Rindu Suara Azhan

Rindu Suara Azhan
Membuatku pantas untukmu


__ADS_3

Pondok pesantren Al Amin


"Assalamualaikum.."


"Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh." Balas sepasang suami istri itu kompak lalu menoleh ke arah sumber suara.


"Azriel..kamu datang le." Sapa Abah Ahmad dengan senyumnya yang terus menghiasi bibirnya yang sudah mulai tua. Disebelah beliau nampak Umminya yang dengan setia memijat lengan suaminya dengan penuh kelembutan.


Azriel tersenyum lebar melihat sisi romantis kedua orangtuanya. Kadang dia merasa iri dengan rumah tangga abah dan umminya yang terbilang sangat harmonis. Pria itu lalu duduk dihadapan orangtuanya setelah mencium kedua tangan mereka.


"Ono opo ? Tiap datang kesini kok mukamu itu udah kayak kabel setrikaan aja le. Kusut." Kekeh Abah Ahmad sembari memandang wajah putranya dengan seksama.


Ummi Hana hanya mengulas senyuman tipis melihat wajah anaknya yang sesuai dengan perkataan suaminya.


"Ehmm abah Azriel ingin mengatakan sesuatu pada abah dan ummi." Ucapnya dengan wajah serius.


Melihat raut wajah Azriel yang berubah serius membuat Abah Ahmad akhirnya mengubah sedikit posisi duduknya menjadi sedikit tegak namun tetap bersandar pada sandaran sofa.


"Ada apa ? Tidak biasanya kamu bersikap serius seperti ini semenjak kejadian dulu, apa masalahmu sangat sulit." Tanya Abah Ahmad dengan penuh perhatian pada putra bungsu nya itu.


Azriel sejenak termenung kemudian pria itu menatap wajah kedua orangtuanya dengan penuh arti.


"Abah ini tentang Akia..."


"Ada apa dengannya le ? Apa dia baik baik saja ? Bagaimana dengan lukanya apa belum sembuh ? " Potong abah Ahmad cepat menyela ucapan putranya.


Azriel menghembuskan nafasnya pelan sebelum menceritakan kejadian tentang hilangnya Akia.


"Akia sudah sembuh Abah, tapi kedua kakinya lumpuh karena kecelakaan waktu itu."


"Astaghfirullahalazhim..." Ucap Pria paruh baya itu mengucap istighfar diikuti istrinya.


"Lalu apa yang menjadikanmu gelisah nak ?" Tanya Ummi Hana dengan senyum lembutnya.


Azriel kembali menatap wajah kedua orangtuanya seakan ingin melihat ekspresi mereka saat dia memberitahu keadaan Akia saat ini.


"Abah, Ummi, apa kalian akan tetap menerima Akia walaupun dia sekarang lumpuh dan tidak bisa berjalan ?"


"Apa kelumpuhannya permanen nak ? Apa benar benar tidak bisa disembuhkan ?" Tanya Abah balik.

__ADS_1


"Dokter bilang kemungkinannya kecil Abah, sistem saraf di kaki nya sudah tidak berfungsi."


Abah tersenyum. " Jangan mendahului takdir Allah nak, kita tidak tahu apa yang sudah direncanakan oleh Allah SWT. Mungkin masih ada jalan lain untuk membuat Akia sembuh. Dan kamu tenang saja, Abah dan Ummi akan tetap pada pendirian kami, kami akan tetap menerima Akia bagaimanapun keadaannya.Abah dan ummi tahu jika Akia sebenarnya gadis yang baik dan sholehah. Hanya mungkin karena perasaan kecewa makanya gadis itu sedikit berubah. Dan itu adalah tugasmu untuk kembali membawanya ke jalan yang benar." Nasehat Abah Ahmad pada putranya.


"Azriel akan berusaha sekuat tenaga untuk membawa Akia ke jalan yang benar Abah, tapi..." Sejenak pria itu menghentikan ucapannya.


"Tapi apa le ?" Tanya Abah Ahmad heran.


"Dia..pergi abah ? Dan azriel kehilangan jejaknya, kabar terakhir dia ada diSemarang, tapi ketika Azreil menyusul kesana dia sudah pergi. Dan sudah sebulan ini Azriel belum bisa menemukannya lagi." Ucapnya lesu.


Abah Ahmad memandang wajah istrinya yang nampak tersenyum kecil.


"Jangan bersedih, kamu pasti bisa menemukannya. Abah percaya sama kemampuanmu nak."


Baru saja Azriel ingin membalas ucapan Abah nya, tiba tiba ponselnya berdering. Dengan cepat pria itu mengangkat panggilan telpon yang berasal dari salah satu anak buahnya.


Entah apa yang dibicarakan oleh anak buahnya diseberang sana, yang jelas saat ini ekspresi wajah Azriel berubah, pria itu terlihat sangat senang. Wajah bahagia nampak terlihat jelas diwajahnya yang tampan. Setelah memutuskan panggilan telponnya Azriel langsung menghampiri kedua orangtuanya dan jongkok didepan Abah nya.


"Sepertinya anak buahmu membawa kabar baik nak, jelas sekali dari wajahmu yang terlihat senang ini." Ucap Abah Ahmad sembari membelai kepala putranya dengan lembut.


