Ryanthi : Manisnya Kue, Pahitnya Kenyataan

Ryanthi : Manisnya Kue, Pahitnya Kenyataan
Transaksi yang Memuakan


__ADS_3

Beberapa hari telah berlalu dari pertemuan antara Keanu dengan Martha. Wanita itu akhirnya menghubungi Keanu dan membuatkan janji untuk bertemu dengan Nancy.


Rencananya Keanu akan bertemu dengan wanita bernama Nancy malam ini. Keanu pun mulai mempersiapkan dirinya.


Tepat pukul sembilan belas tiga puluh, Keanu memasuki salah satu apartemen mewah yang ada di pusat kota. Keanu tampil dengan sangat rapi malam itu. Ia begitu tampan dengan kemeja hitam berbalut jas. Penampilannya sangat formal kala itu.


Seorang pria berperawakan tinggi besar mempersilakannya untuk masuk. Keanu pun melangkah dengan penuh wibawa mengikuti pria tinggi besar itu.


Sesaat kemudian, Keanu dipersilakan untuk memasuki sebuah ruangan yang lebih mirip seperti sebuah ruang kerja. Ruangan dengan dominasi warna gelap.


Di ruangan itu telah berdiri seorang wanita bertubuh indah dengan mini dress hitam yang mengekspos sebagian anggota tubuhnya yang putih mulus bagaikan selembar kapas.


Nancy ternyata wanita yang sangat cantik. Usianya memang di atas Keanu, akan tetapi ia terlihat awet muda dengan tampilannya yang sangat modern. Rambut panjang bergelombang dengan riasan yang tidak terlalu mencolok namun tetap terlihat pas untuknya. Ia melangkah dengan begitu anggun, menghampiri Keanu yang masih berdiri menatapnya.


"Tuan Hardi?" Sapa Nancy dengan senyuman hangat di wajahnya. Ia pun menyalami Keanu.


Keanu membalas keramahan yang ditunjukan oleh Nancy kepadanya. Ia pun tersenyum simpul. Bagaimanapun juga Keanu adalah pria normal, sedangkan Nancy merupakan wanita yang sangat menggoda ditambah dengan penampilannya yang sangat seksi malam itu.


"Silakan duduk, Tuan Hardi!" Nancy mempersilakan Keanu untuk duduk di atas sofa hitam yang ada di sana. Sementara ia sendiri sudah mendahului duduk dengan gayanya yang sangat anggun.


Nancy menyilangkan kaki kirinya di atas kaki kanan sehingga sebagian besar pahanya semakin terekspos.


Keanu berusaha untuk tidak memperhatikan hal itu, lagipula ia datang kesana dengan membawa tujuan lain.


"Mau minum apa?" Tawar Nancy dengan gaya bicaranya yang sangat sensual.


"Tidak usah! Aku kemari bukan untuk itu," tolak Keanu dengan segera.


Nancy tertawa pelan. Ia masih terlihat tenang. Tak lama kemudian, ia pun hanya tersenyum kecil seraya terus melayangkan tatapannya kepada Keanu.


"Saya tahu apa maksud Anda datang kemari. Akan tetapi, tidak ada salahnya jika kita berbasa-basi sebentar," rayu Nancy. Wanita itu tersenyum menggoda. Tak pernah ia melihat pria tampan dengan kharisma yang begitu besar.


“Boleh aku mengatakan sesuatu, Tuan Hardi?" Tanya Nancy masih dengan sikapnya yang menggoda namun tidak terlihat murahan.


"Tentu," jawab Keanu. Ia pun masih menatap lekat wanita dengan lipstik merah menyala itu.


"Aku memiliki qualified virgin jika Anda mau,” ujar Nancy dengan jemari lentik yang kini ia mainkan di dekat bibirnya.


Keanu tersenyum simpul. Ia pun menggeleng-gelengkan kepalanya dengan perlahan.


