Rindu Suara Azhan

Rindu Suara Azhan
Ikhrar janji suci


__ADS_3

"Saya terima nikah dan kawinnya Akia Syakayla Khanza binti Aryan Maulana Khanza dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan emas berlian seberat 20 gram dibayar tunai."


Akia terpaku ditempatnya dengan mulut yang membisu, sampai suara sah terdengar bersahutan disana. Pikiran gadis itu seakan kosong hingga dia tidak menyadari saat seseorang menyentuh pundaknya lembut.


"Sya."


Akia mengabaikan panggilan itu, pikirannya masih melayang jauh. Dia sungguh merasa syok dengan apa yang terjadi saat ini, tanpa ada angin ataupun hujan tiba tiba kejadian ini berlangsung dengan begitu cepat.


"Sya."


Akia tersentak tersadar dari lamunannya, lalu menatap arah samping dimana ada sosok pria berwajah tampan yang sedang tersenyum lembut padanya.


"Dhafa ?" Ucapnya lirih.


"Ayo, bapak penghulu menyuruhmu untuk datang menemui suamimu." Ucapnya dengan nada lembut.


"Suami ?" Gadis itu masih belum sadar jika saat ini dia sudah resmi menyandang gelar sebagai istri seseorang.


Seakan tanpa nyawa Akia menurut saja saat Dhafa dan Akila menuntunnya menuju kearah tempat dilakukannya ijab qabul. Mengabaikan semua mata yang memandangnya penuh dengan kekaguman akan kecantikannya.


Gadis itu duduk disamping Azriel yang menatapnya dengan penuh cinta, namun tetap gadis itu masih belum sadar seakan nyawanya melayang entah kemana.


"Assalamualaikum istriku." Bisik Azriel ditelinga Akia.


Gadis itu menoleh kesamping tepat dimana wajah Azriel yang begitu dekat dengan wajahnya. Wajah tampannya begitu terpancar keluar dalam balutan setelan jas putih dengan kopiah berwarna putih yang bertengger dikepalanya. Cukup lama dia memandang pria disebelahnya sampai terdengar suara deheman dari bapak penghulu.


"Ekhem mandangnya nanti saja kalau sudah ada dikamar ya, nanti bisa sepuasnya melihat wajah suami. Sekarang silahkan untuk sang suami memakaikan cincin pernikahannya pada sang istri." Goda pak penghulu yang disambut gelak tawa para tamu disana.


Akia tersentak lalu berpaling kedepan dengan kedua pipi yang sudah memerah. Malu, itu yang terlintas di kepala nya, lalu pasrah saja saat Azriel menyematkan cincin berlian itu dijari tangannya.


Setelah itu tidak lupa Azriel menyematkan doa untuk sang istri tercinta, meniupnya tepat diubun ubun kepalanya lalu mencium lembut keningnya. Akia nampak terpejam seakan meresapi apa yang dilakukan oleh pria yang saat ini sudah resmi menjadi suaminya.


"Kau sangat cantik sekali istriku." Bisiknya lembut ditelinga Akia.


"Kau jahat mas, selalu melakukan sesuatu tanpa seijinku."


Azriel terkekeh pelan, ingin rasanya dia memeluk istrinya yang terlihat begitu menggemaskan, namun ditahan nya karena saat ini belum saatnya dia melakukan itu.


"Kau harus menjawab semua pertanyaan yang menumpuk dihatiku ini mas."


"Tanyakan apapun yang ingin kau tanyakan, aku akan menjawab semuanya nanti."


Setelah acara demi acara selesai kini penghulu sudah pergi meninggalkan ponpes Daarul Mukminin, tempat acara tersebut dilaksanakan. Tidak banyak yang hadir disana, hanya beberapa teman Akia dan penghuni ponpes tersebut.


Akia menatap pria paruh baya yang ada didepannya dengan perasaan tidak menentu, ada rasa sesak yang begitu kuat dihatinya saat melihat bagaimana sosok didepannya terlihat sedikit kurus. Tanpa dia sadari air mata nya meleleh keluar dengan seenaknya.


"Papa." Panggilnya lirih.

