
Dhafa memandang iba pada wajah yang kedua matanya tertutup. Dapat dia rasakan kepedihan dan kehancuran gadis itu. Dia sangat tahu bagaimana perasaan dan keinginan besar gadis itu.
Sebuah keinginan besar yang harus hancur karena sebuah kecelakaan. Siapapun pasti akan mengalami syok dan down. Beruntung gadis itu masih tetap bertahan walau dengan keadaan yang memprihatinkan.
Pria itu keluar karena tidak ingin terus terlihat lemah dihadapan sahabatnya. Dia begitu menyayangi Akia, sahabat sekaligus cinta pertamanya sejak kecil. Hanya dia yang tahu, karena selama ini dia selalu menahan perasaan itu jauh dilubuk hatinya.
Akia membuka kedua matanya ketika Dhafa sudah keluar dari kamarnya. Gadis itu terbangun saat dia merasakan sentuhan tangan Dhafa yang membopong tubuhnya keatas ranjangnya. Namun dia berpura pura tidur, dan dapat dia lihat bagaimana wajah sedih Dhafa saat menatapnya. Inilah yang tidak dia inginkan, selalu ditatap dengan pandangan kasihan oleh orang lain.
Dia benci, sungguh dia sangat membenci keadaan ini. Dengan lesu dia mencoba bangun dan meraih kursi roda nya. Namun malang, tangannya terpeleset dan pada akhirnya gadis itu terjatuh kelantai.
Brukk
Sekuat tenaga gadis itu mencoba menahan sakit di pinggangnya dan mencoba untuk duduk di kursi roda dengan berpegangan kuat pada sisi ranjang. Namun sayang, usahanya gagal berulang kali, hingga membuat dia merasa lelah. Ringisan terus terlihat diwajahnya saat dia merasakan pinggangnya semakin terasa sakit.
Pintu terbuka, menampakkan wajah Dhafa yang muncul pertama kali. Disusul ketiga temannya yang lain, lalu papanya dan juga dia, seseorang yang berdiri diujung pintu.
"Astaga, Kia !"
Dhafa berlari kearahnya, lalu mengulurkan tangannya hendak membantu kembali Akia. Namun gadis itu menepis tangannya dengan kasar lalu menatapnya sinis.
"Sya." Panggil Dhafa lirih, hatinya kelu melihat penolakan gadis itu.
"Pergi." Ucap Akia lirih.
"Tapi Sya..."
"PERGI !!! Apa loe tuli hah ! Gue bilang pergi, pergi kalian semua..pergi !" Teriaknya histeris.
Gadis itu terluka dengan keadaannya, dia merasa jijik dan tidak berguna. Dia benci dengan pandangan iba setiap orang yang melihat kondisinya. Dia benci dikasihani orang lain.
Dhafa meneteskan airmatanya begitu juga yang lainnya. Bahkan Tuan Aryan nampak tidak sanggup melihat keadaan putrinya yang nampak hancur dan rapuh. Rasa bersalah kembali menghantuinya, bagaimanapun putrinya seperti ini karena sikapnya. Sikapnya yang tanpa sadar membuat seseorang mempunyai dendam padanya.
Ah, ngomong ngomong masalah dendam, pria paruh baya itu sudah mengetahui siapa dalang dibalik kecelakaan putrinya itu. Viona, ya wanita ular itu sudah dia penjarakan dikantor polisi. Beserta pria yang membantunya. Tuan Aryan bahkan membuat perusahaan pria itu mengalami kebangkrutan dalam sekejap.
Kembali pada Akia.
Dhafa membawa Tuan Aryan yang nampak lemas untuk keluar dari kamar putrinya. Begitu juga yang lainnya, menyisakan seseorang yang menatap tajam gadis itu dengan tatapan penuh arti. Langkahnya pelan mendekati Akia.
"Pergi Dhafa ! Gue mohon..pergi." Isak gadis itu tanpa melihat siapa orang yang sedang berdiri disampingnya. Gadis itu berpikir jika Dhafa kembali ke kamar nya.
__ADS_1
Pria itu berjongkok dihadapan Akia yang tengah menunduk sembari terisak. Kesedihan dapat dia rasakan dari tangisan gadis itu. Perlahan pria itu menyelipkan kedua tangannya dipunggung dan kaki Akia, lalu membawanya duduk dikursi roda.
Akia kaget setengah mati, dia mendongak. Wajahnya kembali terkejut saat sadar jika yang menggendongnya bukanlah Dhafa. Gadis itu berontak mencoba melepaskan diri dari cengkeraman tangan kokoh pria itu.
"Diam !" Sentak pria itu dengan suara dinginnya.
Akia membeku, gadis itu tertegun karena baru kali ini pria itu berkata dingin padanya. Seketika gadis itu dapat merasakan hawa mencekam disekelilingnya. Melihat gadis itu diam dan menurut membuat sudut bibir Azriel sedikit terangkat. Dengan pelan dan lembut dia mendudukkan Akia di kursi roda tersebut.
"Maaf sudah menyentuh mu." Ucapnya dengan nada suara yang berubah lembut dan hangat.
