Ryanthi : Manisnya Kue, Pahitnya Kenyataan

Ryanthi : Manisnya Kue, Pahitnya Kenyataan
● TIGA BELAS : Rasa Cemburu


__ADS_3

Ryanthi menuruni undakan anak tangga dengan terburu-buru. Dia turun ke lantai satu dan langsung menuju halaman, untuk menemui seseorang yang sangat dirindukannya.


Di luar, Arshan telah berdiri menunggunya. Menyambut dengan senyuman lebar, ketika Ryanthi datang menghampiri. Tanpa sungkan, pria itu meraih tangan Ryanthi, memegangnya erat, lalu sesekali menciumnya mesra.


"Aku sangat merindukanmu," ucap Arshan dengan mata berbinar.


Ryanthi tersenyum lebar, memperlihatkan sepasang lesung pipinya yang manis. Dia mengajak Arshan duduk di teras, di antara undakan anak tangga. Mereka saling berdekatan, dengan wajah semringah yang terus menghiasi pertemuan itu.


"Bagaimana kabarmu?" tanya Arshan.


"Baik," jawab Ryanthi singkat. Belum pernah dia merasa sebahagia itu, saat berjumpa dengan sang pacar.


Ryanthi merasa begitu kesepian, selama beberapa hari tinggal di kediaman sang ayah. Tidak ada orang seorang pun yang diajaknya bicara. Termasuk Surya. Gadis itu masih menjaga jarak dengan ayahnya. Ryanthi masih merasa canggung. Dia bahkan belum terbiasa saat harus memanggil pria itu dengan sebutan 'ayah'.


Surya seringkali mencoba untuk lebih mengakrabkan diri. Namun, karena karakter Ryanthi yang tertutup dan agak pendiam, cukup menyulitkan bagi pria paruh baya itu untuk mendekatinya dalam waktu singkat.


Ryanthi tidak terlalu suka berbicara dengan orang baru. Dia hanya akan terbuka, kepada orang yang benar-benar sudah dirinya kenal lama. Arshan beruntung, karena menjadi orang yang Ryanthi percaya selain Farida.


Arshan tak bosan menatap paras cantik gadis yang teramat dia cintai. "Kamu tambah cantik selama tinggal di sini," rayunya, sehingga membuat Ryanthi tersipu.


"Selama tinggal di sini, aku tidak melakukan apapun selain makan, tidur, menonton televisi. Rasanya sangat membosankan," keluh Ryanthi polos.


Arshan tertawa mendengar keluhan sang pacar yang dirasa lucu. Dia tahu seperti apa karakter Ryanthi. Gadis itu tergolong orang yang aktif. Selalu ada saja yang dikerjakannya. Kini, Ryanthi mengeluh karena tidak melakukan pekerjaan apapun. Padahal, apa yang dikeluhkannya merupakan impian hampir setiap gadis.


"Artinya, di sini kamu menjadi seorang tuan putri?" goda Arshan lagi, yang langsung berbalas cubitan dari Ryanthi.


"Semua sudah ada yang mengerjakan. Jadi, aku mencari kesibukan sendiri. Oh, iya. Aku sudah membuat kue. Kamu mau?" tawar Ryanthi.


Arshan tersenyum manis. "Tidak ada yang bisa menolak kue buatan Ryanthi," jawabnya bangga.


Ryanthi hanya menganggap ucapan Arshan terlalu berlebihan dengan memutar bola matanya. Gadis itu bangkit dari duduknya.


"Sebentar. Akan kuambilkan untukmu." ucapnya seraya beranjak masuk meninggalkan sang kekasih.


Arshan mengangguk. Dia memperhatikan gadis itu hingga menghilang di balik pintu. Sementara, dirinya masih duduk sambil memainkan ponsel.


Tak berselang lama, sebuah mobil sedan merah memasuki halaman. Seorang gadis berkacamata hitam dengan pakaian yang cukup seksi keluar dari sana. Rambutnya yang panjang terurai indah menutupi sebagian pundak. Gadis itu melangkah ke dekat Arshan, lalu berdiri di depan pria tersebut.

__ADS_1


Si gadis terus menatap Arshan dengan sorot curiga. Dia bahkan sampai membuka kacamatanya, sehingga memperlihatkan parasa cantik yang kali ini tampak jelas. Gadis itu adalah Vera.


Arshan berdiri dan balik menatapnya. Ada kekaguman dalam hati, yang dia lukiskan dengan seulas senyuman untuk Vera.


"Kamu siapa?" Vera bertanya dengan gaya manja dan centil.


Namun, Arshan tidak langsung menjawab. Dia hanya menatap gadis itu.


Vera seakan tahu ada seseorang yang sedang mengagumi kecantikannya. Dia bertingkah semakin berani, dengan memainkan rambutnya di depan Arshan.


"Namaku Arshan. Aku pacarnya Ryanthi," jawab pria itu.


Mendengar pengakuan Arshan, seketika raut wajah Vera berubah. "Pacar Ryanthi?" ulangnya. "Lumayan juga", pikir gadis itu.


Dia lalu mengulurkan tangan, bermaksud mengajak Arshan bersalaman.


"Namaku Vera. Saudarinya Ryanthi." Gadis itu mulai menatap nakal kepada Arshan.


Arshan mengangguk diiringi senyum ramah.


"Selamat siang, Mbak Vera," sapa pria itu mulai basa-basi.


"Oh, baiklah," balas Arshan kalem.


