Rindu Suara Azhan

Rindu Suara Azhan
S. 2. Nasehat Sahabat


__ADS_3

Satu minggu berlalu semenjak kedatangan Dhafa dirumah Akia, namun respon yang diberikan Pipit belum ada tanda tanda gadis itu menerima Dhafa sebagai kakaknya. Bahkan kini gadis itu sudah tidak tinggal lagi dirumah Akia, Rio membawa Pipit untuk tinggal diapartemennya.


Walaupun hidup satu rumah mereka berdua masih memutuskan untuk pisah kamar, lebih tepatnya Rio yang menginginkannya. Bukan tanpa alasan Rio meminta hal itu, sebagai pria dewasa yang mempunyai nafsu syahwat, dia tidak ingin sampai kelepasan.


Tinggal satu rumah dengan gadis yang dia cintai apalagi status mereka sebenarnya sudah sah, membuat Rio terkadang harus kuat menahan diri untuk tidak menerkam Pipit. Dia bertekad sebelum dia kembali menikahi Pipit dengan wali kandungnya, Rio tidak akan menyentuh gadis itu.


Seperti pagi ini, Rio lagi lagi harus menghela nafas panjang dan menahan sesuatu yang bergelora dihatinya saat melihat wajah istrinya yang semakin hari semakin cantik saja. Padahal gadis itu hanya memakai gamis panjang seperti hari biasanya, cuma bedanya warna yang dia pakai hari ini begitu kontras dengan kulitnya yang tidak putih tapi juga tidak hitam.


Gamis panjang warna ungu lavender membuat gadis itu terlihat semakin manis, dan lagi sialnya Rio harus menahan diri lagi untuk tidak memeluk wanitanya.


"Assalamualaikum..selamat pagi.". Sapa Pipit sembari mempersiapkan sarapan paginya diatas meja ketika melihat Rio yang keluar kamar dengan pakaian yang sudah rapi.


"Waalaikumussalam wr wb sayang, pagi juga." Menatap wajah istrinya sekilas dengan senyuman yang terukir diwajahnya yang tampan. " Makasih manis." Imbuhnya dengan nada menggoda


Pipit tersenyum simpul, semenjak hidup berdua gadis itu semakin kesini semakin mengenal sifat dan watak Rio yang ternyata sangat humoris dan lembut. Selalu mendahulukan kepentingan dirinya daripada dia sendiri. Membuat Pipit semakin merasa nyaman saat berada didekatnya.


"Manis, apa kamu tidak ingin mengubah panggilanmu gitu keaku. Secara aku ini suami kamu loh, masa iya manggilnya Ria Rio gitu sih." Mode merajuk tuan suami mulai muncul, jika sudah begini maka Pipit yang harus segera merayunya.


"Nanti kalau sudah nikah lagi." Ucapnya tanpa sadar jika saat ini diapun mengharapkan pria itu menikahinya kembali.


Mendengar itu Rio langsung menghentikan suapannya kemudian menghampiri kursi Pipit.


"Jadi kamu mau nikah lagi sama aku ? Beneran ? Ini bukan akal akalan kamu aja kan supaya aku senang." Pertanyaan pria itu terdengar menggebu gebu.

__ADS_1


Pipit yang keceplosan hanya bisa termangu dan menghela nafas.


"Hmm.."


"Berarti kamu sudah siap bertemu dengan abang kamu manis ?"


Mendengar pertanyaan itu membuat Pipit seketika langsung terdiam dengan pikiran yang berkelana.


"Kamu masih belum memaafkannya ?" Tanyanya lagi saat istrinya itu terdiam setelah pertanyaannya tadi.


"Sampai kapan ? Kamu sendiri bahkan sudah tahu jika dia tidak bersalah sama sekali, kalian berdua adalah korban dari hasutan dan fitnah paman kalian. Bukan hanya kamu yang menderita sayang, tapi abang kamu juga sama, setiap hari yang ada dipikirannya adalah kamu, adik satu satunya. Penyesalannya yang begitu besar karena mengira kamu sudah tiada.


Seandainya dia tidak mempercayai perkataan pamannya mungkin saat ini kalian akan hidup bersama, namun apa daya waktu itu dia hanyalah bocah kecil berusia belasan tahun dan belum mempunyai keberanian lebih apalagi hidupnya dikota sebatang kara. Diapun harus berjuang keras untuk bertahan hidup, hingga sampai suatu hari Allah membawanya bertemu dengan sosok gadis kecil yang sifatnya begitu mirip dengan adiknya. Dan kamu pun tahu siapa gadis kecil yang aku maksud bukan ?"


