
Adrian berdiri dengan satu tangan di dalam saku celana. Malam itu, dia memakai atasan kemeja lengan panjang yang dilipat tiga per empat. Di pergelangan kirinya, melingkar arloji mahal bermerk terkenal.
Adrian menyisir rapi rambutnya. Dia juga telah merapikan janggut, sesuai anjuran Ryanthi.
Sesaat kemudian, Ryanthi muncul dengan midi dress model A Line berwarna hitam dari bahan satin halus. Berbalut pump shoes 3 cm, gadis itu melangkah anggun ke hadapan Adrian yang menyambutnya dengan senyum menawan.
"Baju yang cantik," sanjung Adrian.
Ryanthi tersenyum. Dia mulai terbiasa dengan segala rayuan dari Adrian. "Tuan Perayu," balas Ryanthi seraya masuk ke mobil, karena Adrian sudah membukakan pintu untuknya.
"Terima kasih. Aku suka sebutan itu." Adrian terlampau bahagia, karena Ryanthi bersedia pergi dengannya.
Selama di perjalanan, tidak banyak hal yang mereka bicarakan. Ryanthi duduk tenang memegangi clutch bag hitam, yang merupakan hadiah dari Surya.
Sesekali, Ryanthi melirik pria yang ada di sebelahnya. Adrian tampak begitu fokus dengan kemudi. Namun, itu tidak berarti dia tak menyadari lirikan diam-diam dari seorang Ryanthi.
"Kanapa?" tanyanya. "Aku sudah mencukur janggut tadi siang," ucap Adrian. Membuat Ryanthi tersipu dan segera memalingkan wajah ke luar jendela kaca mobil.
Selang beberapa saat di perjalanan, akhirnya mereka tiba di tempat tujuan.Mobil Adrian memasuki halaman sebuah rumah mewah dengan empat pilar tinggi di bagian depan. Rumah tadi tampak sangat bercahaya, karena selain dari warna cat nya yang putih, di sana juga terdapat lampu gantung besar yang menyala sangat terang. Selain itu, desainnya juga terlihat jauh lebih mewah dibandingkan kediaman Surya.
Setelah memarkirkan kendaraan, Adrian menuntun Ryanthi masu, saat seorang pelayan wanita membukakan pintu untuk mereka.
"Adrian." Indira menyambut putra kesayangannya penuh suka cita. Seperti mendapat mimpi indah, saat putra sulungnya tersebut datang ke sana.
"Hai, Ma. Selamat malam," sapa Adrian seraya mencium pipi sang ibu.
"Selamat malam, Sayang," balas Indira hangat.
Perhatian wanita itu beralih kepada Ryanthi.
"Ya, Tuhan. Cantik sekali kamu malam ini. Sampai-sampai, Mama merasa minder berada dekat denganmu," sanjungnya.
"Terimakasih," balas Ryanthi diiringi senyum manis.
__ADS_1
Tak berselang lama, muncul Andrea dan suaminya. Andrea merupakan satu-satunya saudari perempuan Adrian. Dia merupakan anak angkat Indira. Andrea diadopsi sejak masih bayi, karena Indira sangat menginginkan seorang putri. Sementara, dokter sudah memvonis Indira tidak dapat hamil lagi karena suatu alasan.
Meski tak sedarah, tapi Adrian terlihat sangat menyayangi Andrea. Itu terlihat dari caranya memperlakukan sang adik. Adrian memperkenalkan Ryanthi kepada pasangan muda tersebut.
Ryanthi merasa senang berada di tengah-tengah keluarga yang hangat seperti itu. Mereka berbincang santai serta bercanda, sehingga tak jarang terdengar gelak tawa di sela-sela obrolan.
"Kalau boleh tahu, berapa usi Kak Ryanthi sekarang?" tanya Andrea.
"Usiaku dua puluh tiga tahun," jawab Ryanthi ramah.
"Oh, pantas saja Kak Ryanthi terlihat jauh lebih muda jika dibanding Kak Adrian," celetuk Andrea, yang segera berbalas lemparan tisu dari Adrian. Tak mau kalah, Andrea membalas dengan melakukan hal yang sama.
"Sudah hentikan," lerai Indira. "Kalian ini selalu saja seperti ini," tegur wanita itu.
Ryanthi hanya tersenyum. Begitu juga dengan Faraz, suami Andrea.
Adrian lagi-lagi tak mampu memalingkan pandangan dari senyum manis Ryanthi. Hal itu terus berlangsung hingga makan malam usai. Perbincangan beralih ke ruang keluarga yang tak kalah mewah.
Ryanthi kembali berbincang akrab bersama Indira dan Andrea. Ada banyak hal yang mereka bahas. Terutama masalah seputar wanita. Kosmetik, tas, pakaian, sepatu, dan rekomendasi salon kecantikan yang bagus. Tema pembahasan yang sangat membosankan bagi Adrian ataupun Faraz. Kedua pria itu berkali-kali saling pandang sambil mengernyitkan kening.
