
Ryanthi terkejut, ketika menyadari bahwa dia tidak berada di kamarnya. Rayanthi melihat sekeliling ruangan itu. Tidak terlalu banyak barang di sana, yang ada hanya sebuah sofa minimalis berwarna putih. Warna yang senada dengan cat dinding dan perabot lain.
Pandangan Ryanthi kali ini tertuju pada sebuah foto seorang wanita yang sangat anggun. Ryanthi sempat melihat foto itu sebentar, lalu diletakan kembali ke tempatnya.
Di dekat tempat tidur itu terdapat jendela kaca yang sangat besar tanpa tirai. Ryanthi mengernyitkan kening, lalu turun dari kasur berukuran besar yang semalam menjadi tempatnya beristirahat. Saat itu, dia tahu bahwa dirinya tidak lagi memakai dress baru yang dirobek oleh Vera.
Ryanthi menunduk. Dia melihat kakinya bersembunyi di bagian bawah celana panjang yang dikenakan. Selain itu, Ryanthi juga memakai kaos dengan ukuran terlalu besar untuk tubuhnya. "Baju siapa ini?"
Ryanthi kemudian berjalan ke dekat jendela kaca. Dia berdiri di sana. Seketika, matanya terbelalak. Ryanthi sedang berada di tempat yang sangat tinggi. "Dimana ini?" Di sana tak ada siapa pun selain dirinya. Ryanthi segera berjalan ke pintu, lalu memutar keluar.
Ryanthi melangkah pelan, melewati lorong yang cukup lebar. Di sana, dia mendapati sebuah meja dengan hiasan miniatur jeep seperti milik sang ayah.
Sayup-sayup, terdengar langkah kaki menuju ke arahnya. Ryanthi tertegun, lalu mundur.
Tak berselang lama, muncul seorang wanita memakai seragam pelayan. Dia membawa keranjang berisi pakaian. Wanita itu menatap Ryanthi, kemudian tersenyum ramah. "Selamat pagi, Nona," sapanya.
"Selamat pagi," balas Ryanthi.
"Pak Adrian berpesan, agar Nona segera ke ruang makan. Sudah saatnya untuk sarapan." wanita itu menyebutkan nama yang tidak Ryanthi kenal. "Permisi." Dia mengangguk sopan, sebelum berlalu menuju lorong sebelah kiri.
Ryanthi kemudian melanjutkan langkah dengan berbelok ke kanan. Dari ujung lorong itu, tampaklah sebuah ruangan luas dan terlihat sangat mewah, dengan segala perabotannya yang indah. Ryanthi masih berdiri. Dia bingung harus bagaimana. Matanya menyapu seluruh ruangan, tapi tidak ada siapa pun di sana.
Akhirnya Ryanthi memutuskan untuk kembali ke kamar tadi. Dia membalikan badan. Namun, seketika Ryanthi tersentak. Seorang pria telah berdiri di belakangnya. Ryanthi mundur beberapa langkah sambil memegangi dada.
Sementara, pria tadi menatapnya dengan intens. Membuat Ryanthi menelan ludah, karena tiba-tiba tenggorokannya terasa begitu kering. "Selamat pagi," sapa pria itu hangat.
__ADS_1
Nada bicaranya sopan, tapi terdengar penuh wibawa.
"Selamat pagi," balas Ryanthi pelan.
"Bagaimana keadaanmu sekarang?" tanya pria tadi, masih dengan nada bicara yang sama.
"Baik," jawab Ryanthi.
"Namaku Adrian. Maaf, karena aku langsung membawamu kemari," ucapnya kalem. Dia berdiri dengan satu tangan di dalam saku celananya. "Semalam, kamu pingsan tepat di depan mobilku. Jadi, terpaksa aku harus menolongmu," lanjutnya.
"Oh, terimakasih sudah menolongku," jawab Ryanthi mencoba bersikap ramah.
"Sebaiknya, kita sarapan dulu. Setelah itu, biar kuantar kamu pulang. Aku harap kamu bukan penderita amnesia. Jadi, aku tahu harus mengantarmu ke mana," gurau Adrian diselingi senyum kalem.
"Ya," jawab Adrian seraya menuangkan jus strawberry ke dalam gelas.
