
Siang telah beranjak meninggalkan hari yang panas dengan banyak cerita bagi Arumi. Senja pun kian merayap menyapa sang malam yang sebentar lagi akan segera turun.
Arumi, masih asik berkutat dengan benda berbentuk persegi yang ada di hadapannya.
Begitu juga dengan Ryanthi dan dua orang karyawan yang membantunya saat itu. Ia terlihat begitu cekatan mengerjakan semuanya.
Usianya yang terbilang sudah tidak muda lagi, tak menjadi penghalang bagi Ryanthi untuk tetap menjalani aktivitasnya. Ia mencintai pekerjaannya saat ini.
Pesanan tujuh ratus lima puluh snack box dikerjakan oleh tiga orang, itu sungguh luar biasa. Sesekali, Arumi pun menyempatkan diri untuk membantu sang ibu.
Untung saja karena Moedya memilih tart dengan model yang sangat sederhana, sehingga tidak terlalu memakan waktu dalam pengerjaannya.
"Bagaimana tart mu, Sayang?" tanya Ryanthi seraya terus mengebut pekerjaannya. Pesanan itu harus sudah siap untuk besok jam sepuluh pagi.
"Tinggal sedikit, Bu. Aku rasa aku masih bisa ikut bergabung dalam kesibukan Ibu," jawab Arumi dengan senyumnya.
Sementara itu, ponsel milik Ryanthi terus saja berdering. Adrian mencoba menghubunginya sejak tadi. Namun tidak sempat dijawab oleh Ryanthi.
"Sayang, tolong angkat dulu teleponnya!" suruh Ryanthi. "Di dalam tas Ibu," lanjutnya.
"Oke!" jawab Arumi. Ia pun mengambil ponsel milik sang ibu dari dalam tas branded nya.
"Panggilan dari ayah, Bu," seru Arumi pelan. Sejujurnya ia tidak berani untuk menjawabnya.
"Angkat saja!" suruh Ryanthi. Tangannya masih sibuk memegang ini dan itu.
Arumi pun tidak punya pilihan lain selain menuruti perintah sang ibu. Ia kemudian menggeser icon hijau itu.
"Sayang ... kenapa belum pulang juga? Aku menunggu telepon darimu sejak tadi."
Terdengar suara Adrian yang begitu manis dan membuat Arumi tidak dapat menahan tawanya.
"Ini aku, ayah," jawab Arumi dengan tawa geli yang terus meluncur dari bibirnya.
Adrian yang saat itu tengah menelepon sambil asik bermain PS pun, seketika terkejut dibuatnya.
"Arumi? Mana ibumu? Jangan iseng kamu!" sergah Adrian. Ia berpura-pura kesal dan marah, padahal dalam hatinya ia merasa sangat malu.
Terdengar gelak tawa dari ujung telepon itu. Arumi masih menertawakan kekonyolan ayahnya sendiri.
"Ibu sedang sibuk. Sepertinya malam ini kami berdua akan lembur disini," jawab Arumi. Ia pun mengnentikan tawanya.
"Ada pesanan kah?" tanya Adrian.
"Ya, begitulah," jawab Arumi. "Sebenarnya aku juga sedang sibuk. Jadi, aku tidak bisa mengobrol lama-lama di telepon. Jika ayah butuh sesuatu datang saja kemari dan bawakan kami makanan! Kami sangat kelaparan. Bye," Arumi pun memutuskan sambungan teleponnya dan kembali meletakan ponsel sang ibu ke dalam tas itu.
Arumi kemudian berjalan menghampiri Ryanthi yang masih berkutat dalam kesibukannya. "Apa katanya, Sayang?" tanya Ryanthi tanpa menoleh kepada putri bungsunya itu.
"Ibu tenang saja. Ayah sudah kubereskan. Dia tidak akan mengganggu Ibu lagi," jawab Arumi dengan tenangnya.
__ADS_1
Ryanthi tertegun untuk sejenak. Ia pun tersenyum seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.
Tanpa terasa senja pun berlalu dan menghadirkan malam yang gelap. Secara tidak terduga, Adrian datang ke toko itu membawakan makanan untuk mereka. Ia memang pria yang begitu romantis meskipun tak jarang bersikap sangat menyebalkan.
"Inilah yang membuatku tidak bisa berhenti mencintaimu," ucap Ryanthi seraya menyentuh pipi sang suami dengan lembutnya.
Adrian tersenyum lebar dengan sikap manis Ryanthi padanya. "Aku sudah tidak muda lagi, Sayang," ucapnya pelan. Tatapannya lekat tertuju kepada sang istri.
