Ryanthi : Manisnya Kue, Pahitnya Kenyataan

Ryanthi : Manisnya Kue, Pahitnya Kenyataan
● ENAM : Menarik Masa Lalu


__ADS_3

Malam itu Ryanthi tidak bisa tidur. Dia terus memikirkan saran dari Arshan. Gadis cantik tersebut menjadi sangat gelisah. Di satu sisi, dia tak berani mencari sang ayah. Namun, di sisi lain dia hanya ingin mendapat suatu kepastian, tentang tanda tanya yang selama ini berusaha dirinya abaikan.


"Apakah ibu masih berharap bertemu dengan ayah?" Batin Ryanthi terus berkecamuk.


Jika memang benar, itu akan menjadi obat mujarab bagi Farida. Namun, jika sebaliknya, maka apa yang dilakukan Ryanthi justru bisa saja membuat Farida menjadi bertambah sakit. Tak terbayangkan, ketika sang ibu harus bertemu dengan pria yang telah menimbulkan banyak penderitaan baginya.


Ryanthi mengeluh pelan. Dia juga tidak bisa meninggalkan Farida seorang diri di rumah. Ryanthi harus memikirkan cara yang terbaik. "Ya, Tuhan. Aku harus bagaiman?" Keluhan pelan kembali meluncur dari bibir gadis dua puluh tiga tahun tersebut.


Tanpa terasa, pagi sudah datang. Ryanthi menemui seorang tetangga dekat mereka. Meskipun malu, tapi dia memberanikan diri menitipkan Farida sebentar, selagi dirinya pergi. Untunglah, tetangganya itu bersedia dimintai bantuan. Farida juga memberikan izin kepada Ryanthi, karena gadis itu beralasan bahwa dirinya ada acara pribadi bersama Arshan.


Cuaca pada hari itu sedikit mendung. Langit berwarna kelabu menaungi kota tempat tinggal Ryanthi. Sungguh disayangkan, padahal waktu baru menunjukan sekitar pukul sepuluh pagi, ketika Ryanthi duduk tenang di dalam bus kota. Gadis itu terdiam dengan melanglang buana entah ke mana.


Baru kali ini Ryanthi keluar rumah lagi, setelah sekian lama hanya berkutat dengan semua pesanan. Ryanthi juga disibukan dengan segudang tugas, sambil merawat Farida yang sedang sakit. Berada di luar seperti itu, rasanya membuat sesak di dalam dada Ryanthi sedikit berkurang. Setidaknya, ada banyak hal yang dapat dia lihat. Jalan raya yang ramai, serta orang-orang yang berlalu-lalang ke sana-kemari dengan urusannya masing-masing.


Selama hampir satu jam di perjalanan, akhirnya Ryanthi tiba juga di tempat tujuan. Berbekal alamat yang dia dapat setelah menggeledah tas Farida secara diam-diam. Dia menemukan KTP sang ibu dengan alamat rumah lamanya.


Ryanthi berjalan tenang menyusuri trotoar setelah dirinya turun di halte bus. Tak lama kemudian, gadis itu sudah tiba di sebuah gerbang kawasan perumahan elite. Sebelum diizinkan masuk ke area perumahan itu, Ryanthi harus melewati pos penjagaan terlebih dahulu. Setelah diminta menunjukan kartu identitasnya, petugas keamanan baru mengizinkan dia masuk.

__ADS_1


Embusan angin pelan hadir dan menerpa wajah cantik Ryanthi, seakan memberikan sambutan bagi gadis itu. Ada semacam kegetiran dalam hati putri Farida tersebut, saat melewati setiap deretan rumah yang berjajar rapi. Dia berusaha tetap menegakan kepala, meski lehernya terasa sedikit sakit. Itu semua karena Ryanthi kurang istirahat selama beberapa hari terakhir. Ada banyak sekali pekerjaan rumah yang harus dia pegang. Selain itu, beban pikiran pun ikut andil dalam menambah ketidaknyamanan pada tubuhnya.


Ryanthi terus berjalan, hingga akhirnya dia behenti di depan sebuah rumah megah berhiaskan pintu gerbang tinggi dan terlihat kokoh. Rumah bernomor A 32 dengan dominasi cat berwarna putih.


