
Akia menatap heran wajah kusut didepannya ini, dengan tangan yang bersidekap didada wanita itu duduk disofa dengan pandangan penuh selidik pada pria yang dia sebut dengan panggilan kakak tersebut.
"Apa yang kau perbuat lagi padanya kak. Dengan melihat wajahmu yang mengenaskan itu aku sudah menduga kalau terjadi sesuatu diantara kalian."
Dhafa terdiam mendengar kata kata Akia, pria itu hanya bisa mengiyakan semua tuduhan adiknya, karena apa yang dikatakan Akia memang benar adanya.
"Ck, ayolah kak, kamu itu sudah bukan anak kecil lagi. Masa iya meluluhkan hati seorang gadis saja kakak nggak bisa sih. Payah, tampang aja seram tapi nyali nol besar."
"Astaghfirullah Sya, aku kesini untuk mendinginkan pikiranku, tapi kamu malah membuatku semakin panas."
"Itu karena kakak adalah pria yang sangat bodoh."
Dhafa mendengus kesal, tapi bagaimanapun apa yang dikatakan oleh Akia memang benar, dia adalah pria bodoh yang pernah ada didunia ini (tentunya sih dunia halu ya..haha).
"Aku melepasnya Sya." Ucapnya lirih.
"Apa !" Teriak Akia keras, wanita hamil itu bahkan lupa jika dirumahnya saat ini ada sahabatnya Pipit yang tengah asik berkutat didapur dengan para art.
"Ada apa Kia ?" Teriaknya dengan nafas yang sudah tersengal sengal, pasalnya gadis berhijab itu sampai lari saat mendengar teriakan Akia.
Akia cengengesan dengan tangannya yang menggaruk belakang kepalanya yang tertutup hijab.
"Nggak apa apa Pit, maaf sudah membuatmu terkejut."
"Huh, aku pikir ada apa, ya sudah aku balik lagi, pekerjaanku belum selesai." Dengusnya kesal.
"Pit, duduklah sini temani aku. Kamu kan tamuku, kenapa malah memasak didapur sih."
"Hehe aku cuma ingin merasakan dapur orang kaya aja Kia." Ucapnya dengan wajah tersenyum cengir.
"Ck, kamu ini ya sudah terserah kamu aja lah. Sana puas puasin diri."
Mengabaikan sosok didepan Akia, Pipit lalu kembali melenggang kedapur. Baginya tidak perlu ikut duduk bersama sahabatnya itu, apalagi saat ini Akia sedang bersama kakaknya. Walaupun Pipit tahu jika mereka adalah saudara angkat.
Setelah kepergian Pipit, Akia kembali fokus akan masalah yang dihadapi kakaknya. Wanita itu sampai menggelengkan kepalanya tidak menyangka jika kakaknya sampai berbuat hal yang teramat konyol baginya.
"Aku sungguh tidak menyangka kak, kamu melepas berlian yang amat berharga. Jangan menyesal jika akhirnya kamu benar benar kehilangan Akila. Gadis itu selain cantik dan baik, dia sangat pintar. Dan jangan lupa dengan kelebihan yang dimiliki olehnya, saat ini hanya kita dan keluarga kita saja yang tahu dengan kelebihan Akila." Ucap Akia dengan tegas.
"Lalu aku harus bagaaimana Sya ?" Tanya Dhafa frustasi, pria itu meremas rambutnya lalu mengusap kasar wajahnya.
"Apalagi ! Tentu saja berjuang lagi untuk mendapatkannya. Kamu ini sangat payah kak."
"Tapi dia sangat membenciku Sya."
__ADS_1
"Apa kakak yakin Akila seratus persen membencimu ?"
"Maksudmu ?"
"Kamu ingin aku berpikir ala seorang perempuan apa ala Akila ?"
"Jangan membuatku bingung Sya." Ucap Dhafa frustasi.
"Ya Allah, ingin rasanya aku memukul kepalamu itu pake centong nasi, supaya otakmu itu encer kak." Ketus Akia dengan wajah jengahnya, kakaknya ini benar benar nol besar jika sudah menyangkut masalah cinta.