Ryanthi tertegun melihat minuman itu. Dia tidak menyukai strawberry. Namun, tidak etis jika menolak. "Aku harap, wanita tadi yang mengganti bajuku semalam," ucap Ryanthi pelan, tetapi ucapannya membuat Adrian hampir tersedak.
Ryanthi menoleh, saat Adrian tengah mengelap mulut menggunakan serbet berwarna krem. "Dia hanya kemari saat pagi dan pulang setelah pekerjaan di sini selesai. Suaminya sedang sakit parah. Jadi, aku mengizinkannya untuk tidak menginap di sini," jelas Adrian.
Mendengar hal itu, kini Ryanthi lah yang hampir tersedak. Dia menoleh kepada Adrian dengan mata melotot. "Itu artinya ... kamu yang mengganti pakaianku?"
"Ya," jawab Adrian santai.
Ryanthi termangu. Sedangkan Adrian hanya tersenyum kalem.
__ADS_1
"Pakaianmu basah kuyup. Jika tidak segera diganti, aku takut kamu sakit. Aku juga yang repot. Selain itu, kamu pasti akan membuat kasurku menjadi basah," jelas Adrian masih terlihat tenang.
Ryanthi masih tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Ini hal yang sangat memalukan bagi gadis itu. "Ini semua gara-gara Vera! Lihat saja, aku akan menjambak rambutnya lagi setelah pulang ke rumah nanti!" gerutu Ryanthi dalam hati.
Adrian seakan paham dengan apa yang sedang Ryanthi pikirkan. Dia menyudahi sarapannya, lalu berkata, "Tenang saja, aku hanya mengganti pakaianmu. Tidak lebih dari itu," jelasnya.
"Aku pingsan. Jadi, aku tidak ingat dengan apa yang terjadi semalam." Ryanthi merasa tidak yakin dengan ucapan Adrian.
Adrian bergumam pelan. Dia lalu meneguk jus strawberry yang masih tersisa sedikit. "Aku lebih tertarik pada wanita ketika dalam keadaan sadar," bisik Adrian diiringi kerlingan nakal. Sikap yang membuat Ryanthi langsung menjauhkan wajahnya dari Adrian. Gadis itu mengernyitkan kening, sambil menatap aneh kepada pria tampan berwajah blasteran tadi.
"Aku harap, kamu mengganti pakaianku sambil menutup mata," ujar Ryanthi polos.
Adrian tertawa renyah mendengar ucapan gadis itu. Dia kembali meneguk minumannya, lalu bergumam pelan. Bahasa tubuh pria itu sungguh indah dipandang. Begitu berkelas dan terlihat beda dari pria kebanyakan. "Astaga, kenapa aku harus menyusahkan diri?" ucapnya menanggapi perkataan Ryanthi.
Adrian Winata merupakan pria yang sangat tampan dan maskulin. Usianya hampir sama dengan Arshan. Namun, dia terlihat lebih dewasa, karena memelihara janggut tipis di sebagian wajahnya.
Adrian memiliki sorot mata tegas. Namun, Ryanthi dapat merasakan ada keteduhan di sana. Terlebih, karena penampilan Adrian juga terlihat rapi. Ryanthi bahkan dapat mencium wangi parfum yang dipakainya. Itu pasti parfum mahal, karena aromanya sangat berbeda dengan yang biasa Arshan pakai.
Ryanthi terdiam. Sepintas, dia merasa pernah melihat pria itu, tapi entah di mana. Ryanthi merasa tidak asing lagi dengannya.
"Habiskan sarapanmu. Setelah itu, kuantar kamu pulang. Aku ada urusan sebentar." Adrian menyuruh tanpa canggung. Ucapannya telah membuyarkan semua lamunan Ryanthi, sehingga gadis itu kembali tersadar.
Adrian beranjak dari duduknya. Pria dengan tatanan rambut sedikit acak-acakan tersebut, meninggalkan Ryanthi dengan makanan yang belum tersentuh. Padahal, Ryanthi sudah sangat kelaparan. Terlebih, karena dia belum sempat makan dari kemarin.
Selagi Ryanthi menikmati santap pagi seorang diri, sayup-sayup terdengar suara wanita di ruangan lain. Wanita itu berbicara cepat, seperti seorang ibu yang tengah menegur anaknya karena telah berbuat nakal. Mendengar hal itu, Ryanthi segera menyudahi santap paginya. Dia mulai merasa tidak nyaman dengan suasana di sana.
__ADS_1