Ryanthi : Manisnya Kue, Pahitnya Kenyataan

Ryanthi : Manisnya Kue, Pahitnya Kenyataan
● EMPAT PULUH SEMBILAN : Haruskah Melepaskan?


__ADS_3

Ryanthi terlihat sudah rapi siang itu. Sepertinya, dia akan pergi, tapi entah ke mana.


"Mau pergi?" tanya Surya. "Mau ke mana?" tanyanya lagi.


"Iya. Aku ada janji bertemu dengan seseorang," jawab Ryanthi.


"Kebetulan, Ayah juga akan keluar. Bagaimana jika sekalian saja Ayah antar?" tawarnya.


"Boleh," jawab Ryanthi setuju.


Tak berselang lama, mereka sudah berada di dalam jeep yang melaju dalam kecepatan sedang, membelah jalanan ibukota.


"Sebenarnya, siapa yang akan kamu temui?" tanya Surya penasaran.


"Mama Imdira," jawab Ryanthi singkat. Namun, ada rona semangat dalam sorot matanya kali ini.


"Ayah pikir, kamu akan bertemu dengan Adrian. Apa hubungan kalian baik-baik saja?" tanya Surya lagi.


Ryanthi menggeleng pelan. "Adrian marah besar, saat tahu bahwa aku akan perg ke Perancis," jawabnya lesu.


"Berikan dia penjelasan. Ayah yakin, Adrian pasti akan mengerti," saran Surya yang tetap fokus pada lalu lintas kota.


"Sudah. Adrian lebih suka aku di sini," jawab Ryanthi pelan dan penuh sesal.


"Semuanya pasti bisa dibicarakan secara baik-baik," ucap Surya lagi, sebelum menghentikan mobilnya di sebuah perempatan lampu merah.


"Adrian pria yang baik dan sangat pintar. Ayah rasa, dia pasti mendukungmu. Dia mungkin hanya terkejut," jelas Surya, yang memang cukup mengenal baik seorang Adrian.


Ryanthi tidak menanggapi. Gadis itu hanya mengeluh pelan. Kebisuan merajai, hingga mereka tiba di halaman parkir sebuah cafe. Ryanthi segera turun, setelah berpamitan kepada sang ayah. Dia melangkah menuju deretan meja dan kursi yang sudah tertata rapi itu.


Cafe itu terlihat sangat nyaman, karena mengusung konsep outdoor. Seluruh interior bangunannya bernuansa putih.


Melihat kedatangan Ryanthi, Indira yang sudah menunggu sejak tadi segera melambaikan tangan. Wajahnya tampak berseri. Dia sangat menyukai Ryanthi, dan berharap agar gadis itu dapat menjadi menantunya.


Ryanthi bergegas menghampiri ibunda Adrian tersebut. Dia duduk setelah sebelumnya mencium pipi kiri dan kanan calon ibu mertuanya itu.

__ADS_1


"Bagaimana kabarmu hari ini?" tanya Indira hangat dan ramah. Seperti biasanya, dia selalu tampak bersahabat.


Ryanthi tersenyum simpul seraya mengangguk pelan. "Baik, Ma," jawabnya agak canggung, saat memanggil Indira dengan sebutan 'mama'.


Indira tersenyum. Sebelumnya, dia sudah memesankan dua gelas minuman serta kudapan untuk menemani perbincangan mereka. "Kamu sudah menemui Adrian lagi?" tanyanya membuka percakapan.


Ryanthi segera menggeleng. "Belum," jawabnya singkat.


"Dia terlihat sangat kacau," ucap Indira lagi.


"Temui dia, Sayang! Mama ingin kalian membicarakan masalah yang membuat kalian bertengkar secara baik-baik. Mama sedih harus melihat kalian dalam situasi tak mengenakan seperti saat ini." Raut wajah Indira tampak muram. Ada gurat kecewa pada sorot matanya.


Ryanthi tidak berkata apa-apa. Gadis itu hanya menatap vas bunga berwarna putih, yang terpajang di meja tempat mereka duduk sekarang. Dia masih bingung dengan fikirannya sendiri.


"Jangan sama-sama egois seperti ini, karena itu tidak akan menyelesaikan masalah yang sedang kalian hadapi," lanjut Indira dengan lembutnya. Dia benar-benar simbol seorang ibu sejati.


"Adrian sangat marah padaku. Aku tidak berani menemuinya dalam waktu dekat ini," jawab Ryanthi ragu.


"Untuk apa kami bertemu jika hanya akan bertengkar lagi? Adrian tidak mau menerima penjelasanku yang seharusnya sudah bisa dia pahami, tanpa harus kujelaskan dengan panjang lebar," lanjut Ryanthi lagi pelan dan penuh sesal.


"Terima kasih, Ma." Ryanthi tersenyum seraya mencicipi minuman dalam gelas di hadapannya.


"Mama rasa, Adrian hanya terkejut karena kamu memberi tahu dia dengan tiba-tiba," bela Indira. Dia mencicipi minuman yang dipesan tadi.


Ryanthi mengeluh pelan. "Kenapa semua orang membelanya, tapi tidak ada yang memahami apa yang aku rasakan? Aku ingin memberitahu Adrian sejak awal. Akan tetapi, aku selalu kesulitan untuk melakukan hal itu," ucap Ryanthi lirih. Dia bertahan, agar air matanya tidak jatuh di hadapan Indira.


