
Adrian terus memperhatikan gadis yang dari tadi sibuk menyobek lembaran tisu di hadapannya. Tisu yang tadinya terisi penuh, kini hanya menyisakan beberapa lembar. Entah disadari atau tidak, ketika Ryanthi melakukan hal itu. Namun, Adrian tahu jika gadis cantik tersebut sedang tidak baik-baik saja.
Beberapa saat berlalu, Ryanthi masih asyik dengan apa yang dilakukannya. Dia seperti tidak menyadari, bahwa di sana ada seorang pria yang sejak tadi memperhatikan dirinya sembari meneguk kopi. Ryanthi baru berhenti, ketika tisu di dalam kotak benar-benar habis. Dia tertegun, kemudian menatap Adrian.
"Tidak apa-apa. Nanti aku minta pelayan bawakan yang lebih banyak, sampai kamu puas," ucap Adrian tenang, sebelum kembali meneguk kopinya.
Ryanthi terdiam. Seketika, dia membelakakan mata, saat melihat tumpukan tisu sudah memenuhi sebagian meja. Sebagian bahkan ada yang jatuh tercecer di lantai dekat kakinya. Ryanthi kembali menoleh kepada Adrian yang masih tampak tenang.
"Biar pelayan yang membereskannya," ucap Adrian santai.
Ryanthi tidak menuruti perkataan Adrian. Dia segera turun ke bawah meja, untuk memunguti semua tisu yang ada di lantai. Hal itu mengundang perhatian orang-orang yang berada di meja sebelah mereka.
Menyadari bahwa gadis itu menjadi pusat perhatian, Adrian segera menyuruh Ryanthi agar kembali duduk. Dia sedikit menarik lengan gadis tersebut.
Ryanthi paham akan maksud Adrian. Dia bermaksud untuk kembali duduk. Nahas, kepalanya malah terbentur ujung meja dengan cukup keras.
Adrian menepuk keningnya. Dia menggeleng berkali-kali, melihat tingkah konyol Ryanthi. Gadis itu sibuk mengusap-usap kepalanya yang terasa sakit.
Sesaat kemudian, Adrian mengangkat tangan. Dia memanggil salah seorang pelayan untuk membersihkan semua sobekan tisu tadi.
"Tolong rapikan dan ambilkan yang baru," pintanya
Pelayan itu mengangguk sopan, sambil berlalu ke bagian belakang, setelah sebelumnya membereskan meja terlebih dahulu.
Adrian melihat cangkir kopi yang sudah kosong. Pria itu menghela napas panjang, seraya melihat ke sekeliling tempat itu. Namun, perhatiannya kembali tertuju kepada Ryanthi. "Sudah puas?" tanyanya membuka percakapan.
Ryanthi mendongak sambil menyibakkan rambut yang menutupi sebagian wajah, lalu merapikannya. Dia melihat kotak tisu yang sudah diisi kembali.
Adrian seakan mengerti. Dia menggeser kotak tisu tadi ke hadapan Ryanthi. Gadis itu menoleh lalu menjauhkan kotak tisu tersebut. "Cukup. Aku sudah puas," ucap Ryanthi yang kali ini terlihat lebih tenang.
"Sudah kukatakan bahwa sebaiknya kita berenang saja di tempatku," ucap Adrian.
"Sudah cukup lama kita di sini. Dari tadi, aku merasa seperti sedang berada di ruang rapat," lanjut Adrian dengan wajah kecewa.
"Sudah kukatakan, bahwa hari ini aku sedang tidak ingin bicara dengan siapa pun," balas Ryanthi. "Aku sedang kacau," ujar gadis itu teramat pelan, sehingga hampir tak terdengar olah Adrian, karena dia tidak merespon. Adrian sibuk dengan pesan di ponselnya.
__ADS_1
"Bagaimana tiba-tiba kita bisa bertemu tadi?"
Adrian mengalihkan pandangan dari layar ponsel dan menoleh sebentar kepada Ryanthi. Setelah itu, dia kembali pada layar ponselnya. "Siapa yang dapat menebak hal yang akan terjadi. Aku juga tidak tahu bagaimana bisa tiba-tiba bertemu denganmu," jawabnya.
"Luar biasa. Kamu bahkan mengetahui jika aku sedang merasa kacau," ujar Ryanthi.
