Rindu Suara Azhan

Rindu Suara Azhan
Berdamai dengan masalalu


__ADS_3

Kedua mata itu berubah tajam dan menyeramkan, menutupi wajah tampannya yang mirip oppa. Sesekali rahangnya mengeras dengan helaan nafas yang terasa bergitu berat. Namun sorot matanya tidak beralih sedikitpun dari wajah orang didepannya.


"Dia sudah berani menyerang secara terang terangan, aku harap kau segera bisa mencari jalan keluar dari semua permasalahan ini. Ingat kami mempercayakan Akia padamu dengan harapan kau bisa menjaganya dari bahaya apapun yang mengancam keselamatannya. Kita harus segera bertindak cepat, jangan sampai hal seperti ini terulang kembali." Sarkas Dhafa dengan harapan tidak kalah tajamnya pada Azriel.


Azriel menghela nafasnya dalam, lalu memijat keningnya yang terasa sakit. Masih ada sisa khawatir diwajahnya mengingat bagaimana beberapa menit jam yang lalu saat dia mendengar bagaimana anak buah Marco menyerang Viona. Beruntung wanita itu berhasil diselamatkan istrinya.


Tapi sampai kapan semua ini berlangsung ? Dhafa benar d dia harus secepatnya bertindak, sebelum semua orang yang dia sayangi terluka.


"Aku tahu, maaf sudah membuatmu tidak nyaman. Aku akan segera membereskan kekacauan ini. Kau tenang saja, Akia sudah menjadi tanggung jawabku, aku akan selalu melindunginya sampai kapanpun, bahkan nyawaku sebagai taruhan nya." Ucap Azriel dengan tegas.


Dhafa tertegun, merasa aneh dengan sikap suami dari adiknya itu. Tidak biasanya pria itu dengan mudah mengucapkan maaf. Begitu juga dengan Rio yang ada disebelahnya. Entah kenapa dia merasa aneh dengan sikap Azriel.


"Loe sakit ?" Tanya Dhafa dengan pandangan mata meremehkan.


"Riel ?" Kali ini Rio yang mengeluarkan suara memanggil sahabatnya itu.


Azriel tersenyum. " Nggak apa apa Yo, aku memang salah, sudah sepatutnya aku meminta maaf karena tidak bisa menjaga istriku sendiri. Dhafa benar, Akia sekarang sudah menjadi tanggung jawabku."


Dhafa mendengus, bukan itu maksud sebenarnya ucapan yang dia lontarkan. Tapi memang dasar Dhafa adalah seorang pria kaku, dia tidak tahu bagaimana cara menyampaikan kata kata yang baik. Dia hanya ingin Azriel segera membereskan permasalahannya dengan Marco.


Dia siap membantu pria itu, karena sebenarnya dia sudah mengantongi beberapa nama untuk dimintai bantuannya. Bagaimanapun Dhafa bukanlah orang sembarangan. Kerasnya hidup di jalanan, membuatnya mengenal beberapa orang yang memiliki kekuasaan di wilayah tersebut.


Dan salah satunya adalah Bang Alex, dia tahu jika Akia sudah menghubungi pria itu. Dan pagi ini Alex tiba tiba datang kekantornya untuk membahas tentang masalah ini.


Sebenarnya pria itu terkejut dengan kedatangan Alex disana, tapi beberapa detik kemudian, rasa terkejutnya berubah menjadi amarah yang sangat besar. Mendengar bagaimana Akia yang bertarung seorang diri tanpa bantuan siapapun.


Walaupun Dhafa tahu gadis itu sangat tangguh, tapi tetap saja rasa khawatirnya selalu menghantui wajahnya.


" Tenanglah aku sudah meminta Vino untuk datang membantunya. Vino adalah kaki tanganku, aku percaya penuh padanya, maaf aku sedang kurang sehat, makanya aku meminta Vino yang menemui Akia."


Masih terngiang jelas di ingatan nya setiap ucapan Alex, bagaimana seluk beluk tentang Marco, dalam sekejap pria itu mengetahuinya. Jangan remehkan kemampuan seorang Alex. Hanya dalam lima menit, pria itu sudah mengetahui semua hal tentang Marco.


"Hati hati, dia seorang pria yang sangat berbahaya."


Itu ucapan terakhirnya sebelum Alex berlalu pergi dari kantornya. Dan setelah Alex pergi, Dhafa bergegas menuju kantor Azriel untuk membahas tentang hal ini.

__ADS_1


"Aku tahu adikku adalah wanita tangguh, dia tidak pernah merasa takut dengan apapun dan siapapun juga. Selagi dia berpikir apapun yang dia lakukan adalah benar, Akia akan membela mati matian sesuatu yang pantas dia bela. Dan ini lah yang aku khawatirkan padanya."


Azriel menatap heran pada pria didepannya itu. Merasa jika Azriel sedikit bingung, Dhafa lalu meneruskan ucapannya.


"Aku takut dimasa depan gadis itu melakukan sesuatu yang bisa membuatnya lepas kendali. Walaupun saat ini dia sudah berubah, tapi jiwa arogannya masih tersimpan rapat di dasar hatinya. Aku sendiri bingung dengan perasaanku yang sedikit resah, entah kenapa aku merasa kalau akan terjadi sesuatu dimasa depan yang akan membuatnya berubah kembali. Jujur aku merasa khawatir Riel." Untuk pertama kalinya seorang Dhafa memanggil nama pada pria didepannya.


