Rindu Suara Azhan

Rindu Suara Azhan
S. 2. Rasa Bersalah Dhafa


__ADS_3

Di dalam mobil Dhafa nampak termenung dengan kedua mata yang terpejam, diam membisu dengan pikiran yang berkelana kemana mana. Rasa pusing bercampur dengan hati yang sesak dan sakit yang tiada kira, memikirkan bagaimana pedihnya hidup yang dialami oleh adiknya selama ini.


Dia yang bodoh karena selama ini percaya dengan kata kata pamannya yang mengatakan jika adiknya benar benar sudah meninggal. Dan dia juga yang bodoh tidak mencari tahu kebenarannya selama ini, hingga membiarkan adik satu satunya yang dia sayangi mengalami kejadian yang begitu buruk.


Walaupun tidak sepenuhnya itu salah dia, namun tetap saja rasa bersalah dan penyesalan selalu memenuhi ruang hatinya. Harusnya dia mencari tahu kebenarannya bukan hanya pasrah dengan kenyataan yang belum tentu benar.


Dengan kekuatan yang dimiliki papa Aryan tidak sulit menemukan sesuatu yang mereka inginkan, sama seperti saat Akia menghilang dulu. Hanya beberapa bulan saja dia sudah bisa menemukan keberadaan Akia. Hanya saja gadis itu menyuruh anak buahnya untuk menyampaikan pesan padanya dan juga papa Aryan untuk tidak datang menjemputnya sebelum dia sendiri yang menginginkannya.


Masih terekam dengan jelas dimemorinya perkataan Kyai Lutfi saat dia meminta beliau untuk memceritakan tentang adiknya.


Flashback On


"Abi, bisakah engkau menceritakan padaku awal adikku bisa berada disini ? Aku ingin mendengar semuanya tanpa terlewati satupun."


Kyai Lutfi menghela nafas panjang sebelum memulai ceritanya, ada rasa sedih saat mengingat bagaimana awal mula dia menemukan gadis itu. Ingatannya kembali kemasa enambelas tahun yang lalu.


" Waktu itu Abi sedang menuju pulang sehabis menunaikan sholat Jumat disalah satu masjid dikota ini. Abi saat itu bersama dengan Budi, saat kami berdua hendak masuk kedalam mobil, dari kejauhan Abi melihat seorang bocah yang tampak berlarian dengan kondisi tubuh yang berantakan.


Sesekali dia mengusap airmatanya yang terus mengalir, dan sampailah dia dihadapan Abi. Dengan menangis tersedu sedu Abi mendengarnya meminta tolong sembari sesekali melihat kebelakang.


Tidak lama kemudian muncul pamanmu dengan wajah yang sudah memerah karena marah. Dia menarik kasar tangan gadis kecil itu dan menyeretnya untuk ikut dengannya.


"Hei pak apa yang kamu lakukan ? Kamu menyakitinya." Tanya Kyai Lutfi.


"Jangan ikut campur dengan urusanku pak Kyai, dia keponakanku dan aku harus membawanya untuk membayar hutang hutangku."


"Astaghfirullahallazhim..Pak sadarkah apa yang kamu lakukan ini ? Dia masih kecil." Kaget Kyai Lutfi mendengar ucapan Lukman, saat itu Kyai Lutfi belum tahu siapa sosok Lukman yang sebenarnya.


"Ini urusanku, mau aku apakan juga keponakan keponakan aku ini."


Kyai Lutfi nampak mengelus dada kemudian dia mengedarkan pandangannya pada Pak Budi. Pak Budi yang tahu kode dari Kyai Lutfi segera melakukan tindakannya, postur tubuhnya yang tinggi, tegap dan jangan lupa wajahnya yang sangar nyatanya mampu membuat Lukman menciut.


"Berikan gadis itu pada kami, jika masih ingin nyawamu selamat." Nada Suara Pak Budi terdengar tegas dan dingin.


Melihat pria didepannya ini yang tampak mengerikan membuat hati Lukman semakin menciut, dengan terpaksa dia memberikan Pipit kecil pada kedua orang didepannya ini.

__ADS_1


"Hari ini aku akan melepaskan dia, tapi ingat aku akan tetap mengambilnya dari kalian. Karena aku sudah menjanjikan dia pada temanku untuk membayar semua hutang hutangku." Ucapnya dengan nada mengancam, setelah itu dia berlalu pergi dari hadapan Kyai Lutfi.


