
Dhafa menatap bangunan yang luas didepannya ini dengan hati yang tidak menentu. Dua kali dia menapakkan kakinya ditempat ini, dulu saat adiknya melangsungkan pernikahannya dan sekarang dia kembali berada ditempat ini dengan tujuan yang berbeda.
"Apa kamu yakin akan kesini ? Sepertinya kamu masih ragu Fa."
Dhafa menatap wajah cantik yang saat ini menemaninya datang kesini.
"Kita bisa datang lain waktu jika kamu..."
"Aku yakin Qila, dan aku tidak ingin mengulur waktu lagi." Potong Dhafa dengan raut wajah yakin.
Aqila menatap wajah kekasihnya yang terlihat frustasi, mungkin karena disebabkan pekerjaan yang menumpuk dan juga masalahnya yang penting ini.
Masih terekam jelas dimemorinya cerita Dhafa kemaren. Dia pun tidak menyangka jika ternyata pria itu masih memiliki saudara bahkan ini adalah adik kandungnya sendiri.
"Aku tidak tahu jika adikku ternyata masih hidup, dulu pamanku bilang katanya waktu kecelakaan ayah dan ibu, adikku ikut serta didalam mobil. Tapi anehnya polisi tidak menekukkan jasad adikku, hanya jasad kedua orangtuaku yang ada didasar jurang Qila.
Aku masih kecil dan belum bisa berbuat apa apa, mendengar peristiwa itu tentu saja membuat duniaku runtuh seketika. Orangtuaku dan juga adikku satu satunya telah pergi meninggalkan aku didunia ini.
Dan beberapa hari setelah kepergian orangtuaku dan juga adikku, paman membawaku keJakarta. Dia bilang katanya akan ada orang yang merawatku dan juga membiayai sekolahku. Aku ingat saat itu usiaku baru menginjak umur 12 tahun. Dan dengan polosnya aku mengiyakan ajakan paman tanpa curiga sedikitpun.
Dan kamu tahu saat sudah sampai diJakarta aku masih tertidur didalam bis, dan dengan kejamnya paman meninggalkanku seorang diri ditempat asing dan kejam. Selama dua tahun akhirnya aku menjadi seorang gelandangan yang harus menjalani kerasnya hidup diibukota.
Hingga pada akhirnya aku bertemu dengan Akia, sosok gadis kecil yang imut dan menggemaskan dimataku. Dan karena gadis itu, papa Aryan dan Mama Kayla merawatku bahkan menyekolahkanku hingga keperguruan tinggi dan dari situlah aku mengabdikan diriku pada keluarga Khanza. Bahkan kakek Faris mengangkatku sebagai asisten dan juga wakil CEO setelah papa Aryan.
Kami berdua sangat dekat, aku seakan melihat adikku Fitria didalam diri Akia. Kami belajar bersama dan kuat bersama, dan kakek Faris juga berpesan padaku untuk selalu menjaganya jika pada saatnya beliau pergi.
Aku benar benar tidak tahu, hingga beberapa hari yang lalu ada sebuah amplop cokelat yang berada diatas meja. Ketika aku membukanya, jantungku seakan berhenti berdetak. Bagaimana tidak itu adalah pesan dari paman yang mengatakan jika adikku masih hidup.
Aku seakan tidak percaya, kemudian aku menyuruh Rama untuk menyelidikinya dimana paman dan juga adikku, karena setelah dia membuangku aku kehilangan jejaknya.
Saat Rama berhasil menemukannya, ternyata pamanku sudah meninggal karena dibunuh oleh sekelompok preman karena beliau mempunyai hutang yang begitu besar. Dan sebelum meninggal dia sempat menitipkan sebuah foto dan juga alamat dimana adikku berada pada temannya.
Aku tahu dimana tempat itu, dan besok aku akan kesana untuk memastikannya. Aku ingin menebus kesalahanku yang percaya dengan ucapan pamanku. Aku bisa saja langsung menemuinya, tapi aku ingin meyakinkan dulu supaya aku tidak salah orang walaupun hati kecilku yakin jika dia memang adikku*.
Flashback Of
"Mari Tuan dan Nona, Kyia Lufti sudah menunggu diruangannya." Ucapan salah seorang pengurus pesantren itu membuyarkan lamunan kedua orang itu yang masih berdiri menatap bangunan didepannya.
Ya, mereka saat ini ada dipesantren Daarul Mukminin milik Kyai Lutfi. Dhafa sengaja datang kesini untuk mencari tahu lebih jelas tentang adiknya. Dan kemaren dia sudah membuat janji temu dengan beliau.
"Silahkan Tuan." Ucap pengurus itu dengan ramah.
__ADS_1
"Terima kasih pak, tapi maaf jangan panggil saya Tuan, panggil Dhafa saja, dan ini calon istri saya Aqila." Jawab Dhafa sedikit agak ramah.
"Baik Tu..eh mas saja deh biar lebih enak sayanya. Saya Budi, yang suka menemani Kyai jika beliau ada acara diluar mas. Kalau begitu saya undur diri ya, sampean sudah ditunggu didalam." Ucapnya sopan.
"Makasih pak Budi."
"Sami sami."
Setelah kepergian Pak Budi, Dhafa mulai mengetuk pintu sembari mengucap salam.
Tok Tok Tok
"Assalamualaikum.."
"Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh." Jawab suara besar namun lembut dari arah dalam.
Cklek
Pintu terbuka dan muncul sosok pria bersorban setengah baya dengan senyuman lebar dan tatapan matanya yang teduh.
"Ealah, nak Dhafa..wes teko, kenapa ndak bilang bilang, kan biar dijemput nantinya." Sambut Kyai Lutfi dengan campuran bahasa jawanya.