"Jangan donk Sya, begini begini tiap tahun aku selalu membayar zakat fitrah loh. Jadi kepalaku ini sangat berharga." Jawabnya dengan tampang memelas.
Akia menggeram. "Apa hubungannya kepala dengan zakat ? Jangan coba coba mengalihkan pembicaraan kak. Kalau tidak aku akan benar benar memukulmu."
"Baiklah baiklah, aku akan serius, sekarang katakan apa yang ingin kamu katakan."
Wanita itu masih menatap kesal pada Dhafa, entah kenapa emosinya selalu naik tiap berhadapan dengan pria satu ini. Wanita itu menarik nafas dalam dalam guna mengontrol emosinya.
"Dengar kak, aku yakin jika Akila tidak benar benar membencimu, bahkan aku bisa melihat jika dia sangat mencintaimu."
"Kalau memang begitu kenapa dia bersikap dingin padaku Sya, dia bahkan selalu acuh dan jutek tiap bersamaku. Tawaran bantuanku pun dia enggan untuk menerimanya."
"Dia hanya ingin melihat seberapa besar kamu berjuang untuk kembali mendapatkannya. Aku seorang wanita, tentu saja aku harus menjaga imejku didepan pria. Jangan sampai aku dibilang wanita murahan yang dengan gampang luluh oleh perjuangan pria yang belum seberapa besar. Begitu juga dengan Akila, dia akan menjaga harga dirinya tinggi tinggi. Apalagi dia yang sudah terlalu sakit hati akan perbuatanmu, tentu saja dia akan sedikit memberi pelajaran padamu kak. Dia bukan gadis bodoh seperti gadis diluar sana yang akan gampang luluh oleh rayuan gombal laki laki. Dan kamu tahu sendiri akan hal itu."
"Lalu kenapa dia tidak mau menerima bantuanku Sya. Dia bisa kembali bekerja dikantor papa bukan ? Dia terlalu egois." Keluhnya lagi yang langsung mendapatkan lemparan bantal dari adiknya.
"Kamu atau dia yang egois hhah." Bentaknya keras.
"Kok malah bertanya padaku Sya."
"Kamu ini benar benar bodoh, otakmu itu terbuat dari apa sih. Begini nih kalau dari kecil tidak pernah pacaran, sekalinya jatuh cinta o**knya ngebleng." Ejek Akia sembari mendecak kesal. Dia benar benar kesal akan pikiran Dhafa yang terlalu cetek jika soal wanita.
Dhafa lagi lagi hanya bisa terdiam mendapat umpatan dari adiknya itu, saat ini pikirannya benar benar buntu.
"Ya Allah, hamba mohon berikan hidayahmu pada kakak hamba ini."
Dhafa melotot mendengar ucapan doa yang dilantunkan oleh Akia. " Hei kamu pikir kakak ini salah jalan apa ? Sampai berdoa seperti itu." Pekiknya kesal.
Akia cekikikan, disaat begini wanita itu masih saja berbuat jahil, entah kenapa sifat jahilnya selalu keluar tiap berhadapan dengan Dhafa dan juga Alex.
"Kamu memang salah jalan kak, buktinya sampai sekaraang kamu belum kembali pada Akila. Hahaha."
"Sya.." Panggil Dhhafa dengan suara berubah dingin dan datar.
__ADS_1
"Astaga, dia benar benar." Menepuk dahinya pelan lalu merubah wajahnya kembali kemode serius. " Begini kak, apa yang akan kamu lakukan jika ada seseorang yang menghinamu bahkan merendahkanmu ? Apa kamu akan diam saja atau malah berbuat sebaliknya."
Dhafa mengerutkan keningnya, untuk apa adiknya itu bertanya seperti itu.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu ?"
"Jawab saja." Geram Akia dengan sorot matanya yang tajam, karena Dhafa bukannya menjawab malah balik bertanya padanya.