__ADS_1


Tuan Aryan nampak tersenyum dengan airmata yang sudah mengalir disudut matanya. Merentangkan kedua tangannya menyambut sang putri yang melangkah kearahnya. Pria paruh baya itu mendekap erat tubuh sang putri, menyalurkan kerinduannya yang begitu besar hingga terasa sesak dan menyakitkan.


"Akia putriku, akhirnya papa bisa memelukmu kembali nak." Harunya dengan rasa bahagia menyelimuti hatinya.


"Maafkan Akia pa, karena sikap egois Akia meninggalkan papa seorang diri."


"Tidak bukan kamu yang harus minta maaf, tapi papa. Jika saja papa bisa bertindak lebih tegas, mungkin kejadian itu tidak akan pernah menimpamu."


Akia melonggarkan pelukannya, lalu menangkup wajah pria yang masih terlihat sangat tampan dengan tubuh kekarnya tersebut walaupun usianya sudah menginjak hampir kepala lima. Akia mencium lembut kening papanya lalu tersenyum.


"Akia sudah lama memaafkan papa, hanya egoku saja terlalu besar dan tidak ingin mengakuinya. Maaf pa, karena sikap Akia papa sampai seperti ini." Sedih gadis itu berucap sembari melihat kondisi papanya yang tidak terurus.


"Lihat wajah papa, apakah ada kesedihan disana ? Papa justru merasa bangga padamu nak, dengan perubahan mu yang sekarang ini membuat papa merasa lega akhirnya kamu kembali lagi pada sosok putriku yang dulu. Baik dan sholehah. Sekarang dengarkan pesan papa, kamu sudah menikah dan berbaktilah sepenuhnya pada suamimu nak."


Akia mengangguk pelan, lalu kembali memeluk tubuh papanya. Suasana haru antara ayah dan anak itu tidak luput dari pandangan semua mata yang ada disana. Mereka ikut terbawa perasaan hingga tanpa sadar ikut meneteskan airmatanya.


"Sudah meluknya, lihat semua orang melihatmu. Temuilah suami dan juga teman temanmu. Mereka kesini untukmu."


Akia menoleh mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Pandangannya berhenti tepat dimana para sahabatnya tengah berdiri dengan pasangannya masing masing.


"Akia." Teriak Arumi dengan wajah sumringahnya. Bahkan gadis itu langsung memberikan babynya pada suaminya yang nampak melongo melihat sikap bar bar istrinya yang tidak pernah berubah.


Akia tersenyum menyambut pelukan Arumi dengan perasaan bahagia.


"Kau jahat sekali, pergi begitu saja. Hiks..aku kangen banget tahu."


"Kau tahu aku menikah dengan si tengil itu ?" Tanyanya heran karena Akia sama sekali tidak terkejut.


"Heem, aku tahu jika dia suka sama kamu. Yaah cuma aku diam aja sih, mau lihat apa di tengil itu berani ngungkapin perasaannya padamu, ternyata malah sudah menikah." Kekehnya pelan.


Arumi tersipu, merasa malu pada sahabatnya yang ternyata sudah mengetahui hal itu. Mengabaikan Arumi kini pandangannya beralih pada sosok Luna yang datang dengan perut membesar.


"Kau terlihat cantik Kia. Aku bahagia karena pada akhirnya bisa bertemu kembali denganmu. Selamat atas pernikahanmu ya. Aku turut bahagia melihatnya." Ucapnya tulus.


"Terima kasih, sudah berapa bulan ?"


"Bulan ini sudah menginjak usia delapan bulan. Sebentar lagi aku akan merasakan bagaimana rasanya menjadi seorang ibu."


"Aku senang dengarnya, semoga lancar ya persalinannya nanti." Lalu gadis itu sedikit berjongkok didepan perut Luna sembari membelai lembut. " Hei jagoan, jangan nakal ya disana jangan buat mamanya sakit. Aunty tidak sabar ingin cepat bertemu denganmu."


Luna terharu lalu kembali memeluk tubuh Akia.


"Dimana Dhafa ?" Tanyanya.


"Kau bertanya tentang si dingin itu ?"


Akia terkekeh, mereka tetap tidak berubah, selalu memanggil Dhafa dengan sebutan itu.

__ADS_1


Luna menunjuk ke suatu tempat dengan dagunya. " Noh disana berdiri tegap layaknya seorang bodyguard saja. Dasar si muka datar dan dingin. Ck kalau sikapnya selalu begitu bagaimana dia bisa mendapatkan cewek coba. Sebelum dekat para cewek sudah lari ketakutan." Gerutu Luna sembari bersidekap didadanya.


