Ryanthi : Manisnya Kue, Pahitnya Kenyataan

Ryanthi : Manisnya Kue, Pahitnya Kenyataan
● TIGA PULUH TUJUH : Di Penghujung Malam


__ADS_3

Beberapa saat kemudian, Adrian menyeka air mata yang menetes di pipi Ryanthi. "Sudah cukup. Aku tidak ingin melihatmu menangis lagi," ucapnya. "Boleh aku bertanya sesuatu?"


"Apa?"


"Kenapa kamu berada di jalanan dalam kondisi hujan lebat malam itu?"


Ryanthi tak segera menjawab. Sebenarnya, dia tidak ingin mengungkit lagi kejadian menyebalkan itu.


"Baiklah. Tak apa jika kamu tidak ingin memberitahuku." Adrian tersenyum kalem. Dia mengarahkan pandangan ke depan, pada langit yang kini sudah mulai teduh. Tak lama lagi, senja akan turun.


"Aku harap, kamu tidak mengatakan apapun tentang malam itu kepada ayahku," ucap Ryanthi setelah mereka sama-sama terdiam selama beberapa saat.


Adrian memasukkan tangan kanan ke saku celana. Sedangkan, tangan kirinya meraih serta genggaman tangan Ryanthi. "Tenang saja. Mulutku terkunci rapat untuk hal itu," ucapnya. Dia menatap Ryanthi yang hanya sebatas pundaknya. "Kamu sangat cantik meskipun dalam keadaan tidur," bisik pria itu nakal.


"Kamu ...." Ryanthi mendelik tajam.


Adrian hanya tertawa. "Selesai mengganti pakaianmu yang basah, aku sempat memperhatikan beberapa saat ... tapi, jangan khawatir. Aku tidak melakukan apapun. Aku lebih suka menciummu dalam keadaan seperti ini, ketika kamu berdiri di hadapanku." Adrian menghadapkan Ryanthi padanya. Dia membelai lembut pipi gadis itu.


"Apa kamu sudah mulai memikirkanku?" tanya Adrian pelan. Sikapnya teramat lembut dalam memperlakukan Ryanthi.


"Kenapa kamu ingin sekali ada di pikiranku?" Ryanthi tersenyum geli.


"Karena ...." Adrian sudah mendekatkan wajahnya. Namun, dering panggilan menghentikan pria itu. "Mengganggu," keluhnya diiringi decakan pelan.


"Sebentar. Aku harus menjawab panggilan ini dulu," ucap Adrian. Dia berjalan sedikit menjauh dari Ryanthi.


Ryanthi terus memperhatikan Adrian yang sedang bicara di telepon. Beberapa saat kemudian, pria itu menyudahi perbincangannya. Dia kembali ke dekat Ryanthi. "Apa ada masalah?" tanya gadis itu.


"Hanya masalah pekerjaan," jawab Adrian. Dia menuntun Ryanthi menuju mobil. "Sudah terlalu sore. Sebaiknya kita pulang," ajaknya.


......................


Ryanthi bergegas keluar dari walk in closet, saat mendengar suara ketuka kencang di pintu kamarnya. Dia membuka dengan terburu-buru. Di depan kamar, tampak Vera berdiri sambil memasang raut tidak bersahabat.


"Ver? Ada apa?" tanya Ryanthi heran.

__ADS_1


Vera tidak menjawab. Dia menerobos masuk ke kamar Ryanthi, lalu duduk di ujung tempat tidur. Tiba-tiba, istri Arshan tersebut menangis sambil memukuli perutnya. "Aku tidak ingin bayi ini! Biar saja dia tidak pernah lahir ke dunia!"


"Ya, Tuhan! Apa yang kamu katakan? Jangan bicara sembarangan!" sergah Ryanthi. Dia duduk di sebelah Vera yang masih terisak. "Sekarang, katakan ada apa?" tanya Ryanthi. Namun, Vera tak juga menjawab.


Ryanthi mengembuskan napas pelan. "Bagaimana aku bisa tahu masalahmu apa, jika kamu tidak bersedia mengatakannya?" bujuk gadis itu.


Perlahan, Vera menghentikan isakannya. Dia menghapus sisa-sisa air mata menggunakan ujung jari. "Aku merasa tidak berharga. Terlebih, di hadapan Arshan. Dia menghinaku. Dia mengatakan bahwa pernikahan kami adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya. Padahal, aku sudah benar-benar jatuh cinta dan ingin memiliki dia. Namun, Arshan tidak merasakan hal yang sama terhadapku."


"Dulu, dia menyukai bahkan kerap memuji kecantikanku. Namun, kenyataannya dia masih mengharapkanmu, Ryanthi." Vera kembali menangis.


"Hubungan kami sudah berakhir. Aku tidak akan pernah berusaha untuk mengusik kalian. Apalagi berniat merebutnya darimu," jelas Ryanthi.


Vera menggeleng. Dia tidak yakin dengan ucapan Ryanthi. "Aku melihat banyak sekali fotomu. Hampir di setiap sudut kamarnya. Seolah-seolah, kamar itu hanya dipenuhi olehmu. Ada wajah Ryanthi di mana-mana. Aku tidak bisa tidur nyenyak," terang Vera dengan perasaan campur aduk.


"Aku tidak tahu tentang itu, karena belum pernah masuk ke kamar Arshan sekalipun. Lagi pula, kamu bisa menyingkirkan semua foto-fotoku dari kamarnya," ujar Ryanthi.


"Justru karena itulah Arshan marah dan menghinaku habis-habisan. Dia tidak mau membuangmu dari hidupnya."


Ryanthi terdiam. Dia menarik napas panjang, lalu mengembuskan perlahan. Ryanthi menatap saudari tirinya. Sebagai sesama wanita, dia pun akan merasakan hal yang sama dan pasti tersakiti seandainya berada di posisi Vera.


