
Beberapa hari berlalu setelah perbincangan Arumi dengan Moedya. Luka di wajah pria itupun kini sudah mulai membaik. Begitu juga dengan luka di wajah Keanu. Ia mulai berhenti bermain kucing-kucingan dengan sang ibu.
Siang itu, Puspa datang ke rumah Ryanthi. Keanu rupanya sudah benar-benar mantap untuk menjadikan gadis bertubuh mungil itu sebagai calon pendampingnya. Ia pun membahas hal itu dengan serius bersama Ryanthi.
"Kita bisa meminta bantuan tante Ve untuk urusan seperti ini. Dulu, dia menyelenggarakan pesta pernikahannya dengan sangat luar biasa," terang Ryanthi. "Biar nanti Ibu yang akan bicara dengannya. Kamu tidak keberatan 'kan, Puspa?" Ryanthi melirik calon menantunya yang sejak tadi hanya terdiam.
Puspa tersenyum seraya menggeleng pelan. "Tidak, Ibu. Ibu pasti jauh lebih berpengalaman," sahut Puspa dengan sopan.
"Aku sudah memilih waktunya, Bu," timpal Keanu. Ia melirik Puspa seakan meminta izin kepada gadis itu. Puspa pun kembali mengangguk pelan tanda setuju.
"Sungguh? Kapan?" Tanya Ryanthi.
"Awal Oktober. Bagaimana menurut Ibu?" Tanya Keanu. Ia meminta pendapat dari sang ibu.
Ryanthi terdiam untuk sejenak. Ia tidak menyangka jika Keanu akan memilih waktu secepat itu.
"Artinya hanya tinggal sekitar tiga bulan lagi, Sayang," ucap Ryanthi.
Keanu mengangguk dengan yakin.
"Baiklah. Ibu akan menemui tante Ve dan bicara dengannya," ucap Ryanthi lagi dengan senyumnya. Ia menatap calon menantunya untuk sesaat.
"Puspa ...." sebut Ryanthi dengan lembut.
"Iya, Bu," sahut Puspa dengan sopan.
"Apa tidak ada satupun sanak saudaramu yang tinggal di kota ini, Sayang?" Tanya Ryanthi. Ia melepaskan kaca mata yang tengah dipakainya.
Puspa terdiam sejenak. Perasaan bingung dan tidak nyaman mulai menyelimutinya kini. Ia pun melirik Keanu untuk sesaat, pria yang menjadi sumber kekuatannya sejak saat ini.
__ADS_1
"Tidak ada, Bu," jawab Puspa masih dengan sikap sopan yang ia tunjukan di hadapan Ryanthi.
"Ayah dan ibuku adalah perantau dari seberang. Sanak saudara mereka semua tinggal di sana. Akan tetapi, kami sudah terlalu lama tidak ada komunikasi dengan mereka. Aku juga tidak terlalu dekat dengan saudara dari ayah ataupun dari ibuku. Apalagi setelah kedua orang tuaku meninggal. Aku sudah benar-benar seperti hilang komunikasi dengan yang lainnya," tutur Puspa. Ia menjelaskan tentang dirinya.
Ryanthi pun manggut-manggut. Ia dapat memahami hal itu dengan cukup baik, karena kenyataannya ia pun kini hanya memiliki saudara dekat yaitu Vera yang sama sekali tidak ada hubungan darah dengannya.
"Kamu pasti gadis yang kuat," sanjung Ryanthi. Ia menyentuh pundak Puspa dengan sikap lembut keibuannya.
Puspa tersenyum dengan agak ragu pada awalnya, namun akhirnya ia pun seakan melepaskan semua beban yang saat itu terasa menghimpitnya dengan begitu kuat.
"Aku harus belajar untuk kuat, Bu. Aku hidup sebatang kara, karenanya aku ...." Puspa tidak melanjutkan kata-katanya. Ia pun tertunduk lesu.
Keanu pun hanya terdiam. Fikirannya saat ini sedang tidak fokus. Bagaimanapun juga ia masih memikirkan Moedya, sahabatnya.
"Sudahlah, Nak! Kami adalah keluargamu saat ini. Jangan fikirkan hal itu lagi!" Ucap Ryanthi dengan segenap kelembutan yang ia miliki.
Puspa pun tersenyum. "Bolehkah aku memeluk Ibu?" Tanyanya.
Sudah sangat lama Puspa tidak merasakan hangatnya pelukan seorang ibu. Selama ini ia hanya berkutat dari satu pelukan ke pelukan pria yang ia rasakan malah semakin menambah kebekuan dalam hidupnya. Puspa begitu merindukan hal itu.
Nasib baik kini telah menghampirinya. Terkadang ia tidak mengerti dengan jalan hidup yang Tuhan gariskan untuknya. Ia masih belum dapat mempercayai apa yang telah terjadi padanya saat ini. Ia masih merasa jika saat ini dirinya tengah berada dalam buaian mimpi indah yang Keanu persembahkan kepadanya.
