
Pipit melangkah keluar dari rumah Azriel dengan perasaan yang tidak menentu. Masih teringat dengan jelas diingatannya bagaimana raut wajah Akia yang sedih karena kepergiannya. Begitu juga dengan yang lainnya, hanya Rio saja yang masih tetap memasang wajah datarnya tanpa melakukan apapun dan itu membuat gadis itu semakin kesal.
Akia sendiri pun merasa bingung harus bagaimana lagi membujuk sahabatnya itu untuk tetap tinggal dirumah itu, jika pun memaksa dia takut Pipit akan semakin bertambah kecewa padanya.
Aku sangat percaya padamu Pit, sungguh aku sangat mempercayaimu. Tapi kamu harus tahu aku tidak bisa melawan keputusan papa dan juga Abah. Tak bisakah kamu menerima pernikahan ini Pit ? Mungkin memang Allah sudah memberikan Rio sebagai jodohmu. ucap Akia Kala itu.
Pipit tersenyum miris, tidak pernah terbayangkan olehnya jalan hidupnya harus berakhir seperti ini. Menikah, tentu saja dia ingin menikah sama seperti wanita pada umumnya. Tapi bukan dengan cara seperti ini. Dia akan menikah dengan orang yang dia kenal dan juga mencintainya.
Pipit tidak menampik jika semenjak pertemuannya dengan Rio untuk yang pertama kalinya, gadis itu sempat tertarik dengan pria itu. Namun kesan pertama yang diberikan pria itu sudah membuat Pipit menjadi ilfil dan mengubur rasa tertariknya dalam dalam.
Ditambah sikap Rio yang setiap hari membuatnya semakin membenci pria itu. Puncaknya ketika pria itu menyangka jika dirinya menyukai suami Akia, padahal dia hanya mengagumi sikap Azriel yang begitu perhatian pada Akia, tidak lebih.
Tapi kesan yang diberikan oleh Rio, seakan akan dirinya adalah seorang calon pelakor dan itu yang membuatnya semakin membenci pria itu.
Aku harus segera kembali ke Semarang, aku merindukan anak anak didikku disana.
Pipit melanjutkan langkah kakinya yang kini sudah sampai dijalan besar. Kepalanya menengok kekanan dan kekiri berharap akan ada taksi yang lewat. Tadi dia mencoba memesan lewat aplikasi taksi online, tapi sayang baterai ponselnya ternyata habis membuat gadis itu dengan terpaksa harus menunggu.
Disaat sedang larut dalam lamunannya, Pipit tidak menyadari adanya sosok pria yang datang dari arah belakang. Lama pria itu menatap punggung gadis berhijab dengan tatapan penuh arti. Dan tanpa disangka sangka pria itu memukul tengkuk Pipit hingga membuat gadis itu pingsan seketika.
"R..io." Gumam Pipit, samar dia melihat sosok Rio yang sedang memapah tubuhnya dan setelah itu dia benar benar kehilangan kesadarannya.
Rio, pria itu menatap wajah Pipit yang sudah terpejam. Helaan nafas berat terdengar keras dari hidungnya seakan ingin mengeluarkan beban berat dihatinya.
Maaf aku harus melakukan ini padamu, aku hanya tidak ingin kamu pergi. Apapun akan aku lakukan demi menahanmu untuk tetap ada disini.
Perlahan Rio mengangkat tubuh Pipit yang sudah pingsan lalu membawanya masuk kedalam mobilnya. Membawa gadis itu menuju ke apartemen miliknya.
Selama dalam perjalanan, pandangan mata Rio sesekali melirik kearah samping dimana Pipit yang masih pingsan karena dirinya. Ada perasaan bersalah dalam diri pria itu, tapi bagaimana lagi dia harus melakukan semua ini.
Bukan maksud dia menyakiti gadis yang selama ini sudah memenuhi ruang hatinya, dan tadi dia hanya memukul titik saraf gadis itu dengan pelan tapi mampu membuat gadis itu kehilangan kesadarannya. Dan beruntungnya Rio mempunyai keahlian seperti itu, jadi dia tidak mengalami kesulitan ataupun ketakutan.
Tiga puluh menit akhirnya mobil yang ditumpangi Rio sudah sampai dipelataran apartemen. Dengan segera dia membawa Pipit kedalam gendongannya lalu naik menuju apartemennya yang ada dilantai 20.
\=\=\=\=\=\=
Waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore hari. Kedua mata yang terpejam itu perlahan membuka, mengerjapkan kelopak matanya berkali kali kemudian mengedarkan pandangan matanya kesekeliling.
__ADS_1
Aku dimana ?
Pipit berusaha mengingat kejadian sebelum akhirnya dia harus berada ditempat yang tidak dia kenal. Perlahan ingatannya mulai terkumpul menjadi satu. Dia mengingat terakhir kali saat sedang menunggu taksi lalu tiba tiba ada seseorang yang memukul belakang kepalanya.
Tapi sebelum kesadarannya benar benar menghilang, dia ingat sempat melihat sosok pria yang selama ini dia benci.
