
Ryanthi terpaku membalas tatapan kedua wanita, yang berdiri beberapa meter dari tempat dia berada. Ryanthi sudah melihat sosok Maya, karena dia telah bertemu dengan wanita perebut itu beberapa hari yang lalu. Namun, dia belum mengetahui gadis bertubuh semampai yang bediri di samping wanita berambut merah tersebut.
"Mari," ajak Surya. "Kalian tidak ingin menyambut Ryanthi?" Surya menatap Maya dan gadis cantik tadi, yang tiada lain adalah Vera. Vera merupakan putri yang dibawa Maya ke rumah itu.
"Oh, tentu saja" Maya menghampiri Ryanthi dengan wajah sok ramah. Dia tersenyum lebar, kemudian menempelkan pipinya pada pipi Ryanthi yang tidak menanggapi sama sekali. Gadis itu hanya terpaku. Tak ingin ikut bersandiwara.
"Vera?" Surya memberi isyarat kepada putri sambungnya yang hanya mendelik. Dia tidak menyukai hal itu. Namun, akhirnya Vera menurut untuk memberi sambutan hangat kepada Ryanthi. "Papa harap, kamu dan Ryanthi bisa menjadi teman baik," ujar Surya kepada gadis cantik berambut panjang itu.
"Ya tentu saja. Papa tidak perlu mencemaskan hal itu. Aku dan Ryanthi pasti akan menjadi teman baik. Bukankah begitu, Ryanthi?" Vera mengalihkan pandangan kepada putri Farida, yang hanya menatap tajam padanya. Ryanthi tak berminat menanggapi omong-kosong gadis yang memiliki postur sedikit lebih tinggi darinya tersebut.
"Ah, Papa tenang saja. Aku yang akan mengawasi mereka. Lagi pula, Vera dan Ryanthi sudah sama-sama dewasa. Mereka tak mungkin lagi berebut boneka," canda Maya, meski tak ada yang menanggapinya dengan tawa.
"Baguslah. Itu yang Papa inginkan, karena mulai sekarang Ryanthi akan tinggal di sini.
Perlakukan dia dengan baik. Jangan sampai ada satu keluhan pun darinya," pesan Surya penuh wibawa.
"Oh, tentu. Tentu." Maya kembali menanggapi. Wanita berambut merah tersebut, berusaha menyembunyikan rasa tak suka atas keputusan Surya. Namun, dia tak memiliki keberanian untuk membantah wewenang pria tersebut. Itu berarti, Maya harus bersiap merasakan ketidaknyamanan atas kehadiran Ryanthi di sana.
__ADS_1
"Selamat datang di rumah ini, Ryanthi," sambut Maya memaksakan tersenyum. Namun, wanita itu segera mengulum bibirnya, saat melihat ekspresi dingin yang Ryanthi tunjukan.
Sebenarnya, Surya tidak perlu berusaha mendekatkan mereka. Ryanthi juga tak membutuhkan hak istimewa, karena kedudukannya di rumah tersebut sudah sangat jelas.
"Mari, Ayah antar ke kamarmu," ajak Surya.
Ryanthi tak ingin banyak bicara. Dia menuruti ucapan sang ayah. Lagi pula, dirinya sudah mulai tidak nyaman dengan kedua wanita itu. Lebih baik, Ryanthi segera pergi dari sana.
Surya mengajak Ryanthi ke lantai dua. Dia menunjukan kamar yang akan ditempati gadis itu. Sebuah ruangan yang jauh lebih luas dari ruang tamu rumah kontrakannya. Kamar itu juga dilengkapi fasilitas lengkap.
Di sana, ada sebuah tempat tidur besar dan terlihat sangat empuk. Warna sepreinya senada dengan cat dinding, yang sebagian ditutupi wallpaper motif bunga elegan dan memberikan kesan mewah. Selain itu, ada pula terdapat televisi layar datar dengan ukuran besar, pendingin udara, juga berbagai fasilitas lain yang tak pernah Ryanthi rasakan selama tinggal bersama mendiang Farida.
"Kamu suka kamar yang Ayah siapkan ini?" Pertanyaan Surya seketika membuyarkan lamunan Ryanthi.
