
Cahaya mentari menelusup masuk melalui tirai yang sedikit terbuka. Namun, justru dering teleponlah yang berhasil membangunkan seorang Ryanthi dari tidur lelapnya. Gadis itu langsung meraih dan menjawab panggilan tadi, tanpa melihat nama pemanggil.
"Jangan katakan jika kamu baru bangun."
Ryanthi segera membuka mata. "Adrian?" Gadis itu terduduk dengan rambut kusut.
"Ada apa menghubungiku pagi-pagi begini?" tanya Ryanthi malas. Sesekali, dia menguap panjang.
"Pagi? Coba kamu lihat sudah jam berapa sekarang."
Malas, Ryanthi melihat jam digital di atas meja. Angka di sana menunjukkan pukul sepuluh. "Astaga!" Ryanthi bergegas turun dari kasur.
"Ryanthi?"
"I-iya," sahut Ryanthi gugup.
"Siang ini, aku akan ke pabrik sebentar. Setelah itu, rencannya aku ingin mampir ke tempatmu," ucap Adrian.
"Oh, tentu," balas Ryanthi. "Apa kamu sedang menyetir?"
"Ya."
"Astaga. Menepi atau matikan saja teleponnya."
Adrian tertawa renyah. "Baiklah. Sampai nanti."
Setelah menutup telepon, Ryanthi bergegas ke kamar mandi. Beberapa saat kemudian, gadis itu sudah terlihat segar. Bersamaan dengan itu, ponselnya kembali berdering. Ryanthi segera memeriksa pesan masuk yang ternyata dari Adrian. Pria itu mengajaknya pergi ke luar.
Ryanthi duduk beberapa saat di tepian tempat tidur. Dia memikirkan apa yang dirinya dan Adrian lakukan semalam. Dua kali berciuman, rasanya begitu luar biasa. Arshan saja yang sudah menjadi pacarnya secara resmi, tak pernah seperti itu.
Entah mengapa saat di hadapan Adrian, Ryanthi tak kuasa menolak. Dia justru sangat menyukainya. Namun, Ryanthi belum berani untuk melangkah lebih jauh. Fokusnya kini tertuju pada pendidikan yang sedang dia dan Surya persiapkan.
Sementara Ryanthi bersiap-siap, Adrian telah tiba di kediaman milik Surya. Ayahanda Ryanthi itu bahkan menyambut langsung rekannya tersebut. Seperti biasa, mereka berbincang akrab.
Ketika mereka tengah asyik berbincang, Arshan muncul di sana. Awalnya, mantan kekasih Ryanthi tersebut tampak ragu. Namun, dia tetap tahu tata krama. Arshan menghampiri Surya dan Adrian.
"Mana Vera?" tanya Surya heran, karena melihat Arshan sendirian.
__ADS_1
"Vera sudah pulang duluan, Yah," jawab Arshan kaku. Dia lalu mengalihkan perhatian kepada Adrian. Sikapnya begitu sopan saat menyalami putra Indira tersebut.
"Kamu sudah tahu 'kan. Dia Pak Adrian. Pak Adrian ini merupakan pemilik dari perusahaan aerospace terbesar di negara ini," jelas Surya.
"Iya. Saya mengenalnya. Pak Adrian adalah atasan saya," jawab Arshan, yang seketika membuat Surya terkejut. Pasalnya, selama ini dia hampir tak pernah berbincang santai bersama menantunya tersebut. Arshan dan Surya seakan masih merasa canggung.
"Saya permisi dulu." Arshan membalikkan badan. Dia berlalu menuju lantai dua. Tepat saat akan menaiki tangga, pria itu berpapasan dengan Ryanthi yang sedang turun.
Arshan terpaku beberapa saat, menatap sang mantan yang kini terlihat semakin cantik. Tentu saja, Ryanthi sudah pandai merawat diri. Selain itu, ditunjang pula dengan pakaian serta aksesoris lain. Ryanthi memang tampak sangat sempurna tanpa kaos usang.
Ryanthi berjalan tanpa menoleh kepada Arshan. Perhatiannya tertuju pada dua pria yang tengah asyik berbincang. Pria yang terlihat heran saat melihat penampilan gadis itu.
"Apa kamu sakit, Nak?" tanya Surya heran, saat melihat Ryanthi muncul dengan memakai masker.
Ryanthi menoleh dan mengangguk pelan.
"Aku terkena flu hari ini," jawabnya seraya melirik Adrian, yang hanya menggeleng tak mengerti. Pria itu sepertinya sudah tak tahan, untuk membawa Ryanthi pergi dari sana.
Setelah berpamitan kepada Surya, mereka langsung menuju kendaraan milik Adrian yang terparkir di halaman. Saat sudah berada di dalam mobil, Adrian memaksa Ryanthy agar melepas maker kain yang dipakainya.
Namun, Ryanthi menolak. "Aku sedang flu. Jangan sampai kamu tertular," ujarnya.