Vera menatap Ryanthi. Sesaat kemudian dia segera memeluk gadis itu. "Aku beruntung memiliki saudari sepertimu," ucapnya lirih. Ryanthi membalas pelukan Vera, meskipun dalam hati ia merasa tidak beruntung memiliki saudari seperti Vera.


Sementara itu, Adrian termenung di kamar tempatnya bermain. Hari itu, dia tidak ingin bermain Play Station atau apapun. Suasana hatinya sedang kacau. Dia tidak bisa berkonsentrasi dengan baik.


Adrian sama sekali tidak habis pikir, karena tiba-tiba Fiona hadir kembali dalam kehidupannya setelah menghilang selama hampir dua tahun. Adrian merasa heran, kenapa wanita itu kembali setelah dirinya mengenal Ryanthi.


Sesaat kemudian, Adrian meraih ponselnya. Tidak ada pesan atau panggilan dari siapa pun, termasuk Ryanthi. "Hhh! Gadis itu!" gerutunya pelan. Selalu saja dirinya yang harus menghubungi terlebih dulu. "Kenapa kamu senang sekali dikejar, Ryanthi?" gumam Adrian sebelum panggilannya tersembung.


"Hallo," sapa Ryanthi dengan suara parau. Sepertinya, dia sudah tidur. Pantas saja, karena saat itu waktu telah menunjukkan pukul satu lewat beberapa menit.


"Adrian?" Terdengar lagi suara Ryanthi yang begitu lembut dan selalu membuat Adrian rindu. Sehari saja tak mendengarnya, Adrian akan seperti anak ayam kehilangan induk.


Adrian mengembuskan napas pelan, lalu merebahkan tubuh di sofa bed. "Hai," sapa pria itu pelan. "Aku tidak bisa tidur," lanjutnya.


Ryanthi berusaha bangun, lalu duduk dan bersandar pada kepala tempat tidur. Dia menarik selimutbsampai menutupi leher, karena malam itu terasa lebih dingin dari biasanya. "Kenapa?" tanya Ryanthi pelan. Gadis itu takut jika suaranya terlalu keras dan terdengat oleh tetangga sebelah kamar, berhubung di sana suasananya sudah begitu sepi.

__ADS_1


Adrian mengembuskan napas berat, seakan ada beban yang teramat besar di pundaknya. "Aku merindukanmu," jawab Adrian.


Ucapan pria tampan itu, seketika membuat Ryanthi tersipu. Untungnya suasana temaram dari lampu tidur di dalam kamar, berhasil menyembunyikan rona merah di pipi gadis itu.


"Kita baru bertemu tadi sore," ucap Ryanthi pelan. Sesekali, putri Surya tersebut menyunggingkan senyuman kecil. Ryanthi patut merasa tersanjung, atas segala sikap dan perlakuan Adrian terhadapnya.


"Rasanya aku ingin bertemu denganmu setiap saat," rayu Adrian lagi, sehingga membuat gadis itu semakin melambung. "Datanglah besok ke tempatku, aku masih punya utang kue padamu," suruh Adrian.


"Kenapa kamu suka sekali memerintah orang lain?" keluh Ryanthi.


"Karena memang itulah pekerjaanku," jawab Adrian dengan begitu enteng.


"Iya, tuan tampan," sahut Ryanthi diiringi tawa renyah dengan suaranya yang terdengar parau.


Adrian tertawa puas. Dia mungkin sangat bangga, ketika Ryanthi menyebutnya seperti itu. "Apakah menurutmu aku ini tampan? Sangat tampan, amat sangat tampan, atau terlalu tampan?" Adrian mengakhiri ocehan tidak pentingnya dengan tawa nyaring.


Ryanthi tertawa mendengar pertanyaan itu. Namun, sesaat kemudian gadis itu segera tersadar dan menutup mulutnya. "Astaga, kamu ini," ujar Ryanthi gemas.


"Jika kamu belum punya jawaban yang pasti, anggap saja itu sebagai PR untuk besok," lanjut Adrian.


Ryanthi tersenyum. Dia tidak menyangka akan merasakan lagi hal seperti saat ini. Biasanya, Arshan yang menemaninya 'bergentayangan' di tengah malam. Namun, sekarang justru dia yang menemani Adrian 'bergentayangan'.


Detik demi detik, terus berlalu. Kedua sejoli tadi masih asyik dengan pembahasan yang tidak ada habisnya. Jam besar di ruang tamu, sudah berdentang sebanyak tiga kali. Itu artinya mereka sudah berbicata di telepon selama hampir dua jam.


Ponsel Ryanthi pun sudah terasa panas. Baterainya mulai merah dan menunjukan angka empat persen. "Adrian. Baterai ponselku akan segera habis," ucap Ryanthi di akhir pembicaraan mereka.


"Biarkan saja sampai mati," jawab Adrian.


"Jangan marah jika aku tiba-tiba menghilang," ucap Ryanthi polos.


Adrian menggumam pelan. Pria itu terdiam beberapa saat, sebelum menanggapi ucapan Ryanthi. "Jika kamu sampai menghilang, aku bukan hanya akan marah. Namun, pasti lebih dari itu. Aku akan menggila dan berubah jadi monster yang sangat menakutkan. Karena itulah, jangan pernah berpikir untuk pergi apalagi sampai menghilang."


Ryanthi terdiam sesaat. Dia teringat pada rencana tentang pendidikannya yang akan dilanjutkan di Perancis. Gadis itu menggeleng pelan, lalu tersenyum.


"Kamu sangat menakutkan, Adrian. Kalau begitu, aku akan menjauhimu dari sekarang."

__ADS_1


__ADS_2