
Pagi-pagi sekali, Arshan sudah datang ke tempat Ryanthi. Dia tahu bahwa kekasihnya akan dijemput oleh Surya hari itu, setelah mendengar keputusan Ryanthi yang memlilih untuk segera pindah ke rumah sang ayah.
Arshan. Wajahnya memang tidak terlalu tampan, tapi dia terlihat menarik. Penampilannya santai dan jauh dari kata ribet. Arshan menyukai celana chino pendek yang dipadukan T-Shirt round neck. Tak jarang ditambah jaket bomber.
Rambut Arshan pun tidak pernah disisir rapi, kecuali jika akan berangkat kerja. Lalu, sepulang dari pabrik, maka rambut itu akan kembali dia biarkan acak-acakan. Arshan tidak menyukai sepatu. Hanya sepasang sandal gunung yang sering digunakan dalam menemani kesehariannya.
Melihat pintu rumah kontrakan terbuka, Arshan langsung masuk. "Thi ... Athi!" Panggilan kesayangannya untuk Ryanthi.
Tak berselang lama, gadis yang dia panggil segera keluar dari kamar, dengan membawa sebuah tas dan koper. Satu tas berisi baju-bajunya, dan satu koper berisi barang-barang milik Farida.
Arshan melihat tumpukan barang yang ada di sana. Beberapa petalatan membuat kue sudah terkumpul rapi. "Kamu mengajak mereka, tapi tidak mengajaku. Tega." Dia mulai menggoda Ryanthi agar tersenyum.
Sedangkan, gadis itu hanya menyunggingkan lengkungan samar. Semangat dalam diri Ryanthi belum kembali seratus persen, karena dia masih dalam masa berkabung.
Arshan lalu mendekat, kemudian berdiri di hadapan sang kekasih. "Aku pasti akan sangat merindukanmu," ucapnya lembut. Pria itu terdiam sesaat. "Ayahmu tidak akan marah 'kan, jika aku sering-sering menemuimu di sana?" tanyanya.
Ryanthi mengangkat kedua bahu. "Minta izin saja sendiri," jawab gadis itu sambil tersenyum kecil. Dia hendak berlalu meninggalkan Arshan. Namun, dengan segera pria itu menahan dengan cara memegangi pergelangan tangannya.
Ryanthi segera menoleh. Dia melihat Arshan sudah menunjukan senyum pamungkas yang teramat menggoda. Arshan berharap agar Ryanthi bersedia memberikan apa yang dirinya inginkan saat itu.
"Jangan macam-macam," cegah Ryanthi setengah berbisik. Dia langsung menolak sesuatu, yang membuat Arshan terlihat nakal di matanya.
"Kenapa?" tanya Arshan heran.
__ADS_1
"Karena ayahku sudah datang," jawab Ryanthi pelan. Dia tersenyum lega. Kedatangan Surya telah menyelamatkannya, dari kenakalan sang kekasih.
Surya datang dengan penuh semangat. Dia memasukan barang-barang Ryanthi ke dalam mobil jeep miliknya. "Padahal, Ayah bisa membelikanmu alat-alat untuk membuat kue seperti ini. Kenapa kamu harus repot-repot membawanya?" tanya Surya, setelah selesai memasukan barang-barang bawaan Ryanthi.
"Karena aku membelinya dengan uang hasil kerja kerasku saat masih berjualan," jawab Ryanthi pelan.
Namun, hal itu membuat Surya tersenyum bangga padanya. Dia menutup pintu mobil, lalu menghampiri Ryanthi yang sedang berdiri di dekat Arshan.
"Berangkat sekarang?" tanya Surya memperlihatkan sikap ramah di hadapan Arshan. Membuat kekasih dari Ryanthi tersebut merasa ragu tentang sikap jahat Surya selama ini, yang telah menelantarkan anak dan istrinya.
Ryanthi tidak menjawab. Dia hanya melirik Arshan. Pria itu membalasnya. "Saya titip Ryanthi, Pak. Saya yakin Anda bisa menjaganya dengan baik. Jangan heran, karena dia sangat keras kepala dan terkadang bersikap sangat galak. Ryanthi juga suka mencubit kalau dalam keadaan terdesak." Arshan tertawa pelan. Namun, ada raut kesedihan di wajahnya.
Surya menanggapi gurauan tadi dengan tawa. Dia tahu bahwa pria muda itu sedang menghibur dirinya. "Tenang saja. Ryanthi akan baik-baik saja di sana. Nak Arshan bisa mengunjunginya kapanpun. Pintu rumah kami akan selalu terbuka lebar untuk Nak Arshan," jawab Surya seraya menepuk lengan kekasih Ryanthi tersebut.