"Aku kemari karena ingin mengajukan penawaran denganmu,” sahut Keanu tanpa basa-basi.


“Nancy. Betul itu namamu, kan?” Lanjut Keanu.


 


“Ya Anda dapat memanggilku begitu. Memanggil 'sayang' juga boleh?” Goda wanita itu seraya tertawa lepas.


 


Keanu tersenyum sinis. Ia kemudian meraih sesuatu dari saku jasnya. Sebuah buku cek beserta bolpoin mahal bermerek Montblanc terukir di ujung tutup bolpoinnya. “Aku ingin membeli salah satu gadismu. Ingat ya, membeli bukan menyewa!” Tegasnya.


Keanu yang saat itu duduk sambil menyilangkan kakinya, terlihat begitu tenang dengan menggerak-gerakan ujung kakinya yang dibalut sepatu pantofel berwarna hitam mengkilap.


 

__ADS_1


Nancy pun masih menatap ke arahnya dengan begitu lekat. Kedua bola mata berhiaskan softlens berwarna biru itu terlihat begitu nakal.


"Siapa yang Anda maksud?" Tanya Nancy.


 


“Puspa!” Jawab Keanu singkat dan tegas.


 


Seketika pikiran Nancy melayang pada salah satu gadis andalannya. Gadis berparas manis dengan tubuh mungil berdada penuh, sorot mata yang lugu dan polos namun menggoda. Dia adalah salah satu aset kebanggaan Nancy, dan sekarang seorang pria datang begitu saja hendak mengambil alih propertinya.


“Aku tidak menjual wanita. Aku hanya menyewakannya,”tolak Nancy. Ia pun segera beranjak dari duduknya lalu mengalihkan pandangannya pada sekotak rokok dan tumpukan file di atas meja kerjanya.


Wanita bertubuh seksi itupun duduk di atas kursi di balik meja kerjanya. Ia kemudian membuka kotak dan mengeluarkan sebatang rokok favoritnya. Dengan gerakan yang luwes, dia memantik korek dan menyalakan api. Bunyi lapisan kertas tembakau terbakar mengikuti asap tipis yang mengepul keluar dari mulutnya membentuk sebuah lingkaran putih.


Keanu terdiam menatap wanita itu. Ia pun beranjak dari duduknya dan menghampiri meja kerja Nancy.


Keanu membungkukan sedikit tubuhnya dengan kedua tangan yang berpegangan pada tepian meja. Ia menatap Nancy yang tengah asik dengan rokoknya dari jarak yang cukup dekat.


 


“Apakah dua milyar cukup untukmu?” Keanu membuka tutup bolpoin dan bersiap menuliskan nominal di atas cek yang baru ia keluarkan dari dalam jasnya.


Melihat hal itu, Nancy hanya terbahak. “Keras kepala juga Anda rupanya. Sudah kubilang jika aku tidak menjual! Aku hanya menyewakan!” Tegas Nancy dengan nada yang cukup tinggi.


 


Keanu balas memandang wanita itu dengan sorot mata yang dingin dan tajam. Ia pun seakan tahu apa yang harus dilakukannya. Dengan senyuman sinis, ia menyodorkan buku cek dan juga bolpoin mahalnya ke hadapan Nancy yang masih terlihat menikmati rokoknya.


 


 


“Berapa lama dia akan menjadi perempuan yang menarik dengan postur tubuh sempurna? Berapa lama dia bertahan pada usia mudanya? Sepuluh tahun? Dua puluh tahun? Menurutmu, jika dia memasuki usia senja, apa dia masih bisa ‘terpakai’?” Keanu tersenyum sinis dengan satu alis yang terangkat. Ia seakan tengah mempengaruhi fikiran Nancy dengan ucapannya.


 


Pernyataan Keanu mulai menarik perhatian Nancy. Ia menatap lekat pria tampan itu. “Apa yang ingin Anda coba sampaikan, Sayang?” Tanyanya seraya tersenyum genit. Ia pun mematikan rokoknya di dalam asbak.


