Rindu Suara Azhan

Rindu Suara Azhan
S. 2. Fakta dibalik Fakta


__ADS_3

Flashback On


Sesaat setelah membawa Pipit dan membaringkannya diranjang yang ada diapartemennya, Rio langsung menghubungi Abah Ahmad dan juga yang lainnya. Dan meminta beliau untuk mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan dan membawanya keapartemen miliknya.


Tidak sampai satu jam Abah Ahmad dan Tuan Aryan juga yang lainnya sudah sampai diapartemen Rio. Tidak lupa mereka juga sudah mempersiapkan semua yang dibutuhkan.


"Dimana dia Yo ? Kamu nggak aneh aneh kan ?" Tanya Abah Ahmad.


"Ya Allah abah, anakmu ini masih tau batasan." Sungutnya namun tetap dengan nada rendah.


"Ya kali aja Yo, kan kamu udah lama ngejomblo tuh." Celetuk Azriel dengan tampang tengilnya.


"Enak aja, kalau ngomong tu kadang suka bener Riel." Jawab Rio yang membuat semua orang tertawa cekikikan, sementara Rio sendiri hanya menggaruk kepalanya dengan cengiran terbit dibibirnya.


"Udah udah, jangan pada berdebat napa, cepetan diurus ini, nanti keburu anaknya bangun gagal deh rencana kita." Akia berseru menghentikan perdebatan dua pria didepannya itu dan juga semua orang yang ada disana. Wanita cantik itu ikut turut serta disana demi melihat hari bahagia sang sahabat, walaupun dia harus berada dikursi roda, pasalnya baru tadi pagi Akia pulang dari rumah sakit.


Segera mereka mempersiapkan semuanya dan menuju kekamar Rio. Melihat Pipit yang masih lelap dalam pingsannya membuat semuanya bergerak cepat.


"Apa semuanya sudah siap ?" Tanya pak penghulu yang juga sudah siap dengan tugasnya.


"Sudah pak." Jawab Tuan Aryan.


"Lalu siapa yang menjadi wakilnya."


Pertanyaan pak penghulu sontak membuat semuanya terdiam, mereka tidak berpikir kearah sana. Saling pandang antara satu dan lainnya, dengan tatapan bingung.


"Apa tidak ada yang tahu siapa keluarganya." Tanya Abah Ahmad menatap berkeliling.


"Setahu Kia, Pipit anak yatim piatu Abah."

__ADS_1


"Terus bagaimana ini ?"


"Bagaimana kalau kita menghubungi Kyai Lutfi ? Memintanya untuk menjadi walinya." Celetuk Ustazhah Syifa yang membuat semua mata tertuju padanya.


Melihat kebingungan dimata semuanya, ustazhah Syifa menghela nafas panjang. Sepertinya dia harus mengatakan sesuatu yang selama ini tidak ada yang diketahui oleh semua orang.


"Sebenarnya Pipit mempunyai riwayat hidup sama sepertiku. Sama sama dirawat oleh Kyai Lutfi, karena kami berdua sama sama kehilangan kedua orangtua kami. Bedanya aku kehilangan ibuku karena ulah orang yang ugal ugalan dalam berkendara. Tapi Pipit...( Menjeda sejenak kalimatnya sembari menghela nafas panjang) gadis itu menjalani kehidupan didunia ini lebih pedih dan menderita melebihi diriku."


"Apa maksud mama ?" Tanya Akia bingung, pasalnya selama ini Pipit tidak pernah bercerita tentang hidupnya dimasa lalu. Gadis itu selalu menampakkan wajah cerianya.


Ustazhah Syifa menatap wajah putrinya dengan tatapan mata sendu.


"Dia gadis yang pandai menutup lukanya Sya, sebenarnya dia gadis yang rapuh dan menutup diri. Tapi semenjak bertemu denganmu mama dapat melihat perubahan pada dirinya yang perlahan bisa bangkit dari keterpurukannya. Saat bersamamu dia seakan akan mendapatkan kembali sosok teman, saudara dan juga kakaknya."


"Akia belum paham ma." Jujur Akia berkata sembari menatap bingung wajah mamanya.


"Hah..nanti mama akan cerita semuanya ya, sekarang ada yang lebih penting yang harus kita lakukan. Ingat waktu kita tidak banyak."


Setelah mendengar penjelasan dari Abah ahmad, dengan senang hati Kyai Lutfi bersedia untuk menjadi wali nikah buat Pipit. Dan siang itu melalui panggilan video dengan Kyai Lutfi, Rio akhirnya mengucapkan ijab qabul dan sudah resmi menikah secara agama dan juga negara dengan Pipit.


Rio tahu langkah yang saat ini dia ambil pasti akan membuat dampak buruk dikehidupannya yang akan datang. Terutama pada gadis itu, Pipit pasti akan semakin membencinya.


