
Akia menatap tajam ketiga pria yang saat ini duduk dihadapannya, tentu saja dengan wajah yang sirat akan amarah yang siap untuk meluncur keluar. Sementara ketiga pria didepannya hanya bisa menatapnya dengan ekspresi yang berbeda beda.
Azriel yang menatapnya penuh cinta, Alex yang hanya bisa menyengir kuda sembari menggaruk garuk kepalanya yang tidak gatal, dan jangan lupakan satu orang yang nampak memasang wajah malas dan datarnya, siapa lagi jika bukan simuka es Dhafa Resmana.
"Kalian berdua tidak ada yang ingin menyampaikan sesuatu padaku ?" Sindir Akia dengan suaranya yang bernada dingin.
Dhafa memutar bola matanya malas, sementara Alex nampak tegang dengan tangan yang terus menggaruk kepala bagian belakangnya. Akia yang sedari tadi terus memperhatikan pria bertato itu mulai tidak sabar.
"Banyak kutu bang ? Makanya mandi trus dikeramasin tuh kepala, biar kutunya hilang. Katanya kaya, tapi kepala kok banyak kutu gitu." Sentak Akia yang membuat tawa seorang Dhafa langsung pecah mendengar banyolan adiknya.
"Huahahaha..."
Alex melotot tajam pada Dhafa yang sudah berani menertawakannya. Walau hatinya sedikit kesal karena celetukan Akia, tetap saja pria itu hanya bisa menerima pasrah.
"Kok kamu tega sekali ngomong gitu sih Sya, masa abang dibilang banyak kutunya." Ucapnya merajuk sembari memasang muka melas.
Akia memutar bola matanya jengah dengan sikap Alex yang mendadak berubah alay. Sementara Dhafa masih saja mengulum senyum gelinya melihat sikap Alex.
"Lucu kak." Tanya Akia singkat.
"Banget.." Jawab pria itu santai.
"Jadi badut aja kalo gitu."
Kali ini Alex yang tidak bisa menahan ketawanya, pria itu bahkan sampai memegang perutnya yang terasa kaku karena tawanya, sementara Dhafa hanya memasang muka masam. Tawa Alex berhenti kala melihat wajah Akia yang menatapnya tajam. Dengan segera pria itu memasang muka datarnya kembali lalu berdehem keras.
"Jadi sekarang apa kalian berdua bisa menjelaskannya padaku."
Dhafa terdiam sembari melirik kearah Azriel yang nampak santai dengan senyuman tipis menghiasi bibirnya. Sementara tangan pria itu sibuk memainkan ujung hijab Akia yang panjang menjuntai, karena hari ini Azriel meminta istrinya itu untuk memakai gamis, bukan setelan celana dan atasan.
Dasar bucin, ternyata cinta bisa membuat orang jadi kehilangan akal. Selain itu cinta juga bisa merubah sifat dan watak seseorang, lihat saja sisetan ini yang terkenal dingin dan kejam bisa selembek gitu hanya karena cinta. Melihatnya saja membuatku merasa ngeri..hiiii..Apa nanti aku juga begitu ya..tapi jangan deh..ga sanggup aku. Ucap Dhafa dalam hati, namun seketika dia mengingat seseorang yang selama ini diam diam sudah mencuri hatinya.
"Kak.." Panggil Akia membuat lamunan Dhafa buyar, pria itu berdecak sebal mendapati adiknya yang keras kepala.
"Ck, ayolah Sya..kau kan tahu sendiri jika kami melakukan itu semua karena satu alasan yang kamu sendiri sudah tahu apa jawabannya. Kenapa kau jadi menyebalkan begini sih." Umpat Dhafa yang langsung mendapatkan toyoran keras dikepalanya.
__ADS_1
"Beraninya kau mengumpat istriku." Sentak Azriel dengan muka ketus.
"Ck, ini lagi dasar bucin." Decak Dhafa kesal.
"Dan kau bang, apa kau juga akan mengatakan alasan yang sama." Tanya Akia beralih pada Alex.
Alex menggendikkan bahunya acuh. "Yups, aku hanya membantu, itu saja." Jawabnya singkat.
Akia mendengus ingin rasanya dia menjitak kepala dua pria itu dengan sendok didepannya, namun lagi lagi sentuhan suaminya diujung kepalanya berhasil menenangkan emosinya yang sudah siap meluncur keluar.
"Sudahlah Ratuku, jangan marah marah begitu. Yang penting kan sekarang semua sudah kembali normal. Kita melakukan itu karena kita semua sayang sama kamu dan tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi padamu. Ambil hikmahnya dan bersyukur atas pertolongan yang Allah berikan pada kita." Bujuk Azriel dengan suara lembut.
Akia mendesah pelan beristighfar didalam hati, berusaha menenangkan hatinya yang tersulut emosi. Sementara dua pria didepannya terbengong dengan mulut menganga. Tidak percaya ternyata Azriel bisa bersikap alay begitu pada istrinya. Mereka baru tahu hari ini, jika Azriel ternyata bisa sealay itu. Membuat keduanya bergidik ngeri membayangkan akankah mereka nanti juga akan seperti Azriel jika bersikap terhadap pasangannya.
Akia yang melihat tingkah aneh dua pria didepannya kembali mengrenyitkan dahinya. Merasa heran, sejenak hatinya bertanya ada apa demgan sikap mereka, apa mereka kesurupan.
"Kalian berdua kenapa ? Kayak orang kesurupan gitu."
"Iya kesurupun arwah bucin." Celetuk Alex asal nyeplos.
Dhafa menoyor kepala Alex dengan geram.