Indira menggenggam lembut jemari Ryanthi. Sama seperti yang selalu Farida lakukan padanya.


Sentuhan kecil Indira, telah berhasil menciptakan desiran aneh di hati Ryanthi.


Dia menatap wanita yang ada di hadapannya. Indira begitu baik dan keibuan. Dia merupakan sosok yang tak jauh berbeda dengan Farida.


"Mama bisa memahaminya. Pasti terasa berat saat harus membahas sesuatu yang akan menciptakan percikan masalah dalam hubungan. Namun, semarah apapun Adrian saat ini, kenyataannya adalah dia sangat membutuhkanmu."


"Turunkan sedikit egomu. Harus ada salah satu yang mengalah di antara kalian. Jika terus seperti ini, maka sampai kapanpun tak akan ada titik temunya," saran Indira. "Kehadiranmu dalam kehidupan Adrian, benar-benar Mama syukuri. Dia menjadi banyak berubah. Tolonglah, Nak. Pikirkan baik-baik. Namun, jangan menyuruhnya untuk membuat kue lagi."

__ADS_1


Setelah pertemuan dengan Indira, rencananya Ryanthi akan menemui Vera di kediaman keluarga Arshan. Sepanjang jalan menuju tempat tinggal sang mantan, Ryanthi terus merenung. Dia memikirkan kelanjutan hubungan yang baru dimulainya dengan Adrian.


Beberapa saat kemudian, Ryanthi sudah tiba di tempat yang dituju. Dia tak pernah menyangka, bahwa dirinya akan kembali lagi ke sana. Namun, bukan dalam status sebagai kekasih Arshan.


"Hai, aku sangat merindukanmu," sambut Vera. Perutnya sudah kian membesar. Kondisi seperti itu membuat geraknya menjadi terbatasi. "Kalau mau minum, ambil sendiri saja. Kamu sudah tahu di mana dapurnya," ujar istri Arshan tersebut enteng.


Ryanthi tersenyum simpul. Dia memilih duduk di sofa ruang tamu. "Bagaimana kehamilanmu? Apa tidak masalah kamu hanya sendirian di rumah?" Ada gurat kecemasan di paras cantik Ryanthi, saat mengetahui bahwa Vera hanya seorang diri di sana.


"Tidak apa-apa. Arshan sudah pindah kamar ke lantai bawah. Lagi pula, biasanya ibu dan ayah pulang lebih cepat dari pasar," jelas Vera sambil mengusap-usap perut besarnya. "Lihatlah. Siapa sangka bahwa aku akan menjadi seorang ibu. Padahal, dulu aku tidak menyukai anak kecil. Mereka sangat berisik dan mengganggu."


"Kehidupan akan selalu berubah. Begitu juga dengan pemikiran seseorang. Kurasa, saat ini kamu sudah bersikap jauh lebih dewasa dari saat pertama aku mengenalmu."


"Ah, jangan ingatkan aku pada saat-saat itu. Sikapmu benar-benar buruk dan menyebalkan padamu. Namun, kamu tetap baik padaku."


"Aku sudah memukulmu," ujar Ryanthi diiringi tawa geli.


"Ya, itu akan selalu menjadi cerita terkonyol antara kamu dan aku." Vera ikut terkikik, saat mengenang perkelahiannya dengan Ryanthi di rumah milik orang tua Arshan. "Omong-omong, bagaimana dengan rencana kepergianmu ke Perancis?"


Seketika, raut wajah Ryanthi berubah muram. Kembali terbayang olehnya kemarahan Adrian yang sangat menakutkan.


"Bagaimana tanggapan Adrian? Apa dia memberimu izin untuk pergi? Berhubung, kalian akan berpisah cukup lama."


Ryanthi tidak segera menjawab. Dia hanya tertunduk, lalu menyentuh sudut matanya. "Adrian sangat marah. Dia tidak suka saat aku mengatakan bahwa diriku akan melanjutkan pendidikan di Perancis. Kami bertengkar gara-gara itu," tutur Ryanthi pelan.


"Astaga, lalu bagaimana?"


"Entahlah, Ver. Aku juga tidak tahu. Satu yang pasti, aku tidak akan membatalkan rencana kepergianku hanya karena larangan Adrian. Ini hidupku. Masa depanku. Cinta dari pria manapun, tak akan sebanding dengan ilmu dan kemampuan yang kumiliki. Itu akan menjadikanku sebagai wanita kuat dan mandiri." Itulah Ryanthi. Karakter seorang Farida melekat kuat dalam dirinya.


"Apa tidak jauh lebih baik jika kamu bisa mendapatkan keduanya?" Vera menaikkan sebelah alis. "Sekuat apapun seorang wanita, dia pasti tetap membutuhkan otak seorang pria. Menurutku, Adrian merupakan paket istimewa. Terlalu sayang jika kamu melepaskannya begitu saja," saran Vera tulus.


Ryanthi terdiam. Apa yang Vera katakan memang benar adanya. Adrian adalah sosok yang teramat istimewa. Terlalu sayang jika harus melepaskan pria seperti dia.


Akan tetapi, cita-cita besar serta impian mendiang Farida pun tak kalah penting baginya. Ryanthi harus memanfaatkan kesempatan di depan mata.


"Terkadang, kita harus mengorbankan satu hal untuk mendapatkan hal lain," ucap Ryanthi pelan dan penuh sesal.

__ADS_1


__ADS_2