
Adrian berkali-kali mencium kening Ryanthi yang kini tengah berada dalam pelukannya. Ia juga mengelus lembut rambut gadis itu.
Selimut berwarna merah hati itu, hanya menutupi tubuhnya hingga perutnya saja, sehingga Ryanthi dapat dengan leluasa memainkan bulu dada yang tumbuh tidak terlalu lebat di dada Adrian.
Adrian pun kini mengalihkan usapan lembutnya pada lengan Ryanthi. Kulit tubuh gadis itu tampak sangat kontras dengan warna selimut yang menutupi sebagian tubuh mulus Ryanthi.
"Kita belum makan siang," ucap Ryanthi pelan.
"Aku sudah kenyang," jawab Adrian datar.
"Mmmhh ...." Ryanthi menggumam.
"Yakin?" Pancing Ryanthi nakal.
Adrian melirik kepadanya dan tersenyum. "Kita lanjutkan nanti. Sekarang kamu masak saja dulu, sementara aku tidur sebentar," ucap Adrian dengan entengnya. Wajahnya terlihat begitu kalem.
Mendengar ucapan Adrian barusan, seketika Ryanthi duduk tegak dan menatapnya dengan tajam. Matanya pun kian melotot dengan sempurna.
Sementara itu, Adrian lagi-lagi hanya tersenyum dengan kalemnya. Ia bahkan sempat mengedipkan sebelah matanya kepada Ryanthi.
"Kenapa tiba-tiba aku merasa seperti sudah menjadi istrimu?" Protes Ryanthi dengan alis yang berkerut tajam.
Adrian tertawa geli mendengar hal itu. Ia pun kembali meraih Ryanthi ke dalam pelukannya. Mau tidak mau, gadis itu pun menurut saja meskipun masih agak cemberut.
"Anggap saja sample gratis," celetuk Adrian diselingi tawa pelan. Ia tidak peduli dengan wajah Ryanthi yang cemberut dan kesal dengan ucapannya yang terlalu enteng.
Tetapi, bukanlah Adrian jika ia tidak dapat menangani sikap manja dan kemarahan Ryanthi. Hanya dalam hitungan detik saja, dengan segera ia telah berhasil menenangkan kembali gadis itu dengan sebuah ciuman hangat dikeningnya.
"Aku ingin kita segera menikah," bisik Adrian. Kata-kata itu meluncur dengan sangat mudah. Sebuah perasaan hati Adrian, yang ia ungkapkan dengan tanpa kendala gugup atau lidah yang kelu.
"Tidak perlu dijawab sekarang. Jika kamu belum siap, maka pertimbangkan saja dulu. Tetapi aku harap kamu bisa memberiku jawaban secepatnya. Karena aku bukan seorang penyabar," lanjut Adrian.
Ryanthi terdiam. Ia sama sekali tidak menyangka jika Adrian akan melamarnya dalam keadaan seperti itu. Benar-benar tidak romantis, fikirnya.
Tetapi, tentu saja ia sangat senang mendengar niat baik Adrian kepadanya.
"Aku sangat mencintaimu, Ryanthi. Aku sudah menyadari ini sejak kamu pergi meninggalkanku. Aku tidak bisa menjalani hari-hariku dengan tenang, dan hampir setiap malam aku tidak bisa tidur karena memikirkanmu," wajah Adrian tiba-tiba berubah menjadi serius. Tatapan matanya kosong dan datar.
__ADS_1
Sesaat kemudian Adrian melepaskan pelukannya dari Ryanthi. Ia lalu mengambil sesuatu dari dalam laci meja sebelah tempat tidurnya.
Sebuah buku catatan berwarna merah hati ia berikan kepada Ryanthi sebagai tanda penantiannya selama 3 tahun ini. "Demi dirimu aku rela membuat kue. Demi dirimu juga, tiba-tiba aku berubah menjadi seorang penulis. Apa lagi yang kurang dariku? Aku sudah melakukan semua yang kamu inginkan," lanjutnya dengan wajah agak berseri, tidak sedatar tadi.
Ryanthi menerima buku itu dengan senyuman lebar di bibirnya. Ia tidak menyangka jika Adrian benar-benar melakukan apa yang ia minta.
Ryanthi pun mulai membuka halaman pertama. Wajah gadis itu tampak mengkerut.
"Jangan tertawa! Tulisan tanganku memang tidak sebagus tulisan tanganmu. Tetapi aku tidak akan membiarkanmu menghina tulisanku," tukas Adrian.
Ryanthi menoleh pada pria yang ada di hadapannya. Ia semakin merasa aneh dengan sikap pria itu.
"Siapa yang tertawa?" Tanyanya.
"Kamu. Ya ... memang kamu belum tertawa, tapi aku yakin sebentar lagi juga kamu pasti akan tertawa," celoteh Adrian Ia sangat mengada-ada.
Ryanthi mengerutkan alisnya. Ia merasa aneh dengan sikap konyol pria itu. Namun, pada akhirnya Ryanthi memang tertawa juga.
"Iya, kan? Sudah kubilang kamu pasti tertawa," ucap Adrian gemas sambil menarik selimut yang menutupi tubuh Ryanthi. Dengan segera Ryanthi pun berusaha untuk mempertahankan selimutnya agar tidak terlepas dari tubuhnya.
Tetapi, Adrian memang pintar dalam hal lepas-melepas dan buka-membuka. Karena akhirnya selimut itu terlepas juga.
Apa yang Ryanthi masak untuk makan siang hari ini? Jawabannya, tidak ada sama sekali.
Dari tadi mereka sibuk bermain di atas tempat tidur hingga mengabaikan jam makan siang.
