Rindu Suara Azhan

Rindu Suara Azhan
Pembawa sial ?


__ADS_3

Akia menatap sendu wajah Luna yang saat ini masih asik terpejam. Tangannya menggenggam erat tangan sahabat yang begitu dia sayangi. Meremasnya kuat seakan menyalurkan perasaan emosi yang ada dihatinya.


Lun, apa loe juga akan ninggalin gue ? Setelah nyokap gue, loe salah satu orang yang sangat berharga buat gue. Apa gue juga bakalan kehilangan loe ? Apa kehadiran gue emang sebagai orang pembawa sial.


Akia mendongak perlahan, lalu mengusap airmata yang menetes dipipinya. Gadis itu tidak ingin terlihat lemah, beruntungnya saat ini dia hanya sendiri didalam kamar tersebut.


Gue bakalan pergi asalkan loe kembali seperti semula Lun. Mungkin kehadiran gue memang hanya membawa sial buat kehidupan semua orang. Mulai sekarang gue janji akan pergi menjauh dari loe semua asalkan loe membuka mata loe dan kembali sehat.


Akia sudah bertekad, dia akan pergi meninggalkan semuanya. Entah apa yang dipikirkan gadis itu, yang pasti saat ini dia ingin menenangkan hatinya. Terlalu banyak peristiwa yang membuatnya merasa tertekan dan hancur.


Perlahan gadis itu melepas genggaman tangannya, namun tiba tiba jantungnya berdetak kencang saat dia merasakan jemari sahabatnya bergerak. Tidak percaya gadis itu mendongak menatap wajah Luna.


Berapa bahagianya Akia, saat perlahan kedua mata yang terpejam itu terbuka dan bibirnya tersenyum kecil kearahnya.


"Kia...Loe nangis." Ucapnya lirih.


Akia menghapus airmata yang mendadak mengalir deras di pipinya. Tersenyum lebar saat Luna benar benar sudah sadar. Dengan cepat gadis itu menekan tombol darurat, lalu kembali menatap wajah Luna dengan perasaan yang bahagia.


"Gue ga nangis, loe salah liat." Ujarnya dengan tetap terisak pelan.


Luna terkekeh kecil, walaupun masih lemas, tidak bisa dia pungkiri jika dia merasa bahagia saat pertama kali dia membuka mata, sosok sahabatnya yang sangat dia rindukan ada didepan matanya.


"Loe ga pandai bohong, Jelek tau." Kekehnya pelan.


Klek


Pintu ruangan terbuka, memunculkan seorang Dokter dan dua perawat dibelakangnya.


"Dok,,sahabat saya sudah sadar." Ucapnya lirih.


"Baik, akan saya periksa terlebih dahulu ya nona, mohon maaf untuk bergeser sedikit." Ucap Dokter tersebut dengan senyuman manisnya.


Salah satu suster membantu Akia untuk sedikit bergeser dari ranjang. Memperhatikan dengan seksama apa yang dokter itu lakukan pada Luna.


Dokter yang masih terlihat muda itu menghela nafas lega, lalu tersenyum lebar.


"Sungguh keajaiban yang Allah beri, anda diperkirakan akan koma dalam jangka waktu yang lama, namun yang terjadi diluar dugaan. Allahu akbar, Allah maha besar. Saya sungguh takjub dengan keajaiban ini. Nona Luna sudah dalam kondisi stabil, dan beberapa hari kedepan bisa kembali pulang, tentunya setelah mengikuti peraturan rumah sakit ini ya. Makan yang teratur dan minum obat." Jelasnya dengan pelan.


Luna menganggukkan kepalanya, begitu juga dengan Akia. Setelah mengucapkan terima kasih, Akia mempersilahkan dokter untuk undur diri dari ruangan tersebut.


"Terima kasih sudah kembali, gue akan beritahu yang lainnya." Ujar Akia dengan mata yang berbinar.

__ADS_1


***


Suasana berubah ceria saat orang orang disana sudah mendapatkan kabar jika Luna sudah kembali sadar. Semuanya bersorak gembira lalu memanjatkan rasa syukur atas keajaiban yang Allah berikan. Bahkan Arumi sampai terlonjak saking senangnya dia dengan kondisi sahabatnya saat ini.


Akia menatap haru pada wajah wajah didepannya. Mereka begitu terlihat gembira.


Kalian merasa bahagia saat mendengar kabar Luna sudah sadar dari komanya. Mungkin memang gue harus pergi dari kalian. Maaf sudah membuat kalian mengalami hal seperti ini. Gue memang sahabat yang tidak berguna. Gue bahkan terjebak di kursi sialan ini hingga tidak bisa menolong sahabat gue.


"Kenapa ? Apa kau tidak bahagia jika sahabatmu sudah siuman ?"


Akia menoleh sekilas lalu terdiam kembali enggan menatap wajah orang yang berbicara disampingnya.


