
Arumi sedang merapikan rambut dan pakaiannya ketika Moedya memeluknya dari belakang. Pria itu hanya memakai celana jeansnya, tanpa atasan sama sekali. Untuk pertama kalinya ia memamerkan seluruh tato yang tergambar di tubuhnya.
"Kamu tidak apa-apa?" Bisik Moedya seraya mencium lembut pundak Arumi.
"Entahlah. Aku hanya merasa sedikit aneh ...." jawab Arumi. Ia kemudian melirik tempat tidur milik Moedya. Di atas sprei itu terlihat ada bercak darah meski tidak terlalu banyak.
"Tidak apa-apa," ucap Moedya. Ia mencoba untuk menghilangkan keresahan yang tampak dari raut muka Arumi saat itu.
"Harus selalu ada awal untuk segala sesuatunya. Aku hanya berharap kamu tidak menyesali hal ini," ucap Moedya lagi.
Arumi terdiam. Ia merasa bingung. Jujur saja jika ia memang merasa aneh akan dirinya sendiri. Ia merasa ada sesuatu yang berbeda yang telah menimpanya.
"Aku takut ...." lirih Arumi pelan.
Moedya membalikan tubuh gadis itu. Ia kemudian mengelus lembut wajah Arumi. "Jangan takut. Aku akan selalu bersamamu!" Ucap Moedya kembali menenangkan sang kekasih dari rasa takutnya.
Arumi menatap sang kekasih dengan begitu lekat. Ia pun tersenyum meskipun terkesan agak dipaksakan.
Samar-samar terdengar suara mobil memasuki halaman rumah itu. Moedya pun segera melihat dari jendela kamarnya.
Segera ia meraih kaos putih yang tergeletak di ujung tempat tidur dan memakainya. "Ibuku sudah pulang. Ayo, kita keluar!" Ajak Moedya. Ia pun meraih jemari Arumi dan menuntunnya keluar dari dalam kamar. Menuruni anak tangga, mereka segera menyambut kedatangan Ranum.
Wanita cantik itu tersenyum lebar melihat keberadaa Arumi di sana. Ia pun memeluk gadis itu dengan hangat. "Arum? Apa kabar, Nak?" Sapa Ranum. Sikapnya begitu manis terhadap Arumi.
"Baik, Bu," jawab Arumi. Gadis itupun menyambut keramahan Ranum kepada dirinya.
Ranum kemudian mengalihkan perhatiannya kepada pria berambut gondrong dengan wajahnya yang babak belur.
"Bagaimana keadaanmu, Sayang?" Tanya Ranum seraya menepuk pipi Moedya dengan perlahan dan membuat putra semata wayangnya meringis pelan.
"Ibu!" Moedya tampak protes keras kepada Ranum.
Wanita itupun hanya tertawa pelan. "Kamu itu laki-laki! Luka kecil seperti ini tidak akan membuatmu mati!" Ujar Ranum dengan setengah meledek.
Arumi tertawa pelan. Ia merasa senang melihat sikap yang ditunjukan Ranum kepada Moedya. Wanita itu selalu terlihat santai dalam setiap ucapan ataupun segala yang dilakukannya.
"Ini! Ibu tadi mampir ke apotek. Katanya obat ini sangat ampuh untuk luka lebam seperti lukamu itu," Ranum menyodorkan kresek kecil berwarna putih kepada Moedya.
__ADS_1
Moedya pun segera menerima dan melihat isinya. "Terima kasih, Bu," ucap pria itu seraya tersenyum kalem.
"Ibu harap ini jadi yang terakhir! Ibu tidak mau lagi kamu bertindak bodoh dan sok jagoan!" Pesan Ranum dengan tegas.
Moedya hanya tersenyum seraya menggaruk-garuk kepalanya. Seperti biasa ia bersikap konyol lagi.
"Sana! Segera obati lukamu!" Suruh Ranum.
Moedya segera melirik Arumi. Ia seakan mengajak gadis itu dan mungkin memintanya untuk mengobati lukanya.
"Arum, ayo! Ikutlah dengan Ibu!" Ranum segera meraih tangan Arumi dan mengajak gadis itu menuju ke ruang kerjanya. Moedya pun hanya melongo melihat hal itu. Sementara Arumi hanya tersenyum geli seraya melirik sang kekasih.
Sesampainya di dalam ruang kerja Ranum yang sangat nyaman, Arumi pun segera dipersilakan untuk duduk. Sedangkan Ranum tampak mengambil sesuatu dari dalam lemari kecil yang terkunci rapat. Ia menghampiri Arumi dengan sebuah kotak kecil berwarna perak.
"Juna sudah menceritakan semuanya kepada Ibu," ucap Ranum dengan senyumnya. Bahasa tubuhnya tampak sangat elegan. Ia begitu cantik dalam usianya yang tidak muda lagi.
Arumi hanya tersenyum. Gadis itu begitu terhipnotis oleh pesona seorang Ranum. Ranum adalah wanita kedua yang menjadi idolanya.
"Terima kasih karena sudah menerima Arjuna. Ada banyak hal yang berubah setelah dia mengenalmu dan sejauh ini mengarah pada hal yang sangat positif. Tetaplah berada di dekatnya!" Ranum berkata dengan lemah lembut. Sisi keibuannya terlihat dengan begitu jelas saat itu.
