
Marco membelalak dengan nafas yang memburu, mendapatkan serangan mendadak dari gadis didepannya tentu membuatnya kaget hingga dia tidak sempat mengelak.
"Bedebah, kau memukulku lagi, ini sudah kedua kalinya kau melakukannya gadis sialan."
Bukannya takut gadis itu malah tertawa mendengar ucapan Marco. Dia ingat, seperti yang dikatakan oleh pria itu, ini kedua kalinya dia menendang dan memukul Marco setelah pertemuan pertama mereka dulu.
"Hahahaha bagus kau ingat Marco. Bagaimana rasanya, kali ini mungkin lebih sakit daripada yang dulu bukan."
Marco mendengus kasar, lalu mengusap darah dimulutnya. Sementara Gin hanya melemparkan pandangan mengejek kearahnya.
"Memalukan, kau dikalahkan oleh seorang wanita ? Dimana harga dirimu sebagai lelaki Marco."
Marco melirik sinis, bisa bisanya pria disampingnya ini menganggap remeh Akia.
"Cih, kau belum tahu bagaimana brengseknya gadis ini Gin."
Gin tertawa mengejek. " Bagiku semua wanita adalah sama Marco. Mereka adalah kaum lemah yang hanya bisa kita gunakan diatas ranjang saja sebagai pemuas nafsu pria."
Akia mengepal dengan kilatan amarah dimatanya. Sementara Azriel sorotan matanya menggelap mendengar Gin menghina istrinya. Saat dia ingin melangkah, namun diurungkannya kakinya ketika mendengar istrinya berucap.
"Kau benar sekali Tuan, wanita hanyalah kaum lemah yang hanya bisa dipermainkan oleh para pria, termasuk hatinya." Sedikit melirik kearah suaminya. " Tugas mereka hanyalah melayani pria diatas ranjang."
Gin memyeringai. " Jika begitu setelah peperangan ini, bagaimana jika kita menghabiskan malam panjang diranjang saja baby ?" Ucapannya dengan menatap Akia dari atas kebawah.
Akia memandang jijik pria didepannya yang terlihat seperti singa lapar dan siap memangsa buruannya.
"Seperti yang kau inginkan Tuan." Ucapnya lagi sembari melirik kearah Azriel, dapat dia lihat pria itu melotot sempurna mendengar perkataannya. " Tapi dalam mimpimu." Tambahnya yang langsung menyerang Gin dan Marco.
Melihat serangan gadis itu Gin dan Marco pun langsung memasang siaga. Melihat istrinya bergerak, Azriel tidak tinggal diam. Dengan cepat membantu Akia, kali ini pertarungan terlihat seimbang. Akia melawan Marco, sementara Azriel melawan musuh bebuyutannya, Gin.
Melihat para tuannya bergerak, mereka yang disana pun ikut bergerak. Dan pertarungan sengit pun tidak dapat dielakkan lagi. Alex dan Rio segera membantu Dhafa dan Vino yang mulai lemah kehabisan tenaga. Bersama anak buah Alex yang terkenal handal dan kuat. mereka berusaha menguasai lawan. Saat tengah bertarung Alex sempat melirik jika saat ini Azriel tengah terdesak oleh lawannya.
Kenapa dia semakin kuat. Seru Azriel didalam hati.
"Kalian salah telah membuat masalah diwilayah kekuasaanku." Seru Alex seraya membantu Azriel yang sedikit kewalahan menghadapi lawannya. Sebuah tendakan dia daratkan dipunggung Gin.
Gin melirik kearah Marco. " Siapa dia."
"Aku tidak tahu Gin, dia bilang ini wilayah kekuasaannya, jangan jangan dia Alex ketua gangster berdarah dingin yang terkenal itu." Tebaknya yang membuat Gin terperangah.
"Kau bodoh, kenapa bisa kecolongan seperti ini. Kau tahu dia punya pengaruh kuat, bahkan kekuatannya sampai kebeberapa negara bagian." Umpatnya pada Marco.