Rio, pria itu, apa dia yang membawaku kesini. Lalu kemana dia sekarang.
Pipit berusaha bangun dari tidurnya, namun dia kembali ambruk lagi saat kepalanya terasa sakit.
"Astaghfirullahal adhim...ya Allah sakit sekali." Keluhnya sembari memegang kepalanya yang terasa berat, bahkan dia sampai memejamkan kedua matanya erat.
"Apa masih sakit ?"
Suara seseorang yang begitu familiar terdengar membahana dikamar tersebut membuat Pipit membuka mata. Dan spontan gadis itu langsung duduk tegak dengan nafas yang memburu.
"Kamu ! Aww.." Pekiknya yang langsung memegang kepalanya yang berdenyut sakit.
"Hati hati." Ucap Rio sembari berlari menuju kearah Pipit dan membantunya untuk bersandar dihad bad miliknya.
"Jangan menyentuhku." Ketus Pipit dengan menghempaskan tangan Rio yang berada dibelakang punggungnya.
Cup
Pipit membelalakkan matanya saat pria itu mengecup keningnya, merasa geram akan tingkah kurang ajar pria didepannya, Pipit melayangkan pukulannya pada wajah Rio dengan emosi yang meledak ledak.
Plak
Rio meringis merasakan pipinya yang perih dan juga panas karena tamparan gadis didepannya ini. Namun bukannya marah pria itu justru menampilkan senyumannya.
"Beraninya kamu menyentuhku hah. Apa kamu tidak menghargaiku sebagai seorang wanita. Apa aku begitu rendah dimatamu hingga kamu bisa leluasa melakukan hal rendah itu padaku." Pekik Pipit dengan mata yang sudah berkaca kaca.
Pipit memaksakan bangun walaupun kepalanya masih terasa sakit. Namun gadis itu tidak perduli yang terpenting saat ini dia harus menghindari pria brengsek ini.
Dengan tertatih tatih Pipit berjalan menuju kearah pintu dengan sesekali meringis saat rasa sakit itu kembali datang. Namun baru beberapa langkah dia berjalan, Rio kembali menarik tangannya hingga tubuhnya terhempas kebelakang dan masuk kedalam pelukan pria itu.
"Lepasin ! Beraninya kamu kurang ajar padaku hah." Teriak Pipit histeris sembari memberontak kuat berusaha melepaskan pelukan Rio.
__ADS_1
"Diamlah tubuhmu masih lemah."
"Lepas, kamu tidak mempunyai hak untuk mengaturku. Ini hidupku dan aku tidak akan membiarkan siapapun mengatur kehidupanku." Sarkas Pipit dengan tatapan tajamnya.
"Aku berhak atas dirimu, aku berhak mengaturmu dan akupun berhak atas semua yang ada pada dirimu Pit." Jawab Rio tidak kalah tegas.
"Memang kamu siapa berani mengatakan hak mu hah." Bentak Pipit dengan suara keras.
Rio menatap wajah gadis itu yang masih memerah karena menahan amarah.
"Aku berhak karena aku adalah suamimu." Tegasnya.
Duarr
Pipit membeku seketika dengan tubuh yang berdiri kaku. Wajah pucatnya terlihat sangat syok dan terkejut mendengar perkataan pria didepannya.
"A-apa maksudmu ?" Tanyanya gugup.
"Kita sudah menikah."
Pipit melangkah mundur dengan kepala yang menggeleng berulangkali. Airmatanya langsung tumpah mengalir dikedua pipinya, hatinya sesak dan nafasnya tersengal sengal. Sesaat gadis itu seakan kehilangan nafasnya, sungguh hari ini wajahnya begitu pucat pasi.
"Tidak, kamu pasti berbohong kan ? Apa yang kamu katakan tidak benar kan ? Semua ini hanya tipuanmu kan ?"
Rio menghela nafas, lalu secara perlahan dia berjalan menuju kearah gadis itu yang sudah berdiri terpojok didinding. Ditangkupnya kedua pipi gadis itu, menatap wajah cantiknya dengan tatapan yang sulit diartikan. Perlahan Rio menempelkan keningnya dengan kening Pipit membuat gadis itu memejamkan kedua matanya.
"Aku tidak berbohong, apa yang aku katakan adalah kebenaran. Kita sudah menikah, jika aku menipumu aku tidak mungkin melakukan hal seperti yang aku lakukan ini padamu, menyentuhmu dan juga menciummu."
Pipit semakin terisak, hatinya benar benar sakit, tubuhnya juga terasa lemah. Seharian ini banyak sekali kejadian yang menimpanya terus menerus dan itu membuat tubuhnya yang lemah semakin lemah.
"Kenapa kamu melakukan ini padaku ? kamu jahat sekali Rio." Ucapnya lirih dengan suara tertahan.
Rio membelai lembut pipi gadis itu kemudian mengusap airmata yang menetes dengan ibu jarinya.
"Karena aku mencintaimu."
TBC
__ADS_1
Dhafa Kalah cepat sama Rio nih kayaknya..🤣🤣🤣🤣