Ryanthi : Manisnya Kue, Pahitnya Kenyataan

Ryanthi : Manisnya Kue, Pahitnya Kenyataan
ENAM PULUH


__ADS_3

15 November.


Itu artinya tinggal sekitar 3 bulan lagi terhitung dari sekarang.


Adrian rupanya sudah benar-benar tidak sabar untuk menjadikan Ryanthi sebagai istrinya.


Malam ini, Ryanthi berdiri sendiri di balkon rumahnya. Seperti biasa, ia menikmati angin malam sendirian. Menatap gelapnya selimut bumi yang tak berujung.


Ia terus terhanyut dalam lamunannya sampai-sampai tidak menyadari kehadiran ayahnya disana.


"Ayah, mengagetkanku saja," ucap Ryanthi sambil memegangi dadanya.


Melihat hal itu, Surya hanya tertawa pelan. Ia pun sebenarnya tidak bermaksud mengagetkan putri kesayangannya itu.


"Kenapa kamu sendirian disini? Setidaknya, kamu bisa mengajak Ayah untuk menemanimu," tanya Surya seraya melirik Ryanthi. Ia pun membetulkan letak kaca matanya.


"Ayah sudah ada disini sekarang," jawab Ryanthi.


"Aku tadi kebawah, tapi sepertinya Ayah sedang bersama tante Maya, jadi aku tidak berani mengganggu," lanjut Ryanthi lagi.


"Kami sedang membahas rencana pernikahanmu. Apakah kamu dan Adrian sudah menentukan tanggal pernikahan kalian?" tanya Surya penasaran.


Ryanthi mengangguk pelan. "Adrian ingin kami melaksanakan pernikahan pada bulan November. Tapi, itu juga jika Ayah setuju." jawab Ryanthi datar.


"Kenapa Ayah harus tidak setuju. Semakin cepat akan semakin baik. Itu artinya kita harus mempersiapkan segala sesuatunya mulai dari sekarang, karena 3 bulan itu bukan waktu yang lama." Surya tampak bersemangat.


Ryanthi terdiam. Matanya menatap nanar pada titik bening yang ada di langit gelap itu.


Surya pun menatapnya. Ia tidak tahu apa yang sedang gadis itu fikirkan. Namun ia dapat merasakan ada suatu kesedihan di wajah cantiknya itu.


"Ada apa? Ceritakan semuanya pada Ayah, jangan dipendam sendiri!" ucap Surya lembut.


Perlahan ia mengelus rambut panjang Ryanthi yang sesekali bergerak karena hembusan angin malam.


Ryanthi tidak menjawab. Ia hanya menundukan wajahnya. Entah apa yang sedang ia sembunyikan dari ayahnya.


Namun perlahan, sebuah isakan kecil yang ditahan pun terdengar juga di telinga Surya.


"Apa yang membuatmu sedih?" sebagai ayah tentunya Surya tidak tega jika harus melihat putrinya bersedih seperti itu.


Ryanthi belum juga mau menjawab pertanyaan ayahnya.


Surya pun seakan tahu dengan apa yang harus ia lakukan.


Segera diraihnya putri cantiknya itu kedalam pelukannya.


"Ayah tidak ingin hanya menerka-nerka dengan apa yang sedang kamu fikirkan saat ini, tapi Ayah juga mencoba untuk bisa menyelami kedalam isi hatimu. Seandainya apa yang Ayah fikirkan adalah benar, Ayah hanya ingin mengatakan kalau kamu saat ini tidak sendiri. Kamu bisa berbagi kesedihanmu dengan Ayah." Surya memeluk Ryanthi dengan hangat, dan ia sesekali mencium pucuk kepala gadis itu.


"Tapi aku benar-benar merindukan ibu. Dulu, sebelum aku berangkat ke Paris, ia selalu datang padaku disaat aku sendirian. Ia selalu menemaniku hingga aku tertidur dalam pelukannya.


Tapi waktu itu, aku sudah menyuruhnya untuk segera beristirahat dengan tenang, dan ia kini tidak pernah menemuiku lagi," ucap Ryanthi lirih.


Ryanthi pun terisak di dalam pelukan ayahnya.


Surya terus mencoba menenangkannya.


"Biarkan ibumu beristirahat dengan tenang. Dan biarkan Ayah melakukan kewajiban sebagai seorang Ayah. Mulai sekarang, bebaskan hatimu dan sambutlah hari yang baru,"


Surya tak henti-hentinya mengelus rambut gadis itu.


Perlahan Ryanthi melepaskan dirinya dari pelukan ayahnya.


"Ibu ingin sekali melihatku menikah. Dulu ia selalu menyuruhku untuk segera menikah dengan Arshan. Tapi, saat ini semuanya sudah banyak berubah.


Aku menyesal karena ibu tidak sempat ku kenalkan dengan Adrian."

