Ryanthi : Manisnya Kue, Pahitnya Kenyataan

Ryanthi : Manisnya Kue, Pahitnya Kenyataan
Bertemu Calon Mertua


__ADS_3

Ryanthi tengah asik membaca buku di beranda belakang rumahnya, ketika Arumi datang dengan menggandeng Moedya kesana.


Pria berambut gondrong itu tampak sedikit gugup, meskipun ia terus berusaha untuk bersikap setenang mungkin.


"Selamat sore, Bu," sapa Arumi seraya mengajak Moedya duduk di sebelahnya. Pria itu juga ikut melayangkan senyumnya kepada Ryanthi.


Ryanthi menutup buku yang tengah ia baca. Ia juga melepas kaca mata yang dipakainya. Setelah itu, Ryanthi meletakan buku dan kaca matanya di atas meja. Ia menatap lekat pria dengan jaket kulit itu.


"Moedya?" Sapa Ryanthi dengan hangat.


Moedya tersenyum seraya mengangguk dengan sopan. "Bu Ryanthi," balas Moedya. Ia terus mencoba untuk menepiskan rasa canggung yang tengah ia rasakan saat itu.


"Kita pernah bertemu sebelumnya, namun baru kali ini dapat bertegur sapa secara langsung," ucap Ryanthi dengan lembut.


"Saya tidak tahu jika Anda adalah ... um ... maaf Bu Ryanthi," Moedya berkata dengan sedikit kebingungan. Ia tidak tahu apakah harus bersikap formal atau sebaliknya.


Sementara Arumi, ia hanya duduk tenang menyaksikan sang kekasih yang tengah bergelut dengan rasa gugupnya sendiri.


"Jangan terlalu kaku! Tenang saja!" Ujar Ryanthi. Ia seakan dapat menangkap rasa canggung yang dirasakan Moedya karena bertemu dengannya.


"Arumi sudah banyak bercerita tentangmu. Katanya kamu juga berteman baik dengan Keanu?" Lanjut Ryanthi. Ia terus mencoba mencairkan rasa gugup yang kian menggumpal di dalam diri Moedya.


"Iya. Saya satu angkatan dengannya. Hanya berbeda jurusan saja," jelas Moedya. Ia mulai terlihat santai dengan perbincangan itu.


"Jika kalian berteman baik, kenapa Ibu tidak pernah melihatmu datang kemari?" Tanya Ryanthi lagi seraya mengernyitkan keningnya.


"Keanu biasa menemui saya di bengkel. Lagipula dia selalu berkata jika kami hanya berteman, bukan pacaran. Jadi ... saya tidak perlu datang ke rumahnya," Moedya mengakhiri kata-katanya dengan sebuah tawa pelan. Sesaat kemudia ia pun tertegun karena ucapannya sendiri.


"Kami terbiasa bercanda seperti itu ...." ujar Moedya. Ia kembali salah tingkah karena ucapannya sendiri. Sesekali pria bertato itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Kacau," gumam Moedya dalam hatinya. Ia kemudian menghela napas dalam-dalam.


Arumi tak kuasa menahan tawanya. Sesaat kemudian, ia pun memegangi tangan sang kekasih dan menggenggamnya dengan erat.


"Inilah yang aku sukai dari Moedya. Dia selalu berbicara apa adanya," sanjung Arumi dengan tatapan lembut kepada pria itu.

__ADS_1


Moedya balas menatapnya. Ia pun tersenyum kepada Arumi.


"Bu ... bagaimana jika kapan-kapan kita undang ibu Ranum kemari untuk makan siang atau makan malam mungkin. Ibu dan ibu Ranum pasti bisa berteman dengan baik, aku yakin itu! Benarkan Moemoe?" Arumi kembali melirik Moedya.


"Ya, tentu!" Sahut Moedya dengan segera. "Omong-omong ... kemana Keanu?" Tanya Moedya.


Arumi pun melirik kepada Ryanthi. Ia mempunyai pertanyaan yang sama, berhubung saat itu adalah akhir pekan. Biasanya, Keanu selalu ada di rumah ketika akhir pekan.


"Entahlah! Akhir-akhir ini Keanu jarang ada di rumah. Ia terlihat sangat sibuk. Ibu tidak sempat berbicara dengannya," jelas Ryanthi.


"Dia juga sudah beberapa hari ini tidak mampir ke bengkel," timpal Moedya.


"Kakakku itu memang sangat misterius," celetuk Arumi dengan seenaknya.


Ryanthi hanya tersenyum. Ia kembali mengalihkan tatapannya kepada Moedya.


"Jadi ... apa kesibukanmu selain mengelola bengkel?" Tanya Ryanthi. Ia mulai menginterogasi pria berambut gondrong itu.


"Saya suka memancing ... terkadang membaca buku ... tidak ada yang penting, Bu," terang Moedya dengan senyuman kelu di wajahnya.


"Terkadang hal yang orang lain anggap tidak penting adalah merupakan sesuatu yang dapat memberi nyawa pada hari-hari kita. Mereka yang melihat apa yang kita lakukan secara sepintas, hanya dapat berkomentar seenaknya, tanpa mengetahui makna yang sebenarnya dari sesuatu yang terkadang memang mereka anggap tidak berfaedah sama sekali," Ryanthi mengakhiri kata-katanya dengan sebuah senyuman nanar di sudut bibirnya.


