Ryanthi : Manisnya Kue, Pahitnya Kenyataan

Ryanthi : Manisnya Kue, Pahitnya Kenyataan
Pemberontak yang Manis


__ADS_3

Arumi segera menghampiri pria yang melambaikan tangan kepadanya. Ia pun kemudian duduk di hadapan pria itu.


Edgar, sore ini terlihat sangat bersemangat. Ia terus melayangkan senyuman manisnya kepada Arumi.


"Hai, Beib. Seperti biasa, you look so beautiful ...." puji pria berambut ikal tersebut. Tampak pula binar indah pada sepasang bola matanya.


"Terima kasih, tapi aku kemari bukan untuk mendengar pujianmu," ucap Arumi dengan dingin. Ia tidak ingin terpengaruh oleh sikap manis yang ditujukan Edgar kepadanya.


"Tidak masalah. Because i adore you, Beib," ucap Edgar dengan tatapan lembutnya. Ia mencoba untuk memegang tangan Arumi, yang gadis itu letakan di atas meja.


Dengan segera Arumi menarik tangannya. Ia lalu meletakan mereka di atas pangkuannya.


Jika saja wanita yang ada di hadapan Edgar bukanlah Arumi, maka sudah pasti sejak awal ia akan langsung menghambur ke dalam pelukan pria bermata abu-abu dengan senyuman kalemnya.


Wanita mana yang akan sanggup untuk bertahan dari rayuan manis yang selalu dituturkan oleh pria tampan itu? Jawabannya tidak ada.


Itu terbukti dari betapa mudahnya Edgar dalam menaklukan setiap wanita yang ia inginkan, termasuk Arumi sendiri.


Harus Arumi akui jika Edgar memang seorang pria yang sangat mempesona. Akan tetapi, kini Arumi justru terlihat dingin dan tidak tertarik sama sekali dengan kata-kata manis dari si mata abu-abu itu.


Sebenarnya ada kebimbangan yang cukup besar di dalam hati Arumi. Diakuinya, jika masih ada sedikit kekaguman kepada pria blasteran Perancis itu. Bagaimanapun juga, Edgar adalah satu-satunya pria Perancis yang telah berhasil menaklukan hatinya.


Pesona seorang Edgar memang begitu kuat di mata wanita manapun. Mungkin karena itu juga, Edgar selalu dikelilingi oleh wanita-wanita cantik dan seksi.


"Aku sudah memesankan minuman kesukaanmu," ucap Edgar masih dengan senyum manisnya. Ia menatap Arumi ketika seorang pelayan di coffee shop itu menyuguhkan minuman yang katanya merupakan minuman kesukaan Arumi.


Arumi terlihat membetulkan posisi duduknya menjadi lebih tegak. Edgar memanglah seorang pria yang sangat romantis.


"Ed ...." sebut Arumi dengan cukup pelan. "Kapan kamu akan kembali ke Perancis?" tanyanya.


Edgar menatap lekat gadis cantik di hadapannya itu. Ada rona kecewa pada sepasang mata abu-abunya. Ia merasa sedih karena Arumi terus-menerus menyuruhnya untuk kembali ke negara asalnya.


"Kenapa kamu sangat ingin agar aku segera kembali?" tanya Edgar. Raut mukanya terlihat penuh dengan rasa sesal, atas pertanyaan dari gadis yang sangat ia cintai.


"Kenapa Arum? Aku sudah berubah, tidak pecayakah kamu padaku?" tanya Edgar. Tatap matanya mencoba untuk meyakinkan Arumi. Ia berusaha untuk membuat gadis dengan lesung pipi itu kembali mempercayainya.


"Ini bukan masalah percaya atau tidak percaya. Aku sudah tidak peduli lagi dengan hal itu. Aku sudah menganggap hubungan kita selesai pada hari aku mengatakan "selesai". Aku harap itu sudah cukup jelas bagimu!" tegas Arumi. Ia menatap tajam pria berambut ikal itu.


"No, Beib! Maybe it's over for you, but not for me!" pungkas Edgar dengan tegas.


"Bagiku, you are still my girlfriend. I don't care dengan apapun yang ada di dalam fikiranmu tentang hubungan kita!" debatnya dengan tegas.


Arumi menghempaskan napasnya dengan kesal. Entah harus dengan kata apalagi untuk menjelaskan kepada pria bermata abu-abu itu, jika baginya mereka sudah tidak ada hubungan saat ini.


