
"Ayah!" sapa Arumi. Ia menghampiri Adrian yang sedang duduk sambil membaca sebuah surat kabar di ruang keluarga. Gadis itupun duduk di sebelah Adrian dengan senyuman manisnya.
Arumi bergelayut manja di lengan Adrian, membuat pria itu menghentikan aktivitas membacanya.
Adrian kemudian melirik putri bungsunya itu. "Ada apa?" tanyanya. "Ayah tahu, jika kamu sudah bersikap macam anak kucing seperti sekarang ini ... maka kamu pasti menginginkan sesuatu, iya kan?"
Arumi tersenyum manja. "Kenapa Ayah bisa menjadi seorang pria yang sangat pengertian? Pantaslah jika ibu sangat, sangat, sangat mencintai Ayah," puji Arumi.
Adrian menggumam pelan. "Kenapa tidak langsung saja pada intinya? Katakan saja apa maumu, Sayang!" Adrian kembali melirik anak gadisnya itu.
Arumi membetulkan posisi duduknya menjadi lebih tegak. Ia pun mengangkat dagunya sedikit dan tersenyum manis kepada sang ayah.
"Begini, Yah," Arumi memulai kata-katanya. "Jadi ... kapan Ayah akan memberiku izin untuk mencicipi hadiah kepulanganku itu?" Arumi menggerak-gerakan alisnya di depan Adrian.
"Tanyakan itu kepada kakakmu!" suruh Adrian. "Dia bosnya sekarang, jadi dia yang bertanggung jawab untuk segala jenis perizinan di rumah ini," terang pria penyuka olahraga renang itu.
"Ayolah, Yah! Aku mohon!" rengek Arumi seraya menggoyang-goyangkan lengan sang ayah yang kembali pada surat kabar yang tengah ia baca.
"Bantu aku untuk bicara dengan kakak!" pinta Arumi. "Jika Ayah yang bicara padanya, aku yakin kakak akan setuju," rayu Arumi.
Adrian menatap gadis itu. Sesaat kemudian, ia kembali mengalihkan tatapannya pada surat kabar yang sedang ia baca.
"Aku mohon, Ayah!" rengek Arumi. "Ayah tahu bukan jika kak Ken terlalu serius dan ... ayolah, Ayah! Aku mohon!" rengek Arumi lagi.
Adrian melepas kacamatanya. Ia juga melipat surat kabar itu dengan rapi dan meletakannya di atas meja. "Kenapa kamu tidak segera pergi ke toko. Bukannya sekarang kamu sudah menjadi asisten ibumu?" Adrian mengalihkan pembicaraan mereka. Ia sangat suka menggoda gadis itu.
"Ayah ...." rengek Arumi lagi.
"Sudah Ayah katakan, minta izinlah kepada kakakmu!" Adrian tetap pada pendiriannya.
Arumi terdiam dengan bibir manyunnya. Kedua orang tuanya memang kerap memanjakannya, akan tetapi ada beberapa hal yang ternyata memang harus ia perjuangkan sendiri.
Itulah ajaran yang Adrian dan Ryanthi berikan kepada kedua buah hatinya itu. Mereka tetap harus belajar untuk bertanggung jawab atas diri mereka sendiri. Memperjuangkan apa yang mereka inginkan dengan kemampuan yang mereka miliki, tanpa bergantung dan terus berpegangan pada tangan ayah dan ibu mereka.
Pada akhirnya, Arumi kembali ke toko dengan taksi online lagi. Wajahnya tidak berseri, apalagi dengan beberapa pesan masuk yang membuatnya merasa pusing.
Arumi berdiri untuk sejenak di depan pintu masuk toko itu. Mau tidak mau, ia harus membalas salah satu dari pesan itu.
Ia begitu asik dengan ponselnya dan tidak menyadari jika Moedya sudah berada di belakangnya.
Moedya pun mendehem pelan, ia telah berhasil membuat Arumi terkejut. Gadis manis berlesung pipi itupun menoleh.
Tidak. Untuk kali ini, desiran angin itu berusaha untuk ia singkirkan dan tidak ia biarkan kembali menggelitik hatinya. Ia tahu jika Moedya telah memiliki pasangan hidup.
"Kenapa berdiri di depan pintu?" tanya pria dengan jaket kulit itu.
Arumi menggeleng pelan dan memaksakan diri untuk tersenyum. "Mau ambil pesanan?" tanyanya basa-basi.
