Rindu Suara Azhan

Rindu Suara Azhan
Curiga


__ADS_3

Dia sudah pulang ?"


Ryan sangat terkejut saat tiba tiba sebuah suara menyadarkan dirinya yang saat ini sedang melamun. Namun detik berikutnya wajah terkejutnya terganti dengan senyuman penuh kelegaan. Ditatapnya wajah cantik gadis yang selama ini selalu memenuhi ruang hatinya.


"Sayang kamu ternyata sudah bangun dari tadi ya. Kenapa kau tidak menyapa sahabatmu itu ? Padahal dia datang kesini hanya untuk bisa melihat keadaanmu." Ucapnya sembari membelai lembut pipi Luna.


Luna nampak menghela nafas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Terlihat seperti agak berat beban yang dia rasakan. Ryan yang melihat itu hanya bisa mengrenyit heran.


"Apa ada sesuatu yang saat ini mengganggu pikiranmu sayang ?" Tanyanya hati hati.


"Entahlah kak, aku cuma ngerasa ada yang aneh dengan sikap Akia. Tidak biasanya dia bersikap ramah begitu."


"Sudahlah, jangan dipikirkan mungkin memang benar apa yang dia katakan jika dia ingin berubah. Sebagai sahabat harusnya kita selalu mendukung niat baiknya bukan." Ucap Ryan panjang lebar.


"Entahlah kak, aku juga berharap seperti itu." Desahnya lirih.


Kia kenapa aku merasa jika kau menyembunyikan sesuatu padaku ? Hatiku merasa sangat takut dan gelisah, seakan akan kau akan pergi jauh dariku. Aku sangat tahu bagaimana sifatmu, dan mendengar perkataanmu entah aku menjadi sangat curiga padamu. Semoga kau tidak melakukan sesuatu hal yang akan membuat kita berpisah jauh Kia.


"Oh iya, tadi ibu menelpon katanya kalau sudah keluar dari sini kita disuruh pulang kerumah ibu. Sepertinya ibu sudah tidak sabar ingin cepat bertemu dengan calon mantu kesayangannya ini." Goda Ryan berusaha untuk mencairkan suasana.


Seketika wajah Luna berubah menjadi merah.


"Ih..kakak apaan sih." Lirihnya malu.


Ryan terkekeh lalu mengacak rambut pendek Luna dengan gemas.


"Kenapa kau harus malu ? Kenyataannya memang kau itu calon mantu kesayangannya ibu. Bahkan jika sudah ada kamu, beliau sampai melupakan aku yang anak kandungnya."Ucapnya dengan wajah melas.


Luna kembali tertunduk, lalu kembali menatap wajah pria yang sangat dicintainya itu.


"Apa kakak yakin ingin menikah denganku ?"


"Harusnya kakak yang bertanya padamu, apa kau yakin untuk kembali menerima ku setelah apa yang aku lakukan padamu selama ini ? Sungguh ini terasa seperti mimpi bagiku."


Luna meraih tangan besar Ryan, lalu menggenggamnya erat.


"Aku tidak pernah menyesal dengan apa yang sudah menjadi keputusanku. Melihat kakak yang sudah berubah menjadi lebih baik, itu sudah cukup bagiku. Terima kasih karena sudah memilihku untuk menjadi calon istrimu. Terima kasih karena sudah mencintaiku sebesar ini." Ucapnya tulus.


Ryan terharu, lalu dengan gerakan cepat meraih tubuh kecil Luna untuk dibawanya kedalam pelukannya.


"Aku berjanji mulai detik ini akan selalu membuatmu bahagia, dan tidak akan pernah aku biarkan setetes airmata jatuh dipipimu ini. Akan kuberikan semua cinta yang aku punya hingga kau tidak akan pernah lagi berpikir untuk melirik pria lain. Aku berjanji seumur hidupku, dan jika aku mengingkarinya maka aku akan membunuh diriku sendiri dihadapanmu."


Luna menangis pelan karena merasa. sangat terharu dengan kata kata yang Ryan ucapkan. Pelukannya semakin erat ditubuh pria itu, dalam hati diapun berjanji akan mengabdikan seluruh hidupnya pada sosok pria yang sangat dicintainya itu.

__ADS_1


*******


Tok tok tok


"Masuk."


Akila membuka pintu ruangan bosnya dengan hati yang berdetak kencang, rasa gugup jelas terlihat diwajahnya yang cantik. Setelah memantapkan hatinya gadis itu lalu melangkah perlahan untuk masuk ke ruangan tersebut.


Dingin


Satu kata itu yang terlintas dipikiran Akila saat masuk ke ruangan tersebut. Bukan dingin karena suhu Ac yang besar, tapi dingin dalam artian yang lain. Gadis itu merasakan hawa dingin dan mencekam hingga membuatnya bergidik sendiri. Dengan gerakan pelan dia meraba tengkuknya sendiri yang tiba tiba merinding.


Astaga kenapa hawa disini lebih menakutkan melebihi didalam kandang singa. Aku seperti dihadapkan oleh seekor singa yang kapan saja siap melahapku.


"Sudah selesai membandingkanku dengan singa ?"


Akila melonjak dengan mata yang melotot sempurna. Bagaimana bisa pria didepannya itu mengetahui apa yang barusan dia ucapkan didalam hatinya.