"Lo yang apa apaan bang, jangan turunin derajat kita didepan wanita donk. Dimana harga diri kita sebagai lelaki macho. Dimana Alex yang terkenal dingin dan kejam, masa lembek didepan wanita sih." Bisik Dhafa ditelinga Alex.
Alex tertegun dan membenarkan ucapan Dhafa. Pria itu berdehem lalu kembali memasang wajah datar seperti biasa. Namun baru saja beberapa detik, wajah dinginnya langsung kembali berubah menjadi wajah tengil.
"Gua nggak bisa kalo didepan dia Fa." Bisiknya lagi ditelinga Dhafa sembari menunjuk Akia dengan dagunya. " Gua berusaha masang wajah datar, tapi dianya bikin ulah lucu yang bisa membuat gua terlihat bodoh."
Dhafa tertawa keras, pasalnya dia pun seperti itu. Hanya didepan Akia saja dia bisa bersikap santai dan hangat.
Akia menatap kedua pria itu dengan tatapan penuh arti, didalam hatinya gadis itu tertawa sepuasnya melihat tingkah absurd kakak dan sahabatnya itu. Akia tahu apa yang dibicarakan mereka, paling paling juga membahas bagaimana caranya memasang wajah dingin jika berhadapan dengannya. Namun dia tahu pasti jika keduanya tidak akan pernah bisa melakukannya. Tanpa disadari oleh semuanya, gadis itu menyunggingkan senyum tipis, dia sangat bersyukur mendapatkan kasih sayang dari orang orang yang sangat dia sayangi.
"Sya.."
"Hmm.."
__ADS_1
"Bagaimana kalo kita kekuningan ? Sudah lama kita tidak berkunjung ketempat abah. Mas kangen ingin bertemu dengan abah dan ummi." Ajak Azriel hati hati.
Akia langsung memalingkan wajahnya menatap suaminya dengan tatapan tidak percaya, ada binar kebahagiaan yang terlihat jelas disana.
"Benarkah mas ? Kapan kita kesana ?" Tanyanya antusias.
Melihat sikap istrinya yang begitu antusias, membuat Azriel tersenyum tipis. Perlahan dikecupnya kening istrinya, melupakan jika disana masih ada orang lain yang saat ini menatap jengah pada mereka berdua.
" Bagaimana kalau besok kita kesana. Hari ini kita bersiap siap ya." Sahut Azriel lembut.
Akia mengangguk senang, sudah lama sebenarnya dia ingin berkunjung kerumah mertuanya. Selain kangen, dia juga ingin melihat pesantren milik Abah Ahmad. Karena semenjak menikah dengan Azriel, dia belum pernah sekalipun berkunjung kesana.
Azriel membelai lembut kepala istrinya yang tertutup hijab panjang. Tangannya terulur meraih tangan Akia lalu mengecup punggung tangannya dengan kasih, dengan mata yang menatap mesra kedua mata istrinya. Lama keduanya saling menatap kagum, hingga tanpa sadar wajah Azriel semakin mendekat kearahnya.
Saat wajah keduanya hampir bersentuhan dan hanya kurang dari 2 centi saja, tiba tiba suara deheman keras menyadarkan mereka berdua.
"Ekhem..maklum bagi yang sudah bucin mah, dunia serasa milik berdua yang lainnya mah numpang." Celetuk Dhafa dengan wajah malasnya.
" Kau itu mengganggu saja, kalau iri cepat sana halalin Akila, keburu diambil orang baru kerasa." Ketus Azriel yang membuat Dhafa melotot sempurna. Sementara Akia memalingkan wajahnya yang sudah memerah karena malu.
"Akila ? Aku seperti pernah mendengar nama itu, tapi siapa ya." Cetus Alex dengan senyum jahilnya meledek Dhafa. " Oh iya aku ingat, bukankah dia gadis yang waktu itu ada dikantormu ya, kalau tidak salah dia sekretarismu. Dia gadis yang sangat cantik, siapapun pasti akan langsung tertarik padanya, aku saja tergoda untuk mengenalnya."
"Awas saja jika kau berani mendekatinya bang, kau akan berhadapan denganku." Sentak Dhafa tanpa sadar dengan menatap tak suka pada Alex.
Alex tertawa meledek pada Dhafa yang diikuti oleh Azriel dan Akia.
"Kenapa kau marah Fa ? Kau suka sama dia ya." Ledek Alex.
Dhafa gugup, namun dengan cepat dia berdehem untuk menghilangkan rasa gugupnya.
"Tidak...hanya saja aku tidak suka jika ada yang mengganggu karyawanku. Aku tidak ingin konsentrasinya pada pekerjaannya pecah karena ulah seorang playboy macam kau itu bang." Ketus Dhafa.
"Tenang saja Fa, kali ini aku akan bertobat. Aku benar benar tertarik pada gadis itu, dia sangat polos dan berbeda dari gadis lainnya." Ucap Alex dengan masih menggoda Dhafa, pria itu ingin Dhafa mengakui perasaannya yang sebenarnya pada Akila.
Dhafa menatap Alex dengan aura membunuhnya, tanpa dia sadari kedua tangannya mengepal kuat hingga nampak kuku tangannya memutih. Dan itu semua tidak luput dari pandangan mata seorang Alex. Alex masih tertawa, pria itu merasa puas karena sudah berhasil membuat Dhafa kesal.
__ADS_1
Lihat saja aku akan membuatmu mengakui jika kau memang menyukai gadis itu Fa. Ucap Alex dengan seringaian penuh misterius diwajahnya.
TBC