Rindu Suara Azhan

Rindu Suara Azhan
S. 2. Pergi Kau setan


__ADS_3

Pipit membuka pintu mobil kemudian langsung masuk kedalam rumah tanpa mengatakan apapun, meninggalkan Rio yang hanya terdiam menatap kepergiannya. Sepersekian detik berikutnya dia turun dan ikut melangkah masuk menyusul Pipit yang lebih dulu menghilang dari pandangan matanya.


Setelah mengucapkan salam gadis itu terus melangkah naik tangga menuju kekamarnya yang ada dilantai 2. Namun baru satu langkah dia menapaki tangga, Pipit menghentikan langkahnya saat merasa ada sesuatu yang aneh.


Dengan cepat Pipit berbalik dan menatap tajam sosok pria yang berdiri dibelakangnya.


"Kamu ini sudah seperti ekor yang membuntuti tuannya." Ketusnya kesal pasalnya Rio selalu mengikuti kemanapun kakinya melangkah. " Berhenti mengikutiku dan cari jalanmu sendiri."


Setelah berkata seperti itu, Pipit kembali berbalik meneruskan langkahnya. Sementara Rio hanya menatap bingung akan kemarahan gadis itu.


Ada apa dengannya ? Memang ada jalan lain selain jalan ini menuju kekamarku ? Siapa yang mengikutinya, aku kan hanya ingin kekamarku saja. Bathin Rio sembari menggaruk belakang telinganya.


Rio sudah sampai didepan kamarnya yang kebetulan bersebelahan dengan kamar Pipit, dan sampai disana dahinya berkerut saat melihat gadis itu sedang berdiri didepan kamarnya dengan berkacak pinggang.


"Aku sudah bilang jangan mengikutiku lagi. Kenapa kamu susah sekali sih diberitahu, dasar pria menyebalkan." Teriak Pipit dengan wajah galaknya.


Rio tidak menjawab perkataan Pipit, pria itu hanya berjalan maju mendekat kearah gadis itu membuat sang empunya memasang wajah waspada.


"Berhenti disitu ! Mau apa kamu." Pekiknya saat pria itu semakin melangkah maju dan gadis itu tentu saja secara spontan melangkah mundur dengan wajah semakin pias.


"Aku bilang berhenti, cukup jangan melangkah lagi." Ucapnya lagi dengan wajah panik, sementara jantungnya semakin berdisco ria.


Rio tidak memperdulikan perkataan gadis itu yang terlihat panik dan gugup, bahkan wajahnya juga semakin pucat. Pria es itu tetap memasang wajah datar dan dingin dengan pandangan mata menusuk kearah Pipit.


"Astaghfirullah, Ya Allah selamatkan hambamu dari manusia aneh ini. Hei setan pergi kau dari tubuh pria es itu." Komat kamit Pipit membaca ayat ayat Allah dengan tangan yang memercikkan air yang dia dapat entah dari mana asalnya, berusaha mengusir setan yang dia pikir merasuki tubuh Rio, pasalnya pria itu memang terlihat sangat menyeramkan.


Sementara Rio tetap memasang wajah dinginnya dengan dahi berkerut. Dan tanpa sadar gadis itu terus mundur hingga akhirnya tubuhnya mentok dipintu kamar yang ternyata adalah kamar Rio, namun sepertinya gadis itu masih belum menyadarinya.


"Pe-pergilah aku mohon." Pintanya dengan wajah yang semakin memucat, sungguh gadis itu merasa sangat takut dengan kedekatan mereka, dan tanpa sadar Pipit memejamkan kedua matanya.


Rio semakin mencodongkan tubuhnya hingga semakin dekat dengan wajah Pipit, hingga dia bisa melihat dengan jelas wajah gadis yang tertutup hijab tersebut.


Cantik. Gumam Rio sambil mengulum senyum.


"Aku memang mau pergi nona, tapi bagaimana aku bisa pergi jika kamu mengalangi pintu masuk kedalam kamarku sendiri." Bisik Rio ditelinga Pipit.


Seketika Pipit membuka kedua matanya kemudian dengan cepat dia mendorong dada bidang Rio hingga pria itu sedikit terhuyung kebelakang. Dan dengan cepat gadis itu berbalik menatap pintu kamar dibelakangnya.


Bluss


Semburat merah muncul dipipinya hingga semakin lama semakin terasa panas. Dengan cepat gadis itu berbalik kembali kemudian berlari menuju kamarnya yang ternyata ada disebelah kamar Rio.


"Pipit kenapa kamu bodoh sekali, kenapa kamu tidak melihat dulu kamar siapa itu." Gerutunya sembari mengetuk ngetuk kepalanya, sementara nafasnya masih tersengal sengal.


Aku malu sekali, setelah ini aku tidak yakin bagaimana wajahku nanti kalau bertemu dengannya.