"Aku juga sangat mencintai Moemoe," sahut Arumi dengan pelan.
"Tentu saja! Ibuku akan menerima Ibu Ranum dengan baik. Kalian berdua wanita yang sangat hebat. Aku yakin pasti akan sangat menyenangkan jika kita bisa berkumpul dan berbincang bersama," ucap Arumi dengan binar indah pada sepasang matanya. Ia terlihat begitu antusias atas rencana yang diungkapkan Ranum kepadanya.
Ranum pun tersenyum lebar. Ia kemudian meraih kotak berwarna perak yang ia letakan tadi di atas meja. Ranum pun membuka penutup kotak itu.
Tampaklah sebuah cincin sapir biru di dalamnya. Cincin yang sangat indah dengan desain yang cukup sederhana. Ranum pun memperlihatkan cincin itu kepada Arumi.
"Lihatlah, Sayang!" Ranum menyodorkan kotak itu kepada Arumi.
Dengan segera Arumi menerimanya. Ia memperhatikan cincin yang tersimpan rapi di dalam kotak kecil itu.
"Ini sangat indah, Bu" decak Arumi dengan penuh kekaguman. Ia langsung jatuh cinta melihat cincin yang diperlihatkan Ranum kepadanya.
"Itu adalah cincin peninggalan neneknya Arjuna. Mendiang ayahnya Juna, memberikan cincin itu untuk Ibu. Setelah ayah Juna tiada, Ibu menyimpan cincin itu dan berharap jika calon istri Arjuna juga bersedia memakainya," terang Ranum.
"Itu artinya ... ini adalah cincin yang sangat bersejarah?" Tanya Arumi. Ia terlihat semakin antusias.
__ADS_1
Ranum mengangguk pelan. "Cobalah! Semoga ukurannya pas di jarimu!" Suruh Ranum.
Dengan hati-hati, Arumi mengeluarkan cincin itu dari dalam kotaknya. Ia pun kemudian memasukan cincin itu ke dalam jari manis sebelah kirinya. Setelah itu, ia memperlihatkannya kepada Ranum.
Ranum tersenyum bahagia melihatnya. Ada keharuan yang mendalam di lubuk hatinya. Rasanya seperti mimpi ketika Moedya membawa seorang gadis ke hadapannya.
...🕊 🕊 🕊...
Angin berhembus dengan lembut senja itu. Arumi berdiri dengan setengah bersandar pada bagian depan mobilnya. Di sebelah Arumi, Moedya berdiri dengan tenangnya. Mereka berdua tengah menantikan saat-saat matahari akan tenggelam.
Tidak ada percakapan diantara mereka berdua. Keduanya seakan terhanyut dalam fikiran masing-masing.
Makin lama, warna biru yang membentang luas itu kian memudar dan berganti warna yang semakin gelap. Rasa teduh berbaur dengan hembusan angin sejuk yang menenangkan. Semuanya terasa begitu menyenangkan, ketika momen itu dapat mereka lewati berdua.
Perlahan Moedya melingkarkan tangannya di pundak Arumi. Gadis itupun menyandarkan kepalanya di atas pundak Moedya. Ia terlihat begitu nyaman melakukan hal itu.
"Aku minta maaf, Miemie ...." ucap Moedya dengan pelan. Ia menggenggam erat jemari lentik Arumi dan menciumnya dengan hangat.
"Aku akan benar-benar menyelesaikan semuanya. Aku berjanji padamu ...." ucap Moedya lagi.
"Aku tidak ingin kehilangan dirimu. Aku tidak peduli meskipun Keanu akan membunuhku dengan tangannya sendiri. Jika itu memang pantas kuterima, maka aku rela menerimanya," Moedya mengakhiri kata-katanya dengan sebuah kecupan hangat di kening Arumi yang saat itu hanya terdiam seraya memejamkan matanya.
"Kamu tahu apa yang ingin aku lakukan saat ini?" Tanya Moedya membuat Arumi membuka matanya.
"Apa?" Arumi balik bertanya.
"Aku ingin sekali berteriak dan memberi tahu seluruh alam semesta tentang perasaanku padamu," jawab Moedya dengan senyum simpul yang menghiasi wajahnya yang dipenuhi luka lebam.
Arumi tertawa pelan mendengar ucapan Moedya. Ia pun menegakan sikap duduknya dan menoleh kepada sang kekasih.
"Buktikan!" Tantang Arumi.
Moedya menatap gadis cantik itu untuk sejenak. Sesaat kemudian ia pun berdiri dengan tegak dan maju beberapa langkah. Ditariknya napas dalam-dalam, ia pun meneriakan sesuatu dengan sekuat tenaganya.
"Aruuuuuuuum ... aku sangat mencintaimu!" Setelah itu, Moedya kembali berbalik dan menatap Arumi.
Mendengar hal itu, Arumi tersenyum lebar. Ia pun segera berlari ke arah dimana Moedya berdiri dan menghambur ke dalam pelukan pria yang kini mendekap dan mengangkat tubuhnya tinggi-tinggi.
__ADS_1
Tawa ceria terlukis dengan jelas di wajah mereka berdua. Senja itu, kembali mereka lalui dengan indah, sama seperti ketika Arumi mendapatkan ciuman pertamanya dari Moedya.