"Hentikan, Ed!" sergah Arumi. "Aku sudah tidak mencintaimu lagi. Everything is over!" tandas Arumi.

__ADS_1


"No!" tegas Edgar. Wajahnya kian serius. Ia menatap tajam kepada Arumi yang tampak tidak gentar dengan tatapan tajam pria bermata abu-abu itu.


"Semuanya sudah selesai!" tandas Arumi seraya berdiri. Ia pun bermaksud untuk pergi dari sana.


Dengan segera, Edgar mencegahnya. Ia berdiri dan memegangi pergelangan tangan gadis itu.


Untungnya karena suasana disana sedang tidak ramai, jadi perselisihan diantara mereka tidak terlalu mengundang perhatian banyak orang.


"Ayo!" Edgar menuntun Arumi untuk keluar dari dalam coffee shop itu. Ia tidak mengendorkan pegangannya dari tangan gadis itu walau sedikit saja.


"Lepaskan tanganku, Ed!" pekik Arumi pelan. "Sakit!" Arumi mencoba melepaskan pegangan tangan Edgar darinya.


Edgar pun tertegun. Ia melepaskan genggaman tangannya dan menatap Arumi dengan lekat.


"Listen to me, Beib!" pinta Edgar. "Aku tahu jika selama ini aku sudah melakukan kesalahan yang besar. Aku sudah sangat mengecewakanmu. But, please ... berikan aku kesempatan kedua!" mohon Edgar dengan sungguh-sungguh.


Arumi tidak menjawab. Ia hanya memalingkan wajahnya, seraya melipat kedua tangannya di dada.


"Terlalu banyak rambut pirang dengan lingerie dalam hidupmu. Aku muak dengan itu semua," gerundel Arumi tanpa menoleh sama sekali kepada Edgar.


Edgar pun tidak menjawab. Ia tidak ingin berdebat di tempat umum seperti itu. Akhirnya, pria itu pun menyetop sebuah taksi. Ia lalu memaksa Arumi untuk masuk.


"Mau kemana kita?" tanya Arumi dengan wajah yang mulai cemas.


"Kita akan berbicara. Berbincang dengan lebih tenang, dan yang pasti bukan di tempat umum seperti tadi," jawab Edgar dengan nada yang sedikit tegas.


Arumi terdiam dan memperhatikan trotoar yang dilaluinya saat itu. Sesaat Arumi tersentak. Ia baru ingat jika sore ini, ia ada janji dengan Moedya. Arumi pun melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.


"Berhenti! Hentikan mobilnya!" seru Arumi dengan tiba-tiba.


Seketika sopir taksi itu pun menghentikan laju mobil yang ia kendarai. Ia lalu menoleh ke belakang. "Disini, Mbak?" tanyanya.


Arumi mengangguk dengan yakin. Ia lalu melirik kearah Edgar yang tampak kebingungan. "Kita belum tiba di tempat tujuan, Beib!" bantahnya.


"Kita bicara lagi lain kali saja! Hari ini aku masih ada urusan yang jauh lebih penting!" pungkas Arumi. Ia pun segera turun dari taksi itu dan menutup pintunya dengan kencang.


Edgar tidak dapat berbuat apa-apa selain menggerutu. "****!" ia begitu kesal karena tingkah Arumi padanya. Ia pun hanya dapat mengusap-usap keningnya yang terasa mulai berputar.


Arumi sungguh gadis yang sulit untuk ia kendalikan. Gadis itu memang seorang pembangkang. Tak jarang, mereka berdebat sengit karena sesuatu yang bahkan terbilang cukup sepele.


Arumi bukan tipe gadis yang mudah menerima segala sesuatu dengan begitu saja. Tak jarang Edgar menyebutnya sebagai seorang pemberontak yang manis.


Dengan langkah terburu-buru, Arumi memasuki toko kue Ryanthi. Ia pun segera menuju dapur dan membasuh mukanya di wastafel.


"Sayang?" sapa Ryanthi yang baru masuk ke dalam dapur itu. Ia terlihat heran dengan ulah Arumi.

__ADS_1


"Ibu," Arumi mengeringkan wajahnya dengan sapu tangan kecil yang ia ambil dari dalam tasnya.


"Apakah tadi ada seseorang yang mencariku kemari?" tanyanya.


"Tidak ada," jawab Ryanthi. "Memangnya kamu ada janji hari ini?" tanyanya lagi. "Bukannya kamu sudah menemui Edgar tadi?" Ryanthi memberondong Arumi dengan pertanyaannya.