Hingga menjelang petang, Puspa masih berada di kediaman keluarga Winata. Saat itu ia tengah berdiri menatap foto Adrian dalam ukuran yang cukup besar. Foto yang terpajang indah di dinding ruang tamu itu.
"Ayahku sangat tampan, kan?" Suara lembut seorang gadis telah membuyarkan lamunan Puspa saat itu. Gadis bertubuh mungil itupun menoleh. Ia tidak menyadari kehadiran Arumi di sana.
"Hai ... Arum," sapa Puspa dengan hangat. Ia menyambut calon adik iparnya dengan sikap yang seakrab mungkin.
Arumi tersenyum seraya menghampiri Puspa. Ia pun berdiri di sebelah gadis itu dan ikut memperhatikan foto sang ayah.
__ADS_1
"Ayahku adalah pria yang sangat baik. Lihatlah kharisma yang dimilikinya, pantas saja jika ia dapat memikat hati ibuku," Arumi tersenyum kelu dengan ucapannya sendiri.
"Ibuku pernah bercerita, jika ayahku adalah pria tergigih yang pernah ia temui. Aku berharap dapat menemukan pria seperti dia," lanjut Arumi.
"Bukankah kamu sudah menemukannya, Arum?" Puspa melirik ke arah samping dimana Arumi berdiri.
Arumi balas meliriknya. "Aku harap ... begitu," jawab gadis cantik itu.
"Kamu beruntung karena kakakku adalah duplikat asli dari mendiang ayahku. Kakakku memiliki watak yang hampir sama dengannya, meskipun dia jauh lebih misterius," terang Arumi.
"Misterius?" Puspa mengernyitkan keningnya.
Arumi tertawa pelan. Ada kegetiran dalam hatinya yang ia rasakan kini. Ia pun kembali melirik Puspa. "Aku tahu siapa dirimu, Kakak Ipar ...." ucap Arumi membuat Puspa tersentak. Mata belonya semakin terlihat besar karena terkejut saat mendengar apa yang Arumi ungkapkan kepadanya.
"Apakah ibu juga mengetahuinya?" Tanya Puspa dengan rona kecemasan yang mulai menyelimutinya.
Arumi tersenyum simpul. Ia kembali melirik calon kakak iparnya. "Tenang saja! Ibu tidak tahu siapa kamu yang sebenarnya," jawab Arumi. "Tetapi ... dapatkah kamu bercerita sedikit tentang Moedya kepadaku?" Tanya Arumi.
"Aku tidak memiliki hubungan apa-apa dengannya. Sungguh!" Puspa meyakinkan Arumi. Ia takut jika gadis itu berprasangka lebih jauh kepadanya.
"Bukankah kamu sering melihat Moedya dengan wanita itu? Apa yang kamu lihat?" Desak Arumi. Ada perasaan yang mulai membuat hati Arumi tiba-tiba menjadi begitu tidak nyaman. Sesaat kemudian, ia pun terdiam dan menghela napasnya dalam-dalam.
"Tidak! Jangan ceritakan apapun padaku! Aku tidak ingin mengetahuinya! Aku percaya kepada Moedya!" Arumi memilih untuk duduk. Raut wajahnya terlihat sangat gelisah.
Melihat hal itu, Puspa pun segera menghampiri dan duduk di sebelah Arumi. Diraihnya jemari gadis itu dan digenggamnya dengan erat.
"Arum, ma'afkan aku karena telah menyebabkan kegalauan di dalam hatimu. Seandainya aku tidak mengatakan apapun kepada Keanu, mungkin mereka tidak akan berkelahi dan kamu tidak akan menjadi gelisah seperti ini. Akan tetapi, kita harus mengenal baik pasangan kita. Jangan sampai kamu mengetahuinya setelah kamu melangkah dengan lebih jauh lagi."
"Seperti halnya Keanu yang menerima masa laluku dengan baik, maka aku rasa tidak ada salahnya jika kamu juga dapat menerima masa lalu Moedya. Apalagi jika saat ini dia sudah benar-benar mencurahkan perasaannya kepadamu."
__ADS_1
"Kalian berdua terlahir dari pasangan yang luar biasa. Ibu Ryanthi, pak Adrian. Aku sudah mendengar kisah mereka dari Keanu. Anggap saja jika saat ini kamu dan Keanu telah menjadi seorang malaikat penolong bagi diriku dan Moedya. Kalian pembawa cahaya yang menerangi kehidupan kelam kami berdua."
"Aku bukanlah wanita yang suci. Aku tidak jauh lebih baik darimu, Arum. Aku juga tidak berhak untuk memberikan kata-kata yang bijaksana untukmu. Akan tetapi ... ikhlaskan hatimu jika kamu memang ingin menerima Moedya atau tinggalkan dia dengan segera!" Puspa mengakhiri kata-katanya. Genggaman tangannya dirasakan semakin kuat oleh Arumi yang saat itu tengah larut dalam fikirannya sendiri.