"Aku tahu. Tetapi kamu masih menjadi yang paling tampan untukku ... setelah Keanu tentunya. Karena dia jauh lebih muda darimu," canda Ryanthi sehingga membuat Adrian segera merangkulnya dengan mesra.
"Tetapi ... kamu tetap wanita paling cantik nomor satu untukku," rayu Adrian dengan senyumnya yang tidak pernah berubah dari semenjak puluhan tahun yang lalu. "Jangan katakan hal ini kepada Arumi!" bisik Adrian diselingi tawa pelan.
Ryanthi ikut tertawa seraya menatap wajah tampan yang kini tidak muda lagi. Ia masih dan akan selalu mengagumi pria itu. Pria yang pantang menyerah untuk memperjuangkan cintanya.
"Aku sangat mencintaimu, Adrian," desah Ryanthi dengan bercampur rasa haru. Ia tidak pernah menyangka akan bisa sejauh ini, dengan pria yang dulu ia anggap sebagai seorang pengganggu.
"Aku tidak perlu menjawabnya, karena jawabanku tidak akan pernah berubah. Dari dulu hingga sekarang, akan selalu sama dan selalu seperti itu," balas Adrian. Ia menatap Ryanthi dengan penuh perasaan. Mereka berdua pun tertawa pelan.
"Ah ... maaf," Arumi segera membalikan badannya dan berniat untuk kembali.
"Sayang!" panggil Ryanthi.
Arumi tertegun. Ia pun menoleh. "Aku harus melanjutkan tart ku. Anggap saja aku tidak ada disini ... tidak terlihat," celoteh Arumi seraya berjalan masuk dan melintas di depan kedua orang tuanya.
Ryanthi tertawa pelan. Ia pun melepaskan dirinya dari dalam pelukan Adrian. "Tidak apa-apa, Sayang. Ayahmu akan pulang sebentar lagi," ucap Ryanthi seraya melirik Adrian.
"Silakan! Tetapi ... kami akan sangat sibuk malam ini," sahut Ryanthi.
"Tidak apa-apa," jawab Adrian. "Kamu sudah tahu bukan seberapa sabarnya aku?" lanjutnya.
Ryanthi tersenyum. Ia hanya menanggapi ucapan Adrian dengan kerlingan matanya. "Aku harus melanjutkan pekerjaanku dulu. Tidak apa-apa jika kutinggal?"
"Lanjutkan saja. Lagipula aku sudah terbiasa menemanimu disini. Jangan lupa minum vitaminmu, Sayang!" pesan Adrian.
Ryanthi tersenyum. Ia pun mengangguk.
Gerah. Itulah yang Arumi rasakan melihat kemesraan kedua orang tuanya. Akan tetapi, itu merupakan suatu pemandangan yang sangat indah. Sebuah motivasi untuk dirinya dalam menghadapi masa depannya nanti.
Malam terus merayap. Hingga hampir jam dua pagi, akhirnya pekerjaan Ryanthi pun selesai juga. Begitupun dengan kue tart pesanan Moedya. Arumi sudah menyelesaikannya dengan baik.
...🕊 🕊 🕊...
Pagi-pagi sekali Ryanthi sudah kembali ke toko, setelah semalam menyempatkan diri untuk pulang. Ia melihat Arumi masih terlelap di atas sofa bed yang ada di luar dapur. Sementara kedua karyawannya, tertidur di atas karpet sulfur yang memang sengaja disediakan disana.
Ryanthi tidak segera membangunkan mereka bertiga. Ia lebih dulu masuk ke dapur dan mengecek kembali pesanan untuk pagi ini. Setidaknya jikalau ada yang kurang, ia masih memiliki waktu untuk melengkapi kekurangan itu.
Suara alarm yang sangat mengganggu itu telah membuat Arumi membuka matanya dengan terpaksa. Ia pun bangkit dan terduduk.
Setelah merapikan rambutnya dengan jari, Arumi pun turun dari sofa bed itu dan melangkah menuju dapur.
__ADS_1
"Hai, Sayang. Selamat pagi," sapa Ryanthi.
"Aku fikir Ibu belum datang," balas Arumi sambil menguap beberapa kali.
"Sebaiknya kamu pulang, mandi, dan ganti baju!" saran Ryanthi. Ia telah selesai memeriksa pesanan snack box untuk hari ini.