Adrian meletakkan ponselnya di meja. Dia kembali memperhatikan Ryanthi. Ada rasa tak nyaman dalam hatinya. Dia pikir, mereka akan berbincang hangat dan akrab. "Aku pernah merasakan di mana hariku benar-benar kacau, dan semua yang ada di sekelilingku tampak sangat menyebalkan. Aku juga tidak bertemu dengan mamaku selama beberapa waktu, karena dia pasti akan bertanya tentang macam-macam."
"Namun, makin lama aku semakin berpikir, bahwa yang kulakukan itu salah. Aku mencoba kembali untuk menikmati hobi. Bertemu orang-orang dan berbicara dengan mereka. Akhirnya, semua perasaan menyesakkan yang ada di dalam dada seperti hilang dan mengalir begitu saja."
Adrian terdiam sejenak. Tidak lama kemudian, dia melanjutkan kata-katanya.
"Kita tidak harus menceritakan apa yang terjadi kepada setiap orang. Namun, menutup diri hanya akan membuatmu merasa semakin terasing. Rasa sepi akan semakin mengingatkan tentang betapa menyedihkannya hidup kita."
Ryanthi menatap pria itu. Baru kali ini dia berani melakukannya dalam waktu yang cukup lama.
"Seberapa menyakitkan?" Pertanyaan Adrian membuat Ryanthi tersadar dari lamunan.
"Apanya?" Gadis itu bertanya balik.
"Perasaanmu," jawab Adrian datar.
"Lalu? Aku tidak yakin jika hanya masalah itu yang membuatmu menghabiskan sekotak tisu," pancing Adrian. Membuat Ryanthi kembali menatapnya.
"Aku tidak yakin bisa mengatakan ini padamu. Namun, makin lama ku pendam sendiri, rasanya dada ini semakin sesak dan membuatku seperti tecekik. Aku tidak bisa mengatakannya pada siapa pun di rumah."
Adrian masih setia mendengarkan semua cerita Ryanthi. "Aku bisa jadi pendengar yang baik."
"Aku baru mengenalmu beberapa hari yang lalu." Ryanthi masih merasa ragu.
Adrian tersenyum renyah. Dia lalu membetulkan posisi duduknya menjadi lebih tegak. "Bukankah kamu yang mengatakan, bahwa tidak bisa bercerita kepada siapa pun di rumah? Jadi, kenapa tidak bercerita saja kepada orang asing ini?"
"Berapa lama kamu bisa melupakan mantan kekasihmu?" tanya Ryanthi setelah terdiam beberapa saat.
"Tergantung."
__ADS_1
"Tergantung apa?" tanya Ryanthi tidak mengerti.
"Tergantung seberapa besar perasaanmu padanya. Jika yang kamu rasakan itu biasa saja, tak akan sulit melupakannya. Namun, jika dia adalah seseorang yang benar-benar kamu anggap sebagai belahan jiwa, mungkin akan terasa lebih sulit dan terkadang butuh waktu yang lama untuk dapat benar-benar melupakannya," jelas Adrian.
"Ayolah Ryanthi. Kenapa kamu harus berpura-pura bodoh dengan hal seperti itu? Aku rasa, kamu bisa merasakannya sendiri dari setiap pengalamanmu."
"Lalu, apa yang kamu rasakan, ketika mantan kekasihmu akan menikah dengan orang lain? Maksudku, dia akan menikah." Kata-kata yang diucapkan Ryanthi benar-benar kacau. Entah Adrian paham atau tidak.
"Hampir semua mantan kekasihku sudah menikah. Aku tidak ada masalah dengan hal itu. Aku juga sudah beberapa kali menghadiri pernikahan mereka. Doakan saja yang terbaik. Ketika dia lebih memilih orang lain daripada dirimu, mungkin karena Tuhan tengah menyiapkan seseorang yang lebih tepat untukmu," terang Adrian serius.
Ryanthi terdiam beberapa saat, sebelum kembali berbicara. "Tidak lama lagi, pria itu akan menikahi saudari tiriku," ucap Ryanthi pelan seraya menunduk. "Aku sudah menolak perasaan ini terhadapnya. Aku mengatakan kepada semua orang, bahwa diriku telah membuang pria itu jauh-jauh. Akan tetapi, kenyatannya itu hanyalah suatu kebohongan besar yang sudah kulakukan. Saat ini, aku hanya ingin pergi. Sejujurnya bahwa aku tidak ingin melihat mereka berdua. Namun, entah mengapa karena aku tidak bisa melakukannya." Kata-kata Ryanthi terdengar begitu lirih.