Cukup lama Ryanthi berdiri memperhatikan rumah megah di hadapannya. Dia merasa tidak yakin dengan apa yang akan dirinya lakukan Ryanthi kemudian menarik napas berkali-kali, sebelum akhirnya memberanikan diri untuk mendekat ke pintu gerbang tadi. Namun, lagi-lagi Ryanthi masih terlihat ragu dengan keputusannya.


"Ya, Tuhan. Semoga keputusanku ini bukan merupakan sesuatu yang keliru," harap Ryanthi. Dia membulatkan tekad, lalu merentangkan tangan ke dekat bel yang terpasang di sebelah pintu gerbang itu.


Namun, baru saja Ryanthi akan menekan bel tadi, tiba-tiba pintu gerbang terbuka dengan sendiri. Ryanthi terkejut bukan main. Gadis itu mundur beberapa langkah, ketika seorang satpam berdiri di hadapannya. Sang petugas keamanan tersebut menatap Ryanthi dengan sorot aneh penuh selidik.


"Ada yang bisa saya bantu, Mbak?" tanya pria berseragam satpam tadi.


"Oh, Pak Surya. Iya, betul. Ini kediaman beliau. Mbak siapa dan ada keperluan apa?"


Belum sempat Ryanthi menjawab, seorang wanita berpenampilan rapi muncul di dekat gerbang yang sudah terbuka. Dari penampilannya, dia seperti hendak pergi ke acara penting. Tatapan mata wanita itu sangat tajam dan terlihat curiga atas kehadiran Ryanthi di sana.


Ryanthi balas membalasnya. Dia mencoba menerka siapakah wanita itu. Wanita berambut merah. Riasannya pun terbilang menor dan mencolok. Raut wajah wanita itu menunjukan betapa angkuhnya dia.

__ADS_1


"Mencari siapa?" tanyanya dengan nada yang tidak ramah.


Ryanthi mencoba menguasai diri agar tidak terlihat gugup. "Pak Surya," jawabnya yakin dan penuh percaya diri.


Wanita itu mengernyitkan kening, mendengar nama yang disebutkan oleh Ryanthi. Dia menatap tajam ke arah gadis itu.


"Saya istrinya. Ada apa?" tanyanya lagi masih dengan nada bicara yang teramat ketus.


Ryanthi terperangah mendengar jawaban dari wanita tersebut. Itu berarti, wanita di hadapannya adalah Maya. Seketika tubuh gadis cantik tadi bergetar hebat menahan amarah di dalam dada.


Namun, bagaimanapun juga Ryanthi harus tetap bisa mengendalikan diri. Digenggamnya erat tali tas selempang yang melintang di dada. Bibir gadis itu bergetar, menahan rasa sesak yang seakan mencekik lehernya.


Perlahan, Ryanthi menarik napas agar dapat sedikit merasa tenang. "Aku ingin bertemu langsung dengan Pak Surya," ucap Ryanthi masih berkata dengan nada bicara yang sama.


Maya, wanita yang berdiri di hadapan Ryanthi tidak menjawab. Dia hanya memperhatikan gadis itu dari atas sampai bawah.


Ryanthi sejak tadi hanya berdiri mematung. Dia seakan tengah menerka apa yang sedang dipikirkan wanita di hadapannya, meskipun tidak terlalu yakin. Ryanthi tersenyum kecil. Dia rasa Maya mulai merasa risi, ketika ada seorang gadis muda mencari suaminya yang mata keranjang. Terlebih, hari itu Ryanthi berpenampilan lebih rapi dari biasanya. Dia tidak mengenakan kaos usang ataupun sandal jepit, yang selalu menemani keseharian gadis itu.

__ADS_1


Ryanthi terus menyunggingkan senyum kecil di sudut bibirnya, saat melihat raut wajah Maya yang sepertinya merasa terganggu. Namun, dia tak akan mau peduli dengan hal itu. Tujuan utamanya bukan untuk mengganggu Maya, melainkan menemui sang ayah yang belum juga muncul. Namun, selang beberapa saat kemudian, Ryanthi melihat sosok tinggi besar itu keluar dari dalam rumah.


__ADS_2