"Um ... iya. Aku ... tadi aku sudah bertemu dengan Edgar ...." jawab Ryanthi dengan ekspresi wajah yang kurang nyaman.


"Oh, ya? Ibu sudah mengundangnya untuk makan malam besok di rumah kita," ucap Ryanthi dan membuat Arumi terbelalak dengan sempurna.


"Aku fikir Ibu sudah membatalkan niat Ibu untuk mengundangnya ke rumah. Kenapa, Bu?" Arumi tampak kecewa.


Ryanthi tersenyum lembut. Ia pun membelai wajah anak gadisnya dengan penuh perasaan.


"Jangan khawatir! Ibu sudah membicarakan hal ini dengan ayahmu, dan dia setuju. Lagipula, beberapa hari lagi ayahmu akan berangkat ke Marseille," jelas Ryanthi. Ia kemudian memeriksa catatannya.


"Ada apa, Bu? Kenapa tiba-tiba ayah harus pergi kesana?" tanya Arumi dengan rasa heran.


"Bibinya masuk rumah sakit. Mereka mengatakan jika beliau ingin sekali bertemu dengan ayahmu," jawab Ryanthi tanpa menoleh kepada Arumi yang kini berdiri di dekatnya, sambil menyandarkan sebagian tubuhnya pada tepian meja.


"Seharusnya kita semua kesana, tapi ...." Ryanthi tidak melanjutkan kata-katanya. Ia masih sibuk dengan catatan pesanannya. "Lihatlah daftar pesanan ini, Sayang!" Ryanthi menyodorkan buku kecil yang sejak tadi ia buka.


"Ya, aku tahu. Wanita tua itu sangat menyebalkan, bukan?" umpat Arumi dengan setengah berbisik. Ia pun melihat catatan dari sang ibu dan membacanya.


Seketika Ryanthi tertawa pelan. Ia lalu melirik anak gadisnya itu. "Ibu tidak pernah berani mengatakan hal itu. Tetapi, Ibu bangga padamu," selorohnya sambil mencubit hidung mancung Arumi.


Arumi tertawa renyah. "Aku akan mengatakannya di depan ayah," candanya. "Omong-omong, dalam seminggu ini jadwal kita akan sangat padat," ujarnya seraya menatap Ryanthi.


Ryanthi balas menatapnya dengan mata yang terbelalak. "Luar biasa, bukan?" ucapnya.


"Apakah menurut Ibu, ayah akan marah jika aku mengatakan hal itu?" tanya Arumi dengan polosnya.


"Ibu rasa dia pasti akan ... setuju denganmu," jawab Ryanthi dengan diselingi tawa lepasnya.


Arumi tertawa pelan. Sesaat kemudian ia mengakhiri tawanya dan berkata, "Bu, kenapa Ibu masih harus turun tangan dalam mengurusi semua pesanan ini? Ibu adalah bosnya disini."


Ryanthi tersenyum lembut. Ia kembali menatap sang putri tercinta. "Karena Ibu mencintai pekerjaan ini. Ibu hanya ingin terus melakukan apa yang Ibu sukai dan cintai. Dapur ini, adalah tempat dimana Ibu mendapatkan rasa puas atas pengorbanan tiga tahun Ibu, yang harus berjauhan dengan orang-orang yang Ibu sayangi," tutur Ryanthi.


"Ibu yakin jika tidak lama lagi, kamu pun akan merasakan hal yang sama. Namun, itu juga jika kamu benar-benar mencintai apa yang telah menjadi pilihanmu," terang Ryanthi.


"Bagaimana jika kita pernah mencintai sesuatu, tetapi tiba-tiba rasa cinta itu hilang?" tanya Arumi.


Ryanthi menatap gadis itu dengan lekat. Tersungging sebuah senyuman di sudut bibir merahnya.


"Jangan khawatir! Ibu juga pernah mengalami hal seperti itu. Yakinkan saja dirimu, untuk dapat menentukan apa yang paling membuatmu merasa sangat jatuh cinta," tutur Ryanthi lagi. Kata-katanya terdengar begitu dalam.

__ADS_1


Belum sempat Arumi menanggapi ucapan sang ibu, ia telah terlebih dahulu mendengar ponselnya berdering. Dengan segera Arumi pun meraih benda tipis itu dari dalam tas kecilnya.


Seketika gadis itu pun tersenyum lebar. Sebuah panggilan masuk dari orang yang ia tunggu sejak tadi, yaitu Moedya.


__ADS_2