"Aku..tentu saja aku tidak akan terima, bukan hanya itu saja. Aku bahkan bisa melakukan hal lebih pada orang itu, akan kuhancurkan siapapun yang sudah berani menghinaku. Karena bagiku tidak ada yang boleh menginjak harga diriku sekalipun itu adalah orangtuaku sendiri." Ucapnya tegas dan yakin.
"Binggo." Pekik Akia kencang membuat Dhafa kembali menatap heran padanya.
"Sekarang pikirkan, setelah semua perbuatanmu pada Akila, apa kamu pikir gadis itu akan dengan mudah memaafkanmu atau mungkin menerima bantuanmu setelah kamu membuangnya serta menghinanya habis habisan. Kamu saja bisa menghancurkan orang yang menghinamu, lalu kamu pikir apa yang bakal Akila lakukan setelah kamu memperlakukannya seperti itu, bahkan kamu mencaci dan menghinanya. Itu tidak mudah kak, apalagi dia mencintaimu, pasti akan merasa sakit disini." Akia menunjuk dan menekan dada Dhafa dengan jari telunjuknya.
Dhafa tertegun, pria itu baru tersadar dengan dampak yang dia lakukan pada Akila selama ini. Hanya karena sifat egonya yang begitu tinggi hingga membuatnya enggan mengakui perasaannya dan justru membuat hati gadis itu merasa sakit hati.
"Satu satunya cara supaya dia kembali padamu adalah kakak harus bisa mengambil perhatiannya kembali lalu memperbaiki hatinya yang sudah hancur. Beri dia perhatian khusus dan tentunya jangan menyerah walaupun dia berkali kali menolakmu. Ingat dia hanya ingin melihat seberapa besar perjuanganmu untuk mendapatkannya lagi. Jika dia sudah yakin maka dia sendiri yang akan datang padamu."
Dhafa nampak berpikir mencoba mencerna nasehat adiknya, tentu saja hal itu malah membuat Akila kesal.
"Kelamaan berpikirnya. Sudah sana buruan pergi, keburu dia diambil orang baru tahu rasa. Jaman sekarang pria begitu gencar mencari wanita cantik, apalagi modelnya kayak Akila yang wow..pasti dengan cepat dia bisa mendapatkan pengganti ka..."
Belum sempat Akia menyelesaikan ucapannya, Dhafa sudah mengambil langkah seribu. Melihat itu tentu saja membuat Akia tertawa terpingkal pingkal. Rencananya memprovokasi Dhafa dan membuat pria itu menghakui perasaannya berhasil. Sekarang tinggal duduk manis sembari menunggu kabar baik dari keduanya.
"Salah sendiri sudah berani menyakiti adikku, rasain tuh, emang enak dicuekin sama Akila." Gumamnya.
Pipit memandang heran pada sahabatnya yang nampak tertawa dengan begitu kerasnya, bahkan gadis itu sampai menepuk sofa saking gemasnya dia.
"Kenapa Kia ? Kamu seperti habis melihat pertunjukan komedi saja."
Akia menoleh lalu meraih tangan Piput dan membuatnya duduk disampingnya.
"Ini lebih dari komedi Pit, kamu harus tahu deh. Dia benar benar menjadi budak cinta."
"Siapa ? Kakakmu yang tadi ?" Tanyanya yang dijawabi anggukan kepala oleh Akia.
Pipit menghela nafas panjang melihat tingkah bar bar Akia yang tidak pernah hilang walau sahabatnya itu sudah menikah bahkan sekarang sudah mau memiliki seorang anak.
"Kamu ini selalu begini Kia, tidak pernah berubah. Tapi aku senang mempunyai sahabat yang punya hati bagaikan malaikat seperti dirimu."
Pipit lalu ikut tertawa cekikikan saat Akia menceritakan apa yang terjadi pada kakaknya, Dhafa. Dan sampai menjelang sore keduanya masih saja asik mengobrol panjang lebar, sampai sampai kedatangan suaminya yang sudah berdiri diambang pintu pun tidak disadari oleh Akia.
TBC
__ADS_1