
"Riel...gawat..." Teriak seseorang yang tiba tiba masuk kedalam ruangan Presdir tanpa mengentuk pintu.
"Assalamualaikum Yo..." Sindir pria didepannya dengan cepat.
Seakan tersadar Rio sang asisten langsung menetralkan nafasnya yang tinggal setengah setengah.
"As..salamu..alai..kum.." Ucapnya dengan terbata bata.
"Waalaikumussalam warohmatullahi wabarakatuh." Balas sosok tampan yang saat ini sedang duduk dikursi besarnya dengan mata yang tetap fokus dengan layar laptopnya.
"Nafas yo..baru ngomong. Loe kayak habis dikejar hantu gitu. Hantunya cantik apa nggak ?" Ujar pria yang bernama Azriel tersebut dengan senyuman tipisnya.
Ck, dia masih saja bisa tenang dan santai. Gue yakin setelah mendengar kabar dari gue, wajah tenangnya itu pasti akan berubah langsung seperti monster. Hii..Gumamnya dalam hati sembari bergidik ngeri.
Azriel mengrenyit heran melihat asisten sekaligus sahabatnya itu bicara sendirian sambil sesekali mengendikkan bahunya. Diletakkan pulpen berwarna emas miliknya lalu fokus menatap Rio.
"Ada apa yo ? "
Tersadar akan lamunannya, Rio langsung merubah wajahnya dalam mode panik lagi.
"Riel..gue harap loe tenang setelah mendengar berita ini." Ucapnya sembari menelan salivanya kasar, pasalnya saat ini didepannya Azriel sudah dalam mode serius.
"Katakan ! Segenting apa kabar yang loe bawa, sampai loe bisa sepanik ini." Tanyanya dengan suara yang sudah berubah datar.
"I-itu..Riel..Akia."
"Katakan dengan jelas."
"D-dia...pergi."
Brakk
Rio berjengit kaget hingga hampir terjungkal kebelakang. Beruntung pria itu mampu mengendalikan keseimbangan tubuhnya, jadi pantatnya aman dan tidak mencium lantai marmer yang dingin.
"Apa maksud loe dengan mengatakan kalo dia pergi hah !" Ucapnya keras membahana.
Tuh kan mode monsternya sudah kembali. Harus cari kata kata yang bagus jika sudah begini. Hah..
Rio memberikan sebuah amlop berwarna putih dengan sebuah pita kecil berwarna merah yang menjadi talinya. Ragu ragu Azriel meraih amplop tersebut, namun karena rasa penasaran yang tinggi membuat pria itu akhirnya mengambil amplop tersebut lalu membukanya perlahan.
Wajah Azriel seketika langsung berubah pucat dan datar. Nampak rahangnya mengeras tanda jika saat ini dia sedang menahan gejolak amarahnya.
Tubuhnya langsung terduduk dikursinya setelah merasa kedua kakinya lemas seakan tidak mempunyai tenaga. Berulang kali menarik nafas lalu menghembuskannya dengan kasar.
__ADS_1
"Astaghfirullah' alazhim..Ya Allah berikan hamba kesabaran yang tiada batasnya. Jangan sampai kemarahan menguasai hati hamba." Gumamnya sembari berkali kali mengucapkan istighfar.
Sejenak pria itu memejamkan kedua matanya sembari menetralkan detak jantungnya yang bergemuruh. Sementara Rio hanya bisa menatap takjub sahabat sekaligus bosnya itu. Bagaimana bisa ada orang yang begitu sabar dikala mendapatkan kabar yang begitu buruk. Bahkan dirinya pun belum tentu bisa mengontrolnya. Sungguh sikap Azriel memang patut dijadikan teladan.
"Apa rencanamu Riel ?" Tanya Rio hati hati saat merasa Azriel sudah bisa menenangkan gejolak emosinya.
Azriel terdiam lalu melempar senyuman lebar, sungguh pria ajaib, disaat genting dia masih bisa tersenyum bahkan terlihat santai.
"Duduk dulu yo, emang loe nggak capek apa berdiri terus disana." Guraunya mencoba mencairkan suasana.
"Riel kok loe bisa setenang ini sih ? Ini menyangkut Akia loh, sosok gadi yang selama ini loe cari cari dan juga calon istri loe."
"Karena ini menyangkut Akia maka kita harus memikirkannya demgan perasaan tenang. Jangan sampe emosi dan amarah menguasai pikiran kita dan menghancurkan semua harapan yang sudah diimpikan."
"Maksud loe Riel, gue nggak paham."
Azriel hanya tersenyum tipis sembari melirik kearah Rio. Menyangga dagunya dengan kedua tangannya. Cukup lama pria itu terdiam dengan kedua mata yang terpejam. Walaupun diluar dia terlihat tenang dan santai, namun tidak dapat dipungkiri jika hatinya saat ini tengah merasa gundah.
Azriel membuka kedua matanya yang terpejam, menghela nafasnya pelan lalu menghembuskannya kasar. Dengan pelan namun pasti Azriel meraih ponselnya yang ada diatas meja.
"Halo...." Sapanya saat panggilan telponnya sudah terhubung diseberang sana.
📞 halo bang..apa ada yang penting sampai kau menghubungiku
📞 Baiklah kirimkan saja data datanya akan aku kerjakan dalam hitungan menit.
