Ryanthi : Manisnya Kue, Pahitnya Kenyataan

Ryanthi : Manisnya Kue, Pahitnya Kenyataan
Angin dan Langit Malam


__ADS_3

Seusai makan malam, mereka kemudian berkumpul di ruang keluarga. Ditemani cemilan penutup, obrolan diantara mereka terasa jauh lebih menyenangkan.


Sungguh suatu pemandangan yang sangat indah, ketika melihat sebuah keluarga yang lengkap dengan segala kehangatan dan canda tawa di dalamnya.


Adrian dan juga Ryanthi, mereka sudah merasakan hidup dalam sebuah keluarga yang tidak lengkap.


Ada begitu banyak kekosongan yang mereka rasakan saat itu, terutama bagi Ryanthi.


Alasan itulah yang melandasi kehidupannya saat ini bersama Adrian. Ia sebisa mungkin tetap menjaga keutuhan keluarganya. Terus memupuk rasa kasih sayang diantara mereka. Senantiasa menjaga kekompakan antara anak dan orang tuanya.


Ada banyak perbincangan yang begitu menyenangkan di ruangan itu. Tak jarang terdengar tawa lepas dari mereka berempat. Sungguh, mereka adalah simbol dari sebuah keluarga yang harmonis dan impian dari semua keluarga.


Arumi bercerita tentang semua pengalamannya selama tiga tahun di kota Paris. Hampir sama dengan yang Ryanthi jalani dahulu. Akan tetapi, keseharian Arumi disana jauh lebih menyenangkan.


Tentu saja, Arumi pergi kesana tanpa membawa beban perasaan yang berat. Tidak ada cinta yang ia tinggalkan dan ia khawatirkan akan berpaling darinya. Ia pergi kesana dengan suka cita, bukan dengan sebuah rasa sakit, apalagi tanpa adanya sebuah pergolakan yang besar dalam dirinya.


Malam kian merayap. Ia menghadirkan rasa sepi yang teramat dalam dengan selimut gelapnya yang begitu pekat.


Entah mengapa, karena bintang pun seakan enggan untuk muncul dan memberikan setitik sinar terang pada selimut pekat itu. Kemana mereka malam ini? Arumi, masih setia menunggu.


Angin malam pun mulai hadir menyapa wajah cantiknya. Memainkan rambut panjangnya yang tergerai begitu saja. Mereka menutupi punggung dan sebagian pundak Arumi yang sudah dibalut piyama berwarna putih tulang.


"Nak ...." sebuah panggilan pelan namun begitu mengejutkan bagi Arumi. Gadis itupun segera menoleh ke belakang.


Ryanthi telah berdiri di dekat pintu balkon depan rumah itu. Ia menghampiri Arumi seraya mengikatkan tali kimononya di bagian depan sehingga membentuk sebuah simpul yang rapi.


"Kenapa belum tidur?" tanya Ryanthi. Ia berdiri sejajar dengan putri bungsunya itu.


"Ibu juga kenapa belum tidur?" Arumi balik bertanya. Ia melirik sang ibu yang masih terlihat sangat cantik meskipun sudah tidak muda lagi.


"Ibu memang sudah terbiasa bangun di malam hari seperti saat ini," jawab Ryanthi pelan. Tatapannya lurus tertuju pada selimut pekat yang tak terbatas itu.


"Coba kamu rasakan keheningan ini. Ia begitu menenangkan, bukan?" Ryanthi memejamkan matanya ketika semilir angin malam itu mulai menyapanya.


"Kenapa Ibu begitu menyukai angin dan langit senja?" tanya Arumi. Tatapannya masih lekat ia tujukan untuk Ryanthi, dengan rambutnya yang juga ia biarkan terurai begitu saja.


Ryanthi tersenyum lembut. Ia kemudian melirik Arumi dengan matanya yang selalu terlihat damai.

__ADS_1


Arumi membalikan badannya. Ia kini bersandar pada teralis pembatas dengan ukiran yang indah itu. Ia pun semakin leluasa melayangkan tatapannya kepada sang ibu.


"Entahlah. Tetapi satu yang pasti, yaitu kedamaian. Angin itu selalu menghadirkan kedamaian untuk Ibu. Ia begitu lembut. Meski tak terlihat, namun selalu dapat kita rasakan keberadaannya ...."


"Seperti nenek?" potong Arumi.


Ryanthi mengalihkan tatapannya kepada wajah cantik yang merupakan duplikat dari dirinya. Ia pun tersenyum kelu.


"Kamu masih ingat cerita itu?" Ryanthi balik bertanya.


"Selalu. Aku bahkan membayangkan, jika Ibu juga melakukan hal yang sama saat aku merasa sendiri dan kesepian ketika berada di Paris," ungkap Arumi.


"Aku berharap Ibu datang dan mendengarkan semua keluh kesahku disana," ucapnya lagi.


"Ketika Ibu berada disana, Ibu melarang semua orang-orang terdekat Ibu untuk datang berkunjung," terang Ryanthi.


"Kenapa?" Arumi mengerutkan keningnya.