Tak berselang lama, Ryanthi muncul dengan membawa sepiring kue dari dalam. Dia tertegun melihat Vera ada di sana bersama Arshan. Apakah Ryanthi berhak curiga? Rasanya tidak. Ryanthi tahu, bawha Vera tak akan tertarik dengan pria seperti Arshan yang sederhana. "Shan," panggilnya pelan.


Arshan menoleh. Dia baru menyadari kehadiran Ryanthi di sana.


Vera pun ikut menoleh. Namun, Ryanthi tidak memedulikannya. Dia langsung menghampiri Arshan, lalu menatap sinis kepada Vera. Pakaian yang dikenakannya saat itu benar-benar mengganggu Ryanthi. Terlebih, sesekali Arshan tampak mencuri pandang kepadanya.


"Kuenya, Shan." Ryanthi memecah kebisuan mereka. Arshan menoleh, lalu mengangguk.


"Kamu beruntung punya pacar seperti Ryanthi. Dia sangat pintar membuat kue," sanjung Vera, sambil sesekali melirik sinis kepada Ryanthi. Namun, gadis itu tersenyum manis kepada Arshan terlihat salah tingkah.


Sedangkan, Ryanthi hanya tersenyum tipis mendengar sanjungan dari Vera. Dia tahu bahwa gadis itu hanya berpura-pura mengatakan demikian di depan Arshan.


"Ryanthi memang pacar yang luar biasa," timpal Arshan. Dia ikut menyanjung sang kekasih dengan bangga.

__ADS_1


"Pasti. Aku tahu itu." Vera menanggapi dengan ekspresi yang sedikit dipaksakan. "Baiklah, Arshan. Senang berkenalan denganmu. Aku tidak mau mengganggu kalian lagi." Vera tersenyum nakal pada pria itu. Dia kembali membuat Arshan menjadi kikuk. Vera melangkah masuk, meninggalkan Ryanthi dan Arshan berdua di teras.


Ryanthi dan Arshan kembali duduk. Ryanthi tampak agak kesal dengan kehadiran Vera. Karena itu, dia tidak banyak bicara. Wajahnya cantiknya pun tampak merengut.


"Dia seumuran denganmu?" tanya Arshan tiba-tiba.


"Siapa?" Ryanthi berpura-pura tidak mengerti, meski dia paham orang Arshan maksud.


"Dia, um ... Vera." Arshan menyebut nama gadis menyebalkan itu.


"Ya," jawab Ryanthi singkat dengan nada agak kesal. Malas rasanya harus membahas tentang gadis manja yang senang memamerkan lekuk tubuhnya tersebut. "Dia putrinya Maya. Istri ayahku yang sekarang," jelas Ryanthi.


"Oh." Arshan manggut-manggut.


"Apa dia menggodamu?" Tiba-tiba, terlontar pertanyaan konyol dari bibir Ryanthi.


Arshan terkejut mendengar pertanyaan yang dirasa aneh seperti itu. "Maksudmu?" Dia menautkan alisnya.


Ryanthi tersenyum kelu. "Kulihat, Vera terus-menerus tersenyum padamu." Ryanthi mulai menunjukkan rasa kesal karena dilanda cemburu.


Arshan yang sudah berpengalaman menjalin kasih dengan beberapa gadis, dapat memahami sikap Ryanthi. "Jangan katakan jika kamu sedang cemburu," ujarnya menggoda.


Ryanthi terdiam. Tidak biasanya dia bersikap demikian terhadap Arshan. Ryanthi tidak pernah marah atau curiga, saat melihat Arshan akrab dengan teman-teman wanitanya. Namun, entah apa yang berbeda dengan Vera. Ryanthi menggelengkan kepala tanda tak mengerti.


Arshan tidak mungkin tertarik dengan gadis seperti Vera. Gadis itu bahkan tidak tahu cara berpakaian dengan benar dan sopan.


Keluarga Arshan merupakan orang-orang yang sangat menjunjung tinggi adab. Kedua orang tuanya tidak menyukai jika Arshan berdekatan dengan gadis-gadis dengan tingkah serta penampilan mencolok seperti Vera. Karena itulah mereka sangat setuju, saat Arshan berpacaran dengan Ryanthi.


"Aku senang jika kamu cemburu. Kata orang, cemburu itu tandanya bahwa pasangan kita takut kehilangan," ucap Arshan. "Kamu juga takut kehilangan aku. Benar bukan?" Pria itu tersenyum penuh percaya diri.


"Aku tahu seperti apa Vera, meskipun kami baru bertemu beberapa hari yang lalu. Namun, aku akan berusaha percaya padamu," balas Ryanthi. Dia memaksakan tersenyum, meskipun ada kegalauan yang dia rasakan.


Ryanthi menggenggam jemari Arshan. Sesuatu yang berbalas hal sama dari pria itu. Arshan tersenyum, lalu mengecup punggung tangan Ryanthi.


"Kamu pikir, aku akan rela kehilangan kekasih sepertimu?" Arshan meyakinkan Ryanthi tentang kesetiaan serta perasaannya.


"Aku tidak tahu apa yang kamu inginkan atau kamu butuhkan sebagai seorang pacar. Kamu tahu bahwa aku ... kita ...." Ryanthi terbata. Dia bingung dengan rangkaian kata yang akan diucapkannya. Ryanthi memilih diam, lalu menunduk.

__ADS_1


"Aku cinta kamu, Ryanthi. Tidak ada alasan lain yang mendasari perasaan itu terhadapmu. Aku hanya bahagia karena bisa memiliki gadis seperti dirimu," ujar Arshan lagi, seraya mengecup lembut kening Ryanthi.


__ADS_2