Kyai Lutfi memandang wajah Pipit yang masih terlihat sangat ketakutan, tubuh gadis kecil itu nampak gemetar ketakutan. Dan isakan kecil masih terdengar disana.


"Mau ikut sama Abi ? Nanti kita bertemu dengan teman teman yang lain ya." Ajak Kyai Lutfi lembut.


Gadis itu mengangguk kecil lalu ikut melangkah kedalam mobil dengan Kyai Lutfi yang merangkulnya dengan lembut dan kasih sayang. Tanpa membuang waktu Kyai Lutfi segera menyuruh Pak Budi untuk melajukan mobilnya menuju pesantren miliknya.


Beberapa hari setelah kejadian itu Pipit tinggal di asrama bersama dengan murid murid yang lain. Namun kejadian yang menimpanya ternyata begitu membekas dihatinya membuat gadis itu mengalami trauma yang berat. Hampir setiap malam gadis kecil itu histeris dalam mimpinya. Dan tiap kali dia histeris selalu nama kakaknya yang dia sebut.


Sementara Lukman sendiri secara diam diam terus memperhatikan gadis itu dari jarak jauh, dan itu tidak luput dari penglihatan Kyai Lutfi. Awalnya beliau curiga pada sikap Lukman, makanya hari itu dia menemuinya tanpa disadari oleh Lukman sendiri.


Dan kenyataan yang begitu mengejutkan dia dapat setelah pria itu menceritakan semuanya. Rupanya dia melakukan itu semua hanya untuk mengawasi Pipit memastikan jika dia baik baik saja. Dia takut jika para preman itu berbuat nekad kemudian membawa keponakannya itu.


Tadinya dia bermaksud membawa Pipit ke Jakarta untuk membawanya pada kakaknya. Namun saat ditengah jalan gadis itu memberontak dan pada akhirnya bertemu dengan Kyai Lutfi.


Setelah menceritakan semua itu, Lukman meminta tolong pada Kyai Lutfi untuk selalu melindungi keponakannya itu dari para preman yang menginginkan dirinya. Dia juga meminta untuk selalu merahasiakan semua hal tentang dirinya, dan juga meminta maaf akan sikapnya yang keterlaluan waktu itu.


Flashback Of


"Jangan merasa bersalah, ini bukan salahmu. Kamu tidak tahu jika adikmu masih hidup, jadi aku mohon jangan merasa bersedih dan menyalahkan dirimu sendiri." Kata Aqila menenangkan kekasihnya yang terlihat sangat sedih.


"Aku jahat Qila, aku kakak yang tidak berguna. Harusnya aku tidak mempercayai pamanku, harusnya aku mencari tahu sendiri. Bagaimana bisa selama ini aku hidup senang sementara adikku sendiri tidak tahu apa dia makan atau tidak. Apa hidupnya enak atau tidak, bagaimana aku bisa membiarkannya seperti ini." Keluh Dhafa dengan hati yang begitu sesak melebihi sesaknya saat dia ditinggalkan oleh Aqila.


Melihat Dhafa yang tergugu, dengan cepat gadis itu meraih tubuh besarnya dan membawanya kedalam pelukannya. Dengan tangan yang tiada henti mengusap punggung pria itu. Lebih tepatnya sih bukan Aqila yang memeluk Dhafa, tapi dia yang dipeluk. Secara tubuhnya lebih kecil dari tubuh kekasihnya.


Aqila baru kali ini melihat sisi lain seorang Dhafa yang terlihat lemah. Padahal biasanya pria itu selalu menunjukkan wajah dingin dan sangarnya dibalik wajahnya yang tampan dan rupawan.


"Aku mohon jangan menyalahkan dirimu sendiri, ini bukan salahmu. Sesampainya disana kita harus meminta maaf dan menjelaskan semuanya pada adikmu." Ucap Aqila dengan menempelkan keningnya di kening Dhafa.


Sejenak Dhafa menikmati momen manis yang diberikan Aqila, selain karena hatinya perlahan tenang karena kekasihnya selalu bisa menenangkan hatinya. Maksud lainnya juga karena dia mengambil kesempatan dalam kesempitan, kapan lagi dia bisa menikmati perhatian dan kasih sayang Aqila, karena biasanya gadis itu selalu menunjukkan sikap ketus dan galak.