Kesal, Adrian lalu beranjak dari sana. Dia beralasan hendak ke ruang kerja sang ayah untuk mengambil sesuatu. Padahal, Adrian pergi ke dapur. Dari sana, dirinya kembali mengirimkan pesan kepada Ryanthi. Dia menyuruh agar gadis itu menyusulnya.
Ryanthi menghentikan sejenak obrolan bersama Indira dan Andrea. Dia membuka pesan yang Adrian kirimkan. Ryanthi berpikir sejenak, sebelum mencari alasan untuk menemui pria itu.
"Permisi. Aku ingin ke belakang sebentar," ucap Ryanthi.
"Oh, iya. Tunggu sebentar. Mama panggilkan pelayan." Indira menekan tombol kecil yang ada di atas meja kecil dekat lampu hias. Tanpa harus menunggu lama, seorang pelayan datang ke sana.
"Nona Ryanthi ingin ke belakang. Antarkan dia," titah Indira.
Si pelayan mengangguk sopan. Dia mengarahkan agar Ryanthi mengikutinya. Gadis itu terus mengekor si pelayan melintasi ruangan yang seluruhnya tak lepas dari sentuhan kemewahan.
"Toiletnya di mana?" tanya Ryanthi.
__ADS_1
Si pelayan memberi arahan kepada Ryanthi.
"Terima kasih," balas Ryanthi. Dia melangkah sendiri. Namun, Ryanthi tak menuju ke sana. Dia mengeluarkan ponsel, lalu menghubungi Adrian. Pria itu memberi arahan kepada Ryanthi.
Sesaat kemudian, Ryanthi telah tiba di dapur. Dia melangkah masuk. Ryanthi berjalan perlahan ke ruangan yang juga tak kalah mewah, untuk kategori sebuah dapur.
Beberapa langkah di depan Ryanthi, berdiri seorang pria yang tengah memandang lekat ke arahnya. Ryanthi tertegun, tak berani semakin mendekat. Terlebih, saat dia melihat sorot tajam Adrian yang terasa langsung menusuk jantungnya.
"Kemarilah," titah Adrian.
Ryanthi yang masih terpaku di tempatnya berdiri, segera menggeleng. Dia tak ingin mendekat kepada pria itu.
"Kemarilah, Ryanthi," titah Adrian lagi penuh wibawa.
"Aku tidak mau," tolak Ryanthi. Untungnya lampu utama di dalam dapur itu dimatikan, sehingga Adrian tak bisa melihat jelas wajah tegang Ryanthi. "Kalau kamu ingin bicara sesuatu, katakan saja. Ada apa? Aku harus kembali ke ruang keluarga untuk ...."
Ryanthi tak sempat melanjutkan kata-katanya, karena Adrian lebih dulu mendekat. Dia sedikit memaksa saat menarik tangan Ryanthi.
Adrian lalu mendudukkan gadis itu di counter kitchen berlapis marmer hitam. Dia meletakkan kedua tangannya di sisi kiri dan kanan tubuh Ryanthi, hingga gadis itu tak bisa ke manapun. "Lagi-lagi, kamu mengabaikanku," ucap Adrian setengah berbisik tepat di dekat telinga Ryanthi.
"Apa maumu? Bukankah kamu mengajakku kemari untuk bertemu dengan mamamu?" Ryanthi tak mengerti.
"Memang. Namun, itu bukan berarti kamu boleh mengabaikanku," protes Adrian pelan. Helaan napasnya menghangat di wajah Ryanthi.
"Kenapa kamu menyebalkan sekali, Adrian," ucap Ryanthi, yang lebih banyak menunduk, menyembunyikan paras cantiknya dari Adrian.
"Kamu juga sangat keras kepala," balas Adrian. Dia menyentuh dagu Ryanthi, lalu mengangkatnya perlahan. Dalam keremangan cahaya di dalam dapur itu, Adrian masih bisa melihat kecantikan gadis di hadapannya.
"Kamu cantik sekali, Ryanthi." Berat suara Adrian terdengar di telinga Ryanthi yang tak tahu harus berbuat apa.
Ryanthi tak bisa melarikan diri. Tak ada celah bagi gadis itu untuk menghindar. Meski dia telah memundurkan wajah, tapi tak berarti Ryanthi dapat menyelamatkan bibir ranumnya dari sasaran Adrian.
Akhirnya, bibir kedua sejoli itu saling bertaut. Hangat dan mesra. Lembut serta terasa begitu manis, karena mereka tampak sangat menikmati adegan romantis satu menit sepuluh detik yang tengah berlangsung. Adrian tak melepaskan Ryanthi, hingga tiba-tiba lampu utama menyala.
__ADS_1
"Ya, ampun. Maaf."