"Luar biasa. Pekerjaan sebanyak itu hanya dikerjakan oleh sedikit orang saja," decak Arumi. Ia tidak menyangka karena semua pesanan telah selesai dikerjakan.
"Dengan kerja sama semua akan terasa menjadi lebih ringan, Sayang. Karena itu selalu jaga kekompakan dan hubungan baik. Semuanya pasti akan terasa sangat menyenangkan."
Arumi tersenyum lembut. Ia sangat setuju dengan ucapan sang ibu barusan.
"Boleh aku bertanya sesuatu, Bu?" tanya Arumi. Ia berdiri dengan menyandarkan sebagian tubuhnya pada tepian meja dan menghadap kepada Ryanthi.
"Ada apa? Kenapa harus meminta izin segala?" Ryanthi tersenyum manis kepada gadis bungsunya itu.
"Apakah Ibu pernah mencintai pria lain sebelum ayah?"
Pertanyaan yang sangat sulit untuk Ryanthi jawab. Ia tidak mungkin mengatakan jika dulu ia adalah kekasih Arshan yang kini menjadi suami Vera. Seseorang yang Arumi panggil dengan sebutan tante Ve dan om Ar.
"Pernah. Tetapi, Ibu rasa tidak sebesar seperti terhadap ayahmu," jawab Ryanthi. Ia lalu tertawa pelan. "Ibu tidak memiliki banyak pacar sewaktu masih gadis dulu. Ibu ... tidak sempat untuk memikirkan hal-hal seperti itu," tutur Ryanthi dengan senyuman kelu di sudut bibirnya.
"Tetapi ... aku yakin pasti ada banyak pria yang jatuh cinta kepada Ibu. Ibu terlihat sangat cantik saat muda," puji Arumi. "Um ... sekarang juga sebenarnya masih terlihat sangat cantik," lanjut Arumi dengan senyuman khasnya..
"Apa kamu sedang dekat dengan seseorang? Atau mungkin sedang menyukai seseorang?" selidik Ryanthi membuat rona wajah Arumi berubah seketika.
"Tidak! Tentu saja tidak!" bantah Arumi seraya membetulkan posisi berdirinya. "Sebaiknya aku pulang dulu, lalu mandi dan berganti pakaian," Arumi seperti mencari alasan untuk menghindar dari pembahasan itu.
Ryanthi hanya tersenyum. Ia mencoba mengerti karena mungkin Arumi masih malu-malu untuk membahas hal-hal seperti itu.
"Ya, sudah. Pesan taksi online saja, karena Ibu rasa tidak akan ada yang menjemputmu saat ini," saran Ryanthi. "Kakakmu harus menghadiri pertemuan penting, sementara ayahmu ... dia masih tidur," lanjutnya.
"Oke," Arumi pun mengambil ponsel dari dalam tasnya. Baru saja ia mengusap layar ponsel itu, ia sudah dibuat terkejut dengan adanya pesan masuk dari seseorang yang tidak ia duga.
I'm here, Arumi.
Pesan dengan bahasa Inggris itu telah membuatnya menjadi tampak sedikit gelisah. "Bagaimana dia bisa mengetahui nomor ponselku yang baru?" fikir Arumi dalam hatinya. Ia terdiam untuk sejenak.
Beberapa saat kemudian, taksi yang ia pesan pun datang. Arumi segera berpamitan kepada Ryanthi. "Nanti aku kemari lagi," ucapnya seraya masuk ke dalam mobil minibus itu.
Ryanthi tersenyum lembut. Ia pun melambaikan tangannya. Setelah itu, ia kembali ke dalam toko.
Jarak dari rumah ke toko itu memang tidak terlalu jauh, mungkin hanya sekitar sepuluh sampai lima belas menit saja. Tetapi, akan sangat melelahkan jika harus ditempuh dengan berjalan kaki.
Sepanjang perjalanan, Arumi terus termenung. Bahkan ketika ia tiba di rumah dan masuk ke dalam kamarnya yang bernuansa putih dan orange. Warna yang melambangkan awan saat cuaca cerah dan juga lembayung senja.
Sebelum masuk ke dalam kamar mandi, ponselnya kembali berdering. Arumi pun menyempatkan untuk memeriksanya.
Pesan dari nomor yang sama, ia bahkan kini mencoba menghubungi Arumi lewat sambungan video call, akan tetapi Arumi biarkan saja ponselnya berdering berkali-kali. Ia lebih memilih untuk masuk ke dalam kamar mandi dan memanjakan dirinya dengan berendam air hangat.
__ADS_1