"Aku.."


Azriel tersenyum kilas, mengetahui pasti apa yang saat ini gadis itu pikirkan.


"Jangan menyalahkan diri sendiri, sahabatmu mendapat musibah ini bukan berarti kehadiranmu yang kau pikir membawa sial dikehidupan mereka, tapi karena memang sudah takdir dari Allah yang memang sudah berkehendak."


Akia melongo. Dia bagaimana bisa tahu isi hati ku ?


"Kau heran kenapa aku bisa mengetahui apa yang saat ini kau pikirkan ?"


Akia mendengus kesal, pria ini selalu sukses membuatnya terkesan.


"Sok tahu."


"Aku memang selalu tahu, apalagi jika itu menyangkut dirimu. Apa kau lupa jika kau adalah calon istriku ?"


"Ck, belum tentu aku menerimanya, kau terlalu pede." Ketusnya.


Azriel terkekeh pelan sembari menggelengkan kepalanya, lalu pria itu beranjak pergi meninggalkan Akia sendiri dengan segala pikiran menghantui gadis itu.


Dari kejauhan Tuan Aryan memperhatikan keduanya, semburat senyum kecil terbit dibibirnya. Ada rasa bahagia pada diri pria oarih baya itu, setelah melihat interaksi antara putri dan calon menantunya, pria paruh baya itu membenarkan ucapan Dhafa.


Azriel memang sosok pria yang cocok untuk putrinya, dia sangat yakin jika pria itu bisa membawa pengaruh yang positif untuk putrinya, dan dia sudah mulai melihat hasilnya. Perlahan putrinya berubah menjadi sosok Akia yang dulu, lembut dan penuh kehangatan.


***


Akia menatap ragu wajah papanya, menimbang


penuh bimbang apakah dia akan lanjut apa tidak. Matanya terus bergerak gelisah, membuat sang papa menjadi terheran heran.

__ADS_1


Saat ini keduanya sedang berada diruang keluarga, setelah satu jam yang lalu pulang dari rumah sakit tempat Luna dirawat. Azriel juga sudah kembali pulang setelah sebelumnya mengantar keduanya pulang.


"Ada apa ? Kau terlihat sangat gelisah nak." Tanya Tuam Aryan hati hati.


Akia yang tadinya menunduk kini memberanikan diri untuk menatap wajah papanya. Dilihatnya wajah pria yang sudah mulai menua, sekilas rasa bersalah menerpa gadis itu. Bagaimana selama ini dia bersikap begitu tidak sopan pada papanya.


Tuan Aryan menutup laptopnya lalu beringsut mendekati putrinya. Dia sungguh merasa heran, karena tidak biasanya putrinya bersikap seperti itu.


"Ada apa ? Apa ada yang ingin kau bicarakan dengan papa ?" Tanyanya lembut sembari mengusap pucuk kepala Akia.


Akia menatap kedua bola mata cokelat milik ayahnya. Di usianya yang sudah beranjak tua, wajah sang papa masih terlihat begitu tampan dan muda. Tidak ada satupun kerutan diwajahnya, namun ada satu yang berubah. Pria paruh baya itu terlihat sangat berwibawa namun tegas.


"Apa papa menyayangiku ?" Tanya Akia polos.


Tuan Aryan nampak bingung, kenapa putrinya tiba tiba mempertanyakan rasa sayangnya.


"Tentu saja papa sangat menyayangimu, kau adalah wanita kedua setelah mama yang paling papa sayangi didunia ini. Maafkan sikap papa selama ini yang selalu membuatmu marah dan sakit hati." Ujarnya sendu denganmatta yang sudah berkaca kaca.


Akia tersenyum haru, lalu meraih tangan besar sang papa.


"Akia sudah memaafkan papa. Namun bolehkah Akia meminta satu hal pa ?"


"Katakan apa yang kau inginkan nak, papa akan berusaha mengabulkannya."


"Benarkah ?" Tanyanya dengan wajah berubah senang.


"Jika papa mampu, papa akan senang hati mengabulkannya." Sahut papanya pasti.


Akia menghirup nafasnya pelan lalu menghembuskannya kasar.


"Pah....Akia ingin."


TBC


Hai kakak sekedar pemberitahuan..author membuat cerita tentang kelanjutan Mia dan Kendra tapi ini cerita tentang anak anak mereka ya. Tapi dengan berat hati sekuel tentang mereka tidak author buat di sini tapi di aplikasi sebelah.


Yuks jika ada yang ingin mampir silahkan cek di aplikasi K**M, dengan nama pena sama dengan yang disini yaitu Nishaara


Dan ini sampul ceritanya ya..disekuel ini author buat cerita yang agak berbeda. Dijamin tidak kalah seru dengan cerita orangtua mereka.


Terima kasih, jangan lupa tinggalkan jejak ya..🤗🤗😘

__ADS_1



__ADS_2