
Raut wajah Maya kian tak menentu, saat
Surya membatalkan acara untuk pergi bersamanya. Pria paruh baya itu lebih memilih mengantarkan Ryanthi kembali ke rumah kontrakan. Lagi pula, Surya begitu ingin bertemu dengan Farida yang selama ini dirinya rindukan. Tak ada hal lain yang akan Surya lakukan, selain meminta maaf kepada sang istri yang hingga detik itu tidak dirinya ceraikan secara hukum.
Dalam perjalanan pulang, Ryanthi lebih banyak diam. Sebenarnya, dia sangat khawatir akan tanggapan Farida, saat nanti sang ibu bertemu kembali dengan Surya.
"Apakah aku sudah melakukan tindakan yang benar?" pikir Ryanthi ragu. Gadis itu terus berpikir.
Akan tetapi, benar atau tidak, Surya tetap harus mengetahui kondisi Farida yang sudah sangat memprihatinkan. Ryanthi hanya berharap bahwa dirinya tidak mengambil tindakan yang keliru.
Surya melajukan kendaraannya penuh semangat. Dia terlihat begitu bahagia, karena akan bertemu lagi dengan istri yang telah lama hilang dari kehidupannya. Di sisi lain, Surya juga sangat senang melihat Ryanthi yang kini telah tumbuh dewasa. "Berapa usiamu sekarang, Nak?" Surya mencoba memecah kebisuan antara mereka.
"Dua puluh tiga," jawab Ryanthi singkat. Sungguh keterlaluan. Surya bahkan tidak tahu berapa usia Ryanthi saat ini.
"Ayah macam apa dia?" pikir Ryanthi yang merutuki kekonyolan sang ayah, dalam hatinya.
"Sudah berapa lama ibumu sakit?" tanya Surya lagi. Dia seolah-olah ingin terlihat lebih akrab dengan putrinya.
Ryanthi tahu bahwa Surya hanya sedang mencoba berbasa-basi. Sebenarnya, dia malas untuk menanggapi semua pertanyaan yang diajukan pria itu. Ryanthi lebih memilih diam. Namun, Surya terus bertanya dan mengajaknya berbincang.
"Dua minggu," jawab Ryanthi. "Biasanya, ibu tidak pernah sakit sampai berlarut-larut seperti sekarang," jelas Ryanthi datar. "Ya. Ibu sudah sering sakit-sakitan. Dia bekerja terlalu keras demi menghidupi kami berdua, sampai harus mengabaikan kesehatannya," sesal gadis itu. Sindiran halus yang sebenarnya ditujukan langsung untuk sang ayah.
__ADS_1
Surya menjadi salah tingkah, setelah mendengar ucapan Ryanthi yang terdengar begitu menusuk relung batinnya. Namun, pria dengan baju batik itu tetap berusaha terlihat biasa. Dia harus mengabaikan segala rasa tak nyaman, karena dirinya tak tahu harus menanggapi bagaimana.
"Bagaimana jika kita membeli oleh-oleh dulu untuk ibumu," cetus Surya tiba-tiba. Dia memilih mengalihkan topik pembicaraan. Momen pertama bertemu kembali dengan putri tercinta, tak ingin dirinya rusak oleh perselisihan karena membahas kemelut kelam di masa lalu.
"Tidak usah," tolak Ryanthi. "Aku menitipkan ibu pada tetangga. Lagi pula, aku meminta izin hanya pergi sebentar" kilah gadis itu. Perasaannya sudah benar-benar tak nyaman, karena Ryanthi tak terbiasa meninggalkan Farida seorang diri dalam kondisi sang ibu yang tengah sakit. "Bisakah lebih cepat lagi?" pinta Ryanthi yang terlihat kian gusar.
"Ya, tentu. Kamu lihat sendiri kondisi lalu lintas sedang padat," tunjuk Surya seraya mengarahkan pandangan ke depan.
Ryanthi mengembuskan napas pendek disertai keluhan. Dia tak bisa berbuat banyak, karena kenyataannya kendaraan yang dirinya tumpangi malah terjebak di tengah-tengah kemacetan lalu lintas ibukota. Ryanthi hanya duduk bersandar sambil menatap lurus ke depan.
Beberapa saat kemudian, mobil yang dikemudikan Surya kembali melaju. Meski masih agak tersendat, tapi untungnya tidak sampai berhenti total. Keadaan seperti itu membuat Ryanthi kembali mengeluh pelan.