Moedya pun mengangguk. Ia kembali menatap gadis yang ada di hadapannya itu dengan intens, membuat Arumi merasa tidak nyaman. Gadis itupun akhirnya segera memutuskan untuk masuk.
__ADS_1
Tampak Ryanthi tengah sibuk melakukan sesuatu di meja kasir. Arumi pun segera menghampirinya.
"Hai, Bu!" sapanya hangat dan terkesan sangat akrab.
Ryanthi pun menoleh. "Hai, Sayang! Ibu fikir kamu akan melanjutkan tidurmu di rumah," canda Ryanthi dengan senyum lembutnya.
"Ayah sangat membosankan, jadi ... aku kesini saja," bisik Arumi dan membuat Ryanthi tersenyum lebar.
Arumi kemudian mengalihkan tatapannya kepada pria yang tengah berdiri dan memperhatikan mereka berdua.
"Tunggu sebentar! Aku akan mengambilkan pesananmu," ucap Arumi seraya berlalu ke bagian dalam toko.
Moedya berdiri sambil terus memperhatikan gadis itu berlalu dari pandangannya. Ia tahu jika ada sesuatu yang aneh dari sikap Arumi padanya. Gadis itu tak seramah sebelumnya.
Beberapa saat kemudian, Arumi pun kembali dengan sebuah kotak berwarna jingga keemasan. Ia kemudian menaruh kotak itu di atas meja kasir, tepat di hadapan Ryanthi.
"Pesanan Ibu sudah diambil?" tanya Arumi.
"Sudah tadi," jawab Ryanthi. Ia mempersilakan Moedya untuk maju.
Pria dua puluh tujuh tahun itupun mendekat ke meja kasir. Ia berdiri tepat di sebelah Arumi.
Penampilan Moedya memang tidak serapi Keanu yang selalu setia dengan kemeja dan sepatu yang mengkilap. Akan tetapi, pria ini terlihat sangat bersih dan juga ... wangi.
Jadi, Moedya termasuk dalam kelas si eksentrik yang menyegarkan.
Arumi menggelengkan kepalanya. Ia harus menghilangkan fikiran-fikiran konyol seperti itu dari dalam otaknya. Apalagi, ponselnya kembali bergetar.
"Sama-sama. Terima kasih karena sudah memesan kue dari toko kami. Semoga cocok," balas Ryanthi dengan ramahnya.
Moedya pun tersenyum. Ia benar-benar terkesan dengan keramahan dari Ryanthi. Sesaat kemudian, ia lalu menoleh kepada Arumi yang masih sibuk dengan ponselnya.
Moedya memutuskan untuk segera berlalu keluar dari dalam toko. Ia kemudian meletakan kotak itu di jok sebelahnya.
Sebelum masuk ke dalam mobilnya, Moedya sempat menatap sejenak ke dalam toko itu. Arumi masih tampak sibuk dengan ponselnya. Moedya pun segera masuk dan menjalankan mobilnya dari area parkir toko itu.
Siang yang panas telah berlalu begitu saja. Sore hari pun datang dengan cuacanya yang cukup teduh. Arumi terdiam menatap pria dengan T Shirt hitam panjang dan celana jeans yang saat ini berdiri di hadapannya. Pria dengan rambut ikal dan mata abu-abu yang begitu bercahaya. Ia tersenyum manis kepada Arumi yang masih tampak kebingungan saat itu.
Dia adalah Edgar Hilaire, pria yang pernah dekat dengan Arumi, selama gadis itu melanjutkan studynya di negara yang terkenal dengan menara eiffelnya itu.
Entah apa yang dilakukan pria itu disini? Mengejarnya? Tidak mungkin.
Edgar memiliki banyak penggemar wanita. Ia selalu dikelilingi gadis-gadis muda yang cantik dan seksi tentunya. Hal itu pulalah yang membuat Arumi merasa enggan untuk melanjutkan hubungan mereka dengan lebih serius.
"Hai, Arum," sapa pria dengan senyumnya yang menawan itu.
"Hai ... Ed. Apa yang kamu lakukan disini?" tanya Arumi. Ia terlihat kurang nyaman dengan keberadaan pria itu.
"Looking for you," jawab Edgar dengan kalemnya.
__ADS_1
Arumi menghela napas pendek. Ia sudah memastikan jika Edgar pasti akan mengatakan hal seperti itu kepadanya.
