Ryanthi : Manisnya Kue, Pahitnya Kenyataan

Ryanthi : Manisnya Kue, Pahitnya Kenyataan
Keputusan Tegas Moedya


__ADS_3

Malam itu Moedya tampak sudah rapi dengan jaket kulitnya yang berwarna hitam. Diraihnya kunci motor yang tergeletak di atas laci sebelah tempat tidurnya. Ia pun bergegas keluar dari dalam kamarnya.


Melangkah dengan gagahnya, keyakinan Moedya begitu penuh saat itu. Ia akan segera menyelesaikan urusannya yang belum selesai dengan Nancy.


"Mau pergi, Juna?" Pertanyaan Ranum telah berhasil membuat Moedya menghentikan langkahnya. Pria itupun menoleh kepada sang ibu yang batu keluar dari dalam kamarnya.


"Aku akan keluar sebentar, Bu. Ada sedikit urusan yang harus kuselesaikan," jelas Moedya. Ia tersenyum simpul kepada wanita cantik itu.


Ranum berjalan menghampiri putra semata wayangnya. Ditatapnya wajah tampan yang akan selalu mengingatkannya kepada sang suami. Ia adalah penawar rindu tak berujung yang dirasakan Ranum untuk mendiang Arya.


Disentuhnya wajah tampan Moedya dengan lembut. Sudah sekian lama, Ranum tidak melakukan hal itu.


"Kenapa, Bu?" Tanya Moedya. Ia merasa ada sesuatu yang tidak biasa, yang ditunjukan Ranum malam itu.


"Jaga dirimu baik-baik, Sayang! Ibu tidak memiliki siapa-siapa lagi di dunia ini," pesan Ranum.


Moedya menatap sang ibu dengan lekat. Entah ada apa dengan wanita itu. Tidak biasanya Ranum memasang wajah sendu seperti itu di hadapannya.


"Jangan terlalu berlebihan, Bu!" Sergah Moedya. "Aku akan segera pulang dan tidur di rumah. Arumi akan memarahiku jika dia tahu aku keluyuran dan meninggalkan Ibu sendirian," ucap Moedya dengan gaya khasnya. Ia terlihat begitu santai dengan kata-kata maupun ekspresi wajahnya.


Tiba-tiba Ranum mencium kening Moedya dengan lembut. Ia pun menangkup wajah tampan putranya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


"Kamu akan segera menikah, Sayang!" Ucap Ranum dengan penuh haru. Ia terus mengelus lembut wajah itu.


Moedya tersenyum lebar. Ia pun melepaskan tangan Ranum dari wajahnya dan menggenggam jemari sang ibu dengan erat. Menciumnya sesekali, Moedya kembali tersenyum.


"Tidak akan ada yang berubah, Bu. Aku masih tetap menjadi putramu, Arjunamu yang tampan," ujar Moedya diakhiri dengan sebuah candaan. Ia berharap agar Ranum segera menyudahi adegan penuh keharuan itu.


Ranum pun tersenyum. Lebih tepatnya ia memaksakan dirinya untuk tersenyum.


"Aku harus pergi dulu. Do'akan semoga semua urusanku lancar!" Moedya kemudian mencium pipi Ranum. Setelah itu, ia pun beranjak keluar.

__ADS_1


"Juna!" Panggil Ranum lagi.


Moedya pun tertegun dan menoleh. Ia menatap sang ibu yang kembali menghampirinya. "Pakai mobil Ibu! Ibu tidak akan mengizinkanmu naik motor malam-malam begini!"


Bagaimanapun juga, rasa trauma dalam diri Ranum masih ada. Ia akan selalu khawatir jika mengetahui Moedya pergi dengan mengendarai motornya sendirian.


Moedya tersenyum kalem. Ia tahu akan kekhawatiran yang dirasakan oleh Ranum kepadanya. Moedya pun mengangguk pelan.


Selang beberapa saat, Moedya kini sudah mengendarai sedan hitam milik Ranum. Menyusuri jalanan kota dengan kerlap-kerlip lampu jalanan yang membuat suasana malam itu terasa hangat.


Moedya mengendarai mobil itu dengan tenang. Ia pun terlihat begitu fokus, terlebih jalanan malam itu lumayan ramai.


Beberapa saat lamanya berada di jalan, mobil sedan hitam itu kini memasuki kawasan sebuah apartemen mewah di pusat kota.


Dengan membawa keyakinan penuh, Moedya melangkahkan kakinya keluar dari dalam lift dan langsung disambut oleh seorang wanita cantik yang mengenakan mini dress berwarna hitam. Baju yang memperlihatkan belahan dadanya dengan begitu jelas dan juga mengekspos bagian tubuhnya yang lain. Wanita itu segera mengajaknya ke sebuah ruangan dengan pencahayaan yang lebih temaram.


Wanita yang tiada lain adalah Nancy, segera menghampiri dan merangkul Moedya dengan sikapnya yang manja. Ia pun berniat untuk mencium pria itu., akan tetapi dengan segera Moedya menolaknya.


"Kenapa?" Tanya Nancy. Tangannya masih bergerilya diantara wajah dan dada pria itu. Bahkan kini Nancy berniat untuk melepaskan jaket yang dipakai oleh Moedya.


