Ryanthi : Manisnya Kue, Pahitnya Kenyataan

Ryanthi : Manisnya Kue, Pahitnya Kenyataan
Langkah Pertama


__ADS_3

Perlahan Keanu melepaskan ciumannya. Ia masih menyandarkan Puspa pada dinding. Gadis mungil itupun mengelus lembut rambut cepak Keanu.


"Aku selalu memikirkanmu dalam beberapa hari ini," ungkap Keanu. Ia masih belum ingin menurunkan tubuh mungil itu.


"Jangan! Jangan aku!" Larang Puspa dengan lirihnya.


"Kenapa? Karena kehidupan yang kamu jalani?" Tanya Keanu.


Puspa menatap lekat pria yang baru saja menciumnya itu. Siapa yang dapat menolak pesona seorang Keanu. Ia begitu tampan dan juga kaya. Ia adalah menu empat sehat lima sempurna.


"Aku tidak pantas untukmu. Kamu berhak mendpatkan gadis yang jauh lebih baik," jawab Puspa.


"Seperti apa? Seperti apa gadis yang jauh lebih baik itu?" Tanya Keanu lagi.


"Yang pasti bukan seseorang sepertiku," jelas Puspa.


Keanu menatap gadis manis berambut panjang itu. Ia menggelengkan kepalanya dan menolak ucapan Puspa padanya.


"Aku akan membuatmu menjadi gadis yang pantas untukku!" Tegas Keanu dengan yakin.


Puspa tidak menjawab. Ia kembali terisak dan segera memeluk pria itu dengan erat.


"Aku pasti akan melakukannya!" Ucap Keanu lagi dengan sangat yakin.


Puspa tidak menjawab. Ia hanya membenamkan wajahnya pada pundak Keanu.


...🕊 🕊 🕊...


Malam itu Keanu menghentikan mobilnya di depan sebuah bangunan dengan tulisan salon dan spa di bagian depannya. Ia pun melangkah masuk ke dalam bangunan itu.


Seorang wanita dengan dandanan dan pakaian yang sangat seronok, segera menghampirinya. Dengan keramahan yang terlalu berlebihan, wanita muda itu menyambut Keanu. Ia pun mengajak Keanu untuk masuk ke bagian dalam bangunan itu


Keanu melihat sekeliling ruangan disana. Ada beberapa gadis muda dengan pakaian yang sangat minim. Mereka tersenyum nakal kepad dirinya. Keanu berusaha untuk tidak terpengaruh sama sekali. Ia tetap fokus pada tujuan awalnya datang ke tempat itu.

__ADS_1


Miris dan tidak nyaman, itulah yang dirasakan oleh Keanu. Ini adalah pertama kalinya ia mendatangi tempat seperti itu. Tempat yang tidak pernah ia bayangkan sama sekali.


Keanu dipersilakan untuk duduk di sebuah ruangan, dengan sebuah sofa yang sederhana. Secangkir kopi disajikan oleh seorang gadis dengan rok mini yang memperlihatkan sebagian besar pahanya. Gadis berambut panjang itupun kemudian duduk di sebelah Keanu. Ia bergelayut manja pada lengan dengan balutan blazer hitam Keanu dan membuat pria itu berkali-kali menghela napas panjang.


"Saya sangat menyukai wangi parfume Anda, Tuan. Itu pasti parfume mahal," puji gadis itu seraya mengelus lembut lengan Keanu.


"Setelah urusanmu dengan Martha selesai, segeralah cari aku! Namaku Christy," bisik gadis itu dengan nakal. Tangannya terus menggerayangi Keanu dan hampir menyentuh area sensitif pria itu jika saja Keanu tidak segera mencegahnya.


"Tinggalkan aku!" Sergah Keanu dengan tegas. Ia segera menepiskan tangan gadis itu.


Gadis bernama Christy itupun hanya tertawa. Ia tidak mengindahkan penolakan dari Keanu. Sikapnya malah semakin agresif.


"Aku bisa bermain depan belakang," rayunya lagi dengan nada bicara yang sangat menggoda.


Keanu tidak menjawab. Ia hanya mengusap-usap keningngnya. Baru saja ia akan menjawab ucapan gadis nakal itu, seorang wanita berusia sekitar empat puluh tahunan muncul di sana.


Dandanannya sangat mencolok. Ia pun tersenyum lebar melihat Keanu di sana.


"Apa kabar Tuan Hardi. Senang Anda bisa mampir kemari," sapanya dengan hangat.


