Rindu Suara Azhan

Rindu Suara Azhan
Jebakan Marco


__ADS_3

Assalamualaikum


hai hai readersku tersayang, author menyapa. Ih author gemes tahu saat membaca jiwa jiwa para detektif, jujur author senyum senyum sendiri membaca kommentar kalian. Alhamdulillah ya, author terharu kalian masih setia dengan cerita receh author ini.😭


Untuk yang mengatakan jika cerita author ini terlalu bertele tele, tidak apa apa, kalian bebas untuk mengutarakan pendapat kalian.


Sekedar pemberitahuan saja ya, cerita author ini tidak akan terlalu panjang kok, mungkin hanya sekitar 100 eps saja, tapi tidak tahu nanti jika author pengen membuat cerita Dhaffa dan Akila disini atau dilapak sendiri. Ada juga dimanusia es Rio yang akan membuat hari hari mereka semakin ramai..doakan saja ya.🤗🤗


Oke,,tidak berlama lama..yuks capcus..jangan lupa tinggalkan jejak.


******


Hari sudah menunjukkan pukul 7 malam saat Akia masih mengurung diri dikamarnya, membuat kedua orangtuanya sedikit khawatir. Apalagi Mama Syifa, wanita cantik yang saat ini sedang mengandung itu berkali kali menengok kearah tangga berharap jika putrinya itu turun kebawah.


Tuan Aryan yang melihat istrinya sedari tadi gelisah mencoba menenangkannya dengan mengusap punggung wanita itu.


"Tenanglah sayang jangan khawatir, Akia pasti baik baik saja."


"Tapi mas dari tadi dia terus dikamar, aku takut dia kenapa kenapa." Ucapnya lagi dengan raut wajah khawatir.


Tuan Aryan merengkuh tubuh istrinya, membawanya kedalam pelukannya.


"Hei, dia sudah dewasa, Akia tidak akan berpikiran seperti anak anak. Aku tahu bagaimana sifat putri kita itu. Jadi mas mohon kamu tenang ya, nggak baik ibu hamil terlalu banyak fikiran, kasihan dedek bayinya." Ucapnya lembut sembari mengusap perut istrinya.


Mama Syifa hanya mengangguk pasrah, walaupun didalam hatinya masih terselimuti dengan kekhawatiran yang besar terhadap putrinya.


"Makasih ya sayang, sudah menyayangi Akia sampai sejauh ini, aku sungguh sangat beruntung bisa mendapatkanmu disisa hidupku yang sudah tua ini. Aku mencintaimu istriku, sangat mencintaimu." Bisiknya lirih ditelinga Syifa.


"Akupun sangat mencintaimu mas." Balasnya dengan senyuman merekah dibibirnya.


"Benarkah ? Akhirnya aku bisa mendengar kata kata indah itu keluar dari bibirmu." Godanya pada istrinya.


"Kau meledekku mas ?" Bibir wanita itu mengerucut maju membuat gemas sang suami.


Cup


"Kau sangat menggemaskan sekali sayang." Ucapnya yang mengecup singkat bibir istrinya yang membuatnya selalu merasa candu.


Mama Syifa merona dengan kepala tertunduk, walau mereka sudah menikah, tatap saja dia sesekali merasa malu jika suaminya selalu menggodanya. Dan Tuan Aryan selalu merasa senang jika melihat rona merah dipipi istrinya.


"Ck, dasar orangtua, kalau bermesraan dikamar, jangan sembarangan. Papa ini menodai mataku yang masih suci."


Suara celetukan membuat keduanya menoleh serentak kearah samping. Mereka lupa jika disana masih ada seseorang yang saat ini sedang asik bermain game.


Arfan, pemuda itu nampak mengerucutkan bibirnya pertanda protes pada orangtuanya yang selalu sembarangan jika bermesraan.


Tuan Aryan langsung tertawa menyadari jika putranya itu nampak merasa kesal.


"Hahahaha..maaf boy, papa benar benar lupa jika ada kamu disini."


Arfan mendengus, lalu melanjutkan kembali memainkan gamenya.