"Kenapa, Baby? Kamu tidak merindukanku?" Nancy kembali memeluk Moedya dari belakang. Ia membenamkan wajahnya pada pundak belakang pria itu, sementara kedua tangannya tak tinggal diam dan terus menulusuri dada serta perut Moedya dengan nakalnya.


"Hentikan!" Tegas Moedya lagi. Ia menepiskan tangan nakal wanita itu.


"Ayolah, Baby! Aku sangat merindukanmu. Sudah lama kita tidak bercinta dan saling melepas rindu. Ayolah!" Rayu Nancy dengan suara de°sahan manjanya yang menghangat di telinga Moedya.


Moedya pun hanya dapat menghela napas panjang. "Aku kemari bukan untuk itu," ucap Moedya seraya melepas dekapan Nancy dan menghentikan segala rayuan nakalnya.


"Lalu?" Tanya Nancy. Ia tampak kesal. Ia pun segera duduk di sofa dan mengambil sebatang rokok kemudian menyulutnya. Asap tipis pun mengepul dari bibir merah merona wanita itu. Ia menatap Moedya dengan lekat.


"Ayo, kemarilah! Kita nikmati rokok ini bersama ... seperti yang biasa kita lakukan," Nancy masih dengan sikap dan kata-katanya yang terus menggoda, mencoba menggoyahkan keyakinan Moedya. Ia juga menyilangkan kakinya sehingga paha mulusnya terlihat dengan begitu jelas.

__ADS_1


"Kemarilah, Moedya!" Ajak Nancy lagi dengan suaranya yang semakin menggoda.


Moedya hanya menatap wanita itu dengan sorot matanya yang dingin. Ia sudah tidak berhasrat lagi untuk menyentuhnya, apalagi harus bercinta dengannya.


Pria dengan gaya rambut man bun itu berdiri terpaku menatap keluar jendela ketika Nancy kembali mendekatinya. Wanita itupun kemudian menuangkan minuman dan menyodorkannya kepada pria yang sejak tadi terus menghindarinya.


Moedya menerima gelas itu dan meneguknya. Sesaat kemudian, Nancy menyodorkan rokok yang baru diisapnya tepat di depan mulut pria yang berusia sepuluh tahun lebih muda darinya. Seperti yang biasa mereka lakukan dahulu, mengisap rokok bersama-sama.


Asap tipis mengepul dari dalam mulut pria dengan jenggot tipis itu, setelah ia mengisap rokok yang disodorkan Nancy kepadanya.


"Ada masalah apa?" Tanya Nancy. "Kenapa kamu menghindariku?" Tanyanya lagi.


"Ini terakhir kalinya kita melakukan ini," ucap Moedya dengan dingin. Ia lalu kembali meneguk minumannya.


Nancy kembali mengisap rokok yang ia apit diantara telunjuk dan jari tengahnya. Ia pun kembali mengepulkan asap tipis dari dalam mulutnya ke depan wajah Moedya.


"Apa maksudmu, Baby?" Tanyanya. Ia menatap lekat ke arah pria tampan itu.


"Sudahlah, Nan! Aku kemari untuk ...." Moedya tidak melanjutkan ucapannya. Ia menghela napas panjang. "Aku tidak bisa melanjutkan ini! Kita sudahi semuanya dan ... jalani hidup kita masing-masing!" Tegas Moedya.


"Menjalani hidup kita masing-masing? Kata apa itu?" Nancy tampak tidak menyukai ucapan Moedya. Ia kembali mengisap rokoknya dengan kesal.


"Kamu ingin meninggalkanku? Jangan katakan jika kamu akan pergi dariku!" Sentak Nancy dengan nada keras. Ia mengambil asbak dari atas meja kerjanya dan memegangnya. Ia pun membuang abu rokoknya di dalam asbak itu.


"Aku tidak bisa melanjutkan hubungan kita! Sudah cukup bagiku harus terikat dalam hubungan yang salah ini!" Tegas Moedya meski dengan nada bicara yang tidak terlalu keras.


"Lalu bagaimana dengan janjimu padaku, Moedya!" Teriak Nancy. Nada bicaranya sangat berapi-api.


"Aku minta maaf. Aku tidak bisa memenuhi janjiku padamu," sahut Moedya masih terlihat tenang.


"Kenapa? Kenapa tiba-tiba kamu ingin pergi dariku?" Sentak Nancy lagi.

__ADS_1


Moedya menatap wanita cantik yang masih sesekali mengisap rokoknya. Ia pun tersenyum simpul. "Aku mencintai gadis lain. Aku jatuh cinta kepadanya sejak pertama kali melihatnya dan aku juga akan segera menikahinya. Karena itu ... maaf .... kita sudahi semuanya," jelas Moedya dengan gaya khasnya yang begitu kalem.


"Aku rasa ... kamu sudah dapat memahami maksud dari perbincangan kita saat ini. Aku tidak harus menjelaskannya lagi dengan panjang lebar. Selamat tinggal!" Moedya meletakan gelas minumannya di atas meja. Ia pun berbalik dan bermaksud untuk keluar dari ruangan itu sebelum langkahnya kemudian terhenti karena saat itu Nancy melemparkan asbak yang dipegangnya ke lantai hingga hancur berkeping-keping.


__ADS_2