Sementara itu dikamar Rio, pria itu mengeluarkan tawanya yang sedari tadi dia tahan dengan sangat keras. Bahkan saking kerasnya membuat perutnya terasa sakit dan kaku. Untung saja kamarnya itu kedap suara jadi walaupun dia tertawa sekeras apapun tidak ada yang bakal mendengarnya.


"Bagaimana dia bisa sangat menggemaskan seperti itu. Apa tadi...dia menganggapku hantu, yang benar saja." Ucapnya dengan masih tertawa hingga mengeluarkan airmata.


Dilain Tempat..


Aqila menutup pintu ruko miliknya, waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam. Helaan nafas berat keluar dari hidungnya yang mancung, gadis itu terlihat sekali sangat kelelahan.


Sudah sebulan ini Aqila mulai membuka toko usaha kue miliknya. Dibantu dengan ibu dan Amanda adiknya Aqila akhirnya bisa membuka toko kue yang sudah sedari dulu dia impikan, dan menamai tokonya dengan nama Amanda Cake.


Dan dia patut bersyukur baru sebulan dia menjalankan bisnisnya, para pecinta kue sudah banyak yang menjadi langganannya. Selain karena citarasanya yang memang sangat nikmat, Aqila juga mencoba membuat kue dan cake kekinian yang digemari oleh khalayak umum.


"Sudah semuanya kak ?"


Suara Amanda membuyarkan lamunan singkat gadis itu yang berkelana kemasa sebulan yang lalu. Senyuman kecil tapi penuh dengan kesedihan terbit dibibir Aqila melihat wajah adiknya yang terlihat sangat lelah sama seperti dirinya. Dengan pelan Aqila menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


Bagaimana tidak lelah, sehabis pulang sekolah Amanda langsung membantunya ditoko. Padahal sudah berkali kali Aqila melarang adiknya itu untuk membantu dan menyuruhnya supaya hanya fokus pada sekolahnya saja.


Tapi memang dasar Amandanya saja yang keras kepala tidak mau mendengar ucapannya. Walau selalu dapat pelototan dari kakaknya toh pada akhirnya Aqila hanya bisa membiarkan adiknya itu, asalkan gadis remaja itu masih tetap fokus pada pendidikannya.


"Capek ya dek ?" Tanyanya untuk kesekian kali dan itu selalu ditanyakan hampir setiap hari.


"Hooh, capek tapi ini sangat menyenangkan." Jawabnya dengan mata berbinar.


Aqila mencebik, mana ada capek tapi senang, ada ada saja. Gadis itu menggelengkan kepala melihat tingkah adiknya.


"Ayo pulang." Ajaknya lalu bergandengan tangan menuju jalan dan mulai memesan taksi atapun ojek.


"Masuk."


Suara bariton membuat kedua gadis itu menoleh kesamping kanan. Nampak sebuah mobil sedan hitam terparkir dengan cantiknya tepat disamping kedua gadis itu berdiri. Dan jangan lupa dengan sosok yang berdiri menyender disisi mobil dengan tangan yang bersidekap didada.


"Abang Dhafa." Pekik Amanda girang lalu berlari memeluk pria itu yang memang Dhafa.


Dhafa terkekeh lalu membalas pelukan calon adik iparnya itu. Mengacak gemas ujung kepala Amanda lalu dengan lembut.


"Capek dek."


"Hooh, hari ini pengunjung toko lumayan rame bang." Jawab Amanda dengan sikap yang berubah manja.


"Alhhamdulillah, bagaimana kalo kita beli es krim."


"Kuy jalan." Jawab Amanda lagi.


Sementara Aqila, gadis itu masih berdiri ditempatnya dengan kedua mata yang sudah melebar, jangan lupakan ekspresi wajahnya yang terlihat kesal.


"Amanda."


"Ayo pulang."


Aqila terkejut saat pria itu tiba tiba sudah ada didepannya dan menggenggam lembut tangannya.


Sejak kapan dia berjalan kesini, apa dia terbang. Udah kayak hantu saja.


Cetak


"Aww.." Ringisnya merasakan sakit dikeningnya karena sentilan pria itu.


"Enak saja mengataiku hantu, kamu saja yang asik bengong makanya tidak tahu kalau aku sudah didepanmu." Gerutu Dhafa dengan raut wajah kesal pada gadis didepannya itu.


Apa dia paranormal, bagaimana dia bisa tahu kalau aku mengumpatinya.


"Terlihat jelas dikeningmu sayang."


Aqila melotot, padahal bukan hanya kali ini dia mendengar panggilan sayang dari pria itu, hampir setiap hari Dhafa selalu memanggilnya dengan sebutan sayang.


"Mau pulang apa..."