Ryanthi menatap wajah cantik itu lagi. Tersungging sebuah senyuman kecil di sudut bibirnya. Ia pun kembali mengalihkan tatapannya ke depan.


"Karena rasa sayang Ibu terhadap mereka. Kerinduan itu terlalu besar, Nak. Ibu tidak akan sanggup jika hanya bersama mereka dalam waktu yang singkat. Maka dari itu, Ibu lebih memilih untuk tidak melihat mereka saja," jelas Ryanthi.


"Ibu begitu mencintai ayah. Aku dapat merasakan seberapa kuat cinta ayah dan Ibu dulu. Karena saat ini pun, aku masih dapat melihat hal itu," ucap Arumi. Ia pun tertawa pelan. "Ayahku benar-benar sosok yang luar biasa. Dia selalu membuat Ibu bahagia. Aku berharap, agar aku bisa menemukan seorang pria seperti itu disini," ucap Arumi lagi.


"Disini?" Ryanthi mengulangi ucapan Arumi dengan nada sedikit heran.


"Um ... maksudku ...." Arumi tampak gelagapan. Mungkinkah ia keceplosan dengan kata-katanya? Yang pasti saat itu, ia berusaha menyembunyikan rasa malunya.


"Oh, iya. Bu ... sebenarnya aku sudah belajar mengemudi selama di Paris. Ada seorang teman yang mengajariku waktu itu," cerita Arumi.


"Benarkah?" Ryanthi kembali melirik putri bungsunya itu.


Arumi mengangguk yakin dengan senyuman manisnya. Sesaat kemudian, ia lalu memeluk Ryanthi dari belakang.


Ryanthi menepuk pipi gadis itu perlahan, ia pun tersenyum.


"Jadi, mulai kapan aku akan menjadi asisten ibu Ryanthi Winata?" goda Arumi.

__ADS_1


"Terserah kamu, Sayang," jawab Ryanthi diselingi tawa pelan.


"Besok ikutlah dengan Ibu ke toko. Ibu yakin kamu akan menyukainya dan pasti akan betah berlama-lama disana. Karena ... ada banyak sekali aroma yang lezat disana," ajak Ryanthi, membuat Arumi sangat penasaran.


"Dengan mobil baruku?" bisik Arumi.


Dengan segera Ryanthi membalikan wajahnya kepada Arumi. Ia juga mengernyitkan keningnya.


"Itu bukan urusan Ibu. Minta izin dahulu kepada ayah atau kakakmu!" sarannya.


"Ayolah, Bu!" rengek Arumi. "Aku mohon, bantu aku bicara dengan ayah dan kakak, besok!" pinta Arumi dengan nada merayu.


"Bicara sendiri! Itu urusanmu," tolak Ryanthi.


"Dengar, Nak!" ucap Ryanthi lagi. "Ibu memang sangat menyayangimu dan terkadang memanjakanmu. Tetapi, Ibu tidak ingin kamu menjadi wanita yang manja. Almarhum nenekmu pernah berkata, 'jadilah wanita yang mandiri, yang tidak tergantung pada siapa pun juga. Termasuk ibumu sendiri!'. Beliau berkata seperti itu ketika Ibu masih berusia dua belas tahun," tutur Ryanthi.


"Apakah nenek memperlakukan Ibu dengan kejam?" celetuk Arumi.


Ryanthi mendelik tajam mendengar celetukan putri bungsunya itu. Ia pun kembali menerawang kedepan pada warna gelap yang terlihat semakin pekat.


"Nenekmu seperti angin. Terkadang ia begitu lembut dengan buaiannya. Namun sebenarnya ia jauh lebih kuat dari sebuah badai yang dapat menghancurkan satu kota," kenang Ryanthi.


"Seperti Ibu?" timpal Arumi.


"Sepertimu juga, Nak!"


Arumi semakin erat memeluk sang ibu dari dari belakang. Ia sangat tahu seberapa kuat wanita itu. Ia juga pernah mendengar cerita dari sang ayah, tentang betapa gigih dan kerasnya seorang Ryanthi. Hal itulah yang telah membuat hati pria seperti ayahnya langsung terpikat.


Arumi tersenyum manis. Ia pasti dan harus bisa menjadi seperti ibunya yang kuat dan tidak mudah putus asa.


Esok akan menjadi babak baru dalam hidupnya. Ketika ia memulai semuanya, disini ... dari rumahnya, bersama dengan sebuah harapan yang besar.


Arumi selalu bermimpi jika suatu saat nanti ia dapat menjadi seperti sang ibu. Menjadi wanita yang mandiri dengan pendiriannya yang begitu teguh.


Ia sudah belajar untuk bersahabat dengan angin, dengan langit senja, dan juga selimut malam yang pekat. Namun, ia belum menyapa sebuah batu karang di lautan dengan ombak yang besar.


Akan sekuat apa Arumi dalam menghadang ombak besar kehidupannya nanti? Hanya ia yang tahu akan kekuatannya sendiri.

__ADS_1


Biarkan angin membawanya terbang dan menari. Namun ia tetap akan kembali pada rumput hijau dan padang ilalang.


__ADS_2