"Dan dengan kejadian hari ini, cukup membuatku yakin dengan apa yang aku khawatirkan selama ini. Dia lepas kendali, beruntung pria itu masih bisa bertahan hidup. Karena biasanya Akia selalu membuat lawannya tewas dalam sekejap."


Azriel tertegun, dia kenal bagaimana sifat istrinya selama ini. Tapi jujur dia memang tidak tahu bagaimana seluk beluk Akia selama hidupnya dulu yang sangat bar bar. Dia hanya tahu intinya saja, bukan kehidupan sehari harinya. Dan ucapan Dhafa ada benarnya juga, mengingat bagaimana selama ini Akia yang terus berusaha menekan sifat bar bar nya itu.


"Kita harus cepat bertindak."


Azriel mengangguk.


***


Wanita itu menatap wajah gadis didepannya dengan pandangan tidak percaya, bahkan bibirnya sampai terbuka saking terkejutnya dia dengan sikap Akia.


Benarkah dia Akia yang selama ini membenciku ? Baru saja dia memanggilku dengan sebutan mah ?


"Apa mama baik baik saja ? Ayo kita pulang." Ucapnya lembut.


Viona masih diam terpaku dalam diamnya dengan kedua mata yang berkaca kaca.


"Kau memanggilku ..."


"Mama ?" Potong Akia cepat. " Apa boleh ? Bagaimanapun mama adalah wanita yang sempat menjadi istri papa. Maafkan sikapku selama ini yang terkesan membencimu. Harusnya aku tidak melakukan perbuatan itu, harusnya aku hanya menegurmu saja jika mama melakukan kesalahan." Tambahnya dengan wajah penuh rasa bersalah.


Viona, wanita itu langsung memeluk Akia dengan isak tangis harunya. Ternyata seindah ini rasanya dianggap oleh seseorang yang berarti dalam hidup kita. Kebersamaan dengan gadis ini selama bertahun tahun sebenarnya menimbulkan rasa sayang dihatinya, hanya saja dia tidak tahu bagaimana cara mengungkapkannya. Semua terhalang oleh tembok besar kebencian gadis itu padanya.


"Mama yang seharusnya minta maaf padamu Sya. Tidak seharusnya mama merebut kebahagiaan keluarga kalian. Maaf atas sikap dan perilaku mama yang sangat buruk dan hina selama ini." Ucapnya disela deru tangisnya.


Akia mengangguk lalu membalas pelukan Viona. Ada rasa hangat yang menjalar dihati keduanya saat memutuskan untuk berdamai dengan masalalu.


Akia melepas pelukan mereka lalu menatap pada sosok gadis kecil yang menatapnya demgan bingung.

__ADS_1


"Hai,,assalamualaikum..kamu pasti Jeje ya. Wah Jeje ternyata sangat cantik sekali." Sapanya ramah dan hangat.


Gadis itu menatap bingung pada Akia lalu beralih pada mamanya.


"Mama dia siapa ?" Tunjuknya pada Akia.


Viona merasa bingung ingin menjawab apa.


"Dia.."


"Aku Akia, kakak kamu loh, berarti Jeje adalah adik dari kakak. Apa Jeje tidak mau memeluk kakak ?" Ucapnya yang lagi lagi membuat Viona terpaku, tapi beberapa detik kemudian dia tersenyum dengan perasaan hangat mengalir di aliran darahnya.


Jeje, gadis kecil itu menatap penuh tanya pada Viona. Merasa putrinya itu kebingungan, Viona lalu membenarkan ucapan Akia.


"Jeje bingung ya, kakak yang duduk didepan Jeje ini memang kakaknya Jeje, putri mama yang lainnya. Ayo beri salam sama kakak." Ucapnya lembut pada putrinya.


Jessy yang tadinya merasa takut kini wajahnya sudah berubah ceria. Dengan cepat dia berdiri lalu berjalan menuju Akia. Memeluk erat gadis itu dengan tubuh kecilnya.


"Jeje senang karena ternyata Jeje punya seorang kakak, dan kakak sangat cantik sekali. Bahkan kakak hebat banget tadi bertarungnya, kalo besar Jeje mau seperti kakak." Cicitnya dengan wajah yang sudah berubah ceria.


Akia terkekeh, lalu mencium pipi gembul gadis kecil itu. Walaupun baru berusia hampir 3 tahun, Jeje adalah bocah yang sangat pintar. Disekolahnya dia selalu mendapatkan nilai tinggi, dan bicaranya pun sudah fasih seperti bukan bocah yang berusia 3 tahun.


"Kamu lucu sekali. Ayo Jeje pasti capek. Kita pulang kerumah kakak bertemu papa yuk." Ajaknya yang langsung disambut oleh gadis itu dengan sangat antusias.


"Tapi Sya." Panggil Viona ragu.


Akia tersenyum, dia tahu apa yang membuat wanita didepannya itu merasa ragu.


"Tidak apa apa ma, papa yang menyuruhku membawa mama dan Jeje kemansion. Disana juga sudah ada papa Jason."


Viona terperangah tapi detik kemudian dia mengangguk sambil tersenyum manis. Jika suaminya ada disana, maka dia tidak perlu khawatir lagi, dia tadi hanya takut jika suaminya akan salah paham padanya apabila dia datang kemansion keluarga Khanza.


Mereka bertiga kemudian melangkah menuju mobil Akia diparkir dengan diikuti oleh Vino dan juga beberapa anak buah Alex dibelakang mereka.


TBC

__ADS_1


__ADS_2