Aqila langsung berjalan kearah mobil sebelum Dhafa menyelesaikan kata katanya. Tentu saja dia tahu apa kelanjutan ucapan pria itu. Dhafa akan segera menggendongnya jika dia tidak segera menuruti perintahnya. Dan karena tidak ingin kejadian sama terulang kembali lebih baik Aqila menuruti kemauan pria yang sudah sebulan ini selalu mengekorinya.


Wanita itu kenapa harus diancam dulu baru dia mau menurut. Sungguh merepotkan sekali. Gumam Dhafa dalam hati.


Dhafa masuk kedalam mobil lalu melirik sekilas kearah Aqila yang masih memasang wajah cemberut. Pria itu mengulum senyum lalu melirik Amanda dari kaca spion. Seakan tahu Amanda pun mulai beraksi.


"Ada yang lagi sariawan ya dek." Tanya Dhafa.


"Iya bang, sariawannya parah lagi." Jawab Amanda dari kursi belakang. " Kalau parah berarti nggak bisa ikut makan es krim ya bang." Imbuhnya.

__ADS_1


"Ada yang lebih penting lagi dek."


"Apa bang ?"


"Nggak bisa dicium, kan pasti perih tu." Jawab Dhafa yang membuat Aqila melotot sempurna tapi masih tetap diam.


"Hahahaha..betul itu bang."


Suasana berubah hening, tapi hanya sebentar karena si pria es kembali berulah.


"Dek.."


"Hmm."


"Punya kenalan cewek cantik dan seksi nggak, dan yang pastinya tidak sariawan." Tanya Dhafa sembari melirik kearah Aqila yang mulai gelisah.


"Hmm.." Mengetuk ngetuk dagunya. " Ada bang ceweknya sangat cantik dan seksi malah. Kayaknya kakak juga tahu."


"Benarkah ? Wah kebetulan donk."


"Hooh, namanya Sinta, anaknya pak Lurah. Cantik banget dia bang, banyak yang ngrebutin dia loh. Tapi belum ada satupun yang diterima bang."


"Kalau sama abang pasti langsung diterima ya, secara abang kan selain tampan juga kaya. Apapun yang dia minta pasti abang beliin." Ujarnya dengan nada sombong.


"Hahahah..wah abang ni royal sekali ya. Beruntung gadis yang bisa ngedapetin abang." Jawab Amanda yang semakin membuat Aqila terbakar cemburu tanpa dia sadari.


Sementara Amanda yang melihat bagaimana kakaknya itu cemburu hanya bisa terkikik geli tanpa suara. Sungguh sangat senang sekali bisa mengerjai kakaknya yang gengsinya terlalu akut itu.


"Emang abang mau ngapain kok nanya nanya wanita cantik dan seksi." Tanya Amanda yang juga penasaran.


"Mau abang cium."


"Hah.." Amanda spechlees, sementara Aqila sendiri tanpa sadar mencubit lengan kekar Dhafa.


"Aww..sakit Qila." Ringisnya sembari mengibas ngibas tangannya yang terasa perih.


"Rasain tu, makanya jadi cowok jangan buaya." Ketusnya lalu berpaling menatap keluar jendela mobil.


Dhafa tersenyum kecil, lalu kembali melancarkan aksinya.


"Abang cuma gitu doang ? Cuma mau dicium doang ? Nggak ada yang lebih gitu."


"Amanda !" Teriak Aqila pada adiknya dengan wajah memerah menahan arah.


"Apa sih kak, orang Manda nanyanya keabang bukan kekakak, kenapa kakak jadi marah gitu." Balas gadis itu santai tanpa dosa membuat Aqila terdiam.


"Iya, soalnya yang biasa abang cium lagi sariawan Manda, masa abang harus libur sih. Nggak enak tahu kalau nggak mencium seseorang, nanti abang nggak bisa tidur." Jawab Dhafa santai tanpa malu, padahal hatinya mengumpati dirinya.


Sejak kapan gue nggak bisa tidur sebelum mencium wanita, geli gue denger ucapan gue barusan.


"Oh gitu, yaudah besok Amanda mintain nomernya ya bang, nanti Manda kenalin deh sama mbak Sinta."


" Siap."


Sudah tidak bisa dipastikan lagi bagaimana kondisi Aqila saat ini, yang pasti wajah gadis itu sudah sangat memerah dan sorot matanya begitu menyeramkan. Amanda yang duduk dibelakang dan tahu pasti jika kakaknya itu terbakar cemburu hanya bisa tersenyum penuh arti.


Kebakar kebakar deh, rasain, makan tu cemburu. Makanya gengsi jangan digedein, emang enak aku kerjain.


Amanda terkikik sembari memainkan ponselnya dengan sesekali melirik kearah kakaknya yang masih memasang muka seram.


TBC

__ADS_1


__ADS_2