"Kisah cinta klasik rupanya," ucap Adrian tenang. Membuat Ryanthi seketika menatap Adrian. Dia tidak tidak terlalu memahami makna dari ucapan pria itu.
"Maksudmu?" .
Adrian menyunggingkan senyuman kecil di bibirnya. "Aku tidak bermaksud menyepelekan rasa sakitmu. Namun, di belahan dunia ini ada banyak sekali orang yang mengalami hal yang sama sepertimu. Kamu bukanlah orang pertama dan satu-satunya yang mengalami hal seperti itu. Ketika orang yang kita cintai, ternyata memilih orang terdekat kita. Sahabat, saudara, atau siapa pun itu," jelasnya.
"Apa kamu juga pernah berada dalam posisi sepertiku?" tanya Ryanthi penasaran.
Adrian menggeleng. Raut wajahnya masih tampak serius. "Aku tidak menyukai kisah cinta yang rumit, dan akan pernah membiarkan diriku terpenjara dalam situasi seperti itu. Jika cinta merupakan hal yang selalu dicari banyak orang karena dapat memberikan kebahagiaan, lalu kenapa kita harus merasa tersiksa karenanya? Aku tidak akan bersedia mempersulit hidup hanya karena urusan sepele. Masih banyak hal yang jauh lebih penting. Untuk apa membuang waktu meratapi sesuatu yang tidak berguna?"
"Mungkin karena kamu seorang pria. Perasaanmu berbeda denganku," bantah Ryanthi.
Adrian terdiam. Matanya menatap intens pada wajah Ryanthi yang telah menarik perhatiannya, dan selalu dia bayangkan hampir setiap saat. "Aku tahu bagaimana rasanya kehilangan seseorang yang dicintai. Aku juga pernah merasa sangat terpuruk. Namun, akhirnya ada sesuatu yang berhasil menyadarkan pemikiran kacau itu," ucap Adrian.
"Lihatlah dirimu di cermin. Kamu memiliki dua kaki yang kuat, yang masih sanggup untuk menopang tubuh. Dirimu tetap dapat berdiri dengan tegak, meski tanpa adanya tangan kekasih yang telah meninggalkanmu. Akan selalu ada kekuatan tersembunyi dalam diri setiap orang, bahkan untuk orang yang terlihat sangat lemah sekalipun. Aku yakin bahwa kamu bukanlah termasuk gadis yang lemah."
Nada bicara Adrian terdengar semakin pelan, tapi tatapan matanya kiam tajam dirasakan oleh Ryanthi. Pria itu seperti sedang mengalirkan energi positif serta kekuatan terbesar dalam dirinya untuk gadis itu.
Sementara, Ryanthi tak mampu menghindar. Dia tak kuasa memalingkan wajahnya walau hanya sekejap. "Bagaimana kamu bisa mengetahuinya?" tanya Ryanthi pelan, dengan hanya gerakan kecil di bibir.
"Karena aku melihatmu setiap saat," jawab Adrian tanpa melepaskan tatapannya yang dalam, hingga terasa menusuk sampai ke jantung Ryanthi.
Entah angin dari mana yang berembus dengan tiba-tiba, dan membuat tubuh Ryanthi seperti bergetar. Kakinya mulai kesemutan dan menjalar sampai ke betis. Dia juga merasakan seperti ada ribuan kupu-kupu yang menggelitik hati, serta membuatnya tidak nyaman.
__ADS_1
Ryanthi menelan ludah beberapa kali, demi membasahi tenggorokan yang terasa sangat kering, sehingga membuat dia tidak dapat bersuara. Ryanthi menyesal telah berani melawan tatapan mata itu, hingga akhirnya dia merasakan dirinya seperti sedang duduk di dalam sebuah sampan kecil di tengah lautan.Terombang-ambing. Hatinya tak karuan.
Saat itu, Ryanthi hanya ingin pulang dan melarikan diri dari sana. Dia merasa harus bersembunyi dari perasaan aneh yang menyelimutinya. Menyembunyikan diri dari tatapan Adrian yang terasa begitu menakutkan, dan seakan membunuh segala keteguhan dalam diri seorang Ryanthi.