"Apa yang kalian bisikkan ? Aku tidak suka melihat orang bicara dengan suara lemah. Ayo lawan kami." Seru Alex dengan tatapan dinginnya.
"Kau benar benar bodoh, menghadapi El saja sudah sulit, sekarang ditambah dia, dan juga gadis itu ternyata kuat juga. Sialan." Umpatnya lagi pada Marco.
__ADS_1
Saat ini mereka saling mendekat karena desakan yang datang dari ketiga lawan didepannya.
"Aku tidak ingin membunuh orang lagi Alex, sebisa mungkin jangan membuat nyawanya menghilang." Seru Azriel pada pria didekatnya.
Alex menyeringai tajam dengan lirikan mautnya.
"Aku tahu, kau jangan khawatir. Karena aku yang akan menghabisinya."
Azriel kembali melayangkan serangannya, begitu pula dengan Akia dan Alex. Alex yang memang sudah geram sedari tadi saat mendengar bagaimana pria ini menghina Akia, gadis yang sangat berarti dihidupnya. Amarah pria itu tidak tertahankan lagi, dengan gesit dan cepat melancarkan pukulan demi pukulan pada Gin.
Saat Gin mulai mengeluarkan belati miliknya, Alex tersenyum miring. Sikapnya sangat santai dan tenang, walau pikirannya terselimuti amarah yang membara.
Wutt
Wutt
Suara belati yang terayun dengan kencang begitu kuat terdengar ditelinga, Alex menunduk dengan gerakan kebelakang menghindari sabetan belati. Gerakan tubuhnya sangat lentur dan terlatih, membuat Gin menggeram karena sebagian dari serangannya tidak ada yang bisa melukai pria didepannya.
Memang benar yang dikatakan sebagian orang, bertindak dikala amarah menguasai kita membuat semuanya menjadi hancur. Itulah yang terjadi pada Gin, karena rasa amarahnya yang tidak bisa melukai lawannya, membuatnya gelap mata dan bertindak tidak memakai akal dan pikirannya.
Gin terus menyerang Alex dengan membabi buta, sabetan demi sabetan terus dia lancarkan pada Alex. Hingga pada akhirnya tubuhnya sedikit lelah, dan itu tidak disia siakan oleh Alex.
Alex menendang tangan Gin yang memegang belati hingga senjata tajam itu meluncur keatas. Dengan gerakan kilat, Alex melompat keatas dengan menggunakan tubuh Gin sebagai tumpuannya, meraih belati itu, lalu dengan gerakan memutar dia mengarahkan senjata itu berbalik kepada Gin yang nampak tidak siap menerima serangan darinya.
Jleb
"Uggh.."
Kedua mata Gin melotot sempurna, tidak menyangka jika senjatanya kini malah mengenai tubuhnya. Pria itu membeku dengan tatapan kosong, sementara Alex tersenyum miring penuh kemenangan. Dia menusuk lebih dalam kedada Gin lalu memutar belatinya dengan sangat pelan membuat Gin semakin melotot kesakitan.
"Uhukk..." Darah muncrat keluar dari mulutnya dengan tubuh yang mulai melemah.
"Kau membuatku marah karena berani menghina gadis yang sangat berarti bagiku brengsek, dan inilah balasan yang harus kau terima." Bisiknya dingin ditelinga Gin.
Alex menendang tubuh lemah pria itu yang langsung ambruk ditanah meregang nyawa. Sekian detik kemudian nyawa Gin benar benar melayang dengan sangat mengenaskan, kedua matanya melotot pertanda jika dia sangat kesakitan. Sayatan dilehernya dan luka tusukan didadanya tepat mengenai jantungnya, yang membuat pria itu tewas seketika.
Alex menepuk nepuk kedua tangannya sembari tersenyum puas. Dia berjalan mendekat kearah Gin yang sudah tidak bernyawa, lalu mencabut belati yang menancap didada Gin. Membersihkan darahnya dengan pakaian Gin. Lalu menoleh kearah Marco yang nampak gemetar melihat bagaimana Gin tewas dengan sangat mengenaskan.
Sementara Azriel menarik lengan Akia, membawanya agak jauh dari pertarungan.