Gadis cantik itu menoleh, kemudian tersenyum. "Ini kamar yang sangat bagus. Terima kasih," jawabnya pelan, seraya melihat ke setiap sudut ruangan itu. Dia seperti sedang mencari sesuatu. "Di mana lemari bajunya?" tanya Ryanthi polos.
Surya tersenyum mendengar pertanyaan itu. Dia segera menunjuk pada sebuah pintu yang ada di sudut ruangan. Surya mengajak Ryanthi ikut bersamanya. Dia memperlihatkan apa yang ada di balik pintu tadi.
__ADS_1
"Ini adalah kamar ganti. Simpan semua baju dan barang-barangmu di sini," jelas Surya seraya menunjukan sebuah etalase yang cukup besar. Di sana juga ada beberapa meja dengan susunan laci, serta etalase lain khusus untuk sepatu yang berukuran sedikit lebih kecil.
"Semuanya masih kosong. Ayah tidak tahu pakaian seperti apa yang kamu sukai, berapa nomor sepatumu, apakah kamu suka aksesories atau tidak," ucap Surya. Raut wajahnya tampak penuh penyesalan.
Ryanthi paham dengan apa yang dirasakan Surya saat itu. "Tidak apa-apa. Aku membawa semua bajuku kemari," jawab gadis cantik tersebut diiringi senyum tulus.
Surya mengangguk pelan. Dia lalu menunjukan kamar mandi dengan segala fasilitasnya. Surya menjelaskan bagaimana cara menggunakan closet duduk, shower air panas, dan sebagainya. Dia memberitahu segala hal kepada Ryanthi, karena selama ini gadis itu tidak pernah menggunakan fasilitas mewah seperti yang ada di rumah sang ayah. Ryanthi terbiasa mandi dari ember dengan gayung. Dia juga buang air di closet jongkok tanpa harus menekan ini dan itu.
Setelah selesai memberi penjelasan kepada Ryanthi, Surya lalu meninggalkannya sendiri di dalam kamar. Dia menyarankan agar anak gadisnya tersebut dapat beristirahat.
Sepeninggal Surya, Ryanthi duduk di tepian ranjang. Kasur itu benar-benar empuk. Sangat jauh berbeda dengan alas tidur dia yang dulu. Ryanthi kemudian meraba bedcover yang melapisinya. Begitu halus dan lembut. Dia pasti akan tidur nyenyak dengan semua kenyamanan itu.
Namun, ingatan Ryanthi tiba-tiba tertuju pada Maya dan Vera. Dia tahu bahwa mereka tidak menyukai keberadaannya di sana. Entah apa yang akan ibu dan anak itu lakukan terhadap dirinya, mengingat Maya telah berhasil membuat Farida angkat kaki dari rumah megah tersebut.
Ryanthi kembali berdiri di dekat jendela kaca tadi. Tatapannya menerawang jauh ke luar. "Ini rumahku. Aku yang jauh lebih berhak dibanding mereka berdua. Jika dulu Maya berhasil membuat ibuku tersingkir dari sini, maka kupastikan hal itu tak akan terjadi lagi. Kita lihat saja, seberapa pintar kalian dalam melakukannya."
Senyuman kecil terlukis di sudut bibir Ryanthi. Dia harus membuktikan bahwa dirinya adalah wanita kuat yang tidak mudah ditindas. Tak ada siapa pun yang berhak merampas segala kebahagiaannya lagi. Ryanthi meyakinkan hal itu pada dirinya. "Aku tak akan pernah mengecewakanmu, bu. Semua yang menjadi harapan serta cita-cita besar yang telah kita rancang, pasti akan segera kuwujudkan. Aku berjanji. Tak ada satu hal paling berharga sekalipun, yang bisa mencegahku untuk memberikan kebanggan padamu."
__ADS_1
Ryanthi menyeka air mata yang menetes di sudut bibir. Kepergian sang ibu memang telah menjadi bencana terdahsyat dalam hidupnya. Namun, karena kepergian Farida pulalah, kekuatan tersembunyi seorang Ryanthi menjadi terbangkitkan.