Siang yang panas sebentar lagi akan berganti. Cuaca sudah mulai teduh, ketika Adrian menghentikan mobilnya di suatu tempat yang belum pernah Ryanthi datangi. Tanpa melepas masker yang dikenakannya, Ryanthi keluar dari mobil. Dia begitu takjub dengan suasana di tempat itu.
Angin sore berembus cukup kencang. Ia membuat ratusan ilalang yang tumbuh di sana bergerak penuh irama, menciptakan keindahan tiada tara.
Ryanthi tak banyak bicara. Dia hanya berdiri mengagumi keindahan yang tersaji. Rasa nyaman tak terkira, datang bersama seorang Adrian yang berdiri di sampingnya.
"Kamu suka?" tanya Adrian.
"Ya," jawab Ryanthi. "Bagaimana kamu bisa menemukan tempat seindah ini?" tanya Ryanthi tanpa menoleh kepada Adrian yang tengah menatapnya penuh kekaguman.
"Sama seperti saat aku menemukanmu. Datang begitu saja, lalu membuatku merasa berbeda," jawab Adrian tanpa mengalihkan pandangannya. Membuat Ryanthi langsung menoleh.
"Kamu merayuku lagi? Kamu belum membuatkanku kue, seperti yang sudah dijanjikan beberapa malam kemarin."
"Aku pasti akan membuatkannya untukmu. Jangankan hanya kue. Kamu ingin pesawat pun akan kurakitkan, maksudku teknisi yang merakitnya." Adrian tertawa, saat Ryanthi mendelik padanya. "Katakan sesuatu, Ryanthi," pinta Adrian.
__ADS_1
"Tentang apa?" tanya Ryanthi.
"Tentang dirimu," jawab Adrian. "Namun, sebelum itu kuminta agar kamu melepas masker itu," ujar pria itu gemas.
"Memangnya kenapa?"
Adrian tidak menjawab. Dia menarik tubuh Ryanthi hingga merapat padanya. Pria itu memaksa Ryanthi agar melepas masker yang dikenakannya. Ryanthi menolak. Dia berontak. Namun, Adrian terus memaksa.
Adegan tak seberapa, tapi berhasil membuat Ryanthi merasa begitu terhibur. Gadis cantik itu tertawa, atas perlakuan Adrian yang memaksanya melepas masker. Bukan Adrian namanya, jika dia gagal dalam melakukan sesuatu. Pria itu sangat gigih, hingga dirinya berhasil.
"Kenapa kamu harus memakai ini?" tanya Adrian sambil memasukkan masker kain Ryanthi ke saku celana panjangnya.
"Karena aku takut jika kamu menciumku lagi," jawab Ryanthi polos.
"Astaga." Adrian berdecak pelan. "Apa masalahnya dengan berciuman? Bukankah kamu menyukainya?" goda pria tampan itu dengan senyum menawan.
Ryanthi tak menjawab. Dia lebih memilih mengarahkan pandangan pada hamparan ilalang yang tertiup angin sore. Gadis cantik tersebut memejamkan mata, meresapi embusan lembut yang menerpa wajahnya.
"Apa yang kamu rasakan?" tanya Adrian.
"Apa kamu akan percaya, jika kukatakan bahwa ibuku kerap datang menemui dan mengajakku berbincang?" Ryanthi membuka mata, lalu menoleh kepada Adrian yang tampak menautkan alis.
"Ya. Aku sendiri tak mengerti. Namun, ibu selalu hadir setiap kali aku membutuhkannya. Kami berbicara banyak hal, bahkan untuk sesuatu yang pribadi," tutur Ryanthi.
"Seperti apa?" tanya Adrian.
"Dulu, aku tak pernah membahas masalah perasaanku atau segala hal yang membuat diriku terlihat melankolis. Kehidupan kami terlalu berat. Terlebih, saat ibu mulai sakit-sakitan." Tatapan Ryanthi memerawang jauh. Terbayang kembali olehnya, sosok Farida yang tengah terbaring tak berdaya, beberapa hari sebelum ajal menjemput wanita itu.
"Aku merawatnya seorang diri," ucap Ryanthi lagi. Setitik butiran bening terjatuh membasahi pipi.
"Lalu, bagaimana dengan ayahmu?" tanya Adrian penasaran.
"Dia belum menemukan kami," jawab Ryanthi. "Aku dan ibu, terpisah dengan ayah selama delapan belas tahun. Aku tak menyalahkan mereka. Semuanya karena keadaan. Aku juga tak lagi mempertanyakan mengapa, karena semua jawabannya sudah kudapatkan."
"Pak Surya terlihat sangat menyayangimu."
"Ya. Ayahku pria yang sangat baik." Ryanthi menoleh, lalu tersenyum dengan mata yang masih berkaca-kaca.
__ADS_1
"Kamu ingin menangis?" Pertanyaan aneh yang dilayangkan Adrian terhadap gadis itu.
Ryanthi tidak menjawab. Dia menerima dekapan hangat yang Adrian tawarkan, sebagai tempatnya meluapkan segala rasa.