"Nggih ndak papa Kyai."
Aqila nampak mengerutkan keningnya bingung dengan bahasa mereka berdua. Melihat kekasihnya kebingungan Dhafa mendekatkan bibirnya dan berbisik pelan.
"Itu bahasa jawa, jangan bingung ada aku disini kamu cukup diam saja ya sayang." Aqila mengangguk lalu ikut melangkah masuk kedalam rumah.
"Umi..mi.." Panggilnya pada sang istri, sesaat mereka sudah sampai didalam.
"Nggih Bi." Seorang perempuan paruh baya bercadar nampak muncul dari arah dalam menghampiri suaminya.
"Iki, tolong gawekno unjukan kanggo tamune Abi iki Mi." Suruhnya pada istrinya. (Ini, tolong bikinin minuman buat tamunya abi, mi)
"Inggih Bi." Tanpa berkata lebih istri Kyai Lutfi menuju kedapur membuatkan minuman untuk kedua tamu suaminya.
"Jangan repot repot Kyai, saya jadi nggak enak." Ucap Dhafa dengan senyum canggungnya.
"Ora repot kok le." (Nggak repot kok nak)
Sesaat setelah berbasa basi Kyai Lutfi menanyakan kabar Akia dan juga ustazhah Syifa.
__ADS_1
"Bagaimana kabar adik dan mamamu ?"
"Alhamdulillah mereka baik dan sehat Kyai."
"Abi, panggil saya Abi saja, biar enak dengernya. Kalo panggil Kyai itu kesannya saya kok kayak sombong gitu hahaha.." Perintahnya sembari tertawa.
"Kyai..eh Abi bisa saja." Jawab Dhafa dengan tersenyum, suasana sudah tidak canggung lagi diantara keduanya. Nampaknya Dhafa sudah bisa menyesuaikan diri, melihat sikap Kyai Lutfi yang humoris sama seperti almarhum kakek Faris.
"Lah iyo to, abi ini udah bilang loh sama semua orang jangan memanggilku dengan sebutan Kyai, tapi mereka kok pada ngeyel. Kadang bikin Abi ini kesel."
"Kalau boleh tahu memang kenapa Abi kok nggak mau dipanggil begitu ?" Tanya Aqila penasaran pada sosok pria paruh baya didepannya ini.
"Hahaha..Abi hanya nggak mau menanggung dosa saja nanti diakhirat. Kita ini hanya manusia sama sama ciptaan Allah SWT. Apa yang mau disombongkan, harta juga tidak bisa dibawa mati. Gelar ? Abi hanya takut jika nanti diakhirat Abi tidak bisa mempertanggungjawabkan gelar Abi yang diberikan pada Abi ini. Abi lebih enak dipanggil nama tanpa embel embel Kyai atau apalah, tapi yo tetap saja namanya manusia kan ladangnya ngeyel."
Aqila termangu begitu juga dengan Dhafa, ada rasa malu didalam dirinya mengingat bagaimana dirinya selama ini yang kadang masih membanggakan kekayaannya dan juga derajatnya. Tidak seperti manusia didepannya ini. Bergelimang harta tapi malah ketakutan.
"Apa kalian tahu santriwan dan santriwati yang menimba ilmu disini semuanya tidak dikenai biaya apapun alias gratis."
Dhafa kembali melongo, bathinnya bagaimana mungkin, pesantren ini termasuk kalangan terkenal dan besar. Jika siswanya tidak dikenakan biaya lalu bagaimana dengan biaya biaya lainnya yang pasti dibutuhkan oleh pesantren ini.
"Kalian pasti bingung kalau disini gratis lalu darimana kami akan membayar para guru dan juga kepentingan pesantren ini kan."
"Iya Abi, jujur saya bingung."
"Hahaha kenapa bingung, kan ada Allah SWT. Pesantren ini dibiayai oleh Allah, melalui tangan tangan hamba Allah yang mempercayai hartanya untuk dititipkan dipesantren ini, termasuk adikmu Akia."
Dhafa semakin terkejut, adiknya Akia ikut menjadi donatur dipesantren ini selain papanya.
"Apa sudah lama Abi, maksud saya tentang Akia yang menjadi donatur dipesantren milik Abi ini."
"Semenjak dia tinggal disini, adikmu itu sudah menjadi donatur tetap dipesantren Abi. Tentunya juga anak anak Abi yang lainnya. Sungguh Abi sangat terharu melihat bagaimana anak cucu Adam yang saling berlomba untuk mendapatkan syurganya Allah SWT. Menitipkan hartanya untuk membuat rumah disyurganya nanti."
Lama keduanya terdiam mendengarkan sedikit ceramah Kyai Lutfi yang seketika membuka mata hati Dhafa. Begitu banyak kekurangan dirinya selama ini, dan sebagai manusia dia merasa malu karena dia masih saja selalu merasa kurang bersyukur dengan apa yang dia punya saat ini.
"Baiklah sekarang kita kembali kemasalah awal. Apa yang kamu butuhkan Le sampai kamu repot repot datang ketempat Abi ini."
Dhafa menghela nafas panjang sembari menatap wajah teduh Kyai Lutfi. Entah kenapa tiba tiba jantungnya berdetak sangat kencang, dia mendadak gugup dan pucat. Beberapa detik lagi dia akan mengetahui sosok adiknya.
"Abi..maksud kedatangan saya kemari karena ada beberapa hal yang ingin Dhafa ketahui tentang seseorang yang selama ini berada di pesantren milik Abi."
"Siapa ?" Tanya Kyai Lutfi dengan senyum yang muncul dibibirnya.
__ADS_1
"Ini tentang...Pipit."
TBC