Edgar. Dia adalah pria dua puluh delapan tahun dengan wajahnya yang kharismatik. Di usianya yang hampir menginjak kepala tiga, ia masih betah menyendiri. Edgar merupakan pria keturunan Perancis. Mendiang ayahnya merupakan seorang pengusaha besar disana. Sementara ibunya adalah wanita asli Indonesia yang juga telah tiada.
Pria dengan perawakan tegap itu, memang menguasai tiga bahasa. Ia juga fasih berbicara dalam bahasa Indonesia yang diajarkan oleh sang ibu tercinta, meskipun ia lebih sering berkomunikasi dalam bahasa inggris.
"I miss you. Aku selalu mengingatmu setiap hari. Every night," ucapnya. "Memikirkanmu membuatku kesulitan untuk tidur dengan nyenyak," lanjutnya dengan nada bicara yang terdengar begitu meyakinkan.
"Sudahlah, Ed!" Arumi membalikan badannya. Ia seakan membantah semua yang diucapkan Edgar kepadanya. Ia tidak ingin terjatuh ke dalam pelukan seorang playboy seperti pria yang ada di hadapannya itu.
"Kenapa sulit sekali meyakinkanmu, Arum? Aku serius kali ini!"
"Aku tidak ingin membahas hal itu!" tegas Arumi.
"I know you angry with me. Karena Pamela, kan? No! Dia hanya mantan pacarku, Babe!"
Arumi kembali membalikan badannya. Ia menatap pria dengan mata abu-abu itu. "Aku tidak peduli dia siapa! Aku juga tidak tertarik untuk mengetahuinya. Satu lagi, berhenti memanggilku dengan sebutan "Babe"! You are so annoying! Get away for me!" umpat Arumi dengan kesal.
Gadis itu melipat kedua tangannya di dada. Ia pun memalingkan wajahnya dari Edgar yang terus memohon kepadanya.
"Jauh-jauh aku kemari, untukmu. Just for you. Aku mohon, beri aku satu kesempatan lagi! One more. Aku janji padamu, aku akan memperbaiki semuanya," Edgar memohon dengan bersungguh-sungguh.
"Aku tidak mau. Terlalu banyak rambut pirang dalam hidupmu. Aku tidak suka berurusan dengan pria sepertimu!" tolak Arumi dengan tegas.
Sesaat kemudian, ia kembali menatap Edgar. Pria dengan rambut ikal itu memang begitu menawan. Matanya sangat indah, dan mengingatkan Arumi pada mata sang ayah, Adrian.
Tetapi setahu Arumi, Adrian bukanlah seorang playboy seperti Edgar. Jadi, tidak layak rasanya untuk menyandingkan mereka berdua.
Arumi memang menjalin kedekatan dengan pengusaha muda itu selama hampir satu tahun terakhir. Ia mengenal pria itu di sebuah kedai kopi yang berada di salah satu jalanan kota Paris.
Edgar yang piawai dalam hal tebar pesona dan memikat hati para gadis muda seperti Arumi, dengan mudah mendapatkan rasa simpatik dari gadis itu. Namun, ternyata kali ini ia salah sasaran.
Arumi bukanlah gadis biasa yang mudah takluk begitu saja pada pesona dan iming-iming materi yang ditawarkan pria itu kepadanya.
Hingga hampir satu tahun lamanya menjalin kedekatan, Edgar ternyata tidak pernah mendapatkan apa yang selalu diberikan oleh gadis-gadis yang selama ini dekat dengannya.
Rasa penasaran, telah merubah perasaannya menjadi suatu ketertarikan yang kian mendalam kepada Arumi. Karena itu ketika Arumi kembali ke Indonesia, maka Edgar merasa sangat kehilangan.
Ia rela terbang jauh dan meninggalkan segala rutinitasnya disana demi untuk mengejar Arumi.
Senja telah turun. Arumi berjalan sendirian menyusuri trotoar yang kian ramai oleh para pejalan kaki, yang sebagian besar adalah karyawan dari sebuah perusahaan yang baru selesai bekerja.
Menyebalkan, itulah yang ia rasakan saat ini. Di dalam garasi sang ayah, ada sederet mobil mewah. Ia bahkan memiliki mobil sendiri yang sampai saat ini belum ia jamah sama sekali.
Namun, apa yang terjadi kini? Arumi duduk sendiri di halte bus dan menunggu. Ia berharap semoga sang kakak datang dengan tepat waktu.
"Hai ...." terdengar sapaan dari suara yang mulai akrab di telinganya.
Arumi pun menoleh. Lagi.
__ADS_1
Satu lagi pengganggu berwajah menawan datang menghampirinya.