Suara langkah kaki terdengar keras diarah tangga, membuat ketiganya menoleh serentak kearah sana. Nampak gadis itu turun kebawah, namun yang membuat mereka heran adalah dengan penampilan Akia.

__ADS_1


Gadis itu memakai celana stret panjang yang agak longgar, dengan kaos panjang yang dibalut dengan jaket kulit hitam miliknya. Dan pasmina yang melekat dikepalanya.


"Mau kemana Sya malam malam begini ?" Tanya Tuan Aryan pada putrinya, pria itu waspada jika sang putri hendak pergi keluar.


"Akia mau keluar pa, ada urusan." Singkat gadis itu menjawab, walau dengan nada lembut.


Dihampirinya sang papa dan mama, mencium tangan mereka. Lalu bergerak kearah Arfan mengacak gemas ujung kepala adiknya itu, yang langsung membuat pemuda itu merasa kesal.


"Kakak kangen sama Arfan." Kekeh gadis itu yang melihat bibir adiknya yang cemberut.


"Ish, kakak ini lihatlah wajah tampanku terlihat sangat jelek."


Akia memutar bola matanya malas, sikap narsis Arfan mengingatkan dia pada Azriel. Membuat gadis itu kembali sedih saat ingat bagaimana Azriel mengusirnya dari rumah mereka.


Tidak ingin berlarut, gadis itu lalu berjalan menuju kearah pintu.


"Papa tidak mengijinkanmu keluar Sya." Suara bariton milik papanya terdengar tegas diruangan tersebut, membuat langkah kaki Akia langsung terhenti. Gadis itu berbalik menatap datar wajah sang papa.


"Maksud papa ?"


Tuan Aryan menghela nafas kasar, tadi Dhafa sudah berpesan padanya, mewanti wanti apapun yang terjadi, dia berharap papanya tidak mengijinkan Akia keluar rumah. Putranya sudah menceritakan apa yang sudah terjadi pada Azriel dan rumah tangga keduanya.


"Apa ini tentang Azriel ?" Bukannya menjawab pertanyaan putrinya, Tuan Aryan malah berbalik bertanya padanya.


"Maaf pa, aku harus pergi sebelum semuanya terlambat."


"Papa sudah bilang tidak mengijinkanmu pergi Sya, apa kamu tidak dengar." Lagi suara papanya terdengar keras membuat langkahnya kembali terhenti.


Akia terdiam tanpa membalikkan badannya, kedua tangannya mengepal kuat. Sebisa mungkin menahan gejolak emosi dihatinya, mengucap istighfar berkali kali.


Tuan Aryan kembali menghela nafas panjang mendengar penuturan putrinya. Netranya menatap wajah istrinya yang menganggukkan kepalanya.


"Baiklah, papa mendukungmu nak, hati hatilah kamu. Dan ingat jangan gegabah selalu gunakan akalmu daripada emosimu."


Akia berbalik, menatap haru pada papanya. Kedua mata gadis itu nampak berkaca kaca dengan senyuman merekah dibibirnya.


"Terima kasih pa, ma."


Lalu gadis itu berlari menuju garasi, meraih kunci motornya yang terparkir rapi disana.


"Ayo merah, aku mengandalkanmu kali ini. Jangan membuatku kecewa oke."


Gadis itu menaiki motor besarnya, saat hendak memutar kunci starter, ponselnya yang ada disaku berdering.


"Bagaimana ? Baiklah aku segera kesana, apa kau bersama Bang Alex ? Vino sudah menuju ketempat."


Tidak ingin membuang waktu, gadis itu langsung melajukan motor besarnya dengan kecepatan tinggi. Membelah sunyinya malam dijalanan ibukota. Sesaat sampai dipersimpangan jalan, gadis itu berhenti, menatap mobil yang sudah menunggunya disana.


"Rio, bang Alex."


"Vino sudah sampai disana bersama Dhafa." Sahut Alex singkat.


Kedua pria itu lalu masuk kembali kedalam mobil, lalu bersamaan mereka mulai melajukan kendaraannya menuju arah bandara.