"Kita langsung saja pada intinya. Akan tetapi, sebelum itu ... bisakah Anda menyingkirkan 'cacing' ini?" Keanu melirik gadis nakal yang sejak tadi bergelayut manja padanya.


Wanita yang merupakan tetua di sana pun memberi isyarat kepada si gadis agar pergi dari ruangan itu. Dengan terpaksa, gadis itupun melepaskan tangannya dari lengan Keanu.


Wanita yang tiada lain adalah Martha, kembali tersenyum lebar kepada Keanu. Ia menatap pria tampan dengan wajah indo itu.


"Jadi ... bagaimana Tuan Hardi? Apa yang dapat saya bantu?" Martha memulai percakapan diantara mereka.


"To the point saja, saya menginginkan Puspa!" Tegas Keanu.


"Puspa? Gadis itu?" Tanya Martha, ia pun tertawa lebar.


"Masih banyak yang jauh lebih cantik dan tentu saja lebih seksi dari dia. Bagaimana jika saya menawarkan yang lain untuk Anda. Saya jamin gadis yang saya tawarkan tidak akan membuat Anda kecewa," bujuk Martha.

__ADS_1


Keanu menggeleng dengan tegas. "Tidak! Saya hanya ingin Puspa!" Keanu tetap pada pendiriannya.


"Berapa harga yang harus saya bayar untuk membawa Puspa dari sini?" Tanya Keanu dengan wajah serius.


Martha tertegun. Ia menatap lekat Keanu.


"Membawa?" Ia meminta penjelasan dari kata itu kepada Keanu.


Keanu tersenyum simpul. Ia mengeluarkan sebuah amplop dari dalam blazernya dan meletakan benda itu di atas meja.


Martha segera meraih amplop itu dan melihat isinya. Ia pun mulai memahami maksud dari Keanu.


"Saya tidak dapat memberi keputusan. Sebaiknya Anda temui saja Nancy. Dia yang bertanggung jawab atas semua gadis yang ada di sini!" Saran Martha. Ia tampak senang dengan sejumlah uang yang Keanu tawarkan untuknya.


"Nancy? Dimana saya bisa bertemu dengannya?" Tanya Keanu lagi.


"Tunggu sebentar!"


Martha meraih tasnya. Ia lalu mengambil sebuah pulpen dan buku catatan kecil. Ia pun menuliskan sesuatu di sana. Setelah itu, ia menyobek kertas dan menyodorkannya kepada Keanu.


"Anda dapat menemui Nancy di sana. Jika Anda mau, saya bisa membuatkan janji untuk Anda," tawar Martha. Ia merasa sudah terbeli oleh isi amplop dari Keanu.


"Sungguh?" Keanu tersenyum sinis. "Bagaimana saya bisa yakin jika Anda dapat saya percaya?" Keanu merasa tidak yakin dengan ucapan Martha.


Martha tertawa pelan. Ia kemudian memperlihatkan amplop pemberian Keanu.


"Ini adalah jumlah yang sangat besar. Saya rasa Anda pasti bukan orang sembarangan. Mungkin jika Anda mau menambahkan sedikit saja lagi dari jumlah ini ... saya bisa membantu Anda mendapatkan Puspa dengan mudah!" Rayu Martha. Jelas sudah jika ia adalah manusia yang diperbudak oleh uang dan kemewahan. Maka tidak menjadi hal yang aneh jika dia berada di tempat seperti itu.


"Saya adalah seorang pebisnis. Saya tidak akan berani mengeluarkan nominal dengan terlalu besar, jika tidak ada keuntungannya bagi saya," tolak Keanu dengan halus.


Martha kembali tertawa. "Anda dapat mempercayai saya, Tuan," bujuknya. Ia terus meyakinkan Keanu.


"Saya butuh bukti dulu. Urusan uang bukan masalah yang besar bagi saya," ucap Keanu dengan tenangnya.

__ADS_1


Martha tersenyum lebar. Ia pun manggut-manggut. "Saya akan buatkan janji dengan Nancy, karena jujur saja jika Anda melakukannya sendiri maka itu pasti akan sangat lama. Nancy adalah orang yang sangat sibuk," terang Martha.


Keanu terdiam untuk sejenak. Ia seakan tengah memikirkan sesuatu. Tidak berselang lama, ia pun mengangguk setuju. "Oke. Saya tunggu kabar dari Anda secepatnya!" Ucap Keanu. Ia pun memberikan nomor yang dapat dihubungi. Tentu saja bukan nomor utama miliknya.


__ADS_2