Akia kembali tertawa pelan, setelah menyapa Chiko dan yang lainnya gadis itu beranjak melangkah menuju tempat dimana pria dingin itu berdiri. Dari jauh dapat dia lihat sorotan tajam Dhafa yang menatapnya seakan ingin menelannya hidup hidup.


"Hai, apa kabarmu ?" Sapa nya basa basi.


Dhafa tetap terdiam dengan pandangannya terus menatap wajah gadis didepannya, mengabaikan sapaan gadis itu.


"Kau tidak ingin memelukku ?"


Masih diam.


"Kau tahu, selain papa aku hanya punya dirimu. Kau sudah seperti kakak buatku, melihat kau masih marah padaku, aku jadi merasa sedih. Maaf sudah sudah membuatmu menjadi susah karena sikapku. Kalau kau masih membenciku, baik lah aku mau pergi." Gadis itu berbalik hendak pergi dari hadapan Dhafa.


Dhafa bergeming, melirik sekilas kearah Azriel. Seakan mengerti pria itu menganggukkan kepalanya memberi ijinnya.


"Mau kemana ?"


Akia berhenti mendengar suara dingin Dhafa menyapanya. Berbalik lalu menatap intens wajah sahabatnya.


"Tidak ingin memelukku ?" Kini pertanyaannya berbalik padanya, dan Akia masih terdiam membuat Dhafa merasa gemas.


"Lama." Celetuknya singkat lalu menarik lengan Akia dan membawa gadis itu masuk dalam pelukannya.


Akia memeluk erat tubuh pria didepannya, sungguh dia sangat rindu pada sosok yang sudah dia anggap kakaknya itu. Pria satu satunya yang selalu mengerti keadaannya, selalu menemani disaat dia susah dulu.


"Aku rindu sekali, ingin rasanya aku membencimu Sya, tapi rasa sayangku mengalahkan kebencianku padamu. Kau tahu hidupku terasa hancur dan kosong saat kau menghilang. Aku merasa seperti saudara yang tidak berguna untukmu."


Akia menangis, baru kali ini dia mendengar perkataan Dhafa yang terlalu panjang, karena biasanya pria itu sama seperti dirinya, selalu irit bicara.


"Maaf." Lirihnya berucap didalam dekapan pria itu.


Dhafa melepaskan pelukannya, lalu berucap pelan.


"Jangan pergi lagi." Akia mengangguk.


"Selamat atas pernikahanmu, kau sangat cantik dengan penampilanmu sekarang. Aku tidak menyangka sahabatku yang arogan ini sudah berubah dan sungguh suaramu sangat merdu sekali. Aku sampai tidak percaya, benarkah yang aku dengar itu suaramu ? Rasanya tidak mungkin mengingat sikapmu yang arogan dan angkuh rasanya mustahil." Ucapnya kembali menjadi sosok menyebalkan.


"Kau itu menyebalkan sekali. Hilang sudah rasa kagumku padamu, tau gitu aku tidak akan memujimu tadi." Ketusnya dengan wajah yang berubah masam.


Dhafa tertawa bahkan kali ini terlihat sangat lepas. Tawa yang tidak pernah dia perlihatkan didepan orang, membuat orang mendecak kagum karena wajah Dhafa berkali lipat tampan disaat dia tertawa. Dan tawanya tidak luput dari pandangan gadis yang berdiri disudut ruangan.


"Sudah, sekarang kembalilah pada suamimu. Aku tidak ingin orang beranggapan buruk tentangmu. Sudah punya suami tapi masih memelukku." Godanya lalu melangkah pergi karena masih ada urusan yang belum dia selesaikan.


Akia terdiam memandang punggung Dhafa yang semakin menjauh, menghela nafasnya dengan perlahan. Ditatapnya cincin yang melingkar indah dijari manisnya, gadis itu masih belum percaya sepenuhnya. Statusnya sudah berubah, mau tidak mau dia harus menerimanya. Menjadi seorang istri dari pria yang selama ini sudah mencuri hatinya secara diam diam.


"Melupakan suamimu, sayang ?"

__ADS_1


TBC


__ADS_2