"Tu-tuan..." Tiba tiba suaranya terhenti ditenggorokan saat dia tidak sengaja bertatapan langsung dengan sepasang mata elang didepannya. Gadis itu berubah menjadi gagap dalam seketika.


"Ada apa ? Apa kau akan selamanya berdiri disitu ? Jika tidak ada yang ingin kau bicarakan silahkan keluar karena kau hanya mengganggu waktuku yang sangat berharga." Ucapnya dingin dan datar.


Akila menelan salivanya kasar, kedua tangannya saling meremas. Bahkan keringat dingin mulai merembes di kening nya. Dengan sekuat tenaga gadis itu berusaha mengontrol detak jantungnya yang berpacu sangat keras.


Tak


Suara pulpen yang diletakkan diatas meja terdengar sangat keras ditelinga Akila, secara diruangan tersebut cuma ada dirinya dan juga pria itu. Dhafa, siapa lagi bosnya yang terkenal dingin dan kejam selain dia. Bahkan Presdir nya saja Tuan Aryan adalah sosok yang ramah walaupun pria paruh baya itu terlihat dingin dan datar.


Akila yang menunduk masih bisa melirik bagaimana pria itu bangun dari duduknya lalu melangkah mendekatinya. Langkah pria itu terhenti dengan jarak sekitar 5 centi dihadapannya. Kedua tangannya dimasukkan kedalam saku celananya. Membuat jantung Akila semakin berdetak sangat kencang.


Tolong berhenti bersikap seperti itu, aku takut tidak kuat menahan rasa dihatiku yang semakin kuat padamu Tuan. Kau selalu sukses membuatku terpesona hanya dengan melihat tanganmu saja, gumam gadis itu dalam hati.


"Dengan siapa kau keluar."


"Maksud Tuan ?" Tanyanya masih dalam keadaan tertunduk.


"Tatap mataku jika kau sedang berbicara denganku. Apa aku ada dibawah sana hingga kepalamu selalu menunduk begitu ?"


"Maaf Tuan."


Dhafa melangkah pelan dan lebih dekat dengan gadis itu. Akila yang terkejut spontan memundurkan langkahnya. Wajah paniknya semakin kentara.


"Tu-tuan apa yang kau lakukan. Tolong berhenti disana." Pekik Akila pelan dengan tubuhnya yang terus berjalan mundur.

__ADS_1


Dhafa terus melangkah tanpa mendengarkan ucapan gadis didepannya itu. Sorot matanya tajam menatap Akila dengan raut mukanya yang datar.


Duk


Akila menoleh kesamping, mendapati dirinya yang ternyata sudah mentok di pintu.


Sial, aku sudah tidak bisa lari kemana mana lagi. Pintu oh pintu kenapa kau membuatku susah. Rutuknya dalam hati.


Gadis itu tidak sadar kalau perbuatannya itu justru membuat pria didepannya sedikit tersenyum tipis. Kejadian yang sangat langka dan banyak orang yang ingin melihat senyum itu, namun sayang Akila malah melewati momen langka tersebut.


Gadis itu menutup kedua matanya erat saat melihat Dhafa yang sudah mengungkung tubuh mungil nya. Dapat dia dengar dan rasakan suara deru nafas pria itu menerpa pipinya. Namun sayang gadis itu tidak dapat merasakan deru detak jantung Dhafa yang berdetak sangat kencang, seandainya saja dia meletakkan tangannya di dada bidang pria itu, sudah dipastikan dia pun akan mengetahui debaran keras jantung Dhafa.


"Kenapa tidak menjawab pertanyaan ku ? Dengan siapa kau keluar ? Laki laki atau perempuan ?"


Dia ini kenapa sih ?, gumamnya dalam hati.


"Tu-tuan.."


"Dengan siapa ?" Kali ini suaranya terdengar sangat lembut, membuat Akila sedikit terkejut.


"Se-sendiri tuan."


Akila mengrenyit heran saat dia merasakan suasana berubah hening, ingin rasanya dia membuka kedua matanya namun ketakutan dihatinya mengalahkan niatnya. Lalu..


Cup


Akila tiba tiba membuka kedua matanya dan langsung melotot sempurna. Semburat merah muncul dipipinya yang kini terasa panas. Debaran jantungnya kian berdetak keras, kini dia beralih menatap wajah pria yang saat ini menatapnya dengan tatapan penuh arti.


"Tu-tuan, apa yang anda lakukan ?"


"Kenapa ? Apa kau mau lagi ?" Tanyanya dengan memainkan kedua alisnya.Ada seringai penuh licik terukir dibibirnya.


Spontan Akila menutup keningnya dengan telapak tangannya. Membuat Dhafa ingin tertawa keras rasanya melihat tingkah gadis didepannya yang terlihat sangat menggemaskan di mata nya.


"Kenapa kau menutupinya ? Aku bisa melakukannya lagi disini." Ucapnya dengan jemarinya menyentuh bibir tipis Akila.


Akila sontak saja langsung menutup bibirnya dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kananya masih bertengger dikeningnya.


Dhafa terkekeh pelan, lalu dia mendekatkan wajahnya ke wajah Akila. Berbisik pelan ditelinga gadis itu yang langsung membuat Akila tersenyum tipis.


"Pergilah dan awas saja jika kau berani pergi dengan pria lain."


TBC

__ADS_1


__ADS_2