Rindu Suara Azhan

Rindu Suara Azhan
Kisah Silam


__ADS_3

Mobil Lamborgini itu melaju sedang menembus padatnya lalu lintas kota Semarang. Hari menunjukkan pukul 9.30 pagi saat Azriel membawa istrinya keluar dari hotel bintang lima tersebut.


Sebenarnya pria itu masih ingin menghabiskan waktunya lebih lama lagi dengan istri tercintanya. Maklum mereka berdua adalah pasangan pengantin baru, jadi wajar jika dia ingin selalu dekat dengan istrinya.


Namun rencananya terpaksa dia batalkan lantaran ada sedikit masalah dengan hotel yang belum lama dia resmikan. Dengan berat hati Azriel terpaksa membawa istrinya menuju tempat hotelnya berada.


Selama dalam perjalanan, pria yang memutuskan untuk menyetir sendiri mobilnya itu sesekali melirik kearah Akia. Gadis itu semenjak keluar dari hotel dan masuk kedalam mobilnya terus saja terdiam dan merenung.


Azriel sempat berpikir apakah dia berbuat salah kepada istri cantiknya itu. Ataukah dia masih ingin berlama lama dihotel tadi. Azriel sedikit frustasi, pasalnya Akia benar benar membisu dan hanya mengalihkan pandangannya keluar jendela mobil.


Lembut dipegangnya telapak tangan istrinya dengan tangan kirinya, menautkan jemarinya dijari lentik istrinya, lalu mengecup lembut punggung tangan itu. Dahinya makin berkerut saat Akia tetap saja tidak merespon sentuhannya, pria itu akhirnya hanya bisa menghela nafas kasar. Menyadari jika saat ini istrinya sedang melamun.


Sementara itu Akia yang sedari tadi terus sibuk dengan pikirannya, gadis itu tidak menyadari jika sikapnya saat ini seperti terlihat cuek dan acuh pada suaminya. Bahkan gadis itu tidak merasakan saat Azriel mengusap dan mengecup punggung tangannya.


Ya, pikiran gadis itu mengembara bebas, mengingat semua yang diceritakan suaminya kemaren siang. Menghela nafasnya dengan berat lalu perlahan mengeluarkannya. Masih dia ingat dengan jelas semua yang diceritakan Azriel siang itu.


Flashback On


Mafia


Satu kata namun terdengar sangat mengerikan untuk dia dengar. Tubuhnya menegak kaku dengan pikiran kosong. Mencerna dengan baik baik satu kata yang keluar dari bibir suaminya.


Seorang mafia pasti identik dengan bisnis tingkat kejahatan paling tinggi, seperti transaksi obat obatan terlarang, pembunuhan keji, pekerjaan haram, gangsters dan masih banyak lagi.


Akia tidak menyangka jika suaminya mempunyai masalalu yang begitu kelam melebihi dirinya. Gadis itu berusaha menelan salivanya yang terasa begitu kering, bahkan kini tenggorokannya begitu tercekat dengan wajah yang pucat pasi.


Gadis itu tidak buta dengan satu kata itu, dia tahu karena hidupnya yang dulu begitu brutal, dan bebas melakukan apapun yang dia inginkan.

__ADS_1


Dulu dia juga sempat mendapat tawaran menjadi anggota sebuah organisasi, beruntung Dhafa bersamanya saat itu, jadi pria itu bisa mengendalikan tingkahnya yang hampir menyetujui ajakan seorang pimpinan gangster saat adubalap motor dulu.


Azriel yang melihat reaksi istrinya ketika mengetahui siapa sebenarnya dia dulu, nampak terlihat khawatir. Dia takut jika yang dia pikirkan saat ini menjadi kenyataan, istrinya akan pergi meninggalkannya ketika dia sudah mengetahui siapa dia sebenarnya.


"Sya.." Lirih pria itu memanggil sembari menyentuh pundak Akia.


"Hah..." Akia terkejut lalu tersenyum tipis. " Maaf, aku malah melamun mas." Lanjutnya berucap.


"Kamu takut ?" Nada bicara pria itu terlihat cemas.


"Takut ? Takut karena apa ?" Tanyanya heran dengan dahi berkerut.


"Tentang diriku yang dulu."


"Kau bahkan belum menceritakan semuanya mas, lalu bagaimana aku bisa merasa takut ?" Ucapnya datar namun terkesan dingin. " Ceritakanlah, aku siap mendengarnya."


"Kamu ingat dengan pertemuan pertama kita dulu ?" Akia mengangguk.


"Waktu itu aku bahkan masih kecil, tapi aku sudah mengenal dunia hitam itu, menjadi seorang bos mafia diusiaku yang masih dini. Aku begitu ditakuti oleh kelompok organisasi lainnya, walaupun masih bau kencur, tapi otak dan keahlian beladiriku tidak perlu diragukan lagi. Aku begitu mahir membuat bahan peledak, dan merakit senjata, makanya banyak organisasi yang menjadikanku ajang rebutan. Siapa yang bisa mengalahkan ku, maka aku wajib menjadi budaknya dan harus tunduk pada semua perintahnya." Pria itu menjeda ceritanya.