Solusi satu-satunya adalah delivery order.
"Ini semua gara-gara kamu," Ryanthi menyalahkan Adrian. Ia menggerutu sambil menyiapkan piring di atas meja makan.
Sedangkan Adrian, pria itu hanya garuk-garuk kepala.
Sesaat kemudian, Adrian pun mulai mencicipi iga bakar yang mereka pesan tadi. Ia pun sesekali menyuapi Ryanthi yang sedari tadi hanya bertopang dagu sambil menatapnya.
"Jadi, apa yang kamu lakukan selama aku di Paris?" Tanya Ryanthi masih menopang dagunya dengan tangan kanannya.
Adrian menoleh. "Kamu fikir aku hanya akan berdiam diri saja di dalam apartemenku selama 3 tahun? Tentu saja tidak. Aku masih melakukan aktivitasku seperti biasanya. Aku pergi memantau pabrik 1 bulan sekali jika sempat, aku juga mengurus bisnis baru yang semalam kita bahas di meja makan, aku berenang, aku menulis, dan aku ...." Adrian menatap Ryanthi dengan matanya yang teduh. Bola mata kecoklatan itu menyiratkan sebuah sisa-sisa perjuangan besar yang dilakukan tuannya. Ia pun menghempaskan nafas panjang.
__ADS_1
"Aku mengingatmu setiap saat," lanjut Adrian sambil mengalihkan pandangannya pada piring keramik dihadapnnya. Wajahnya tampak sedikit sendu.
"Kamu melarangku untuk datang dan menemuimu, padahal aku ingin sekali bertemu denganmu. Kamu sungguh pintar menyiksa perasaanku," keluh Adrian pelan.
Mendengar hal itu, Ryanthi malah tertawa.
"Kamu tahu alasanku melarangmu datang menemuiku? Karena jika kamu datang kesana, maka aku tidak akan pernah mau untuk kamu tinggalkan. Aku yakin jika aku memohon kepadamu agar jangan pergi, maka kamu pasti akan sangat setuju. Iya, kan? Sementara kehidupanmu ada disini," jelas Ryanthi dengan tenangnya.
"Kamu fikir aku anak ingusan yang tidak tahu apa-apa? Tapi ... mungkin saja," Adrian tertawa pelan. Ia kembali menatap wajah cantik yang ada di sebelahnya itu.
"Tetapi, saat ini aku masih belum percaya jika kamu sudah benar-benar ada disini. Di dekatku lagi. Aku sudah berjanji satu hal dalam hatiku," lanjutnya sambil menyuapi gadis itu lagi.
"Apa itu?" Tanya Ryanthi dengan mulut penuh makanan.
"Mulai saat ini, aku tidak akan pernah membiarkan Ryanthi pergi jauh lagi. Aku akan melarangmu meskipun kita harus bertengkar habis-habisan," tegas Adrian.
"Iya, kah?" Cibir Ryanthi.
Adrian mengangguk dengan tegas.
Ryanthi menatap Adrian dengan tatapan yang dalam. Ia merasa sangat bersyukur karena Tuhan telah mengirimkan seorang pria seperti ini kepadanya.
Meskipun Adrian sangat menyebalkan dan suka sekali main perintah, namun ia adalah pria yang baik.
Terlepas dari semua cerita masa lalunya yang tidak terpuji. Bahkan sampai sekarang pun Adrian memang masih nakal, dan ia telah membawa Ryanthi pada dosa seperti ini. Namun, bodohnya Ryanthi pun mau saja menuruti apa yang diinginkan pria itu. Mungkin karena Ryanthi juga memang menyukainya.
Yang pasti mereka berdua adalah dua orang dewasa yang sudah dapat berfikir dengan logika, sehingga apapun yang mereka lakukan, mereka faham dengan segala konsekuensinya.
Tiba-tiba Adrian memegang tangan Ryanthi dengan lembut dan menciumnya dalam-dalam.
"Aku benar-benar ingin menjadikanmu sebagai istriku. Aku ingin kamu menjadi hal pertama yang selalu kulihat setiap kali aku membuka mataku di pagi hari, dan kamu menjadi yang terakhir kulihat sebelum aku tidur di malam hari," Adrian terdiam sejenak sebelum akhirnya ia melanjutkan kata-katanya.
"Aku suka jika bisa melihatmu setiap hari, manatap wajahmu seperti saat ini. Aku sudah memikirkan ini matang-matang dan ... aku serius memintamu untuk menikah denganku. Katakan iya! Karena aku tidak suka penolakan," pinta Adrian dengan tegas.
Ryanthi tidak menjawab. Ia hanya menatap Adrian dengan sepasang matanya yang berbinar. Dalam hati, rasanya ia ingin sekali bersalto sebanyak tujuh kali. Atau mungkin ... melompat-lompat diatas trampolin. Tetapi, ia harus tetap menjaga image nya di depan Adrian. Lagipula, sejujurnya ia suka melihat pria menyebalkan ini saat memohon kepadanya.
"Beri aku waktu dua hari untuk memikirkannya," pinta Ryanthi. Jawaban yang membuat perasaan Adrian menjadi harap-harap cemas. Tetapi mau tidak mau Adrian harus menyetujuinya.
__ADS_1
Ryanthi tersenyum puas. Sebenarnya tidak perlu waktu dua hari untuk memberikan jawaban itu kepada Adrian. Tetapi, tidak ada salahnya sedikit bermain-main dengan si Tuan Tampan ini.
Ryanthi senang dan sangat menikmati ketika melihat pria itu, saat berada dalam keresahan yang ia timbulkan untuknya.