"Baiklah aku percayakan padamu. Tolong kabari secepatnya dan kirim saja lewat pesan."
Azriel meletakkan ponselnya kembali lalu kembali memandang wajah Rio yang menatapnya dengan kening berkerut.
"Kau menghubunginya ?" Yang Rio penuh selidik.
Azriel mengangguk pelan membuat Rio kembali terperangah.
"Riel loe tahu kan siapa dia ?"
"Tentu saja..." Jawabnya singkat.
"Lalu kenapa loe..."
"Gue hanya meminta bantuannya, tidak lebih. Loe jangan khawatir, gue udah nggak ada minat untuk kembali kesana, gue udah benar benar taubat. Gue nggak mau bikin kedua orangtua gue merasa sedih lagi yo."
Rio menghela nafas lega, tidak dapat dia pungkiri jika tadi diwajahnya sempat terbersit rasa khawatir saat Azriel menghubungi pria tadi. Pria yang ada sangkut pautnya dengan masalalu kelam Azriel. Masalalu yang membawa Azriel terjebak dalam dunia hitam yang kejam.
__ADS_1
Melihat wajah suram Rio membuat Azriel terkekeh pelan.
"Muka loe sudah seperti orang yang habis ditinggal pergi sama pacar saja yo. Jelek banget." Ejeknya dengan bibir yang mengurai senyuman lebar.
Rio menatap tak percaya pada bosny. Bahkan mulut pria itu sampai menganga lebar.
Bagaimana bisa dia tersenyum begitu, sementara keberadaan pujaan hatinya saja masih belum ditemukan. Ck heran gue.
"Awas nanti ada binatang masuk kedalam jika loe terlalu lebar membuka mulut loe itu."
Rio langsung mingkem dalam sekejap, mendecik kesal karena sikap sahabatnya yang justru tiada henti menggodanya.
"Riel, kali ini gue serius. Loe nggak takut minta tolong sama Dio ? Bagaimana jika sampai dia tahu kalo loe meminta bantuan Dio ? Loe pasti tahu apa konsekwensinya kan jika kita kembali menghubungi bahkan sampai meminta bantuannya ?" Ujarnya dengan raut wajah serius, bahkan ada rona ketakutan disana.
"Gue tahu."
"Kalau loe tahu lalu kenapa loe melakukan ini semua. Jangan sampe loe pertaruhkan lagi sesuatu yang berharga bagi loe. Karena setahu bue, dia adalah sosok yang selalu memaksakan kehendaknya jika dia sudah menginginkan sesuatu. Menghalalkan segala cara demi tercapainya tujuannya." Ucap Rio dengan wajah sedikit pucat.
Lagi lagi Azriel tersenyum tipis, ada seringaian licik disana.
"Loe tenang aja yo, gue sudah mempersiapkan semuanya. Gue nggak semudah itu ditaklukkan. Gue tahu apa yang harus gue lakukan."
Melihat wajah Azriel yang penuh misteri membuat Rio kembali bergidik ngeri. Pasalnya wajah itu mengingatkannya pada sosok Azriel yang dulu, persis seperti beberapa tahun yang silam. Wajah yang penuh dengan hawa dingin dan menakutkan. Bahkan wajah itu selalu diingat oleh para musuhnya, dan selalu ditakuti di seluruh pelosok negeri. Wajah Azriel yang kejam dan bengis, membayangkan itu membuat Rio berulang kali mengusap usap tengkuknya.
Tidak berselang lama ponsel Azriel bergetar tanda ada pesan yang masuk didalamnya. Dengan cepat pria itu membuka pesan dengan wajahnya yang terlihat sangat serius. Tersenyum tipis saat melihat kata kata didalamnya.
Azriel lalu kembali mengetik sebuah nomor diponselnya, menempelkan ditelinganya tanda menunggu panggilannya terhubung.
"Assalamualaikum..aku ingin kau melakukan sesuatu untukku. Akan kukirim semua yang kau butuhkan disana. Dan akan kutunjukkan semua data datanya."
Tutt
Tanpa menunggu balasan seseorang diseberang sana, Azriel langsung menutup sambungan telponnya menatap kilas pada Rio lalu segera beranjak dari duduknya.
"Yo tolong siapkan tiket pesawat keberangkatan kita ke Semarang besok."
"Hah...buat apa Riel ? Kita kan tidak ada acara bisnis dikota itu." Tanyanya dengan mimik heran.
"Kita memang tidak ada keperluan bisnis disana, tapi Anzhaku ada disana."Jawabnya singkat.
Rio melongo, bagaimana mungkin bathinnya. Tersenyum tipis saat dia menyadari siapa sosok yang saat ini berada didepannya. Menepuk keningnya ketika menyadari bahwa dia begitu bodoh dan pelupa. Segera pria itu berbalik lalu berjalan menyusul langkah Azriel yang sudah begitu jauh.
Aku menemukanmu Sya, cukup sekali aku kehilanganmu, kali ini tidak akan aku biarkan kau menjauh dariku walau hanya sedetikpun. Dimanapun kau berada aku akan selalu menemukan mu dalam hitungan menit. Bathin Azril dengan langkah kaki yang begitu cepat.
__ADS_1
TBC