Rio tersenyum kemudian mengusap punggung istrinya kala gadis itu mulai bergetar karena menahan isak.


"Pikirkan sekali lagi, dan aku harap jangan terlalu lama. Aku takut suatu saat kamu akan menyesal karena terlambat menyadarinya. Ya sudah aku berangkat kekantor dulu ya, jaga diri baik baik kalau mau keluar. Pulang jangan sampai terlambat oke."


Rio keluar dari apartemennya setelah berpamitan pada Pipit, sementara gadis itu tengah termenung dimeja makan memikirkan ucapan Rio. Hanya desahan pelan yang dia keluarkan setelah itu bangkit berdiri dan membereskan meja makan.


Selera makannya mendadak hilang seiring dengan hatinya yang kembali gundah. Pipit kembali masuk kedalam kamarnya dan berjalan menuju arah balkon. Matanya menatap lurus jauh kedepan dimana gedung gedung tinggi menjulang disekitarnya.


Apa aku keterlaluan ? Hanya menganggap jika diriku saja yang menderita selama ini. Walau aku membencinya tapi aku juga sangat merindukan abang Fa.

__ADS_1


Aku tidak menyangka jika dia adalah abangku, dari awal aku pikir hanya namanya saja yang sama, ternyata semua nampak seperti kebetulan.


Pipit memejamkan matanya mencoba bertanya apa sebenarnya yang diinginkan oleh hatinya yang paling dalam. Saat dia tengah berpikir keras tiba tiba ucapan Akia beberapa hari yang lalu kembali melintas dipikirannya.


"Kamu tahu Pit ada seseorang yang mengatakan padaku, Jangan takut dengan penderitaan, karena fitrah kemuliaan akan muncul saat penderitaan itu memuncak pada diri seorang mukmin."


"Maksudnya gimana Sya ?"


"Maksudku dengan menderita kita bisa tahu ada dibagian level berapa keimanan kita pada Allah SWT. Apa akan semakin turun kebawah atau semakin naik keatas. Jika dia adalah hamba Allah yang bertaqwa maka dia akan selalu berjalan naik untuk menuju level selanjutnya, tidak perduli apapun rintangan yang ada di depannya. Dia tidak akan merasa takut jika dia akan gagal lagi dan lagi. Dia punya Allah yang akan selalu menjaganya, lalu bagaimana dia akan merasa ketakutan jika Allah saja selalu bersamanya setiap detik, menit dan setiap helaan nafas yang selalu dia keluarkan setiap harinya.


Berbeda dengan orang yang mempunyai level iman yang berada dilevel bawah, dia akan merasa ketakutan dan selalu menyalahkan keadaan ketika penderitaan selalu menghantuinya. Dia lupa bersyukur dan pada akhirnya dia semakin turun kebawah hingga pada akhirnya dia tidak mampu lagi untuk berpijak. Dan aku sempat berada dilevel itu Pit. Aku selalu menyalahkan keadaan yang terjadi dikehidupanku, aku bahkan sempat tidak mempercayai adanya Tuhan.


Aku menjadi seorang manusia yang kufur nikmat, dan menganggap apa yang terjadi dihidupku adalah kesialan. Namun lagi lagi Allah masih sayang padaku, disaat aku benar benar berada dilevel keimanan paling bawah Allah mengulurkan tanganNya padaku dan mempertemukan aku dengan orang orang hebat seperti mama, Kyai Lutfi dan juga dirimu.


Berdamailah dengan hatimu maka kebahagiaan akan dengan sendirinya datang menghampirimu tanpa kamu bersusah payah untuk mencarinya."


Pipit membuka mata saat wajah Dhafa tiba tiba melintas dikepalanya, wajah sedih abangnya saat dia menatapnya penuh kebencian, dan sorot mata abangnya yang penuh dengan kerinduan yang begitu besar padanya, adik satu satunya.


Berpikir kearah sana membuat Pipit tiba tiba begitu merindukan abangnya. Merindukan dekapan hangat abangnya yang dulu selalu menenangkan dan membuatnya merasa nyaman.


Tersadar gadis itu langsung berbalik masuk kedalam kamar dan meraih tas jinjingnya. Dengan hati dan tekad yang bulat gadis itu akhirnya keluar apartemen setelah berpamitan pada suaminya. Satu tujuan yang saat ini dia inginkan, kantor Dhafa, sang abang tercinta.


TBC

__ADS_1


__ADS_2