__ADS_1


Surya menatap Ryanthi. Ia kembali membetulkan letak kaca matanya.


"Tidak semua yang kita inginkan pasti kita dapatkan. Tidak semua harapan kita pasti terlaksana. Meskipun ibumu tidak sempat melihatmu bersanding dengan Adrian, tapi Ayah yakin ia masih bisa melihatmu dari kejauhan." ucapnya dengan bijaksana.


Surya menyeka sisa-sisa air mata yang menetes di sudut bibirnya.


Ia mencoba menenangkan anak gadisnya itu.


"Ayah yakin Adrian bisa menjagamu dengan baik. Ia pria yang bertanggung jawab. Ayah sudah lama mengenalnya, meskipun tidak pernah tahu seperti apa kehidupan pribadinya. Akan tetapi, ia sudah membuktikannya padamu dengan menunggumu selama 3 tahun ini.


Ayah cuma berharap agar kalian bisa menjalani rumah tangga yang rukun. Jangan lakukan hal seperti yang sudah Ayah dan ibumu lakukan. Ayah tidak ingin hal seperti itu terulang dalam keluarga kita. Entah itu untukmu, ataupun Vera. Harapan dan doa Ayah selalu sama,"


Perlahan Surya melepas kaca matanya dan menyentuh sudut matanya.


Ruanthi menatap sang ayah. Ia merasa tidak enak hati jika sudah dalam situasi seperti ini.


"Boleh aku bertanya sesuatu, Yah?" tanya Ryanthi dengan agak ragu.


Surya menoleh dan mengangguk.


"Kenapa Ayah tidak menikahi tante Maya secara hukum? Bukannya ia sudah menemani Ayah selama ini. Bahkan saat aku dan ibu tidak ada pun, tante Maya yang mengurus Ayah disini," Ryanthi menatap Surya dengan wajah penasaran.


Surya tidak segera menjawab. Ia hanya menarik nafas panjang dan menghempaskannya perlahan.


Ia tidak menyangka Ryanthi akan menanyakan hal itu kepadanya.


"Kenapa tiba-tiba kamu bertanya tentang hal itu?" ia betanya balik kepada Ryanthi.


"Aku hanya merasa tidak enak melihat tante Maya dalam posisi seperti itu. Aku yakin, ia pasti menginginkan sebuah pernikahan yang lebih dari itu," jawab Ryanthi.


"Kami sudah tidak muda lagi. Ayah juga tidak berfikir kearah sana," jawab Surya. Ia sepertinya memang tidak berniat melakukan hal itu.


"Tapi, apakah Ayah tidak kasihan dengan tante Maya? Ia sangat mengharapkan bisa benar-benar menyandang nama belakang Ayah. Jika Ayah mau menerima saranku, aku fikir tante Maya juga membutuhkan suatu penghargaan. Terlepas dari bagaimana sikap dan sifatnya selama ini, itu hanya karena ia takut kehilangan Ayah."


"Maya menyuruhmu bicara dengan Ayah?" selidik Surya.


Ryanthi menggeleng. "Tidak ada siapapun yang menyuruhku untuk bicara dengan Ayah tentang hal ini. Ini murni dari pemikiranku sendiri," bantah Ryanthi.


Surya kembali terdiam. Matanya menatap kosong pada ujung langit yang berwarna gelap itu. Entah apa yang sedang ia fikirkan saat ini.


Begitu juga dengan Ryanthi, ia pun mungkin menatap hal yang sama seperti yang di tatap ayahnya.


......................


Tanggal pernikahan sudah disetujui kedua belah pihak. Dan Ryanthi pun mulai menyibukan dirinya dengan semua hal-hal yang harus dipersiapkan.


Adrian pun tidak tinggal diam. Dengan senang hati ia membantu Ryanthi, meski terkadang mereka berbeda pendapat dan adakalanya hingga berakhir dengan sebuah perselisihan.


Namun satu yang unik dari hubungan mereka berdua, yaitu seberapa hebat pun pertengkaran yang terjadi, maka itu tidak akan pernah sampai berlarut-larut. Seperti biasa, Adrian akan datang untuk merayu gadis itu dengan sikap sok romantisnya.


Terkadang ia juga bersikap konyol sehingga membuat Ryanthi mau tidak mau harus tertawa juga.


Seperti hari itu, ketika mereka sedang menentukan jumlah tamu undangan.


"Kenapa tamunya banyak sekali?" Ryanthi terkejut dengan daftar tamu undangan yang diberikan Adrian padanya.


"Itu juga ada beberapa yang ku lewat. Aku merasa tidak enak jika tidak mengundang mereka," Adrian beralasan.


"Kamu tidak memasukan nama mantan-mantan pacarmu didalam daftar ini kan?" tanya Ryanthi tiba-tiba. Rasa tertekan membuatnya menjadi berhalusinasi.