Ah, Dhafa disaat saat seperti ini masih sempatnya dia berpikir tentang hatinya. Dalam hati pria itu tersenyum senang dan kini dia semakin mengeratkan pelukannya pada kekasihnya.


"Terima kasih, kamu selalu membuatku merasa tenang sayang." Ucapnya tulus namun dengan gerakan nakalnya dia ikut menduselkan kepalanya diceruk leher Aqila, mencium aroma tubuh gadis itu yang selalu membuatnya candu hingga membuat gadis itu sadar jika kekasihnya itu tengah mengambil kesempatan dalam kesempitan.

__ADS_1


Plak


Pukulan dipunggungnya yang begitu keras membuat pria itu menghentikan ulahnya yang sedikit nakal. Mengerucutkan bibirnya menatap wajah Aqila dengan memasang wajah manja.


"Kenapa memukulku ?" Tanyanya sembari meringis, sungguh pukulan gadis itu sangat kuat dan keras, terbukti dia merasakan punggungnya yang terasa panas dan perih.


"Salahmu kenapa mengambil kesempatan dalam kesempitan. Menyesal aku sudah memberikan perhatian padamu, tahu gitu tadi aku lempar saja kamu keluar mobil." Mode galak sang calon Nyonya sudah keluar, jika sudah begitu yang harus Dhafa lakukan adalah merayunya, sungguh hal yang paling sulit dia lakukan, yaitu merayu.


"Sayang.." Cengirnya.


"Apa !"


Glek


Dhafa semakin tidak dapat berkutik, lihatlah sang calon nyonya nampak memasang wajah garang dengan kedua mata yang melotot.


Belum jadi istriku saja dia sudah mengeluarkan taringnya, galak banget, gimana nanti kalau sudah sah. Alamat aku bisa dijadiin perkedel ini mah.


"Untung cinta." Gumamnya pelan, tapi sayang pendengaran Aqila yang tajam bisa mendengar ucapan Dhafa yang terdengar lirih.


"Trus kalau nggak cinta kamu mau ngapain, mau cari wanita lain gitu. Ya udah sana cari saja aku juga tii..mmmpphh."


Aqila membelalakkan kedua matanya saat bibirnya dibungkam oleh bibir seksi Dhafa, menciumnya dengan lembut dan juga menggoda. Dia yang awalnya memberontak tapi lambat laun mulai menikmati dan juga membalas ciumannya tidak kalah lembut dengan kedua tangan yang meremas kuat kemeja Dhafa.


Rama yang ada dibelakang kemudi hanya diam saja menyaksikan drama bosnya dan juga kekasihnya yang berakhir dengan adegan romantis. Hanya helaan nafas kasar yang menemaninya fokus dalam mengemudikan mobilnya.


Nasib jomblo dan bawahan, selalu menyaksikan momen yang bikin hati gue tersiksa. Gerutunya dalam hati.


Dhafa menyudahi ciumannya pada gadisnya lalu menempelkan keningnya dikening Aqila sembari menetralkan deru nafasnya yang masih tersengal sengal.


"Cerewet." Bisiknya yang langsung membuat Aqila memasang muka cemberut. Melihat kekasihnya kembali merajuk Dhafa langsung memeluk erat tubuh Aqila dan menghujani wajahnya dengan kecupan kecupan singkat.


"Terima kasih, sungguh aku sangat mencintaimu. Aku menjadi pria yang begitu beruntung bisa mendapatkan seorang gadis yang baik dan lembut budi pekertinya seperti dirimu. Bagiku cukup dirimu dan hanya dirimu yang sudah memenuhi seluruh ruang hatiku. Sekarang dan selamanya hanya ada dirimu jadi berhenti mengucapkan kata kata yang tidak perlu." Sejenak menghentikan ucapannya lalu mencium lembut kening Aqila.


"Aku janji setelah masalahku selesai aku akan datang kerumahmu. Memintamu secara resmi pada ibu untuk menjadikanmu pendamping hidupku dan menjadi ibu untuk anak anakku. Maafkan sikapku selama ini yang selalu menyakiti hatimu, sungguh aku sangat menyesal dan aku bersungguh sungguh untuk memperbaiki semuanya." Ucap Dhafa menatap wajah Aqila yang sudah berkaca kaca.

__ADS_1


TBC


__ADS_2