Memang kata-kata itulah yang Arshan tunggu. Seketika, raut wajahnya berubah ceria. Dia melirik Ryanthi. Gadis itu hanya tersenyum kepadanya.
"Ibu, aku akan pergi," bisik hati kecil Ryanthi.
Dia bergegas masuk, lalu duduk nyaman di dalam mobil mahal sang ayah. Tak lupa, gadis itu memasang sabuk pengaman.
Selama dalam perjalanan, Ryanthi lebih banyak diam. Gadis itu menyandarkan kepala, sambil menoleh ke arah samping. Terkadang, dia melihat pengendara lain yang melintas di dekat mobil yang dirinya tumpangi. Namun, tak jarang hanya trotoar panjang yang tampak dalam pandangannya.
Sesekali, Surya melirik gadis di itu. Dia masih menerka-nerka karakter putrinya tersebut. Dari kemarin, Ryanthi lebih banyak diam ketika sedang bersamanya.
__ADS_1
Apakah Ryanthi sangat membenci Surya seperti apa yang dirasakan Farida, atau itu hanya karena keadaan? Ryanthi masih dalam suasan berduka.
Sebenarnya, Surya pun ikut berduka. Akan tetapi, apa yang dirasakan Ryanthi jauh lebih pedih dari semua yang dirasakan oleh Surya, meskipun sebenarnya tidak jauh berbeda.
Surya masih menganggap Farida sebagai istrinya. Dia tidak pernah menjatuhkan talak. Dulu, dirinya sangat mencintai wanita itu sebelum terjerumus dalam skandal perselingkuhan dengan beberapa wanita, termasuk Maya yang sekarang menjadi istri sirinya. Entah mengapa, Surya tidak juga menikahi Maya secara hukum. Hanya dia yang tahu alasannya. Mungkin, karena Surya masih menganggap bahwa Farida lah yang menjadi istri sahnya.
Setelah hampir satu jam di perjalanan, akhirnya mobil Surya memasuki halaman rumah yang sudah tidak asing lagi bagi Ryanthi. Rumah megah bercat putih itu, adalah tempat di mana dia menjalani masa kecilnya, meski hanya sampai usia lima tahun.
Surya mematikan mesin mobil. Dia mengajak Ryanthi turun, ketika seorang wanita setengah baya bertubuh tidak terlalu tinggi, langsung menghampiri mereka. Dia berjalan dengan setengah membungkuk sebagai tanda hormat kepada sang majikan.
"Ambil barang-barang di dalam mobil dan bawa ke kamar Nona Ryanthi. Kecuali alat-alat membuat kue, langsung bawa saja ke dapur," titah Surya pada wanita yang merupakan asisten rumah tangga di kediamannya.
"Baik, Pak," jawab wanita itu. Sebelum mengambil barang-barang dari mobil, wanita tadi sempat melirik Ryanthi. Dia kembali membungkuk hormat. Ryanthi membalasnya dengan senyum lembut.
"Ayo masuk," ajak Surya.
Berat rasanya kaki Ryanthi untuk digerakkan. Dia hanya berdiri mematung, menatap pintu masuk yang sudah terbuka lebar. Entah apa yang akan dihadapinya di dalam sana. Tak tahu kehidupan yang bagaimana, yang akan dijalaninya setelah dia memasuki pintu itu. Ryanthi menghela napas panjang dan mencoba menenangkan diri.
"Ibu ... aku kembali."
Surya keheranan melihat Ryanthi hanya berdiri mematung. Dia segera meraih tangan gadis itu dan mengajaknya masuk bersama-sama.
Ryanthi akhirnya dapat melangkahkan kaki, menaiki undakan anak tangga menuju teras. Perasaan yang campur aduk seketika muncul, saat dirinya mulai memasuki bagian dalam rumah yang sangat mewah. Rumah yang seribu kali jauh berbeda, dengan tempat yang pernah dia tinggali selama ini bersama Farida.
__ADS_1
Ryanthi mengedarkan pandangan ke sekeliling. Matanya menjelajahi setiap sudut ruangan itu, menyapu segala barang yang ada di sana. Sofa yang besar dan terlihat mewah, lampu gantung yang berkelap-kelip seperti susunan bintang di malam hari. Ada juga beberapa hiasan keramik yang pasti sangat mahal harganya.
Ryanthi merasa takjub dengan semua yang ada di dalam ruangan tersebut. Namun, ada satu lagi yang membuat jantungnya berdetak kencang, yaitu tatapan sinis dari dua wanita yang berdiri tidak jauh darinya.