Adrian mengeluh pendek mendengar pertanyaan konyol dari calon istrinya itu. Ia sama sekali tidak mengerti dengan apa yang difikirkan Ryanthi saat ini.


"Apa maksudmu? Tentu saja tidak!" jawab Adrian kesal. Entah kenapa akhir-akhir ini Ryanthi tiba-tiba menjadi sensitif.


"Kamu sedang PMS ya?" tanya Adrian dengan nada agak kesal.

__ADS_1


"Apa masalahnya dengan PMS?" jawab Ryanthi dengan wajah berkerut.


Adrian menatap gadis itu dengan lekat. Ia tahu mungkin Ryanthi cukup stres dengan urusan pernikahannya.


Ia pun berdiri dan mengulurkan tangannya kearah Ryanthi. Gadis itu malah menatapnya. Adrian mengisyaratkan agar Ryanthi menerima uluran tangannya.


Dengan wajah yang masih cemberut, Ryanthi pun menerimanya. Merekapun pergi ke suatu tempat.


Beberapa saat kemudian, Adrian menghentikan mobilnya.


Dan tempat yang mereka tuju berhasil membuat Ryanthi tersenyum.


Padang ilalang.


Sudah lama semenjak Ryanthi kembali dari Paris, ia tidak mengunjungi tempat itu. Jujur saja, jika ia memang sangat merindukan hembusan angin dan deburan ombak yang ada disana.


Adrian pun mengajaknya untuk turun.


Berdiri berdekatan dan bersandar pada bagian depan mobil Adrian.


Mereka berdua memang membutuhkan hal itu.


"Menguras tenaga ya?" tanya Adrian dengan tenang.


Ryanthi tidak menjawab. Ia hanya mengeluarkan sebuah keluhan dari mulutnya.


"Ini juga hal pertama untukku. Aku juga tidak tahu jika rasanya seperti ini. Aku sangat gugup, bahkan tanganku terkadang sampai basah karena berkeringat," ucap Adrian dengan kalemnya.


Ryanthi menoleh dan menatapnya sejenak.


"Aku juga sangat gugup. Tinggal dua bulan lagi dan banyak hal yang mengganggu fikiranku. Bahkan sesuatu yang tadinya tidak pernah aku fikrkan pun, tiba-tiba mereka masuk dan mengusikku," keluh Ryanthi.


Mungkin inilah yang disebut Bridezilla.


Padahal pernikahan mereka masih 2 bulan lagi, dan beban itu sudah mulai dirasakan Ryanthi, apalagi jika ia sudah membayangkan para tamu yang hadir adalah dari kalangan bisnis semua.


Ia harus selalu siap dengan senyuman manis dan wajah ramah.


Ia juga memikirkan seberapa tebal make up yang akan menempel di wajahnya, bagaimana nanti cara untuk membersihkannya?


Dan rambutnya? Kepalanya akan terasa pusing jika rambutnya diikat terlalu kuat.


Sementara dari video yang ia tonton di internet, ia melihat betapa ribetnya make up seorang pengantin.


Ryanthi, ia bahkan sempat-sempatnya memikirkan hal seperti itu. Dan hal kecil itupun membuatnya menjadi stres.


Dan apalagi yang membuatnya semakin stres?


Ketika ia melihat cuplikan di televusi tentang mereka yang tertipu WO aba-abal, cathering yang kosong, dan masih banyak hal lain yang ia fikirkan.


Termasuk bagaimana hari-harinya nanti setelah ia menjadi istri Adrian.


Pria itu sangat menyebalkan, bahkan sebelum menjadi istrinya saja ia sudah main perintah, apalagi jika nanti ia benar-benar sudah menjadi istrinya. Dan Adrian ingin punya 2 orang anak.


Ya Tuhan, ia bahkan belum tahu bagaimana caranya mengurus seorang anak, dan Adrian ingin 2?


"Semua butuh proses. Tante juga dulu seperti itu," ucap Maya kepada Ryanthi.


"Dulu waktu menikah dengan ayahnya Vera, usia Tante baru sekitar 21 tahun, lebih muda dari kamu ataupun Vera.


Akan tetapi, seiring berjalannya waktu kita akan tahu sendiri dan menemukan dimana celahnya. Dan pada akhirnya, semua itu tidak akan menjadi sebuah beban lagi untuk kita," jelasnya.


"Lagipula, Adrian bisa membayar banyak asisten rumah tangga jika kamu memintanya. Dan kamu tinggal duduk tenang, berdandanlah yang cantik dan buat suamimu senang," petuah Maya.


Ryanthi tersenyum mendengar hal itu. Maya sedang menceritakan dirinya sendiri, dan ia ingin Ryanthi mengikuti jejaknya.

__ADS_1


__ADS_2