Akia berpaling, menyembunyikan wajahnya yang memerah karena malu.
Azriel tersenyum melihat tingkah gadis didepannya, lalu matanya berpaling pada kedua kaki Akia. Pria itu berjongkok tepat dihadapan Akia, membuat gadis itu menatapnya heran.
"Maaf." Ucapnya lagi meminta ijin menyentuh kaki gadis itu. "Apa ini terasa sakit ?" Tanyanya lirih.
Akia membisu lalu menggelengkan kepalanya perlahan.
"Apa kau percaya dengan mukjizat Allah ?" Tanyanya sembari mendongak menatap wajah gadis yang memalingkan wajahnya kearah samping.
"Tidak." Sahutnya cepat.
"Ck, itu hanyalah omong kosong." Ketusnya.
Azriel tersenyum, dia sudah tahu apa yang telah terjadi pada Anzhanya. Gadis itu mengalami peristiwa menyakitkan di masa lalu yang membuatnya merubah total prinsip dan juga hidupnya.
"Kenapa kau berpikrian seperti itu ?"
"Jika Dia sayang, Dia tidak akan mengambil orang yang gue sayangi."
Azriel menggeleng, lalu kembali tersenyum.
"Boleh aku tahu siapa yang sudah Dia ambil darimu ?"
Akia mengrenyit heran, untuk apa pria itu perduli dan melontarkan pertanyaan padanya. Ingin dia memakinya, namun aneh lidahnya seakan kelu. Bukan umpatan yang keluar, justru jawaban demi jawaban yang dia utarakan pada pria itu.
"Kenapa loe perduli sama gue ?"
"Bisakah kau tidak memanggilku dengan sebutan loe dan gue ? Bagaimanapun kau adalah calon istriku, dan aku tidak suka kau melakukan panggilan seperti itu." Alih alih menjawab pria itu malah meminta sesuatu padanya.
__ADS_1
Akia berdecih, dia menatap sinis pada pria itu. Namun aneh, dia justru kembali menuruti perintah pria tersebut.
"Ck, cepat katakan padaku, kenapa kau perduli padaku ? Pergilah jika kau hanya merasa kasihan dengan kondisiku. Aku tidak butuh rasa belas kasihanmu." Ketusnya.
Azriel tersenyum senang karena gadis itu menuruti permintaannya.
"Karena kau caloni istriku." Ucapnya dengan menekan kata istri.
Hati Akia menghangat hanya dengan mendengar ucapan pria itu, bahkan jantungnya berdetak sangat kencang. Dia heran sendiri dengan hatinya saat ini, hanya karena perkataan sederhana dari pria itu, kenapa hatinya merasakan bahagia dan nyaman.
"Lupakan ucapanku barusan, kembali pada pertanyaan ku tadi. Bisakah kau mengatakan siapa telah meninggalkanmu sampai kau berubah seperti sekarang ini ? Karena aku yakin jika kau dulu bukanlah gadis seperti sekarang."
"Dia mengambil mamaku dan.." Ucapnya lirih dengan kepala yang tertunduk.
"Siapa ?" Tanya Azriel dengan nada super lembutnya.
"Dariel." Sahut gadis itu lirih.
Azriel bahagia, gadis itu masih mengingatnya.
Kau masih mengingatku ANZ. Gumamnya dalam hati.
Azriel bangkit, lalu berdiri membelakangi gadis itu. Pria itu mengusap kasar sudut matanya yang berair. Ah dia kesal, kenapa dia ikutan cengeng. Tidak dia hanya terharu karena gadis itu masih mengingatnya.
"Sya..bagaimana jika keajaiban itu datang. Bagaimana jika suatu saat nanti kau bisa kembali berjalan ? Mungkin mamamu memang tidak bisa kembali. Tapi apa yang akan kau lakukan jika suatu saat kakimu bisa sembuh dan orang yang kau cintai ternyata masih ada didunia ini ?"
Akia termangu, tiba tiba lidahnya kelu. Dia menatap punggung pria itu dengan tatapan heran.
"Ak-aku.."
Azriel berbalik, lalu menatap kembali menatap wajah gadis itu yang kembali menundukkan kepalanya.
"Yakinlah akan kebesaran Allah, dan cobalah untuk ikhlas dengan apa yang saat ini terjadi padamu. Sesungguhnya Allah tidak akan memberikan cobaan melebihi batas kemampuan hamba-Nya. Allah hanya ingin tahu dengan cobaan yang Dia berikan apakah hamba-Nya semakin menjauh dariNya apa semakin mendekat padaNya. Renungkan perkataanku. Aku pergi."
Pria itu berjalan menjauhinya namun saat sampai didepan pintu, dia berhenti lalu kembali berucap.
"Masalah bagaimana kondisimu saat ini, itu tidak akan pernah menyurutkan langkahku untuk tetap melanjutkan pernikahan ini. Kau harus ingat itu."
Lalu pria itu kembali melanjutkan langkahnya meninggalkan Akia yang termangu seorang diri.
__ADS_1
TBC