__ADS_1


Sementara itu Azriel nampak terdiam didalam mobil, dengan Marco yang berada disampingnya. Pria itu melirik kekanan dan kekiri, seperti mencari sesuatu. Dibelakang mereka ada sepuluh mobil yang mengiringi perjalanannya, semuanya anak buah Marco.


Hingga tiba tiba mobil yang dikendarai olehnya berhenti mendadak saat berada dijalanan sepi. Membuatnya sedikit mengrenyit bingung. Pria itu menoleh kearah Marco yang nampak terlihat santai.


Hingga pada akhirnya, pintu belakang terbuka dan ada beberapa orang yang menyeretnya keluar mobil. Azriel tentu saja terkejut, melihat semua ini. Saat dia mengedarkan pandangan matanya kesekeliling, lagi lagi dia dibuat terkejut, saat semua anak buah Marco sudah berjejer rapi dengan senjata yang mengarah padanya.


"Apa apaan ini Marco ?"


Pria itu tertawa keras lalu berjalan angkuh mendekati Azriel.


Bugh


Mendaratkan pukulan diperut Azriel, membuatnya sedikit terhuyung dengan wajah meringis sakit.


"Kau memukulku, apa kau juga mengkhianatiku." Teriak Azriel dengan rahang mengeras.


Marco kembali terkekeh, kali ini dia menyulut rokok ditangannya dengan memandang sinis kearah mantan bosnya.


"Aku mengubah rencanaku lagi El, aku pikir dengan kau mengusir istrimu, kau akan terpuruk, tapi kenyataannya kau nampak biasa biasa saja."


"Apa maksudmu ?"


"Maksudku ? Tentu saja aku ingin menghabisimu saja, membiarkan orang orang tersayangmu merasa hancur karena kehilangan dirimu. Dengan begitu kau pun diakhirat nanti akan merasa sedih dan hancur melihat kehancuran keluargamu. Itu lebih mengasikkan bukan El." Ketusnya sinis.


"Aku sungguh tidak mengerti dengan maksud ucapanmu Marco."


"Aku lupa jika kau saat ini sedang hilang ingatan El, baiklah itu tidak masalah bagiku. Yang penting saat ini kau akan mati ditanganku El, dengan begitu dendamku padamu akan terbalaskan sudah."


Azriel terkejut setengah mati, mendapati kenyataan yang ada didepannya.


"Jadi kau merencanakan ini ? Berpura pura baik padaku hanya untuk membalas dendam ?"


"Apa kau pikir orang sepertiku benar benar bersikap baik padamu El ? Kau sangat naif sekali bos." Pria itu tertawa keras diikuti oleh semua anak buahnya.


Azriel menggeram dengan tangan yang mengepal kuat.


"Beraninya kau menghasutku Marco, jadi selama ini yang kau katakan hanyalah omong kosong ? Tentang pengkhianatan istri dan sahabatku."


"Tentu saja, itu aku lakukan supaya Rio dan istrimu itu pergi meninggalkanmu. Akan sangat susah menghabisimu jika ada bodyguard mu itu yang selalu menempel dan menggagalkan semua rencanaku, terutama istri sialanmu itu."


Azriel melangkah maju, namun berhenti saat senapan laras panjang menempel dipunggungnya.


"Berhenti atau peluru ini akan langsung bersarang dijantungmu." Desis anak buah Marco.


Marco menyeringai, melihat Azriel yang terdiam tanpa bisa bergerak apapun.


"Sudah saatnya kau untuk pergi El, jangan lupa sampaikan salamku pada Riva jika kau sudah bertemu dengannya dialam sana."


Marco memberi isyarat pada anak buahnya untuk segera mengeksekusi Azriel. Sementara Azriel hanya berdiri dengan kedua mata terpejam, terlihat sekali jika pria itu nampak tenang tanpa merasa takut sama sekali.


"Habisi dia." Perintah Marco.


"Jangan bermimpi brengsek."

__ADS_1


TBC


__ADS_2