Namun untuk saat ini Rio merasa langkah yang dia ambil sudah tepat. Walaupun nanti dia akan menghadapi kebencian gadis itu, dia akan menerimanya dengan ikhlas. Rio yang notabenenya tidak pernah mengenal wanita bahkan bisa dikatakan pria itu paling anti dengan yang namanya seorang wanita.


Tapi semenjak pertemuan pertama dengan seorang gadis di Bandara yang saat itu sedang menjadi tontonan banyak orang karena tingkahnya yang selengekan, membuat pria itu untuk pertama kalinya melirik bahkan kakinya melangkah menghampiri gadis itu.


Baginya sifat Pipit sangatlah unik, tidak seperti gadis diluaran yang ingin selalu terlihat sempurna demi mencari mangsa.


Beberapa hari mengenal Pipit membuat Rio semakin yakin jika apa yang dia rasakan didalam hatinya adalah perasaan cinta dan sayang pada gadis itu. Awalnya dia merasa mungkin itu hanyalah perasaan semu saja. Makanya dia selalu bersikap dingin dan datar pada gadis itu.

__ADS_1


Namun kala melihat Pipit yang jelas jelas mengagumi sosok Azriel didepan matanya seketika membuat hatinya merasa terbakar dan timbul rasa ingin memiliki yang begitu kuat. Dan untuk memastikannya dia mendekati gadis itu dengan caranya yang unik.


Dia tidak sadar jika ucapannya justru membuat gadis itu membencinya, makanya dia kebingungan saat tiba tiba gadis itu menghindarinya. Dan sekarang setelah beberapa serangkaian kejadian, akhirnya Rio bisa bernafas lega. Dia bisa memiliki gadis yang secara tidak sadar namanya sudah memenuhi seluruh ruang dihatinya.


Flashback Of


"Aku mencintaimu."


Kata itu terulang lagi, bahkan kali ini terdengar begitu indah ditelinga Pipit. Membuat semburat merah muncul dipipinya, dan jantungnya yang berdetak semakin kencang. Desiran halus namun terasa aneh menjalar hingga kealiran darahnya.


Pipit tidak bisa mengeluarkan satu katapun. Dia masih asik dengan dunianya sendiri, hingga tidak sadar jika saat ini rio sedang menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Kenapa kamu diam saja ? Aku tahu jika saat ini kamu pasti membenciku karena dengan seenaknya aku mengambil keputusan ini. Tapi percayalah apa yang aku lakukan ini semata mata karena aku tidak ingin kehilangan dirimu. Aku tidak pernah jatuh cinta sepanjang aku hidup ini, tapi saat aku bertemu denganmu, aku merasakan perasaan yang aneh dihatiku.


Yang semakin lama semakin besar dan kuat, dan dari situ aku sadar jika aku ternyata sudah jatuh cinta padamu, gadis aneh dengan sifatnya yang selengekan tapi sayangnya aku mencintainya." Ucap Rio panjang kali lebar, bahkan dia sendiri bingung kenapa bisa dirinya berbicara seoanjang itu.


Semua karena cinta, cinta bisa membuat orang waras menjadi gila. Dan mungkin saja Rio salah satunya.


Pipit membelalakkan matanya mendengar ucapan Rio yang memujanya namun sekaligus menjatuhkannya diwaktu yang bersamaan. Ibarat perumpamaan dia sudah dibawa terbang tinggi keatas, namun tiba tiba dalam sekejap pria itu melepasnya hingga akhirnya dia jatuh meluncur kebawah dengan sangat keras.


"Kamu itu memujiku apa mau menjatuhkanku sih. Bilang cinta tapi kok mengejek gitu." Gerutunya dengan mimik muka yang kesal.


Rio termangu sambil menggaruk pelipisnya, dia mendapat fakta baru, hati hati degan ucapanmu karena jika salah sedikit saja kau akan membuat perang dunia ketiga.


"Kalau kamu memang cinta padaku kenapa kamu selalu berkata pedas dan menyakitiku. Bahkan kamu menganggapku sebagai seorang pelakor yang mengharapkan suami orang, padahal itu sudah sangat jelas tidak mungkin."


"Itu..karena aku..cemburu." Jawabnya lirih lalu segera berpaling.


Wajahnya sudah sangat merah dan terasa panas hingga ketelinganya. Dia sangat malu mengakui kalau saat itu dia memang merasa cemburu saat Pipit mengagumi pria lain, walaupun itu adalah sahabatnya sendiri. Melihat rona merah dipipi pria yang kini sudah berganti status sebagai suaminya, diam diam membuat Pipit mengulum senyum tipis. Entah apa yang dipikirkan gadis itu, yang pasti saat ini dikepalanya banyak bermunculan ide ide ide gila untuk mengerjai suami esnya itu.

__ADS_1


TBC


Hai sayang, aku udah double up ya, tetap dukung author dan jangan lupa tinggalkan jejak. Kita happy happy dulu sebelum akhirnya tumpah ruah airmata ya.. 🤗🤗😘


__ADS_2