"Masa lakuku begitu kelam, walaupun kakek dan abahku adalah pemuka agama tapi entah kenapa aku justru melenceng dari ajaran yang selama ini mereka didik pada putra putri nya. Aku tumbuh menjadi anak yang arogan dan susah diatur, hingga membuat Abah menjadi frustasi kala itu.


Hingga pada akhirnya diusiaku yang masih belia, aku nekat melarikan diri dari pondok pesantren pada malam hari. Disela pelarian ku aku bertemu dengan Rio yang saat itu sedang dikeroyok oleh beberapa preman. Dengan keahlian ku aku bisa mengalahkan mereka, bahkan salah satu diantara mereka ada yang sampai terbunuh dengan begitu mengenaskan. Dan kamu tahu, itu pertama kalinya aku membunuh orang." Ucapnya dengan suara tercekat.


Akia syok dengan apa yang dia dengar barusan, namun dia masih setia untuk mendengar kelanjutan cerita itu. Diusapnya lengan suaminya untuk memberikan dukungan.


"Tersadar dengan apa yang terjadi, dengan segera aku membopong tubuh Rio yang sudah tidak terlihat bentuknya seperti apa. Sementara itu para preman yang menyerang Rio, mereka langsung melarikan diri setelah melihat salah satu temannya tewas secara mengenaskan. Dan akupun dengan terburu buru segera pergi dari tempat itu, sebelum ada warga yang melihat kami."

__ADS_1


Azriel memejamkan kedua matanya dengan perlahan, menahan rasa sesak tiap dia mengingat kenangan masa lalunya. Pria itu merebahkan dirinya dipangkuan istrinya, memeluk erat pinggangnya lalu membenamkan kepalanya diperut sang istri. Mencari kenyamanan yang dia inginkan disana.


"Setelah berhasil kabur dan luka Rio membaik, aku berniat pergi meninggalkan bocah itu. Namun Rio bersikukuh untuk ikut dan mengabdikan seluruh hidupnya padaku. Bagaimanapun aku butuh teman, jadi aku tidak menolak keinginannya itu.


Selama 4 tahun kami di indonesia, kami berdua belajar banyak hal, dan bertemu dengan orang orang yang bekerja dibawah tanah. Dari sana aku mengenal orang orang penting, dan beberapa organisasi. Bersama Rio aku berhasil membentuk sebuah organisasi dan dalam waktu singkat sudah banyak anggota yang menjadi pengikut ku. Beruntungnya aku tidak terikat dengan satupun organisasi itu, makanya aku bebas melakukan apapun yang aku inginkan.


Aku memberi nama organisasi ku dengan sebutan Black Dragon. Dan aku sebagai ketua organisasi yang terkenal sangat kejam dan bengis, karena membantai musuhku tanpa mengenal belas kasihan. Dan sudah banyak organisasi yang aku taklukkan walaupun usiaku saat itu masih muda.


Hingga usiaku yang ke 18 tahun, aku dan Rio memutuskan untuk meninggalkan Indonesia dan menuju keNegara Paris, negara yang terkenal dengan banyaknya mafia mafia besar disana. Aku pergi kesana selain haus akan kekuatan aku pergi karena ingin bebas dari pengawasan orangtuaku.


Walaupun aku berhasil melarikan diri dari rumah, tapi Abah berhasil menemukan ku, dan setiap hari beliau tidak menyerah untuk berusaha membawaku kejalan yang benar. Dan dari situ perjalanan hidupku yang sebenarnya dimulai."


Pria itu menghentikan ceritanya saat dia benar benar tidak kuat menahan sesak, hingga nafasnya tersengal sengal. Dengan lembut Akia mengusap pucuk kepala suaminya supaya pria itu kembali tenang. Gadis itu sadar bahwa tidak mudah menceritakan pengalaman buruk di masa lalu.


"Jika kau memutuskan untuk pergi, bukankah waktu kau bertemu denganku mas ? Apa saat itu.."


"Ya kau benar, aku pergi ke Paris setelah bertemu denganmu beberapa tahun kemudian. Aku masih ingat pertemuan kita pertama kalinya. Seorang gadis kecil yang pendek dengan hijab cantik di kepala nya, dan dengan pede nya gadis itu datang menghampiriku dan berbicara sok akrab denganku seolah olah dia sudah mengenalku."


Akia mencebik kesal, lalu memalingkan wajahnya kesamping membuat pria itu terkekeh. Kepalanya semakin diselusupkan diperut ramping istrinya membuat gadis itu merasa geli.


"Mas...geli ih." Mendorong kepala suaminya sedikit kedepan supaya menjauh dari perutnya. " Lalu kenapa saat itu mas langsung pergi, bahkan tidak lama setelah kepergianmu muncul beberapa orang yang berwajah seram, mereka juga sempat melihat kearahku. Saat itu tubuhku gemetar ketakutan mas, dan beruntung mama segera datang menemui ku."


Azriel kembali memandang wajah ayu Akia, tersenyum tipis sebelum kembali berucap.


"Waktu itu..."


TBC

__ADS_1


__ADS_2