Sedangkan, Ryanthi tidak menanggapi. Gadis dua puluh tiga tahun tersebut tetap memilih diam. Sikap seperti itu terus berlangsung, hingga mobil yang dikendarai Surya akhirnya memasuki wilayah rumah kontrakan yang ditempati Ryanthi.
Dari kejauhan, tampak orang-orang berkerumun di depan rumah kontrakan yang Ryanthi tempati. Perasaan gadis itu sudah tidak enak. Dia semakin gelisah.
"Ibu," gumamnya pelan. Ryanthi bergegas keluar dari mobil. Dia merangsek masuk ke rumah. Sementara, Surya memarkirkan kendaraannya terlebih dulu, barulah mengikuti Ryanthi.
Sesampainya di dalam rumah, tubuh Ryanthi seketika ambruk, ketika melihat Farida sudah terbujur kaku ditutupi selembar kain jarik. Seorang wanita menghampiri dan memeluknya.
"Sabar ya, Nak," bisik wanita itu lembut, sambil mengelus rambut Ryanthi.
__ADS_1
Ryanthi tidak dapat berkata apa-apa. Dia begitu terpukul mendapati kenyataan tersebut. Ryanthi ingin sekali menjerit. Namun, suaranya seakan tertahan dan terasa mencekik leher dengan kuat. Air mata pun seakan terbendung oleh rasa terkejut, sehingga tak dapat menetes dan hanya membuat mata Ryanthi terasa begitu berat. Gadis itu masih terduduk di lantai, di hadapan jenazah sang ibu yang amat dia cintai.
Sementara, Surya hanya berdiri mematung menatap wajah istrinya yang pucat dan tak bernyawa lagi. Dia berjalan perlahan mendekati jenazah Farida. Surya kemudian duduk bersimpuh di sana. Diusapnya lembut kening Farida. Perlahan air mata mulai menetes membasahi pipi. Penyesalan yang sangat besar akan terus membebani hidupnya.
Surya mengecup kening Farida hingga beberapa saat. Namun, wanita itu masih terdiam dan tak merespon sama sekali. Kedua matanya terus terpejam. Tubuhnya pun kaku, dengan wajah yang putih tampak semakin pucat. "Farida," bisik Surya menahan haru, "ini aku ... suamimu ...," rintihnya. Farida tetap tertidur. Dia terlelap dan tidak akan pernah terbangun lagi
"Aku kemari untuk meminta maaf padamu." Surya kembali berbisik. "Kenapa kamu harus pergi sebelum memberiku maaf? Apa ini cara membalas dendam terhadapku? Kamu memberikan beban yang tidak akan pernah dapat aku lepaskan." Surya tak dapat menahan kesedihannya. Air mata terus menetes. Dia teringat dengan semua kesalahan kepada istri serta putrinya.
Surya kemudian berbalik dan menatap Ryanthi yang tampak sangat terpukul. Gadis itu tidak dapat berbuat apa-apa, selain duduk dengan mulut terkatup rapat disertai tatapan kosong. Segera dipeluknya erat gadis malang tersebut.
Para tetangga yang datang hanya bisa melihat adegan itu dengan penuh haru. Mereka pun tidak tahu siapa pria yang tadi berbisik pada jenazah Farida, dan kini memeluk Ryanthi. Mereka hanya bisa menerka-nerka.
"Nak, kami akan memandikan jenazah ibumu sekarang." Seorang wanita yang biasa bertugas memandikan jenazah, berbicara kepada Ryanthi.
Ryanthi menoleh kepadanya tanpa berkata apa-apa. Dia masih merasa bingung.
Melihat itu, Surya segera mengambil alih untuk mewakili Ryanthi. Lagi pula, memang sudah seharusnya dia yang bertanggung jawab. "Silakan. Tolong diurus dengan baik. Jika ada sesuatu yang dibutuhkan, beritahu saja kepada saya." Surya menyeka air matanya.
Wanita paruh baya bertubuh gemuk itu segera mengangguk. "Iya, Pak," jawabnya seraya keluar, untuk menyiapkan segala hal yang dibutuhkan.
"Tenanglah. Ayah ada di sini bersamamu." Surya kembali memeluk Ryanthi, seraya membelai lembut rambut gadis itu.
__ADS_1