Azriel tersenyum sumringah lalu menganggukkan kepalanya pelan.


Baik Abah, Azreil akan kekantor papa sekarang juga." Ucapnya sambil bangkit dari duduknya.


"Riel, ingat selalu pesan abah. Jika nak Akia tidak ingin ikut pulang denganmu, jangan memaksanya. Mungkin saat ini dia membutuhkan waktunya untuk menenangkan hati dan pikirannya. Berikan dia waktu untuk berpikir. Percayalah jika memang kalian berdua ditakdirkan berjodoh maka halangan seperti apapun tidak akan menghalangi takdir yang sudah direncanakan oleh Tuhan."


"Azriel mengerti abah."


Lalu pria itu berjalan keluar dari rumahnya menuju kantor K.Z Group.


***


"Ngapain loe kesini." Ketus Akia menatap jengah pada pria yang berdiri didepannya.


Azreil menatap tajam pada sosok gadis yang selama ini sangat dia rindukan. Ingin sekali dia berlari lalu memeluk tubuh kecil itu, namun angannya terputus saat dia sadar jika gadis didepannya belumlah pantas untuk dia peluk.


Sembari terkekeh Azriel membuka kacamata hitam yang bertengger dihidungnya yang mancung.


"Kamu tidak ingin mempersilahkan tamumu ini masuk ?"

__ADS_1


"Loe bukan tamu gue. Pergilah, jangan bikin mood gue jadi jelek karena loe." Ketusnya lagi.


Azriel tergelak, bukannya marah membuat Akia mengerutkan keningnya.


"Loe stress ya apa memang sudah gila." Sungut Akia kesal.


Azriel melangkah pelan mendekati Akia, menatap mata gadis itu dalam. Lalu beralih pada Pak Min yang saat ini berdiri dengan kepala yang tertunduk.


"Pak Min, ijinkan saya untuk berbicara dengan nonamu sebentar saja."


"Jangan pergi Pak, disini saja. Nggak usah dengerin orang ini." Cegah Akia pada pak Min yang hendak melangkah meninggalkan mereka berdua.


Pak Min bingung, namun mendapat tatapan tajam Azriel membuat hati pria paruh baya itu menciut. Dengan segera pria itu pergi meninggalkan kedua orang disana tanpa mengindahkan panggilan Akia.


Sesaat setelah kepergian Pak Min Azriel lalu berjongkok didepan Akia namun dengan jarak yang tidak terlalu dekat. Membuat jantung gadis itu berdetak kencang tanpa tahu penyebabnya.


"Sya, apa kamu tidak ingin pulang ?" Ucapnya dengan nada lembut.


"Jika kedatanganmu kesini hanya untuk membujukku supaya aku ikut denganmu, maka usahamu sia sia, karena sampai kapanpun aku tidak akan pernah pergi dari tempat ini." Ketusnya tanpa sadar jika dia sudah merubah panggilannya, yang mana membuat Azriel menahan senyum sumringahnya.


"Apa kamu tidak kasian dengan papamu ? Bahkan beliau sampai masuk rumah sakit karena drop saat kepergianmu Sya."


Akia terkejut, namun hanya sesaat. Gadis itu kembali memasang wajah datar nya berusaha menutupi kegundahan yang melanda hatinya saat ini.


"Apapun yang kau katakan tidak akan pernah merubah keputusaanku. Dan aku harap secepatnya kamu pergi karena aku harus istirahat."


"Katakan apa yang membuatmu tidak ingin kembali pulang Sya ?"


Karena aku ingin membuatku pantas untukmu Riel. Entah kenapa tapi hatiku mengatakan jika aku harus melakukan ini. Gumamnya dalam hati.


"Kau tidak berhak mengetahui apapun tentangku. Karena kau bukan siapa siapa bagiku." Sentaknya keras membuat Azriel menatapnya tajam.


Pria itu langsung mendekat dan mencengkeram sisi kursi roda dengan sangat keras. Nampak urat urat dikeningnya terlihat jelas, pertanda jika saat ini kemarahan menguasai hatinya.


"Aku berhak mengetahui apapun tentangmu. Bahkan jika aku mau, aku berhak jika saat ini aku membawamu pulang dengan paksa. Jangan memancing kemarahan ku hingga membuatku melakukan sesuatu yang tidak kamu inginkan. Sekali lagi aku katakan jika aku berhak atas dirimu, karena kau adalah calon istriku." Ucapnya dengan wajah dingin dan datar.


Akia terpaku mendengar semua yang dikatakan pria itu. Ada rasa aneh yang dia rasakan didalam hatinya. Namun bukan rasa takut ataupun semacamnya, tapi sebuah rasa hangat yang menjalar kerelung hatinya.


"Aku mohon pergilah, jangan membuat hatiku kembali menjadi goyah. Saat ini aku sangat ingin menenangkan hatiku. Aku ingin mencari kedamaian ditempat ini. Biarkan aku sendiri untuk sementara waktu. Jika sudah waktunya maka aku sendiri yang akan datang kembali kerumahku. Kumohon mengertilah." Ucapnya lirih.

__ADS_1


TBC..


__ADS_2