"Tetap disini, dan jangan kemana mana." Bisiknya penuh penekanan.
Akia mendengus kasar, walaupun begitu gadis itu tetap menuruti perintah suaminya. Berdiri disana hanya sebagai penonton saja.
Azriel menunduk saat Marco berusaha menendang kearah kepalanya. Lalu menangkisnya dengan tangan kirinya, menangkap kaki Marco lalu membantingnya ketanah.
__ADS_1
Brukk
Tubuh Marco jatuh terpelanting ketanah membuat pria itu menggeram. Segera bangkit lalu kembali menyerang Azriel. Kali ini Azriel yang menguasai keadaan. Pria itu berlari melancarkan pukulannya bertubi tubi pada perut Marco, lalu menendang perutnya dengan menggunakan dengkulnya. Lalu melompat dengan gerakan memutar, memberikan tendangan pada punggung Marco dengan memakai ujung tumit kakinya.
Duggh
"Uhukk.." Darah kembali keluar dari mulut pria itu, tapi kali ini terlihat semakin banyak daripada tadi.
Marco terbatuk batuk, dadanya semakin nyeri dan sesak, pandangan matanya pun mulai mengabur. Dia menggeleng gelengkan kepalanya berusaha menormalkan kembali penglihatannya.
"Kau benar benar brengsek El, aku akan membunuhmu kali ini." Pekiknya, lalu tanpa disangka sangka dia mengeluarkan senjata api yang terselip dipinggangnya. Mengarahkan pistol itu tepat dikepala Azriel.
Azriel dejavu, namun tetap tenang dengan pandangan mata yang terus terarah pada Marco. Sementara Akia terlihat sangat panik, gadis itu hendak melangkah namun diurungkannya saat melihat suaminya yang menggelengkan kepala pelan padanya. Menyuruhnya untuk tetap diam ditempatnya.
Akia terdiam dengan kedua mata yang berkaca kaca, sembari matanya terus melihat suaminya dari kejauhan yang sedang berdiri pasrah saat Marco menodongkan senjata api padanya.
Marco menyeringai dengan senyuman sinis yang dia berikan pada Azriel.
"Selamat tinggal El, sampaikan salamku pada Riva." Ucapnya sembari mulai menarik pelatuk pistolnya.
Satu detik lagi peluru itu akan meluncur kencang dari sarangnya dan akan mengenai tepat dikepala Azriel. Namun tiba tiba sebuah benda melayang dengan cepat menembus gelapnya malam.
Whutt
Jleb
Pistol itu terjatuh sebelum pelurunya sempat meluncur keluar dari sarangnya. Berganti dengan aliran darah yang menetes deras dikening Marco tepat dimana belati itu menancap dikeningnya dengan sangat mengerikan.
"Kau.." Ucapnya terbata dengan mata yang membelalak.
Azriel membuka mata saat dia tidak merasakan sakit ditubuhnya. Pria itu juga terkejut saat membuka matanya dan mendapati Marco yang terduduk dengan pisau belati menancap dikeningnya.
Alex berjalan santai menuju kearah Marco yang masih terduduk kaku, tersenyum miring dengan sebelah kaki menimpa pundak pria itu.
"Sebaiknya kau sendiri saja yang menyampaikan salammu itu padanya." Bisiknya lalu menendang tubuh itu hingga tergeletak ditanah.
Marco tewas seketika dengan darah yang tidak berhenti mengalir dari kepalanya. Alex berbalik, lalu berteriak kencang.
"Berhenti, jika tidak aku akan membuat nyawa kalian seperti kedua bos kalian ini." Teriaknya yang langsung membuat mereka seketika menghentikan pertarungan. Mereka melihat bagaimana kedua bos mereka yang tergeletak dilantai bersimbah darah dengaan sangat mengenaskan.
TBC
Author double up Dan tidak gantung ya..auto takut dimarahi para readers 🤣🤣🤣canda ding.
Jangan lupa tinggalkan jejak ya sahabat..maaf part ini agak mengandung sedikit kekerasan..
__ADS_1