"Sudah kukatakan jika ibuku penuh dengan filosofi hidup. Kamu akan betah berlama-lama bicara dengannya," ucap Arumi.


"Ibu rasa Moedya akan lebih senang bicara denganmu, Sayang!" Bantah Ryanthi. Ia melirik kedua muda-mudi yang sedang dilanda kasmaran itu.


"Ibu akan menyiapkan makan malam dulu," ucap Ryanthi seraya beranjak dari duduknya. "Moedya, kita lanjutkan perbincangannya nanti di meja makan!" Pesan Ryanthi. Itu artinya, ia ingin agar Moedya ikut makan malam bersamanya dan Arumi.


"Bagaimana ibuku?" Tanya Arumi setelah Ryanthi berlalu dan tidak terlihat lagi di sana.


"Baik!" Jawab Moedya dengan sangat yakin. "Um ... maksudku ... ya ... beliau sangat baik dan terlihat sangat pintar. Aku rasa bu Ryanthi jauh lebih pintar darimu," celetuk Moedya membuat Arumi mendelik tajam kepadanya.


Sore telah berlalu begitu saja. Keanu baru terlihat ketika waktu makan malam telah tiba. Wajahnya sedikit berseri melihat sahabatnya ada di sana.


Di atas meja makan itu telah terhidang aneka menu makan malam yang menggugah selera. Ryanthi menyiapkan banyak makanan kali ini.

__ADS_1


Suasana akrab pun terjalin di sana. Ada perbincangan hangat yang terjadi diantara mereka, terlebih antara Moedya dan Keanu.


Ryanthi pun hanya menjadi pengamat dari pria yang menjadi pujaan hati putri bungsunya itu. Sesekali ia mengajukan pertanyaan kepada Moedya, namun ia juga tidak terlalu banyak bicara karena tidak ingin dianggap sebagai seorang mertua yang sedang menginterogasi calon menantunya. Ia tidak ingin Moedya merasa terintimidasi olehnya.


Acara makan malam telah usai. Arumi membantu sang ibu membereskan meja makan, sementara Keanu dan Moedya berbincang akrab di beranda belakang rumah.


Sebenarnya Keanu ingin sekali meminta bantuan calon adik iparnya itu, berhubung Moedya lebih mengenal dunia yang sedang Keanu sentuh saat ini, demi membawa Puspa keluar dari sana. Akan tetapi, ia masih merasa canggung untuk mengutarakan niatnya tersebut.


"Sibuk sekali, Ken?" Tanya Moedya seraya menyulut sebatang rokok dan mengepulkan asap tipis dari dalam mulutnya.


"Ya, begitulah," jawab Keanu singkat. Raut wajahnya menunjukan rasa yang tidak tenang.


Moedya melirik sahabat dekatnya itu. Ia merasakan hal lain yang sedang dialami Keanu.


"Ada masalah penting?" Selidiknya. Ia kembali mengepulkan asap rokoknya.


"Ada banyak masalah penting yang harus kuselesaikan. Aku bingung harus mengawalinya darimana," jawab Keanu dengan wajah datarnya.


Moedya tertawa pelan. Ia kembali mengisal rokoknya. Mereka pun sama-sama terdiam untuk sejenak.


"Luar biasa karena akhirnya kamu berani menemui ibuku," sindir Keanu dengan senyum mengejek.


"Sialan! Kamu fikir aku pengecut?" Bantah Moedya. Ia kemudian mematikan puntung rokoknya di dalam asbak.


"Apa yang sedang menjadi masalahmu sekarang? Apakah menjadi seorang bos dari perusahaan besar itu begitu berat?" Moedya menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia pun menghela napas panjang.


"Karena itulah aku lebih memilih menjadi seorang montir. Rasanya pekerjaan itu jauh lebih menyenangkan bagiku," guman Moedya. Ia menatap lurus ke depan. Pada tanaman yang tertata rapi, yang berada tidak jauh dari kolam renang.


Keanu tidak menjawab. Ia pun hanya duduk termenung.


"Apa kabar gadis pirangmu?" Tanya Moedya seraya melirik kembali Keanu yang masih terdiam.


Keanu menghela napas dalam-dalam. "Aku sudah memutuskan komunikasi dengannya," jawab pria itu pelan.


"Kenapa? Bukannya dia ...."

__ADS_1


"Ah ... sudahlah! Jangan bahas tentang dia!" Sergah Keanu. Ia tidak ingin membahas tentang Pamela, karena kini ia tengah sibuk memikirkan Puspa.


Apa yang akan diberikan gadis manis itu untuknya sebagai imbalan atas perjuangannya kali ini? Yang pasti Keanu hanya ingin membawa Puspa ke dalam dunia yang jauh lebih indah dari dunianya saat ini. Namun, entah itu akan berhasil atau tidak. Keanu pun sebenarnya tidak terlalu yakin. Akan tetapi, satu hal yang pasti, Keanu pasti akan terus memperjuangkan kebebasan gadis bertubuh mungil itu.


__ADS_2