tidak lebih."
Habil mencebik hendak membalas ucapan Adi namun urung saat dilihatnya ustazhah Syifa yang berjalan menuju ruang kelas mereka.
"Husss diam semua,,lihat Ustazhah Syifa sudah masuk."
Lalu mereka pun langsung terdiam dan mengikuti pelajaran yang diberikan oleh ustazhah Syifa.
__ADS_1
Sementara diruangan yang begitu luas sang pemilik suara merdu nampak memandangi beberapa amplop putih yang sudah dia pastikan didalamnya berisi surat surat dari para penggemarnya. Belum lagi beberapa buket bunga mawar yang berada diatas meja kerjanya.
Gadis itu menghela nafasnya yang terasa berat, memijat keningnya dengan tangannya yang mungil. Dia bingung mau diapakan semua barang barang itu.
Hah, menyusahkan saja. Gumamnya pelan.
"Bunga lagi ? Kali ini berapa surat yang ada dimejamu ?" Suara seseorang membuyarkan lamunan gadis itu yang langsung menoleh kearah sumber suara.
"Hah..aku sampai bingung mau di apakan semua ini. Ustazhah Pipit bisakah kau membantuku ?" Tanyanya pada sahabatnya itu.
Bukannya menjawab permintaan sahabatnya, Ustazhah Pipit malah mendekati meja gadis itu lalu meraih beberapa amplop disana.
"Waah..ternyata fansmu banyak sekali ya, lihatlah ini surat dari anak kepala desa. Kau begitu populer hihihi.." Kikiknya dengan memasang wajah geli.
Gadis didepannya hanya bisa mencebik lalu memberengut.
Pipit tergelak pelan dengan tangan yang menutup mulutnya, lalu duduk disamping gadis itu.
"Harusnya kau bangga tahu banyak yang menyukaimu. Tidak hanya diluar ponpes, bahkan yang aku dengar ni ya, ustazd Hanan dan Ustazd Malik sampai bersaing untuk memperebutkanmu loh." Godanya lagi.
"Haiss kau ini, malah semakin membuatku pusing saja. Pergilah jika kau malah ingin menambah bebanku." Usirnya.
"Sya, apa salahnya coba kamu itu membuka hati kamu ? Apa jangan jangan kamu masih mengharapkan seseorang yang bahkan sampai sekarang tidak pernah terdengar kabarnya lagi ?" Tanyanya pada gadis didepannya yang ternyata adalah Akia.
Ya, gadis itu sekarang terlihat semakin cantik dengan penampilan barunya. Setelah memutuskan untuk berhijrah 3 tahun yang lalu, Akia benar benar merubah total gaya hidupnya.
Setelah sembuh dan bisa berjalan kembali, Akia memutuskan untuk belajar memperdalam ilmu agamanya. Bersama dengan Ustazhab Syifa, gadis itu belajar siang dan malam tidak pernah kenal lelah. Dan dalam kurun waktu hampir 3 tahun, Akia sukses menjadi seorang muslimah sejati, dan mengabdikan diri pada pondok pesantren di Daarul Mukminin.
Bahkan gadis itu kini menjadi orang kepercayaan Kyai Lutfi sang pemilik ponpes tersebut. Setiap ada kegiatan ataupun pengajian, gadis itu diminta untuk melantunkan ayat ayat suci Alquran. Suaranya yang merdu membuat para ibu ibu pengajian semakin bertambah setiap minggunya.
__ADS_1
Tentu saja hal itu membuat Kyai Lutfi merasa senang, karena semakin banyak orang yang berbondong bondong mengikuti kajian yang selalu dia jadwalkan setiap satu minggu sekali.
Akia sendiri ada kedamaian dihatinya saat dia melakukan hal hal baik dan bermanfaat untuk orang lain. Gadis itu selalu berusaha istiqomah dan tidak sombong dengan apa yang sudah dia miliki saat ini. Sungguh berbeda dengan dirinya yang dulu.
"Hei,,bukannya menjawab ni anak malah bengong."
"Hahh..entahlah Pit, saat ini aku tidak berpikiran kearah sana dulu. Kalau memang Allah sudah menyiapkan jodoh untukku, pasti nanti dia akan datang sendiri kehadapanku." Ucapnya berhenti sejenak.
"Lupakan tentang surat surat nggak penting itu kita bisa memikirkannya lagi nanti. Sekarang yang harus kita pikirkan bagaimana persiapan penyambutan untuk tabliq akbar minggu depan ? Apa persiapannya sudah maksimal ? Jangan sampai ada kekurangan ya, Pak Kyai sudah memberikan amanat pada kita." Tanyanya pada Pipit, pasalnya mereka berdua salah satu panitia yang ditunjuk langsung oleh Kyai Lutfi untuk mengawasi langsung persiapan acara tersebut.
"Kau jangan khawatir Sya, insya Allah sudah mendekati 85 %, sisanya bisa kau cek lagi nanti."
"Baik lah, aku percaya padamu."
"Sya ngomong ngomong, ustazd yang diundang untuk penceramah kita nanti kabarnya masih muda dan sangat tampan loh. Bahkan namanya sudah terkenal dimana mana. Aku jadi penasaran sepopuler apa dia ya."
"Ck..kau ini cowok terus yang ada dikepalamu itu."
"Yee..biarin saja. Siapa tahu berjodoh nanti denganku."
"Aamiin. Sudah aku mau pergi, ada kelas hari ini. Aku tinggal dulu ya..Assalamualaikum." Pamitnya lalu segera pergi dari ruangan tersebut meninggalkan Pipit sendirian.
"Sya..trus surat dan bunga ini gimana ?" Teriaknya.
"Buat kamu aja." Balasnya santai sambil melenggang pergi.
"Buat aku ? Hii..ogah ah." Gumamnya sambil bergidik ngeri.
TBC
__ADS_1