 


“Puspa jelas tak bisa melayani pria hidung belang selamanya. Dia memiliki usia muda yang terbatas. Bukankah perusahaan jasamu hanya menyediakan wanita berkualitas istimewa? Kamu tidak mungkin menyewakan wanita yang sudah berumur, kan?” Seringai Keanu.


 


Nancy pun sedikit mendongakkan wajahnya dan memikirkan pernyataan Keanu.


 


“Ayolah, Nancy! Kita sama-sama pengusaha. Kamu pasti tahu mana penawaran yang menguntungkan atau tidak, kan?” Bujuk Keanu lagi.


 


“Lihatlah cek di hadapanmu itu! Silakan isi sesukamu. Hitunglah rata-rata harga sewanya per malam, kalikan dengan perkiraan berapa banyak dia melayanimu hingga usia pensiunnya!” Lanjut Keanu lagi.

__ADS_1


 


Nancy terbelalak mendengarnya. Dia mulai bergidik membayangkan sekaya apa pria yang berdiri di hadapannya itu. “Anda serius?” Tanya Nancy ragu. Akan tetapi, kedua bola matanya tampak berbinar.


 


“Apa aku terlihat sedang bercanda sekarang?” Keanu masih dengan ekspresi dingin dan sorot tajamnya. Ia seakan hendak menguliti wanita yang terpaku di depannya itu.


 


“Jadi aku benar-benar boleh mengisi berapapun yang aku mau?” Ulang Nancy. Matanya kian berbinar kala membayangkan deretan angka yang akan masuk ke rekeningnya.


 


“Isilah! Namun pastikan setelah ini aku bisa langsung membawa Puspa pergi!” Tegas Keanu.


 


Tak membutuhkan waktu lama bagi Nancy untuk menuliskan nominal di atas selembar cek itu lalu menyerahkannya kembali pada Keanu. Segera Keanu membubuhkan tanda tangannya dan kembali menyerahkan kertas berharga itu kepada Nancy.


 


Tawa Nancy mulai merekah indah. Ia pun meraih ponselnya dan menghubungi seseorang. “Halo, An! Siapkan Puspa! Setelah ini akan ada seseorang yang siap membawanya,” titahnya dengan singkat.


 


Keanu akhirnya dapat bernapas lega. Ia merasa jika bongkahan batu raksasa itu telah terangkat dari dalam dadanya.


Sesaat kemudian, Nancy beranjak dari duduknya dan menghampiri Keanu. Wanita itu berdiri di hadapannya dengan senyuman nakal yang menggoda. Ia terlihat begitu liar dengan bibir merahnya. Terlebih tangannya kini mulai berani menyentuh dan memainkan kancing kemeja yang dikenakan Keanu.


“Senang berbisnis denganmu,” ujar Keanu, seutas senyum kembali terbit di bibir indahnya. Ia harus mengakhiri pertemuan itu dengan segera sebelum keteguhannya runtuh.


"Satu hal lagi! Setelah ini, jangan berani-berani lagi untuk mengusik kehidupan Puspa! Aku sudah menebusnya dengan harga yang sangat mahal. Jika kamu atau siapapun yang berhubungan denganmu berani untuk mengusiknya, maka aku pastikan kamu akan sangat menyesal!" Tegas Keanu lagi dengan setengah memgancam.


"Apa yang membuatmu begitu tertarik kepada Puspa? Dia hanya seorang pe°lacur jalanan!" Umpat Nancy.


"Wanita sepertimu tidak akan pernah memahaminya!" Jawab Keanu dengan tenang.


Tanpa menunggu jawaban dari Nancy, Keanu segera melangkahkan kakinya keluar dari apartemen mewah itu. Meninggalkan transaksi memuakan yang tidak ingin ia lakukan lagi. Angannya tak sabar untuk segera bertemu dengan Puspa dan menyampaikan kejutan yang luar biasa kepadanya.


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2